Surat TaHa Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

20. ThaHa (Wahai, Manusia) – طه

Surat TaHa ( طه ) merupakan surah ke 20 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 135 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah TaHa termasuk golongan Surat Makkiyah.


Mengenai penerjemahan nama surah ini menjadi “Wahai, Manusia”, lihat catatan no. 1. Sebagaimana halnya dengan Surah Maryam sebelumnya, urutan surah ini dalam kronologi pewahyuan Al-Qur’an tidak sulit untuk ditetapkan. Meskipun beberapa mufasir pada masa belakangan secara samar-samar menyatakan bahwa surah ini diwahyukan pada tahap terakhir (atau bahkan tahun terakhir) periode Makkah, kita mengetahui dengan pasti bahwa keseluruhan isi surah ini sudah diketahui para Sahabat pada tahun keenam misi kenabian (yakni sekurang-kurangnya tujuh tahun sebelum Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah): sebab, surah inilah yang pada periode itu secara tidak sengaja jatuh ke tangan ‘Umar Ibn Khaththab—yang hingga saat itu masih menjadi penentang Nabi yang paling keras—dan menyebabkannya beralih masuk Islam (Ibn Sa’d III/1, hh. 191 dan seterusnya).

Tema utama Surah ThaHa adalah petunjuk yang ditawarkan Allah kepada manusia melalui nabi-nabi-Nya, dan fakta bahwa kebenaran fundamental yang terkandung dalam seluruh agama wahyu adalah sama: inilah alasan yang mendasari dituturkannya kisah panjang mengenai Nabi Musa a.s. dalam ayat 9-98, dan pernyataan “bukti yang nyata [tentang kebenaran kitab Ilahi ini]”, yakni Al-Qur’an, yang ada dalam “apa yang [ditemukan] dalam kitab-kitab suci terdahulu” (ayat 133).

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah TaHa Ayat 1

طه

ṭā hā

1. WAHAI, MANUSIA!1


1 Menurut beberapa mufasir, huruf tha dan ha (dilafalkan tha’ ha’) yang mengawali surah ini termasuk kelompok al-muqaththa’at—“huruf-huruf tunggal [atau ‘yang terpisah-pisah’]”—yang terdapat di awal sejumlah surah Al-Qur’an (lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an). Namun, menurut pendapat beberapa Sahabat Nabi (misalnya, ‘Abd Allah ibn ‘Abbas) dan sejumlah tokoh terkemuka pada generasi berikutnya (seperti, Sa’id ibn Jubair, Mujahid, Qatadah, Al-Hasan Al-Bashri, ‘Ikrimah, Al-Dhahhak, Al-Kalbi, dan sebagainya), tha’ ha’ bukan hanya merupakan gabungan dua huruf tunggal, melainkan juga merupakan suatu ungkapan yang mempunyai makna tersendiri, yang berarti “Wahai, Manusia” (sinonim dengan ya rajul) baik dalam bahasa Nabatean dan Suryani—yang keduanya adalah cabang bahasa Arab—(Al-Thabari, Al-Razi, Ibn Katsir) maupun dalam dialek bahasa Arab murni dari suku ‘Akk dari Yaman, sebagaimana yang tampak jelas dari cuplikan-cuplikan tertentu dalam syair pra-Islam mereka (dikutip oleh Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari). Al-Thabari, khususnya, mendukung sepenuhnya terhadap penerjemahan Tha’ Ha’ menjadi “Wahai, Manusia”.


Surah TaHa Ayat 2

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

mā anzalnā ‘alaikal-qur`āna litasyqā

2. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu untuk membuatmu susah,2


2 Yakni, disiplin etika yang dibebankan oleh ajaran Al-Quran kepada manusia tidaklah dimaksudkan untuk membatasi manusia dalam menjalani kehidupan, tetapi sebaliknya, yakni untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia dengan memperdalam kesadarannya tentang yang benar dan yang salah.


Surah TaHa Ayat 3

إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ

illā tażkiratal limay yakhsyā

3. tetapi, hanya sebagai peringatan bagi semua yang gentar-terpukau [pada Allah]:


Surah TaHa Ayat 4

تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

tanzīlam mim man khalaqal-arḍa was-samāwātil-‘ulā

4. sebuah wahyu dari-Nya yang telah menciptakan bumi dan lelangit yang tinggi—


Surah TaHa Ayat 5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

ar-raḥmānu ‘alal-‘arsyistawā

5. Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya.3


3 Untuk istilah metaforis al-‘arsy yang saya terjemahkan menjadi “singgasana kemahakuasaan-Nya”, lihat catatan no. 43 pada Surah AI-A’raf [7]: 54.



Surah TaHa Ayat 6

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ

lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa mā bainahumā wa mā taḥtaṡ-ṡarā

6. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di lelangit dan semua yang ada di muka bumi, serta semua yang ada di antara keduanya dan semua yang ada di bawah tanah.


Surah TaHa Ayat 7

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

wa in taj-har bil-qauli fa innahụ ya’lamus-sirra wa akhfā

7. Dan, jika engkau mengatakan apa pun dengan suara keras, [Dia mendengarnya—] sebab, perhatikanlah, Dia [bahkan] mengetahui [pikiran] rahasia [manusia] serta semua yang lebih tersembunyi lagi [di dalam hatinya].4


4 Yakni, Dia mengetahui bukan hanya pikiran-pikiran sadar manusia yang tidak diungkapkan, melainkan juga semua yang terjadi di alam bawah-sadarnya.


Surah TaHa Ayat 8

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

allāhu lā ilāha illā huw, lahul-asmā`ul-ḥusnā

8. Allah—tiada tuhan kecuali Dia; [hanya] Dia yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan!5


5 Untuk penjelasan mengenai terjemahan al-asma’ al-husna ini, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 145.


Surah TaHa Ayat 9

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ

wa hal atāka ḥadīṡu mụsā

9. DAN, SUDAHKAH sampai kepadamu kisah Musa?6


6 Terlepas dari dua rujukan singkat terhadap Nabi Musa a.s. dalam surah-surah yang diwahyukan lebih awal (Surah An-Najm [53]: 36 dan Surah Al-A’la [87]: 19), narasi yang dipaparkan dalam ayat 9-98 dalam surah ini tidak diragukan lagi merupakan uraian Al-Quran yang paling awal tentang kisah Nabi Musa a.s. itu sendiri. Pemaparan kisahnya pada tahap ini berkaitan dengan rujukan terhadap wahyu pada awal surah ini (ayat 2-4) dan, secara umum, dengan doktrin Al-Quran mengenai kesatuan ideologi yang mendasar dari semua agama wahyu.


Surah TaHa Ayat 10

إِذْ رَأَىٰ نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى

iż ra`ā nāran fa qāla li`ahlihimkuṡū innī ānastu nāral la’allī ātīkum min-hā biqabasin au ajidu ‘alan-nāri hudā

10. Lihatlah! dia melihat api [di gurun];7 maka, dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah di sini. Perhatikanlah, aku melihat api [di kejauhan]: mudah-mudahan dari sana aku dapat membawakan sebatang suluh bagi kalian atau menemukan petunjuk di (tempat) api itu.”


7 Dari rangkaian ayat tersebut (serta dalam Surah An-Naml [27]: 7 dan Surah Al-Qasas [28]: 29), tampak bahwa Nabi Musa a.s. tersesat di gurun: hal ini mungkin merupakan suatu alusi simbolis terhadap munculnya kesadaran Nabi Musa a.s. bahwa dia membutuhkan petunjuk ruhani. Bagian kisah ini berhubungan dengan masa pengembaraan Nabi Musa a.s. setelah dia meninggalkan Mesir (lihat Surah Al-Qasas [28]: 14 dst.). Mengenai alegori “api”—dalam Bibel, “semak-duri yang menyala”—lihat catatan no. 7 pada Surah An-Naml [27]: 7-8.


Surah TaHa Ayat 11

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ

fa lammā atāhā nụdiya yā mụsā

11. Akan tetapi, tatkala Musa datang mendekatinya, sebuah suara berkumandang,8 “Wahai, Musa!


8 Lit., “dia dipanggil”.


Surah TaHa Ayat 12

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

innī anā rabbuka fakhla’ na’laīk, innaka bil-wādil-muqaddasi ṭuwā

12. Sungguh, Aku adalah Pemeliharamu! Maka, tanggalkanlah sandalmu! Perhatikanlah, engkau berada di lembah yang dua kali disucikan,9


9 Sementara beberapa mufasir beranggapan bahwa kata thuwan (atau thuwa) adalah nama dari “lembah suci”, Al-Zamakhsyari, secara lebih meyakinkan, menjelaskan bahwa kata itu berarti “dua kali” (dari thuwan atau thiwan, “dilakukan dua kali”)—yakni, “dua kali disucikan”—sepertinya karena di sanalah suara Allah telah terdengar, dan di sanalah Nabi Musa a.s. diangkat menjadi nabi.


Surah TaHa Ayat 13

وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ

wa anakhtartuka fastami’ limā yụḥā

13. dan Aku telah memilihmu [untuk menjadi rasul-Ku]: maka, dengarkanlah apa yang diwahyukan [kepadamu].


Surah TaHa Ayat 14

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa’budnī wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī

14. “Sungguh, Aku—Aku sajalah—Allah: tiada tuhan kecuali Aku. Karena itu, sembahlah Aku semata dan berteguhlah mendirikan shalat untuk mengingat-Ku!”10


10 Jadi, ingatan yang sadar akan Allah serta keesaan dan keunikan-Nya dinyatakan sebagai tujuan yang paling hakiki, serta merupakan dasar intelektual, dari semua doa yang benar.



Surah TaHa Ayat 15

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ

innas-sā’ata ātiyatun akādu ukhfīhā litujzā kullu nafsim bimā tas’ā

15. “Perhatikanlah, Saat Terakhir itu pasti akan datang [meskipun] Aku telah menetapkan agar ia11 tersembunyi, agar setiap manusia dapat diberi balasan sesuai dengan apa yang dia usahakan [di dunia].12


11 Yakni, waktu kedatangannya.

12 Ungkapan “apa yang dia usahakan” menyiratkan kerja keras yang dilakukan secara sadar sehingga mengecualikan perbuatan-perbuatan yang dilakukan tanpa diniati (“perbuatan” di sini adalah dalam pengertiannya yang terluas, yakni mencakup segala sesuatu yang diungkapkan melalui kata-kata atau perbuatan aktual), serta perbuatan-perbuatan yang tidak dilakukan tanpa diniati, terlepas dari apakah tindakan melakukan atau tidak melakukan perbuatan itu baik atau buruk secara moral. Dengan menyebutkan prinsip di atas dalam konteks kisah Nabi Musa a.s., AI-Quran menekankan kesamaan esensial konsep-konsep etika yang mendasari seluruh agama yang benar. (Lihat juga Surah An-Najm [53]: 39 dan catatannya, no. 32.)


Surah TaHa Ayat 16

فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَىٰ

fa lā yaṣuddannaka ‘an-hā mal lā yu`minu bihā wattaba’a hawāhu fa tardā

16. Karena itu, jangan biarkan siapa pun yang tidak beriman akan kedatangannya13 dan yang [hanya] mengikuti hawa nafsunya memalingkanmu dari [memercayai]-nya agar engkau tidak binasa!


13 Lit., “padanya”.


Surah TaHa Ayat 17

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ

wa mā tilka biyamīnika yā mụsā

17. “Kini, apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?”


Surah TaHa Ayat 18

قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ

qāla hiya ‘aṣāy, atawakka`u ‘alaihā wa ahusysyu bihā ‘alā ganamī wa liya fīhā ma`āribu ukhrā

18. Dia menjawab, “Ini adalah tongkatku; aku bersandar padanya; dan dengannya aku memukul dedaunan untuk dombaku; dan aku memiliki [banyak] keperluan lain lagi padanya.”


Surah TaHa Ayat 19

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ

qāla alqihā yā mụsā

19. Allah berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!”


Surah TaHa Ayat 20

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ

fa alqāhā fa iżā hiya ḥayyatun tas’ā

20. Maka, dia melemparkannya—dan lihatlah! ia seekor ular yang bergerak-gerak dengan cepat.


Surah TaHa Ayat 21

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ

qāla khuż-hā wa lā takhaf, sanu’īduhā sīratahal-ụlā

21. Allah berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut: Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.14


14 Perubahan tongkat menjadi ular yang terjadi secara ajaib ini, saya percaya, memiliki suatu pengertian mistis: tampaknya hal ini merupakan suatu alusi mengenai perbedaan yang hakiki antara tampilan dan kenyataan, serta, karenanya, juga meru pakan suatu alusi mengenai pengetahuan ruhani mengenai adanya perbedaan ini—suatu pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada hamba pilihan-Nya (bdk. pengalaman Nabi Musa a.s. bersarna guru bijaksana anonim yang digambarkan dalam Surah Al-Kahfi [18]: 66-82). Penafsiran ini mendapatkan dukungan kuat dalam Surah An-Naml [27]: 10 dan Surah Al-Qasas [28]: 31, yang keduanya menyebutkan bahwa Nabi Musa a.s. melihat tongkat itu “bergerak-gerak cepat, seolah-olah ia {tongkat itu} seekor ular (ka’annaha jann)”.


Surah TaHa Ayat 22

وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ

waḍmum yadaka ilā janāḥika takhruj baiḍā`a min gairi sū`in āyatan ukhrā

22. “Kini, letakkanlah tanganmu di antara ketiakmu: ia akan keluar [bersinar] putih, tanpa cacat,15 sebagai tanda lainnya [dari rahmat Kami]


15 Yakni, bersinar terang secara aneh berkat diutusnya beliau sebagai nabi, (lihat juga catatan no. 85 pada Surah Al-A’raf [7]: 108.)


Surah TaHa Ayat 23

لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

linuriyaka min āyātinal-kubrā

23. agar Kami dapat menjadikanmu menyadari sebagian keajaiban terbesar Kami.


Surah TaHa Ayat 24

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

iż-hab ilā fir’auna innahụ ṭagā

24. [Dan kini,] pergilah kepada Fir’aun: sebab, sungguh, dia telah melanggar seluruh batas keadilan.”16


16 Tampaknya, ini merujuk pada dosa besar Fir’aun, yakni pernyataannya bahwa dia adalah tuhan (bdk. Suran Al-Qasas [28]: 38 dan Surah An-Nazi’at [79]: 24).


Surah TaHa Ayat 25

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī

25. [Musa] berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Bukakanlah hatiku [bagi cahaya-Mu],


Surah TaHa Ayat 26

وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

wa yassir lī amrī

26. dan mudahkanlah tugasku bagiku,


Surah TaHa Ayat 27

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي

waḥlul ‘uqdatam mil lisānī

27. dan hilangkanlah kekakuan dari lidahku


Surah TaHa Ayat 28

يَفْقَهُوا قَوْلِي

yafqahụ qaulī

28. agar mereka memahami sepenuhnya perkataanku,17


17 Yakni, “menghilangkan ketidakfasihan bicaraku” (bdk. Keluaran 4: 10, “Aku berat mulut dan berat lidah”), yang menyiratkan bahwa dia tidak dianugerahi bakat kefasihan berbicara.


Surah TaHa Ayat 29

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي

waj’al lī wazīram min ahlī

29. dan tunjuklah bagiku, seseorang di antara keluargaku, yang akan membantuku menanggung bebanku:18


18 Ini adalah makna utama dari istilah wazir (lit., “pembawa-beban”, berasal dari kata wizr, “beban”); inilah asal-usul penggunaan istilah itu pada masa selanjutnya—yakni, masa pascaklasik—untuk merujuk pada menteri-menteri pemerintah.


Surah TaHa Ayat 30

هَارُونَ أَخِي

hārụna akhī

30. Harun, saudaraku.


Surah TaHa Ayat 31

اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي

usydud bihī azrī

31. Tambahkanlah, melalui dia, kekuatanku,


Surah TaHa Ayat 32

وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

wa asyrik-hu fī amrī

32. dan biarkanlah dia berbagi tugas denganku


Surah TaHa Ayat 33

كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا

kai nusabbiḥaka kaṡīrā

33. agar [bersama-sama] kami dapat banyak bertasbih memuji kemuliaan-Mu yang tiada hingga


Surah TaHa Ayat 34

وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا

wa nażkuraka kaṡīrā

34. dan mengingat-Mu tiada henti!19


19 Lit., “banyak” atau “melimpah-limpah”.


Surah TaHa Ayat 35

إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا

innaka kunta binā baṣīrā

35. Sungguh, Engkau Maha Melihat segala sesuatu yang ada dalam diri kami!”


Surah TaHa Ayat 36

قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَىٰ

qāla qad ụtīta su`laka yā mụsā

36. Allah berfirman, “Diberikan kepadamu semua yang kau mohonkan, wahai Musa!”


Surah TaHa Ayat 37

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَىٰ

wa laqad manannā ‘alaika marratan ukhrā

37. “Dan, sungguh, Kami telah memberimu karunia pada masa silam dahulu,20


20 Lit., “pada waktu yang lain”, yakni pada masa kanak-kanak dan masa muda Nabi Musa a.s., yang diingatkan kembali pada ayat 38-40. Untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai rujukan selanjutnya mengenai masa-masa tersebut—yakni, penyiksaan Fir’aun terhadap Bani Israil dan pembunuhan bayi laki-laki mereka, diselamatkannya Nabi Musa a.s. ketika bayi dan diadopsinya beliau oleh keluarga Fir’aun, tindakannya membunuh orang Mesir dan larinya Nabi Musa a.s. meninggalkan Mesir segera setelah kejadian itu—lihat Surah Al-Qasas [28]: 3-21 yang memaparkan kisah tersebut secara lebih terperinci.


Surah TaHa Ayat 38

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّكَ مَا يُوحَىٰ

iż auḥainā ilā ummika mā yụḥā

38. ketika Kami ilhami ibumu dengan ilham ini:


Surah TaHa Ayat 39

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي

aniqżi fīhi fit-tābụti faqżi fīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāḥili ya`khuż-hu ‘aduwwul lī wa ‘aduwwul lah, wa alqaitu ‘alaika maḥabbatam minnī, wa lituṣna’a ‘alā ‘ainī

39. ‘Letakkanlah dia di dalam peti dan jatuhkanlah ia ke dalam sungai, kemudian sungai itu akan membawanya ke tepi, [dan] seseorang yang merupakan musuh-Ku dan musuhnya akan mengangkatnya sebagai anak.’21

“Dan, Aku telah memberikan kasih sayang-Ku kepadamu—dan [ini] agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.22


21 Lit., “mengambilnya” (bdk. Surah Al-Qasas [28]: 9). Fir’aun digambarkan sebagai musuh Allah karena kesombongan dan kekejamannya yang luar biasa serta karena pernyataannya yang mengaku sebagai tuhan (lihat Surah An-Nazi’at [79]: 24); dan tanpa disadarinya, dia adalah musuh Musa-cilik karena dia benci dan takut terhadap bangsa Israel, bangsa tempat Musa berasal.

22 Yakni, “di bawah perlindungan-Ku dan sesuai dengan takdir yang telah Aku tetapkan bagimu”: kemungkinan merujuk pada diasuhnya Nabi Musa a.s. dalam lingkungan budaya istana raja dan dikuasainya hikmah kuno bangsa Mesir pada masa selanjutnya—keadaan yang menjadikan Nabi Musa a.s. memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin di masa depannya dan untuk mengemban misi khusus yang telah Allah rencanakan untuknya.


Surah TaHa Ayat 40

إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ مَنْ يَكْفُلُهُ ۖ فَرَجَعْنَاكَ إِلَىٰ أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ۚ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا ۚ فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَا مُوسَىٰ

iż tamsyī ukhtuka fa taqụlu hal adullukum ‘alā may yakfuluh, fa raja’nāka ilā ummika kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzan, wa qatalta nafsan fa najjaināka minal-gammi wa fatannāka futụnā, fa labiṡta sinīna fī ahli madyana ṡumma ji`ta ‘alā qadariy yā mụsā

40. “[Dan, engkau berada dalam pengawasan-Ku] ketika saudara perempuanmu pergi dan berkata [kepada orang-orang Fir’aun], ‘Bolehkah aku menunjukkan kepada kalian [seorang wanita] yang dapat memeliharanya?’23 Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya dan tidak berdukacita [lagi].24

“Dan, [ketika engkau dewasa,25] engkau membunuh seorang laki-laki: tetapi, Kami menyelamatkanmu dari segala kesusahan, meskipun Kami mencobamu dengan berbagai cobaan.26

“Kemudian, engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan;27 dan kini engkau telah datang [ke sini] sebagaimana yang ditetapkan [oleh-Ku], wahai Musa:


23 Untuk keterangan yang lebih lengkap, lihat Surah Al-Qasas [28]: 12.

24 Sebagaimana yang ditunjukkan di sini dan di Surah Al-Qasas [28]: 12-13, ibunya sendiri yang menjadi ibu susuannya.

25 Bdk. Surah Al-Qasas [28]: 14.

26 Untuk perincian mengenai kejadian khusus ini, yang menjadi titik balik dalam kehidupan Nabi Musa a.s., lihat Surah Al-Qasas [28]: 15-21.

27 Lihat Surah Al-Qasas [28]: 22-28.


Surah TaHa Ayat 41

وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي

waṣṭana’tuka linafsī

41. sebab, Aku telah memilihmu untuk berkhidmat kepada-Ku.



Surah TaHa Ayat 42

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي

iż-hab anta wa akhụka bi`āyātī wa lā taniyā fī żikrī

42. “[Maka,] pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa pesan-pesan-Ku dan jangan pernah lelah mengingatKu:


Surah TaHa Ayat 43

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

iż-habā ilā fir’auna innahụ ṭagā

43. pergilah kalian berdua kepada Fir’aun: sebab, sungguh, dia telah melanggar seluruh batas keadilan!


Surah TaHa Ayat 44

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā

44. Akan tetapi, bicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut agar dia mungkin merenungkan kembali tentang dirinya atau [setidaknya] (dia) dipenuhi rasa gentar.”28*


28 Lit., “atau [agar dia mungkin] takut”—yakni, bahwa ada kebenaran dalam perkataan Nabi Musa a.s.

* {Dalam bahasa Inggrisnya, “or [at least} be filled with apprehension“. Apprehension dapat berarti “rasa takut” atau “kemampuan memahami”.—peny.}

Karena Allah mengetahui masa depan, bentuk tentatif frasa di atas—”agar dia mungkin (la ‘allahu) merenungkan kembali tentang dirinya”, dan seterusnya—jelas tidak menunjukkan bahwa Allah “ragu” mengenai tanggapan Fir’aun pada masa yang akan datang: hal ini hanya menunjukkan perintah Allah kepada rasul-Nya untuk mengajak bicara pendosa itu dengan harapan agar dia merenung kembali tentang dirinya: dengan kata lain, ini berhubungan dengan niat atau harapan yang harus dimiliki oleh seorang rasul dalam menjalankan dakwahnya (Al-Razi). Dan, karena setiap paparan Qurani bertujuan untuk mengemukakan kebenaran atau sejumlah kebenaran yang abadi, atau untuk menerangkan suatu prinsip universal perilaku manusia, jelaslah bahwa perintah Allah kepada Nabi Musa a.s. agar berbicara kepada seorang pendosa tertentu ini “dengan kata-kata yang lembut agar dia mungkin [mempunyai suatu kesempatan] untuk merenungkan kembali tentang dirinya” tetap berlaku pada setiap masa dan hendaknya menjadi pedoman bagi segala usaha untuk mewujudkan perpindahan keyakinan semacam ini.


Surah TaHa Ayat 45

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَىٰ

qālā rabbanā innanā nakhāfu ay yafruṭa ‘alainā au ay yaṭgā

45. Berkatalah dua orang [bersaudara] itu, “Wahai, Pemelihara kami! Sungguh, kami khawatir kalau-kalau dia bertindak secara terburu-buru terhadap kami29 atau kalau-kalau dia [terus] melanggar seluruh batas keadilan.”


29 Yakni, “kalau-kalau dia menghalangi kami menyampaikan pesan-Mu sepenuhnya dengan cara mengusir atau serta-merta membunuh kami”.


Surah TaHa Ayat 46

قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

qāla lā takhāfā innanī ma’akumā asma’u wa arā

46. Allah menjawab, “Janganlah takut! Sungguh, Aku akan menyertai kalian berdua, mendengar dan melihat [semuanya].


Surah TaHa Ayat 47

فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ ۖ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ

fa`tiyāhu fa qụlā innā rasụlā rabbika fa arsil ma’anā banī isrā`īla wa lā tu’ażżib-hum, qad ji`nāka bi`āyatim mir rabbik, was-salāmu ‘alā manittaba’al-hudā

47. Maka, pergilah kalian berdua kepadanya dan katakan, ‘Perhatikanlah, kami berdua adalah rasul yang diutus Pemeliharamu: maka, biarkanlah Bani Israil pergi bersama kami dan jangan jadikan mereka menderita [lagi].30 Kini, kami telah datang kepadamu dengan pesan dari Pemeliharamu; dan [ketahuilah bahwa] keselamatan [dari-Nya] akan dilimpahkan [hanya] kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk[-Nya]:


30 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 49, Surah Al-A’raf [7]: 141, dan Surah Ibrahim [14]: 6. Untuk penjelasan yang lebih terperinci tentang penindasan Fir’aun terhadap Bani Israil, lihat Bibel, Keluaran 1: 8-22.



Surah TaHa Ayat 48

إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَىٰ مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

innā qad ụḥiya ilainā annal-‘ażāba ‘alā mang każżaba wa tawallā

48. sebab, perhatikanlah, telah diwahyukan kepada kami bahwa [pada Hari Akhirat] penderitaan akan menimpa semua orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling [darinya]!”


Surah TaHa Ayat 49

قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَىٰ

qāla fa mar rabbukumā yā mụsā

49. [Namun, ketika pesan-pesan Allah telah disampaikan kepada Fir’aun,] dia berkata, “Kini, siapakah Pemelihara kalian berdua itu, wahai Musa?”


Surah TaHa Ayat 50

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

qāla rabbunallażī a’ṭā kulla syai`in khalqahụ ṡumma hadā

50. [Musa] menjawab, “Pemelihara kami adalah Dia yang memberikan sifat dasar dan bentuk yang sejati kepada segala sesuatu [yang ada], kemudian memberinya petunjuk [menuju kesempurnaannya].”31


31 Aslinya, kalimat ini berbentuk lampau (al-madhi, yakni “telah memberikan” dan “telah memberinya petunjuk”); akan tetapi, karena kalimat ini jelas berhubungan dengan terus-menerusnya proses penciptaan yang dilakukan Allah, ia terlepas dari konsep waktu, dan menunjukkan—sebagaimana dalam banyak tempat yang lain di dalam Al-Quran—kekinian yang tiada akhir. Istilah khalq dalam konteks ini menunjukkan bukan hanya sifat batiniah suatu benda atau makhluk ciptaan, melainkan juga bentuk lahiriah tempat sifat ini mewujudkan dirinya; inilah alasan yang mendasari diterjemahkannya khalqahu menjadi “sifat dan bentuknya yang sebenarnya”. Gagasan yang mendasari kalimat di atas diungkapkan pertama kali dalam Surah Al-A’la [87]: 2-3, yakni, di dalam surah yang termasuk golongan surah-surah yang paling awal diwahyukan.


Surah TaHa Ayat 51

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَىٰ

qāla fa mā bālul-qurụnil-ụlā

51. [Fir’aun] berkata, “Dan, bagaimana dengan generasi generasi dahulu?”32


32 Secara tersirat, “generasi-generasi terdahulu yang biasa menyembah banyak tuhan: apakah mereka, dalam pandanganmu, dihukum tanpa ampun?”


Surah TaHa Ayat 52

قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى

qāla ‘ilmuhā ‘inda rabbī fī kitāb, lā yaḍillu rabbī wa lā yansā

52. [Musa] menjawab, “Pengetahuan tentang hal itu ada pada Pemeliharaku [semata dan terdapat] di dalam ketetapan-Nya;33 Pemeliharaku tidak akan salah dan tidak pula Dia lupa.”34


33 Yakni, Dia sendiri yang memutuskan nasib mereka di akhirat karena hanya Dia-lah yang mengetahui niat mereka dan yang memahami penyebab kesalahan-kesalahan mereka, dan hanya Dia-lah yang dapat menilai kebaikan dan keburukan ruhani mereka.

34 Menurut Al-Razi, dialog antara Nabi Musa a.s. dan Fir’aun untuk sementara waktu berakhir di sini. Tiga ayat berikutnya, yakni ayat 53-55, mengemukakan suatu wacana Qurani yang dialamatkan secara langsung kepada manusia umumnya.


Surah TaHa Ayat 53

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ

allażī ja’ala lakumul-arḍa mahdaw wa salaka lakum fīhā subulaw wa anzala minas-samā`i mā`ā, fa akhrajnā bihī azwājam min nabātin syattā

53. DIA-LAH yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian, mencarikan bagi kalian jalan-jalan [penghidupan] di atasnya,35 dan [yang] menurunkan air dari langit: dan dengan cara ini Kami tumbuhkan berbagai jenis tumbuhan.36


35 Yakni, “telah menyediakan bagi kalian sejumlah jalan dan sarana-baik yang bersifat materiel maupun intelektual—untuk mencari penghidupan kalian di dan dari bumi”.

36 Lit., “pasang-pasangan” (azwaj), suatu istilah yang dalam konteks ini tampaknya berarti “jenis-jenis”; tetapi lihat juga Surah Ar-Ra’d [13]: 3 dan catatannya (no . 7).


Surah TaHa Ayat 54

كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ

kulụ war’au an’āmakum, inna fī żālika la`āyātil li`ulin-nuhā

54. [Maka,] makanlah [dari yang dihasilkan tanah ini] dan gembalakanlah hewan-hewan ternak kalian [di atasnya].

Perhatikanlah, dalam semua hal yang demikian ini, sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang dianugerahi akal:


Surah TaHa Ayat 55

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

min-hā khalaqnākum wa fīhā nu’īdukum wa min-hā nukhrijukum tāratan ukhrā

55. dari [bumi] ini telah Kami ciptakan kalian, ke dalamnya akan Kami kembalikan kalian, dan darinya akan Kami keluarkan kalian sekali lagi.37


37 Mengenai penciptaan tubuh manusia “dari bumi”, lihat paruh kedua catatan no. 47 pada Surah Ali ‘Imran [3]: 59, juga catatan no. 24 pada Surah Al-Hijr [15]: 26; “kembalinya kepada bumi itu” menunjukkan terurainya tubuh ini setelah mati menjadi zat organik dan anorganik dasar yang membentuknya; dan semua fakta ini—penciptaan, penghidupan, dan penguraian—mengandung pesan tentang kemahakuasaan Allah, tentang kesementaraan kehidupan manusia di dunia, dan tentang kebangkitannya pada masa yang akan datang.


Surah TaHa Ayat 56

وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آيَاتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَىٰ

wa laqad araināhu āyātinā kullahā fa każżaba wa abā

56. DAN, SUNGGUH, Kami telah menjadikan Fir’aun mengetahui38 semua pesan-pesan Kami—tetapi dia mendustakannya dan menolak [untuk menaatinya].39


38 Lit., “Kami memperlihatkannya” (arainahu), yakni Fir’aun. Menurut Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan Al-Baidhawi, di sini verba arainahu ini berarti “Kami membuatnya mengetahui” atau “menyadari”.

39 Pesan-pesan yang disinggung di sini adalah yang dipercayakan pada Nabi Musa a.s. secara langsung dan juga “pesan-pesan” kauniyah yang terdapat dalam ciptaan Allah dan yang diacu pada bagian sebelumnya.


Surah TaHa Ayat 57

قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَىٰ

qāla a ji`tanā litukhrijanā min arḍinā bisiḥrika yā mụsā

57. Dia berkata, “Apakah engkau datang untuk mengusir kami dari negeri kami40 dengan sihirmu, wahai Musa?


40 Yakni, “mencabut kekuasaan kami” (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 110).


Surah TaHa Ayat 58

فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوًى

fa lana`tiyannaka bisiḥrim miṡlihī faj’al bainanā wa bainaka mau’idal lā nukhlifuhụ naḥnu wa lā anta makānan suwā

58. Jika demikian, kami pasti akan memperlihatkan di hadapanmu yang serupa dengannya! Maka, tetapkanlah suatu waktu pertemuan antara kami dan engkau—yang tidak akan kami ingkari dan tidak pula [boleh] kau ingkari—di suatu tempat yang cocok!”


Surah TaHa Ayat 59

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

qāla mau’idukum yaumuz-zīnati wa ay yuḥsyaran-nāsu ḍuḥā

59. [Musa] menjawab, “Waktu pertemuanmu itu ialah pada Hari Raya;41 dan hendaklah orang-orang berkumpul ketika matahari terbit naik.”


41 Lit., “hari perhiasan”—kemungkinan adalah Hari Tahun Baru Mesir. Ungkapan “waktu pertemuanmu” mempunyai konotasi “waktu pertemuan yang kau ajukan”.


Surah TaHa Ayat 60

فَتَوَلَّىٰ فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهُ ثُمَّ أَتَىٰ

fa tawallā fir’aunu fa jama’a kaidahụ ṡumma atā

60. Kemudian, Fir’aun undur diri [bersama penasihat-penasihatnya] dan menentukan siasat yang akan digunakannya;42 kemudian dia datang [ke tempat pertemuan itu].


42 Lit., “dia menentukan siasat lihainya” (jama’a kaidahu): hal ini jelas mengingatkan kita pada perintahnya untuk mengumpulkan semua tukang sihir di Mesir yang paling terkemuka (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 111-114).


Surah TaHa Ayat 61

قَالَ لَهُمْ مُوسَىٰ وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَىٰ

qāla lahum mụsā wailakum lā taftarụ ‘alallāhi każiban fa yus-ḥitakum bi’ażāb, wa qad khāba maniftarā

61. Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kalian! Janganlah membuat-buat dusta terhadap Allah43 agar Dia tidak menimpakan kepada kalian derita yang pedih: sebab, siapa pun yang menciptakan dusta [semacam ini], sesungguhnya telah binasa!”


43 Yakni, dengan sengaja mengingkari kebenaran pesan-pesan-Nya.


Surah TaHa Ayat 62

فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَىٰ

fa tanāza’ū amrahum bainahum wa asarrun-najwā

62. Maka, mereka saling berdebat tentang apa yang harus dilakukan; tetapi mereka merahasiakan pembicaraan mereka,


Surah TaHa Ayat 63

قَالُوا إِنْ هَٰذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ

qālū in hāżāni lasāḥirāni yurīdāni ay yukhrijākum min arḍikum bisiḥrihimā wa yaż-habā biṭarīqatikumul-muṡlā

63. berkata [satu sama lain]: “Mereka berdua ini tentunya adalah ahli-ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian44 dengan sihir mereka, dan hendak melenyapkan jalan hidup kalian yang dijunjung tinggi sejak lama.45


44 Lihat catatan no. 40 di atas. Kata penunjuk bentuk dual {hadzani} tersebut mengacu pada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.

45 Lit., “jalan hidup (thariqah) ideal kalian” atau “jalan hidup kalian yang patut diteladani”.


Surah TaHa Ayat 64

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا ۚ وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَىٰ

fa ajmi’ụ kaidakum ṡumma`tụ ṣaffā, wa qad aflaḥal-yauma manista’lā

64. Karena itu, [wahai ahli-ahli sihir Mesir,] tentukanlah siasat yang akan kalian gunakan, kemudian majulah dalam satu kesatuan:46 sebab, sungguh, orang yang menang pada hari ini benar-benar beruntung!”47


46 Lit., “dalam satu barisan [tunggal]”, yakni serentak.

47 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 113-114.


Surah TaHa Ayat 65

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ

qālụ yā mụsā immā an tulqiya wa immā an nakụna awwala man alqā

65. Berkata [para ahli sihir], “Wahai, Musa! Apakah engkau yang melemparkan [tongkatmu dahulu] atau kamikah yang akan mula-mula melemparkan.”


Surah TaHa Ayat 66

قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ

qāla bal alqụ, fa iżā ḥibāluhum wa ‘iṣiyyuhum yukhayyalu ilaihi min siḥrihim annahā tas’ā

66. Musa menjawab, “Tidak, lemparkanlah [terlebih dahulu].”

Dan, lihatlah! Berkat sihir mereka, tali-tali dan tongkat-tongkat [magis] mereka tampak kepadanya seolah-olah bergerak-gerak dengan cepat:


Surah TaHa Ayat 67

فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ

fa aujasa fī nafsihī khīfatam mụsā

67. dan dalam hatinya, Musa menjadi takut.48


48 Lit., “merasa takut dalam dirinya”. Maknanya yang tersirat adalah bahwa keahlian para tukang sihir itu didasarkan pada halusinasi massal (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 116—”mereka menyihir pandangan orang-orang”), suatu halusinasi yang bahkan menjadikan Musa kalah untuk sementara waktu.


Surah TaHa Ayat 68

قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ

qulnā lā takhaf innaka antal-a’lā

68. [Akan tetapi,] Kami berfirman, “Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang akan menang!


Surah TaHa Ayat 69

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

wa alqi mā fī yamīnika talqaf mā ṣana’ụ, innamā ṣana’ụ kaidu sāḥir, wa lā yufliḥus-sāḥiru ḥaiṡu atā

69. Dan [kini], lemparkanlah [tongkat] yang ada di tangan kananmu—ia akan menelan habis semua yang telah mereka lakukan: [sebab,] mereka hanya melakukan kelihaian ahli sihir, dan ahli sihir itu sama sekali tidak akan pernah mencapai kebaikan, apa pun tujuannya!”49


49 Lit., “di mana pun dia mungkin datang”—yakni, terlepas dari apakah dia bermaksud baik atau jahat (Al-Razi). Pernyataan di atas menyiratkan suatu kutukan yang keras terhadap segala upaya-upaya “magi/sihir” yang dilakukan seseorang, apa pun tujuannya. (Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 84.)


Surah TaHa Ayat 70

فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَىٰ

fa ulqiyas-saḥaratu sujjadang qālū āmannā birabbi hārụna wa mụsā

70. [Dan, begitulah yang terjadi50—] dan ahli-ahli sihir itu jatuh tersungkur, bersujud dengan memuji,51 [dan] berseru, “Kami telah sadar untuk beriman pada Tuhan Pemelihara Musa dan Harun!”


50 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 117-119.

51 Lihat catatan no. 90 pada Surah Al-A’raf [7]: 120.


Surah TaHa Ayat 71

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ ۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَىٰ

qāla āmantum lahụ qabla an āżana lakum, innahụ lakabīrukumullażī ‘allamakumus-siḥr, fa la`uqaṭṭi’anna aidiyakum wa arjulakum min khilāfiw wa la`uṣallibannakum fī jużụ’in-nakhli wa lata’lamunna ayyunā asyaddu ‘ażābaw wa abqā

71. [Fir’aun] berkata, “Apakah kalian beriman kepadanya52 sebelum aku mengizinkan kalian? Sungguh, dia pastilah pemimpin kalian yang telah mengajarkan sihir kepada kalian! Akan tetapi, aku pasti akan memotong tangan dan kaki kalian secara massal, disebabkan pembangkangan [kalian], dan aku pasti akan menyalib kalian semua secara massal pada batang pohon kurma:53 dan [aku akan melakukan ini] agar kalian akhirnya mengetahui dengan pasti mengenai siapa di antara kita [berdua]54 yang dapat menimpakan hukuman yang lebih pedih dan [yang] lebih kekal!”


52 Yakni, pada Nabi Musa a.s. (bdk. catatan no. 91 pada Surah Al-A’raf [7]: 123).

53 Mengenai makna dari penekanan terhadap “secara massal”, yang muncul dari bentuk gramatikal verba yang digunakan Fir’aun, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 92.

54 Secara tersirat, “aku atau Tuhan yang kini kalian percayai”.


Surah TaHa Ayat 72

قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

qālụ lan nu`ṡiraka ‘alā mā jā`anā minal-bayyināti wallażī faṭaranā faqḍi mā anta qāḍ, innamā taqḍī hāżihil-ḥayātad-dun-yā

72. Mereka menjawab, “Kami tidak akan pernah mengutamakan engkau daripada semua bukti kebenaran yang telah datang kepada kami, dan tidak pula (mengutamakan engkau) daripada Dia yang telah menciptakan kami! Maka, putuskanlah apa pun yang hendak engkau putuskan: engkau hanya dapat memutuskan [sesuatu yang berkenaan dengan] kehidupan duniawi ini!55


55 Atau: “engkau hanya dapat mengakhiri [bagi kami] kehidupan dunia ini”. Hendaknya dicatat bahwa verba qadha di antaranya berarti “dia telah memutuskan” dan juga “dia telah mengakhiri [sesuatu]”.


Surah TaHa Ayat 73

إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

innā āmannā birabbinā liyagfira lanā khaṭāyānā wa mā akrahtanā ‘alaihi minas-siḥr, wallāhu khairuw wa abqā

73. Adapun kami, perhatikanlah, kami telah beriman pada Pemelihara kami, [berharap] bahwa Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan semua sihir yang telah engkau paksakan kepada kami:56 sebab, Allah yang paling baik [untuk diharapkan], dan yang benar-benar kekal.”57


56 Fir’aun (suatu gelar yang disandang oleh setiap penguasa pribumi Mesir) dianggap sebagai seorang “raja-tuhan” dan, dengan demikian, merupakan penjelmaan agama orang Mesir, suatu agama yang di dalamnya praktik ilmu gaib dan sihir memainkan peranan yang sangat penting; karena itu, setiap rakyatnya terikat dengan kewajiban untuk menerima sihir sebagai suatu bagian integral dalam skema kehidupan.

57 Lit., “yang paling kekal”, yakni abadi: bdk. Surah Ar-Rahman [55]: 26-27.


Surah TaHa Ayat 74

إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ

innahụ may ya`ti rabbahụ mujriman fa inna lahụ jahannam, lā yamụtu fīhā wa lā yaḥyā

74. SUNGGUH, adapun orang yang akan datang menghadap Pemeliharanya [pada Hari Pengadilan] dalam keadaan tenggelam dalam dosa—perhatikanlah, [bagian] untuknya adalah neraka: dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup;58


58 Yakni, “dia tidak akan dilahirkan kembali secara spiritual dan tidak pula menemukan kedamaian karena kematian (Al-Baghawi, Al-Baidhawi. Sebagaimana yang tampak dari disejajarkannya—pada ayat berikutnya—istilah mujrim (yang saya terjemahkan menjadi “yang tenggelam dalam dosa”) dengan mu’min (“orang beriman”), mujrim di sini digunakan untuk menunjuk pada seseorang yang semasa hidupnya terus-menerus dan secara sadar mengingkari Allah (Al-Baidhawi).


Surah TaHa Ayat 75

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَىٰ

wa may ya`tihī mu`minang qad ‘amilaṣ-ṣāliḥāti fa ulā`ika lahumud-darajātul-‘ulā

75. sedangkan orang yang akan datang menghadap Pemeliharanya sebagai orang beriman yang telah melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan59—orang-orang yang seperti itulah yang akan memperoleh tempat yang mulia [dalam kehidupan akhirat]:


59 Jadi, Al-Quran menyatakan secara tersirat—di ayat ini serta di banyak tempat yang lain—bahwa nilai ruhaniah dari keyakinan seseorang juga bergantung pada perbuatan baik yang dilakukannya: bdk. pernyataan dalam Surah Al-An’am [6]: 158 bahwa pada Hari Pengadilan “tiada gunanya lagi beriman bagi siapa pun yang sebelumnya tidak beriman, atau bagi yang beriman, tetapi tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik”.


Surah TaHa Ayat 76

جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّىٰ

jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālika jazā`u man tazakkā

76. taman-taman kebahagiaan abadi yang dilalui aliran sungai-sungai, mereka berkediaman di dalamnya: sebab, itulah yang akan menjadi balasan bagi semua yang meraih kesucian.


Surah TaHa Ayat 77

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ

wa laqad auḥainā ilā mụsā an asri bi’ibādī faḍrib lahum ṭarīqan fil-baḥri yabasal lā takhāfu darakaw wa lā takhsyā

77. DAN, SUNGGUH, [saatnya tiba60 ketika] Kami ilhamkan kepada Musa: “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku pada malam hari, dan buatkanlah untuk mereka jalan yang kering melalui laut; [dan] jangan takut tersusul dan jangan gentar [terhadap laut].”61


60 Yakni, setelah segala cobaan yang harus dialami oleh orang-orang Israel di Mesir, dan setelah Fir’aun dan para pengikutnya menderita berbagai wabah (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 130 dan seterusnya).

61 Mengacu pada frasa “buatkanlah (idhrib, strike out) bagi mereka suatu jalan yang kering melalui laut”, Al-Thabari mengartikan frasa ini sebagai “pilihkanlah (ittakhidz) bagi mereka suatu jalan yang kering”. Lihat juga Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 63-66 dan catatan no. 33 dan no. 35.


Surah TaHa Ayat 78

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ

fa atba’ahum fir’aunu bijunụdihī fa gasyiyahum minal-yammi mā gasyiyahum

78. Dan, Fir’aun mengejar mereka dengan bala tentaranya: dan mereka ditenggelamkan oleh laut yang telah ditakdirkan menenggelamkan mereka62


62 Lit., “maka mereka ditenggelamkan oleh [sesuatu] dari laut yang menenggelamkan mereka”—mengungkapkan tidak terelakkannya malapetaka yang menimpa mereka.


Surah TaHa Ayat 79

وَأَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهُ وَمَا هَدَىٰ

wa aḍalla fir’aunu qaumahụ wa mā hadā

79. karena Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi [mereka] petunjuk yang benar.


Surah TaHa Ayat 80

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَوَاعَدْنَاكُمْ جَانِبَ الطُّورِ الْأَيْمَنَ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ

yā banī isrā`īla qad anjainākum min ‘aduwwikum wa wā’adnākum jānibaṭ-ṭụril-aimana wa nazzalnā ‘alaikumul-manna was-salwā

80. Wahai, Bani Israil! [Demikianlah] Kami telah menyelamatkan kalian dari musuh kalian, dan [lalu] Kami membuat perjanjian dengan kalian di sisi kanan Gunung Sinai,63 dan berulang-ulang menurunkan hidangan dari langit dan burung-burung puyuh kepada kalian, [seraya berkata,]


63 Lihat catatan no. 38 pada Surah Maryam [19]: 52. Mengenai “perjanjian” Allah dengan Bani Israil, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 63 dan 83.


Surah TaHa Ayat 81

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي ۖ وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَىٰ

kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum wa lā taṭgau fīhi fa yaḥilla ‘alaikum gaḍabī, wa may yaḥlil ‘alaihi gaḍabī fa qad hawā

81. “Makanlah yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kalian sebagai rezeki,64 tetapi janganlah melanggar batas-batas keadilan65 yang menyebabkan hukuman-Ku menimpa kalian: sebab, siapa pun yang ditimpa hukuman-Ku benar-benar telah melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan!”66


64 Keterangan tentang anugerah Allah berupa “hidangan dari langit (mann) dan burung puyuh (salwa)” bagi orang orang Israel selama pengembaraan mereka di Gurun Sinai setelah mengungsi dari Mesir juga terdapat di dua tempat lain dalam Al-Quran (yakni, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 57 dan Surah Al-A’raf [7]: 160). Menurut filolog Arab, istilah mann menunjukkan tidak hanya makanan yang manis dan lezat yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan tertentu di gurun, tetapi juga segala sesuatu yang “dianugerahkan sebagai karunia”, yakni tanpa usaha apa pun dari si penerima anugerah itu. Demikian pula, istilah salwa berarti tidak hanya “seekor burung puyuh” atau “burung-burung puyuh”, tetapi juga “segala sesuatu yang membuat manusia puas dan bahagia setelah mengalami kekurangan” (Al-Qamus). Karena itu, gabungan dua istilah tersebut secara metonimia berarti pemberian rezeki secara cuma-cuma oleh Allah kepada para pengikut Nabi Musa a.s.

65 Atau: “jangan berperilaku secara keterlaluan”—yakni, jangan menganggap bahwa karunia itu diberikan sehubungan dengan dugaan kalian sendiri yang merasa unggul karena merupakan keturunan Nabi Ibrahim.

66 Hampir semua mufasir klasik sepenuhnya sepakat bahwa “hukuman” (ghadhab, secara harfiah, “murka”) Allah adalah suatu metonimia terhadap balasan yang tidak dapat dielakkan yang ditimbulkan oleh manusia terhadap dirinya sendiri jika dia menolak petunjuk Allah dengan sengaja dan “melanggar batas-batas keadilan”.


Surah TaHa Ayat 82

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

wa innī lagaffārul liman tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan ṡummahtadā

82. Sungguhpun begitu, perhatikanlah, Aku memberi ampunan atas segala dosa kepada siapa pun yang bertobat, meraih iman, melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan, dan setelah itu tetap berada di jalan yang benar.


Surah TaHa Ayat 83

وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَىٰ

wa mā a’jalaka ‘ang qaumika yā mụsā

83. [DAN, ALLAH BERFIRMAN:67] “Wahai, Musa, apa yang menyebabkanmu meninggalkan kaummu di belakang dengan tergesa-gesa?”68


67 Bagian ini berkenaan dengan saat naiknya Nabi Musa a.s. ke Gunung Sinai yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 51 dan Surah Al-A’raf [7]: 142.

68 Lit., “apa yang membuatmu tergesa-gesa mendahului kaummu?”—menyiratkan bahwa dia seharusnya tidak meninggalkan mereka tanpa petunjuknya secara langsung pada tahap kemerdekaan mereka yang masih sangat dini. Ini adalah bentuk eliptis Al-Quran yang tiada bandingannya yang menyinggung kenyataan psikologis bahwa suatu masyarakat yang baru mencapai kemerdekaan politik dan sosial, setelah berabad-abad berada dalam perbudakan, untuk waktu yang lama masih akan dikuasai oleh pengaruh-pengaruh buruk masa lalunya dan tidak dapat mengembangkan disiplin ruhani dan sosialnya sendiri dalam waktu singkat.


Surah TaHa Ayat 84

قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَىٰ أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ

qāla hum ulā`i ‘alā aṡarī wa ‘ajiltu ilaika rabbi litarḍā

84. Dia menjawab, “Mereka sedang mengikuti jejak-jejakku69 sementara aku bersegera menuju-Mu, wahai Pemeliharaku, agar Engkau ridha [kepadaku].”


69 Mufasir klasik memahami frasa ini dalam arti lahiriahnya, yakni “mereka menyusul di belakangku dan kini sudah mendekat”. Karena, bagaimanapun, jelas-jelas Nabi Musa a.s. seharusnya mendaki Gunung Sinai sendirian, saya berpendapat bahwa jawaban Nabi Musa a.s. ini mempunyai suatu makna figuratif, yakni mengungkapkan anggapannya bahwa Bani Israil akan mengikuti petunjuknya bahkan jika dia tidak ada bersama mereka: suatu anggapan yang terbukti salah, sebagaimana ditunjukkan dalam rangkaian ayat tersebut.


Surah TaHa Ayat 85

قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ

qāla fa innā qad fatannā qaumaka mim ba’dika wa aḍallahumus-sāmiriyy

85. Allah berfirman, “Maka [ketahuilah bahwa], sungguh, Kami telah menguji kaummu sesudah engkau tinggalkan dan orang Samaria itu telah menyesatkan mereka.”70


70 Julukan al-samiri tidak diragukan lagi merupakan nomina adjektiva yang menunjukkan keturunan atau asal-usul seseorang. Menurut sajah satu penjelasan yang dikemukakan Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari, kata ini berarti “seorang Yahudi dari suku samirah”, yakni, kelompok etnis dan agama yang di kemudian hari dijuluki sebagai orang-orang Samaria (sekelompok kecil golongan ini masih tersisa di Nabtus, Patestina). Karena sekte itu sendiri belum muncul pada masa Nabi Musa a.s., boleh jadi bahwa—sebagaimana dikemukakan oleh Ibn ‘Abbas (Al-Razi)—orang itu adalah salah satu dari sekian banyak orang Mesir yang telah beralih agama menganut agama Nabi Musa a.s. dan bergabung dengan Bani Israil dalam eksodus mereka dari Mesir (bdk. catatan no. 92 pada Surah Al-A’raf [7]: 124): jadi, julukan samiri dapat dikaitkan dengan kata dalam bahasa Mesir kuno shemer, yang berarti ” seorang yang berasal dari luar, atau “seorang asing”. Dugaan ini diperkuat dengan tindakannya memperkenalkan penyembahan anak sapi emas, yang tidak diragukan lagi merupakan pengaruh dari pemujaan orang Mesir terhadap Apis (lihat catatan no. 113 pada Surah Al-A’raf [7]: 148). Mana pun dari kedua pendapat ini yang benar, tidak mustahil bahwa orang-orang Samaria pada masa sekarang ini merupakan keturunan—atau dikenal sebagai keturunan—dari orang ini, terlepas dari apakah dia berasal dari bangsa Ibrani atau Mesir; mungkin hal ini dapat sedikit menjelaskan pertentangan yang terus-menerus terjadi antara mereka dan masyarakat Israel lainnya.


Surah TaHa Ayat 86

فَرَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا ۚ أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ أَمْ أَرَدْتُمْ أَنْ يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَخْلَفْتُمْ مَوْعِدِي

fa raja’a mụsā ilā qaumihī gaḍbāna asifā, qāla yā qaumi a lam ya’idkum rabbukum wa’dan ḥasanā, a fa ṭāla ‘alaikumul-‘ahdu am arattum ay yaḥilla ‘alaikum gaḍabum mir rabbikum fa akhlaftum mau’idī

86. Kemudian, Musa kembali kepada kaumnya dengan penuh kemurkaan dan bersedih hati, [dan] berseru, “Wahai, kaumku! Bukankah Pemelihara kalian telah memberikan [banyak sekali] janji yang baik kepada kalian? Maka, apakah [pemenuhan] janji ini tampak terlalu lama datangnya bagi kalian?71 Atau, apakah kalian, mungkin, menghendaki agar hukuman Pemelihara kalian menimpa kalian,72 dengan demikian kalian melanggar perjanjian kalian denganku?”


71 Atau, menurut Al-Zamakhsyari: “Maka, apakah waktu [ketika aku tidak ada] terasa terlalu lama bagi kalian?” (Hendaknya dicatat bshwa istilah ‘ahd berarti “waktu” atau “periode” sekaligus juga “sumpah” atau “janji”.)

72 Lit., “Atau apakah kalian telah memutuskan agar hukuman dari Pemelihara kalian akan menimpa kalian?”—yakni, “apakah kalian bertekad untuk mengabaikan akibat-akibat dari perbuatan kalian?”


Surah TaHa Ayat 87

قَالُوا مَا أَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلَٰكِنَّا حُمِّلْنَا أَوْزَارًا مِنْ زِينَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنَاهَا فَكَذَٰلِكَ أَلْقَى السَّامِرِيُّ

qālụ mā akhlafnā mau’idaka bimalkinā wa lākinnā ḥummilnā auzāram min zīnatil-qaumi fa qażafnāhā fa każālika alqas-sāmiriyy

87. Mereka menjawab, “Kami tidak melanggar perjanjian denganmu karena kehendak kami sendiri, tetapi [inilah yang terjadi:] kami dibebani dengan beban-beban [dosa] perhiasan orang-orang [Mesir], maka kami melemparkannya [ke dalam api],73 dan demikian pula orang Samaria ini melemparkan [miliknya ke dalam api].”


73 Disebutkan dalam Bibel Keluaran 12: 35 bahwa, segera sebelum keberangkatan mereka meninggalkan Mesir, orang-orang Israel “meminjam”* dari orang-orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain”. “Peminjaman” ini jelas dilakukan dengan niat menipu, yakni orang-orang Israel itu tidak berniat untuk mengembalikan kepada pemiliknya yang sah: sebab, menurut pernyataan Bibel (ibid., ayat 36), “mereka merampasi (yakni, merampok) orang-orang Mesir” dengan berbuat demikian. Patut diperhatikan bahwa sementara Perjanjian Lama—dalam bentuknya yang sekarang, yang telah diselewengkan—tidak mengutuk perilaku ini, tampaknya orang-orang Israel itu secara berangsur-angsur akhirnya menyadari betapa buruknya perbuatan itu dan, karena itu, memutuskan untuk membuang perhiasan-perhiasan yang diperoleh dengan cara dosa tersebut (Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan—dalam salah satu alternatif penafsirannya—Al-Razi).

* {Bibel versi terjemahan King James menggunakan kata “borrowed” (meminjam), sedangkan Al-kitab Terjemahan Baru menggunakan kata “meminta”.—peny.}


Surah TaHa Ayat 88

فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَٰذَا إِلَٰهُكُمْ وَإِلَٰهُ مُوسَىٰ فَنَسِيَ

fa akhraja lahum ‘ijlan jasadal lahụ khuwārun fa qālụ hāżā ilāhukum wa ilāhu mụsā fa nasiy

88. Akan tetapi, kemudian, [demikianlah mereka memberi tahu Musa,74 orang Samaria itu] telah membuatkan untuk mereka patung anak sapi [dari emas yang dicairkan itu] yang mengeluarkan suara rendah;75 dan kemudian mereka berkata [satu sama lain], “lnilah tuhan kalian dan tuhan Musa—tetapi, dia telah melupakan [masa lalunya]!”76


74 Sisipan ini dibutuhkan mengingat adanya perubahan dari bentuk kalimat langsung pada ayat terdahulu menjadi bentuk kalimat tidak langsung pada ayat ini dan dalam rangkaian selanjutnya.

75 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 113.

76 Mengingatkan pada kenyataan bahwa Nabi Musa a.s. dibesarkan—nyata-nyata sebagai orang Mesir—di dalam istana Fir’aun.


Surah TaHa Ayat 89

أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا

a fa lā yarauna allā yarji’u ilaihim qaulaw wa lā yamliku lahum ḍarraw wa lā naf’ā

89. Mengapa—tidakkah mereka melihat bahwa [benda itu] tidak dapat memberi mereka jawaban apa pun dan tidak memiliki kekuasaan untuk memberi mudarat atau manfaat bagi mereka?


Surah TaHa Ayat 90

وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ ۖ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَٰنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي

wa laqad qāla lahum hārụnu ming qablu yā qaumi innamā futintum bih, wa inna rabbakumur-raḥmānu fattabi’ụnī wa aṭī’ū amrī

90. Dan, sungguh, bahkan sebelum [Musa kembali,] Harun telah berkata kepada mereka, “Wahai, kaumku! Kalian tidak lain hanyalah digoda oleh [berhala] ini untuk melakukan keburukan—sebab, perhatikanlah, [satu-satunya] Pemelihara kalian adalah Yang Maha Pengasih! Maka, ikutilah aku dan taatilah perintahku!”77


77 Dengan kata lain, “dan janganlah mengikuti orang Samaria itu”. Ini sangat bertentangan keras dengan Bibel (Keluaran 32: 1-5) yang menyatakan bahwa Harun bersalah karena membuat dan menyembah anak sapi emas.


Surah TaHa Ayat 91

قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَىٰ

qālụ lan nabraḥa ‘alaihi ‘ākifīna ḥattā yarji’a ilainā mụsā

91. [Akan tetapi,] mereka menjawab, ‘”Kami sama sekali tidak akan berhenti menyembahnya hingga Musa kembali kepada kami!”


Surah TaHa Ayat 92

قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا

qāla yā hārụnu mā mana’aka iż ra`aitahum ḍallū

92. [Dan, setelah dia kembali, Musa] berkata, “Wahai, Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat mereka telah tersesat,


Surah TaHa Ayat 93

أَلَّا تَتَّبِعَنِ ۖ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي

allā tattabi’an, a fa ‘aṣaita amrī

93. dari [meninggalkan mereka dan] mengikuti aku? Maka, apakah engkau [dengan sengaja] mendurhakai perintahku?”78


78 Bdk. kalimat terakhir pada Surah Al-A’raf [7]: 142 yang menyebutkan bahwa Nabi Musa a.s., sebelum pergi menuju Gunung Sinai, menasihati Nabi Harun a.s. agar “bertindak saleh” (ishlih). Dalam kaitannya dengan ini, lihat juga jawaban Nabi Harun a.s. kepada Nabi Musa a.s. dalam Surah Al-A’raf [7]: 150, serta catatannya yang terkait (no. 117).


Surah TaHa Ayat 94

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي ۖ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

qāla yabna`umma lā ta`khuż biliḥyatī wa lā bira`sī, innī khasyītu an taqụla farraqta baina banī isrā`īla wa lam tarqub qaulī

94. [Harun] menjawab, “Wahai, putra ibuku! Janganlah memegang janggutku dan jangan pula memegang kepalaku!79 Perhatikanlah, aku khawatir kalau-kalau [pada waktu engkau kembali] engkau mengatakan, ‘Engkau telah menyebabkan perpecahan di antara Bani lsrail dan tidak menaati perintahku!’”80


79 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 150.

80 Lit., “kata-kataku” atau “apa yang telah kukatakan”—tampaknya, perintah mengenai pentingnya menjaga agar orang-orang tetap bersatu (Al-Zamakhsyari).


Surah TaHa Ayat 95

قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ

qāla fa mā khaṭbuka yā sāmiriyy

95. [Musa] berkata, “Maka, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran-mu, wahai orang Samaria?”


Surah TaHa Ayat 96

قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي

qāla baṣurtu bimā lam yabṣurụ bihī fa qabaḍtu qabḍatam min aṡarir-rasụli fa nabażtuhā wa każālika sawwalat lī nafsī

96. Dia menjawab, “Aku telah memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat mereka lihat:81 maka, aku mengambil segenggam ajaran-ajaran rasul, lalu aku mencampakkannya: sebab, demikianlah, pikiranku membujukku [untuk melakukannya].”82


81 Perlu dicatat bahwa verba bashura (lit., “dia menjadi melihat”) memiliki makna figuratif “dia melihat [sesuatu] secara mental”, atau “dia memperoleh pengetahuan” atau “dia memahami”. Karena itu, Abu Muslim Al-Ishfahani (yang penafsirannya terhadap keseluruhan ayat ini dianalisis dan dipandang Al-Razi sebagai paling meyakinkan) mengartikan frasa di atas sebagai, “Aku menyadari apa yang tidak mereka [yakni kaum itu] sadari—yakni, bahwa sebagian dari kepercayaanmu, wahai Musa, adalah salah”. Tampak bahwa orang Samaria itu menolak gagasan tentang Tuhan yang transendental yang tidak dapat ditangkap dengan indra, dan berpikir bahwa manusia harus mempunyai sesuatu yang lebih “nyata” untuk diimani. (Lihat juga catatan berikutnya.)

82 Bertentangan dengan penafsiran aneh yang dikemukakan oleh beberapa mufasir lain, Abu Muslim (sebagaimana dikutip oleh Al-Razi) mengartikan istilah atsar (lit., “sisa” atau “jejak”) dalam pengertian figuratifnya, yakni “praktik dan perkataan” atau—secara keseluruhan—”ajaran” seseorang, khususnya ajaran seorang nabi; jadi, dia menandaskan dengan terang bahwa frasa qabadhtu qabdhatan min atsari al-rasul fa nabadhtuha berarti “Aku berpegang pada segenggam [yakni, sesuatu] dari ajaran-ajaran Rasul dan mencampakkannya”: dipahami bahwa “rasul” yang dirujuk oleh orang Samaria itu adalah Nabi Musa a.s. sendiri. (Sebagaimana telah disebutkan dalam catatan terdahulu, Al-Razi sepenuhnya menganut penafsiran Abu Muslim pada bagian ini.) Menurut pendapat saya, tindakan orang Samaria yang menolak sebagian ajaran Nabi Musa a.s. itu dimaksudkan untuk menjelaskan kecenderungan bawah-sadar yang melandasi semua bentuk penyembahan berhala dan penisbahan sifat-sifat ketuhanan pada benda-benda atau makhluk-makhluk selain Allah: suatu harapan yang sia-sia dan menipu-diri agar menjadikan Zat Yang Tidak Dapat Diindra itu lebih dekat kepada persepsi terbatas manusia, dengan cara menciptakan suatu “citra/gambar” nyata yang menggambarkan Wujud Tuhan atau, sekurang-kurangnya, sesuatu yang dapat dilihat sebagai “pancaran”-Nya. Karena segala upaya seperti itu, alih-alih memperjelas malah mengaburkan pemahaman manusia tentang Tuhan, upaya-upaya itu menggagalkan tujuannya semula dan menghancurkan potensi ruhani penganutnya yang tersesat: dan, tidak diragukan lagi, inilah inti dari kisah anak sapi emas yang dikemukakan dalam AI-Quran.


Surah TaHa Ayat 97

قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ ۖ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ إِلَٰهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۖ لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا

qāla faż-hab fa inna laka fil-ḥayāti an taqụla lā misāsa wa inna laka mau’idal lan tukhlafah, wanẓur ilā ilāhikallażī ẓalta ‘alaihi ‘ākifā, lanuḥarriqannahụ ṡumma lanansifannahụ fil-yammi nasfā

97. [Musa] berkata, “Kalau begitu, pergilah! Dan perhatikanlah, akan menjadi takdirmu untuk mengatakan sepanjang kehidupan[mu], ‘Jangan menyentuhku!’83 Namun, sungguh, [di kehidupan akhirat] engkau akan menghadapi nasib yang tidak dapat dihindarkan!84 Dan [sekarang], lihatlah sembahanmu ini, yang telah engkau sembah dengan penuh pengabdian: kami pasti akan membakarnya dan kemudian menaburkan—[apa pun yang masih tersisa dari]-nya ke segala arah di lautan!


83 Lit., “tidak ada sentuhan”—suatu gambaran metaforis tentang kesendirian dan pengasingan sosial yang akan dia alami selanjutnya.

84 Lit., “ada suatu janji untukmu yang tidak dapat engkau abaikan”.


Surah TaHa Ayat 98

إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

innamā ilāhukumullāhullażī lā ilāha illā huw, wasi’a kulla syai`in ‘ilmā

98. Tuhan kalian hanyalah Allah—yang tiada tuhan kecuali Dia, [dan yang] pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu!”


Surah TaHa Ayat 99

كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا

każālika naquṣṣu ‘alaika min ambā`i mā qad sabaq, wa qad ātaināka mil ladunnā żikrā

99. DEMIKIANLAH, KAMI ceritakan kepadamu sebagian kisah tentang apa-apa yang terjadi pada masa lalu; dan [demikianlah] Kami telah wahyukan kepadamu, berkat rahmat Kami, sebuah pengingat.85


85 Adverbia kadzalika (“demikianlah”) yang mengawali ayat ini dimaksudkan untuk menekankan tujuan pemaparan Al-Quran tentang peristiwa-peristiwa pada masa silam—baik yang berupa sejarah maupun legenda—serta juga cara bagaimana kisah-kisah itu diperlakukan. Karena tujuan yang mendasari setiap pemaparan kisah Al-Quran, tanpa kecuali, adalah untuk menggambarkan kebenaran fundamental tertentu, kisah itu sendiri sering kali bersifat ringkas dan diungkapkan dalam bentuk eliptis, seraya membuang segala hal yang tidak memiliki kaitan langsung dengan hal atau hal-hal yang hendak dikemukakan Al-Quran. Istilah “pengingat” mengacu pada petunjuk yang terus-menerus ditawarkan Allah kepada manusia melalui wahyu-Nya.


Surah TaHa Ayat 100

مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا

man a’raḍa ‘an-hu fa innahụ yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizrā

100. Semua yang berpaling darinya, sungguh, akan memikul beban [yang berat] pada Hari Kebangkitan:


Surah TaHa Ayat 101

خَالِدِينَ فِيهِ ۖ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلًا

khālidīna fīh, wa sā`a lahum yaumal-qiyāmati ḥimlā

101. mereka akan berkediaman dalam [keadaan] ini, dan pada Hari Kebangkitan, beratnya [beban] itu amat pedih bagi mereka—


Surah TaHa Ayat 102

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ ۚ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا

yauma yunfakhu fiṣ-ṣụri wa naḥsyurul-mujrimīna yauma`iżin zurqā

102. pada Hari ketika sangkakala ditiup: sebab, pada Hari itu, Kami akan mengumpulkan semua orang yang tenggelam dalam dosa, mata mereka muram86 [karena ketakutan],


86 Lit., “biru [matanya]”—yakni, seolah-olah mata mereka dilapisi dengan lapisan kebiru-biruan yang buram.


Surah TaHa Ayat 103

يَتَخَافَتُونَ بَيْنَهُمْ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا عَشْرًا

yatakhāfatụna bainahum il labiṡtum illā ‘asyrā

103. seraya saling berbisik, “Kalian hanya menghabiskan sepuluh [hari di dunia] ….“87


87 Sebagaimana dalam berbagai tempat yang lain dalam Al-Quran (misalnya, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 259, Surah Al-Isra’ [17]: 52, Surah Al-Kahfi [18]: 19, Surah Al-Mu’minun [23]: 112-113, Surah Ar-Rum [30]: 55, Surah An-Nazi’at [79]: 46, dan sebagainya), ayat ini dan ayat berikutnya menyinggung betapa ilusifnya kesadaran manusia akan “waktu” dan, dengan demikian, menyinggung kenisbian konsep “waktu” itu sendiri. Bilangan “sepuluh” sering digunakan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan “sedikit” (Al-Razi).


Surah TaHa Ayat 104

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا

naḥnu a’lamu bimā yaqụlụna iż yaqụlu amṡaluhum ṭarīqatan il labiṡtum illā yaumā

104. [Akan tetapi,] Kami paling mengetahui88 apa yang akan mereka katakan ketika orang yang paling cerdas di antara mereka berkata, “Kalian menghabiskan sehari saja [di sana]!”


88 Dalam konteks ini berarti, “Kami sajalah yang memahami sepenuhnya”.


Surah TaHa Ayat 105

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا

wa yas`alụnaka ‘anil-jibāli fa qul yansifuhā rabbī nasfā

105. DAN, MEREKA AKAN bertanya kepadamu tentang [apa yang akan terjadi terhadap] gunung-gunung [ketika dunia ini berakhir].

Maka katakanlah: “Pemeiiharaku akan menjadikannya berserakan ke segala arah,


Surah TaHa Ayat 106

فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا

fa yażaruhā qā’an ṣafṣafā

106. dan membuat bumi89 menjadi datar dan tandus


89 Lit., “membuatnya” secara tersirat, kata ganti nya merujuk pada bumi (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi).


Surah TaHa Ayat 107

لَا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا

lā tarā fīhā ‘iwajaw wa lā amtā

107. [sehingga] engkau tidak akan melihat tempat yang berlekuk-lekuk dan tidak rata di permukaannya.”90


90 Dalam eskatologi Al-Quran, “akhir dunia” tidak berarti suatu pembinasaan—yakni penghancuran sampai nihil—alam semesta secara fisik, alih-alih suatu perubahan bentuk secara fundamental dan besar-besaran menjadi sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia pada saat sekarang. Hal ini dikemukakan dalam berbagai alusi alegoris tentang Hari Kiamat, misalnya, dalam Surah Ibrahim [14]: 48, yang berbunyi, “Hari ketika bumi akan diubah menjadi bumi yang lain, demikian pula lelangit”.


Surah TaHa Ayat 108

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ ۖ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

yauma`iżiy yattabi’ụnad-dā’iya lā ‘iwaja lah, wa khasya’atil-aṣwātu lir-raḥmāni fa lā tasma’u illā hamsā

108. Pada Hari itu, semua akan mengikuti suara penyeru yang tiada tempat untuk lari darinya;91 dan semua suara akan terdiam di hadapan Yang Maha Pengasih, dan engkau tidak akan mendengar apa pun, kecuali embusan kecil di udara.


91 Lit., “penyeru yang padanya tidak akan ada penyimpangan (la ‘iwaja lahu)—yakni, panggilan menuju Pengadilan Terakhir.


Surah TaHa Ayat 109

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

yauma`iżil lā tanfa’usy-syafā’atu illā man ażina lahur-raḥmānu wa raḍiya lahụ qaulā

109. Pada Hari itu, tidak akan berguna syafaat [bagi siapa pun], kecuali (bagi) orang yang kepadanya Yang Maha Pengasih telah memberi izin, dan (orang) yang perkataan-(keimanan]-nya telah Dia terima:92


92 Mengenai konsep Al-Quran tentang “syafaat” pada Hari Pengadilan, lihat catatan no. 7 pada Surah Yunus [10]: 3. “Perkataan [keimanan]” yang disebutkan menjelang akhir ayat di atas—menurut Ibn ‘Abbas (sebagaimana dikutip oleh Al-Baghawi)—merupakan suatu metonimia bagi kepercayaan bahwa “tiada tuhan kecuali Allah”, yakni kesadaran akan keesaan dan keunikan-Nya. Lihat juga Surah Maryam [19]: 87 dan catatannya (no. 74).


Surah TaHa Ayat 110

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yuḥīṭụna bihī ‘ilmā

110. [sebab,] Dia mengetahui segala yang terbentang di hadapan manusia dan segala yang tersembunyi dari mereka,93 sedangkan mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu mereka.


93 Untuk penjelasan mengenai frasa ini—yang juga muncul dengan redaksi yang persis sama dalam Surah Al-Baqarah [2]: 255, Surah Al-Anbiya’ [21]: 28, dan Surah Al-Hajj [22]: 76—lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 247.


Surah TaHa Ayat 111

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

wa ‘anatil-wujụhu lil-ḥayyil-qayyụm, wa qad khāba man ḥamala ẓulmā

111. Dan, [pada Hari itu,] semua muka akan tunduk di hadapan Yang Maha-Hidup Kekal, Sumber swamandiri dari segala wujud; dan hancurlah orang yang memikul [beban] kezaliman94


94 Yakni, kezaliman yang belum ditebus melalui tobat sebelum mati (Al-Razi). Dalam konteks yang khusus ini, hal itu mungkin mengingatkan pada penolakan terhadap petunjuk Allah—”peringatan”-Nya—yang dibicarakan dalam ayat 99-101.


Surah TaHa Ayat 112

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

wa may ya’mal minaṣ-ṣāliḥāti wa huwa mu`minun fa lā yakhāfu ẓulmaw wa lā haḍmā

112. sedangkan orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan [apa pun yang bisa dia lakukan], dan dia pun seorang yang beriman, dia tidak perlu khawatir dizalimi atau dihilangkan [kebaikan apa pun yang dikerjakannya].95


95 Lit., “tiada ketakutan terhadap kezaliman [apa pun]”—yakni, hukuman terhadap dosa apa pun yang mungkin telah dia niatkan, tetapi tidak dia lakukan—”ataupun suatu pengurangan”, yakni dari kebaikannya: bdk. pernyataan yang diulang dua kali dalam Surah An-Nahl [16]: 96-97, bahwa orang-orang saleh akan mendapat balasan pada hari kemudian “sesuai dengan yang terbaik yang pernah mereka lakukan”.


Surah TaHa Ayat 113

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا

wa każālika anzalnāhu qur`ānan ‘arabiyyaw wa ṣarrafnā fīhi minal-wa’īdi la’allahum yattaqụna au yuḥdiṡu lahum żikrā

113. DAN DEMIKIANLAH,96 telah Kami turunkan [kitab Ilahi] ini sebagai wacana dalam bahasa Arab,97 dan telah Kami jadikan segala macam peringatan di dalamnya memiliki banyak sisi, agar manusia dapat tetap sadar akan Kami, atau agar ia (kitab itu) membangkitkan kesadaran baru dalam (diri) mereka.98


96 Sebagaimana dalam ayat 99—yang berkaitan dengan bagian ini—adverbia kadzalika (“demikianlah”) mengacu pada metode dan tujuan Al-Quran.

97 Lit., “sebagai suatu bacaan (qur’an) Arab”. Lihat, khususnya, Surah Yusuf [12]: 2; Ar-Rad [13]: 37; Ibrahim [14]: 4; dan Maryam [19]: 97, serta catatan-catatannya yang terkait.

98 Lit., “agar mereka dapat [atau ‘tetap’] sadar akan Allah, atau agar ia {kitab itu} menimbulkan ingatan bagi mereka”, yakni, ingatan akan Allah. Verba ahdatsa berarti “dia mewujudkan [sesuatu]”, yakni, sesuatu yang baru atau untuk pertama kalinya; sedangkan nomina dzikr, selain berarti “ingatan”, juga berarti “kehadiran [sesuatu] dalam pikiran” (Raghib), yakni, kesadaran.


Surah TaHa Ayat 114

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

fa ta’ālallāhul-malikul-ḥaqq, wa lā ta’jal bil-qur`āni ming qabli ay yuqḍā ilaika waḥyuhụ wa qur rabbi zidnī ‘ilmā

114. Maka, [ketahuilah bahwa] Allah Mahatinggi, Penguasa Tertinggi, Kebenaran Tertinggi:99 dan [setelah mengetahui hal ini,] janganlah membaca Al-Quran dengan tergesa-gesa,100 sebelum ia diwahyukan seutuhnya kepadamu, tetapi katakanlah [selalu]: “Wahai, Pemeliharaku, tambahkanlah untukku ilmu!”101


99 Manakala nomina al-haqq digunakan sebagai julukan terhadap Allah, ia berarti “Kebenaran” dalam pengertian absolut dan intrinsik, serta berada secara abadi tanpa mengalami perubahan, melampaui fenomena ciptaan-Nya yang fana dan senantiasa berubah: jadi, “Kebenaran Tertinggi”. Di sisi lain, sifat Allah al-malik menunjukkan kekuasaan mutlak-Nya atas segala sesuatu dan, karena itu, dapat dengan tepat diterjemahkan menjadi “Penguasa (Raja) Tertinggi”.

100 Lit., “jangan tergesa-gesa dengan Al-Quran” (lihat catatan berikutnya).

101 Meskipun sangat mungkin bahwa peringatan ini—sebagaimana ditunjukkan oleh mayoritas mufasir klasik—pertama-tama ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw., tidak diragukan lagi bahwa ia juga berlaku bagi setiap orang yang membaca Al-Quran sepanjang masa. Gagasan yang mendasari ayat di atas mungkin dapat disimpulkan sebagai berikut: Karena Al-Quran adalah Firman Allah, seluruh bagian yang menyusunnya—frasa, kalimat, ayat, dan surah—membentuk keseluruhan yang integral dan serasi (bdk. kalimat terakhir Surah Al-Furqan [25]: 32 dan catatannya [no. 27]). Karena itu, jika seseorang benar-benar berniat untuk memahami pesan Al-Quran, dia harus menghindari “pendekatan yang terburu-buru”—yaitu, mengambil kesimpulan yang terburu-buru dari ayat-ayat atau kalimat-kalimat terpisah yang tercerabut dari konteksnya—alih-alih, dia seharusnya membiarkan keseluruhan Al-Quran tersingkapkan ke dalam pikirannya sebelum berusaha menafsirkan salah satu aspek tertentu dari pesannnya. (Lihat juga Surah Al-Qiyamah [75]: 16-19 dan catatan-catatannya.)


Surah TaHa Ayat 115

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

wa laqad ‘ahidnā ilā ādama ming qablu fa nasiya wa lam najid lahụ ‘azmā

115. DAN, SUNGGUH, dahulu telah Kami tetapkan perintah Kami kepada Adam;102 tetapi dia melupakannya, dan padanya tidak Kami dapati keteguhan cita-cita.


102 Perintah Ilahi—atau, lebih tepatnya, peringatan—tersebut diuraikan dalam ayat 117. Bagian ini berhubungan dengan pernyataan pada ayat 99, “Demikianlah Kami ceritakan kepadamu sebagian kisah tentang apa-apa yang terjadi pada masa lalu”, dan dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa pengabaian kebenaran ruhani merupakan salah satu sifat umat manusia yang berulang-ulang terjadi (Al-Razi), yang di sini—sebagaimana dalam banyak tempat lainnya di dalam Al-Quran—disimbolkan oleh Nabi Adam a.s.


Surah TaHa Ayat 116

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ

wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīsa abā

116. Karena [demikianlah yang terjadi:] tatkala Kami berkata kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam!”—mereka semua sujud, kecuali iblis, yang menolak [melakukannya];103


103 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 30-34 dan catatannya, khususnya no. 23, 25, dan 26. Juga catatan no. 31 pada Surah Al-Hijr [15]: 41. Karena—seperti yang telah saya tunjukkan dalam catatan-catatan tersebut—kemampuan berpikir konseptual adalah anugerah luar biasa yang diberikan kepada manusia, “kelalaian”-nya akan perintah Allah—yang disebabkan oleh tiadanya “keteguhan cita-cita” dalam ranah akhlak—merupakan bukti kelemahan moral yang menjadi ciri khas umat manusia (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 28—”manusia diciptakan [bersifat] lemah”): dan hal ini, pada gilirannya, menjelaskan mengapa manusia sangat bergantung pada petunjuk Ilahi secara terus-menerus, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 113.


Surah TaHa Ayat 117

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

fa qulnā yā ādamu inna hāżā ‘aduwwul laka wa lizaujika fa lā yukhrijannakumā minal-jannati fa tasyqā

117. dan kemudian Kami berkata, “Wahai, Adam! Sungguh, ini adalah musuh bagimu dan istrimu: maka, janganlah membiarkannya mengeluarkan kalian berdua dari taman ini dan menyebabkanmu tidak bahagia.104


104 Lit., “sehingga kamu akan menjadi tidak bahagia”. Mengenai pengertian “taman” yang dibicarakan di sini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 27.


Surah TaHa Ayat 118

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ

inna laka allā tajụ’a fīhā wa lā ta’rā

118. Perhatikanlah, taman itu disediakan bagimu agar engkau tidak akan kelaparan di dalamnya atau merasa telanjang,105


105 Lit., “menjadi telanjang“: tetapi, dengan mempertimbangkan pernyataan pada ayat 121 (serta dalam Surah Al-A’raf [7]: 22) yang menyatakan bahwa Adam dan Hawa menjadi “sadar akan ketelanjangan mereka” hanya setelah mereka tergelincir, sangat logis untuk berasumsi bahwa kata-kata “agar engkau tidak akan … menjadi telanjang” memiliki makna spiritual, yang menyiratkan bahwa manusia, dalam keadaan asalnya yang tidak berdosa, tidak akan merasa telanjang meskipun tidak berpakaian. (Untuk implikasi yang lebih dalam dari alegori ini, lihat catatan no. 14 pada Surah Al-A’raf [7]: 20.)


Surah TaHa Ayat 119

وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ

wa annaka lā taẓma`u fīhā wa lā taḍ-ḥā

119. dan agar engkau tidak akan merasa haus atau ditimpa sengatan panas matahari.”


Surah TaHa Ayat 120

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ

fa waswasa ilaihisy-syaiṭānu qāla yā ādamu hal adulluka ‘alā syajaratil-khuldi wa mulkil lā yablā

120. Akan tetapi, setan berbisik kepadanya, dengan berkata, “Wahai, Adam! Sudikah engkau kutunjukkan pada pohon kehidupan abadi dan [selanjutnya] pada kerajaan yang tidak akan pernah binasa?”106


106 Pohon simbolis ini dalam Bibel disebut sebagai “pohon kehidupan” dan “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 2: 9), sedangkan dalam kisah Al-Quran di atas, setan menyebutnya sebagai “pohon kehidupan abadi (al-khuld)”. Karena Adam dan Hawa tidak meraih keabadian meskipun mereka telah merasakan buah terlarang itu, jelaslah bahwa bujukan setan itu, sebagaimana selalu demikian halnya, merupakan tipuan. Di sisi lain, Al-Quran tidak mengatakan apa pun kepada kita tentang bagaimana sebenarnya hakikat “pohon” itu, selain menunjukkan bahwa setan-lah yang menggambarkannya—secara keliru—sebagai “pohon keabadian”: jadi, kita bisa berasumsi bahwa pohon terlarang itu hanyalah merupakan suatu alegori mengenai batasan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta terhadap hasrat dan perbuatan manusia: yakni, batasan-batasan yang tidak boleh dilampaui manusia tanpa melanggar fitrahnya sendiri yang telah ditetapkan Allah. Hasrat manusia untuk hidup abadi di bumi menyiratkan suatu angan-angan untuk menolak kematian dan kebangkitan dan, dengan demikian, menolak realitas terakhir yang digambarkan Al-Quran sebagai “akhirat” atau “kehidupan yang mendatang” (al-akhirah). Hasrat ini terkait erat dengan bisikan setan bahwa keinginan untuk menjadi penguasa “kerajaan yang tidak akan pernah binasa” dapat dicapai oleh manusia: dengan kata lain, menjadi “bebas” dari segala batasan dan sekaligus, pada akhirnya, bebas dari gagasan tentang Tuhan itu sendiri—satu-satunya gagasan yang memberikan makna dan tujuan yang sejati bagi hidup manusia.


Surah TaHa Ayat 121

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

fa akalā min-hā fa badat lahumā sau`ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw waraqil jannah, wa ‘aṣā ādamu rabbahụ fa gawā

121. Maka, keduanya memakan [buah] pohon itu: dan kemudian mereka menjadi sadar akan ketelanjangan mereka dan mulai menutup diri mereka sendiri dengan anyaman dedaunan dari taman itu. Dan [demikianlah], Adam mendurhakai Pemeliharanya, dan demikianlah dia terjatuh ke dalam kesalahan yang besar.107


107 Mengenai simbolisme Adam dan Hawa yang menjadi “sadar akan ketelanjangan mereka”, lihat catatan no. 105 sebelumnya, dan juga keterangan dalam Surah Al-A’raf [7]: 26-27, tentang “pakaian kesadaran akan Allah”, yang tanggalnya pakaian ini telah menjadikan nenek moyang manusia itu “menyadari ketelanjangan mereka”, yakni, sadar akan ketidakberdayaan total mereka dan, karena itu, menyadari kebergantungan mereka pada Allah.


Surah TaHa Ayat 122

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

ṡummajtabāhu rabbuhụ fa tāba ‘alaihi wa hadā

122. [Sungguhpun begitu,] Pemeliharanya kemudian memilihnya [untuk mendapat rahmat-Nya] dan menerima tobatnya, dan memberikan kepadanya petunjuk-Nya,


Surah TaHa Ayat 123

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

qālahbiṭā min-hā jamī’am ba’ḍukum liba’ḍin ‘aduww, fa immā ya`tiyannakum minnī hudan fa manittaba’a hudāya fa lā yaḍillu wa lā yasyqā

123. seraya berfirman: “Turunlah kalian semua108 dari [keadaan yang tidak berdosa] ini, [dan selanjutnya, jadilah] musuh satu sama lain! Meskipun demikian, pasti akan datang kepada kalian petunjuk dari-Ku: dan siapa pun yang mengikuti petunjuk-Ku tidak akan tersesat, dan tidak pula akan sengsara.


108 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 16.


Surah TaHa Ayat 124

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

wa man a’raḍa ‘an żikrī fa inna lahụ ma’īsyatan ḍangkaw wa naḥsyuruhụ yaumal-qiyāmati a’mā

124. Namun, adapun orang yang berpaling dari mengingat-Ku—baginya adalah kehidupan yang sempit;109 dan pada Hari Kebangkitan, Kami akan membangkitkannya dalam keadaan buta.”


109 Yakni, sempit dan hampa secara ruhani, tanpa makna dan tujuan yang sejati: dan hal ini, sebagaimana ditunjukkan dalam klausa berikutnya, akan menjadi sumber penderitaan mereka di akhirat.


Surah TaHa Ayat 125

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا

qāla rabbi lima ḥasyartanī a’mā wa qad kuntu baṣīrā

125. [Maka, pada Hari Kebangkitan, orang-orang yang berdosa] akan bertanya, “Wahai, Pemeliharaku! Mengapa Engkau membangkitkanku dalam keadaan buta, padahal [di dunia] aku dianugerahi penglihatan?”


Surah TaHa Ayat 126

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

qāla każālika atatka āyātunā fa nasītahā, wa każālikal-yauma tunsā

126. [Allah] akan menjawab, “Demikianlah: telah datang kepadamu pesan-pesan Kami, tetapi engkau melalaikannya; dan demikianlah pada hari ini engkau pun dilupakan!”


Surah TaHa Ayat 127

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ ۚ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ

wa każālika najzī man asrafa wa lam yu`mim bi`āyāti rabbih, wa la’ażābul-ākhirati asyaddu wa abqā

127. Karena, demikianlah Kami akan membalas orang yang memubazirkan dirinya sendiri110 dan tidak beriman pada pesan-pesan Pemeliharanya: dan, sungguh, penderitaan [bagi pendosa-pendosa semacam itu] di akhirat akan lebih berat dan lebih kekal!


110 Mengenai terjemahan frasa man asrafa ini, lihat Surah Yunus [10], catatan no. 21 yang di dalamnya saya telah membahas makna nomina partisipial {mashdar al-fi’li al-ruba’i—peny.} musrif yang diderivasi dari akar verba yang sama.


Surah TaHa Ayat 128

أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ

a fa lam yahdi lahum kam ahlaknā qablahum minal-qurụni yamsyụna fī masākinihim, inna fī żālika la`āyātil li`ulin-nuhā

128. MAKA, TIDAKKAH mereka [yang menolak kebenaran itu] mampu mengambil pelajaran dengan mengingat betapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum masa mereka?111—[kaum] yang tempat tinggalnya kini mereka lalui?

Perhatikanlah, dalam yang demikian ini sungguh terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang berakal!


111 Lit., “Maka, bukankah merupakan petunjuk bagi mereka betapa banyak generasi …”, dst. Hendaknya diingat bahwa, dalam Al-Quran, nomina qarn digunakan tidak hanya dalam arti “suatu generasi”, tetapi juga—dan bahkan lebih sering—dalam arti “orang-orang pada suatu zaman tertentu”, yakni “suatu peradaban” dalam pengertian historis istilah ini.


Surah TaHa Ayat 129

وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى

walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika lakāna lizāmaw wa ajalum musammā

129. Dan, sekiranya tidak ada suatu ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, yang menetapkan batas waktu112 [untuk tobat bagi setiap pendosa], pasti tidak dapat dielakkan [bahwa semua pendosa harus langsung dihukum].113


112 Lit., “suatu masa yang ditentukan [oleh-Nya]”. Frasa ini (yang aslinya terletak di akhir kalimat) berkaitan—sebagaimana dijelaskan oleh mayoritas mufasir klasik—dengan klausa pembuka ayat ini dan diterjemahkan menurut penjelasan mereka itu.

113 Bdk. Surah Yunus [10]: 11 dan An-Nahl [16]: 61.


Surah TaHa Ayat 130

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ

faṣbir ‘alā mā yaqụlụna wa sabbiḥ biḥamdi rabbika qabla ṭulụ’isy-syamsi wa qabla gurụbihā, wa min ānā`il-laili fa sabbiḥ wa aṭrāfan-nahāri la’allaka tarḍā

130. Karena itu, bersabarlah terhadap apa pun yang mungkin dikatakan oleh mereka [yang mengingkari kebenaran itu], dan bertasbihlah dengan memuji kemuliaan Pemeliharamu yang tidak terhingga, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya; dan bertasbihlah pula memuji kemuliaan-Nya pada sebagian waktu malam dan pada sebagian waktu siang114 supaya engkau dapat meraih kebahagiaan.


114 Lit., “pada batas-batas [atau ‘ujung-ujung’] hari”. Dalam kaitannya dengan ini, lihat juga Surah Hud [11]: 114 dan catatannya (no. 145).


Surah TaHa Ayat 131

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

wa lā tamuddanna ‘ainaika ilā mā matta’nā bihī azwājam min-hum zahratal-ḥayātid-dun-yā linaftinahum fīh, wa rizqu rabbika khairuw wa abqā

131. Dan, janganlah menujukan kedua matamu [dengan hasrat] ke arah kemewahan kehidupan duniawi apa pun yang telah Kami biarkan untuk dinikmati oleh begitu banyak orang lainnya115 agar Kami dapat menguji mereka dengannya: sebab, rezeki yang diberikan Pemeliharamu [untukmu] lebih baik dan lebih kekal.116


115 Lit., “kelompok-kelompok [atau ‘golongan-golongan’] dari antara mereka” (azwajan minhum). Menurut mayoritas mufasi, ini berhubungan dengan para pengingkar kebenaran yang dibicarakan dalam bagian terdahulu; tetapi, karena perintah di atas jelas mempunyai tujuan yang lebih luas, yakni mengutuk sifat dengki secara umum, saya menerjemahkan ungkapan ini menjadi “begitu banyak orang lainnya”.

116 Menyiratkan bahwa apa pun yang Allah berikan kepada seseorang didasarkan pada hikmah ilahiah dan, karena itu, benar-benar cocok dengan takdir yang telah Allah tetapkan bagi orang itu. Kemungkinan lain, frasa tersebut bisa dipahami sebagai mengacu pada kehidupan akhirat dan rezeki spiritual yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang saleh.


Surah TaHa Ayat 132

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

wa`mur ahlaka biṣ-ṣalāti waṣṭabir ‘alaihā, lā nas`aluka rizqā, naḥnu narzuquk, wal-‘āqibatu lit-taqwā

132. Dan, perintahkanlah kepada keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bertekunlah di dalamnya. [Namun, ingatlah:] Kami tidak memintamu untuk menyediakan rezeki [untuk Kami]:117 Kami-lah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan, masa depan adalah milik orang yang sadar akan Allah.118


117 Sisipan “untuk Kami” yang saya masukkan di atas, didasarkan pada penafsiran Al-Razi mengenai kalimat itu: “Allah menjelaskan bahwa Dia telah memerintahkan ini [yakni shalat] kepada manusia untuk kepentingan mereka sendiri karena Dia Sendiri-lah yang Mahatinggi melampaui [kebutuhan terhadap] kepentingan apa pun”. Dengan kata lain, shalat tidak boleh dipahami sebagai sebentuk penghormatan kepada “Tuhan yang pencemburu”—yakni Tuhan, sebagaimana yang digambarkan oleh Perjanjian Lama dalam bentuknya yang sekarang, yang telah diselewengkan—tetapi semata-mata sebagai suatu kepentingan spiritual yang manfaatnya adalah bagi orang yang shalat itu.

118 Lit., “milik kesadaran akan Allah”.


Surah TaHa Ayat 133

وَقَالُوا لَوْلَا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ أَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ

wa qālụ lau lā ya`tīnā bi`āyatim mir rabbih, a wa lam ta`tihim bayyinatu mā fiṣ-ṣuḥufil-ụlā

133. DAN, MEREKA [yang buta terhadap kebenaran] biasa berkata, “Jika saja [Muhammad] mendatangkan mukjizat untuk kami dari Pemeliharanya!”119 [Namun,] belumkah datang kepada mereka bukti yang nyata [tentang kebenaran kitab Ilahi ini] pada apa yang [ditemukan] dalam kitab-kitab suci terdahulu?120


119 Yakni, sebagai bukti atas misi kenabiannya: bdk. Surah Al-An’am [6]: 109 dan banyak contoh lain yang menyebutkan bahwa para pengingkar kebenaran itu menjadikan keimanan mereka pada pesan-pesan Al-Quran bergantung pada ada atau tidak adanya “mukjizat” yang dapat disaksikan secara nyata oleh mata.

120 Yakni, “Tidakkah Al-Quran mengungkapkan kebenaran fundamental yang sama, sebagaimana yang diungkapkan dalam wahyu-wahyu yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu?” Di luar ini, pertanyaan retoris di atas mengandung suatu alusi tentang ramalan kedatangan Nabi Muhammad Saw. yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu, yakni dalam Bibel Kitab Ulangan 18: 15 dan 18 (yang dibahas dalam catatan no. 33 pada Surah Al-Baqarah [2]: 42) atau dalam Yohanes 14: 16; 15: 26; dan 16: 7, yang di dalamnya Yesus menyebutkan tentang “Penghibur/Penolong” (Comforter) yang akan datang sesudah beliau. (Mengenai ramalan yang disebutkan terakhir ini, lihat catatan saya pada Surah As-Saff [61]: 6.)


Surah TaHa Ayat 134

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَىٰ

walau annā ahlaknāhum bi’ażābim ming qablihī laqālụ rabbanā lau lā arsalta ilainā rasụlan fa nattabi’a āyātika ming qabli an nażilla wa nakhzā

134. Karena [demikianlah:] sekiranya Kami membinasakan mereka dengan hukuman sebelum [kitab Ilahi ini diwahyukan], mereka pasti akan [dibenarkan untuk] berkata [pada Hari Pengadilan]: “Wahai, Pemelihara kami! Seandainya Engkau mengutus seorang rasul kepada kami, kami pasti akan mengikuti pesan-pesan-Mu alih-alih terhina dan dipermalukan [pada kehidupan akhirat]!”121


121 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 131, Al-Hijr [15]: 4, atau Asy-Syu’ara’ [26]: 208-209, yang menegaskan bahwa Allah tidak pernah menghukum manusia sehubungan dengan kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan mengenai mana yang benar dan yang salah dalam pengertian moral—yakni, sebelum memungkinkan manusia untuk mendapatkan petunjuk Ilahi.


Surah TaHa Ayat 135

قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَىٰ

qul kullum mutarabbiṣun fa tarabbaṣụ, fa sata’lamụna man aṣ-ḥābuṣ-ṣirāṭis-sawiyyi wa manihtadā

135. Katakanlah: “Setiap orang menanti dengan penuh harap [terhadap apa yang mungkin terjadi pada masa depan]:122 maka, tunggulah [Hari Pengadilan itu—], sebab pada saat itu kalian akhirnya akan mengetahui siapa yang telah mengikuti jalan yang lurus, dan siapa yang telah mendapat petunjuk!”


122 Yakni, sifat manusia adalah sedemikian rupa sehingga tiada seorang pun—apa pun kepercayaan atau kondisinya—yang berhenti berharap bahwa cara hidup yang dipilihnya akan terbukti sebagai jalan yang benar.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)