Surat Maryam Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

19. Maryam (Maryam) – مريم

Surat Maryam ( مريم ) merupakan surah ke 19 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 98 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surat Maryam tergolong Surat Makkiyah.


Semua mufasir sependapat bahwa Surah Maryam tergolong ke dalam periode Makkah; walaupun beberapa mufasir (misalnya Suyuthi) berpendapat bahwa surah ini diwahyukan menjelang periode Makkah akhir, terdapat bukti historis yang sangat meyakinkan bahwa surah ini diwahyukan selambat-lambatnya pada tahun ke-6 kenabian dan, boleh jadi, bahkan pada tahun ke-5 kenabian, yakni sekitar tujuh atau delapan tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Para Sahabat yang ikut dalam hijrah kedua kaum Muslim dari Makkah ke Abyssinia (Habasyah) telah mengenal surah ini: karena itu, sebagai contoh, sejarah mencatat bahwa Ja’far ibn Abi Thalib—saudara sepupu Nabi dan pemimpin rombongan pertama hijrah—membacakan surah tersebut di hadapan Negus (yakni, raja) Abyssinia untuk menjelaskan sikap Islam terhadap Isa Al Masih (Ibn Hisyam, Sirah Al-Nabi).

Nama surah ini didasarkan pada kisah Ibunda Maryam dan Nabi Isa a.s., yang (bersamaan dengan kisah Nabi Zakariya a.s. dan putranya, Nabi Yahya a.s.—pendahulu Nabi Isa a.s.) meliputi sekitar sepertiga bagian dari keseluruhan surah ini. Kisah ini kemudian digemakan kembali pada akhir surah, pada ayat 88-91.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah Maryam Ayat 1

كهيعص

kāf hā yā ‘aīn ṣād

1. Kaf. Ha. Ya. ‘Ain. Shad.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Maryam Ayat 2

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

żikru raḥmati rabbika ‘abdahụ zakariyyā

2. SUATU KISAH tentang rahmat yang dianugerahkan Pemeliharamu kepada hamba-Nya, Zakariya:2


2 Lit., “Suatu kisah tentang rahmat Pemeliharamu kepada …”, dan seterusnya. Menrut keterangan Bibel, yang tidak bertentangan dengan Al-Quran, istri Zakariya (Elisabet) adalah saudara sepupu Maryam, ibunda Nabi Isa a.s. (bdk. Bibel, Lukas 1: 36).


Surah Maryam Ayat 3

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

iż nādā rabbahụ nidā`an khafiyyā

3. Ketika dia menyeru Pemeliharanya dalam kerahasiaan hatinya,3


3 Lit., “dengan panggilan rahasia”.


Surah Maryam Ayat 4

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta’alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu’ā`ika rabbi syaqiyyā

4. dia berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Tulangku telah lemah dan kepalaku telah berkilauan dengan uban. Namun, wahai Pemeliharaku, belum pernah doaku kepada-Mu tidak dijawab.4


4 Lit., “tidak pernah aku kecewa dalam berdoa kepada-Mu”.


Surah Maryam Ayat 5

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا

wa innī khiftul-mawāliya miw warā`ī wa kānatimra`atī ‘āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā

5. “Kini lihatlah, aku takut terhadap [apa yang] keluargaku [akan lakukan] sepeninggalku5 karena istriku adalah seorang yang mandul. Maka, anugerahkanlah kepadaku dari rahmat Engkau seorang pengganti


5 Lit., “setelahku”. Jelas dia telah mengantisipasi bahwa kaum kerabatnya—yang seperti dirinya sendiri merupakan pendeta-pendeta yang hidup mengabdi di biara—akan terlalu lemah secara moral untuk memenuhi kewajiban mereka dengan teguh dan penuh martabat (Al-Razi) dan, dengan demikian, mungkin tidak mampu menjamin masa depan Maryam yang menjadi tanggung jawabnya (bdk. paragraf pertama Surah Ali ‘Imran [3]: 37).


Surah Maryam Ayat 6

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

yariṡunī wa yariṡu min āli ya’qụba waj’al-hu rabbi raḍiyyā

6. yang akan menjadi ahli warisku dan juga ahli waris [kemuliaan] Keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, wahai Pemeliharaku, seorang yang Kau ridhai!”


Surah Maryam Ayat 7

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

yā zakariyyā innā nubasysyiruka bigulāminismuhụ yaḥyā lam naj’al lahụ ming qablu samiyyā

7. [Kemudian, para malaikat menyerunya:6] “Wahai, Zakariya! Kami membawa kepadamu kabar gembira tentang [kelahiran] seorang putra yang akan diberi nama Yahya. [Dan Allah berfirman,] ‘Belum pernah Kami memberikan nama ini kepada seorang pun sebelum dia.'”7


6 Lihat Surah Ali ‘Imran [3]: 39.

7 Lit., “tidak pernah sebelumnya Kami menjadikan manusia yang senama dengan dia”. Nama Yahya {John, Yohanes} berarti “dia akan hidup”, yakni, secara spiritual akan hidup terus dan akan diingat selama-lamanya; dan fakta bahwa Allah sendiri yang memilih nama ini untuknya adalah suatu ciri khas tersendiri, yang sama dengan janji Ilahi (kalimah, bdk. catatan no. 28 pada Surah Ali ‘Imran [3]: 39).


Surah Maryam Ayat 8

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa kānatimra`atī ‘āqiraw wa qad balagtu minal-kibari ‘itiyyā

8. [Zakariya] menyeru, “Wahai, Pemeliharaku! Bagaimana aku akan memiliki putra, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sudah benar-benar lemah karena usia lanjut?”


Surah Maryam Ayat 9

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

qāla każālik, qāla rabbuka huwa ‘alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai`ā

9. Menjawablah [para malaikat], “Demikianlah, [tetapi] Pemeliharamu berfirman, ‘Ini mudah bagi-Ku—sebagaimana Aku telah menciptakan engkau dahulu dari ketiadaan.’”8


8 Lit., “ketika [atau ‘meskipun’] engkau belum ada sama sekali”. Dalam surah ini—sebagaimana dalam Surah Ali ‘Imran—penekanan terhadap kekuasaan Allah, yang tidak terbatas, untuk menciptakan suatu rentetan sebab-akibat yang baru merupakan suatu pendahuluan bagi kabar kelahiran Nabi Isa a.s. yang diungkapkan dengan kalimat yang sangat mirip (lihat ayat 19 dan seterusnya).


Surah Maryam Ayat 10

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۚ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

qāla rabbij’al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā

10. [Zakariya] berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Berikanlah aku suatu tanda!”

Berkata [para malaikat], “Tandamu adalah bahwa selama tiga malam penuh [dan siang] engkau tidak akan bercakap-cakap dengan manusia.”9


9 Lihat Surah Ali ‘Imran [3]: 41 dan catatannya (no. 29).


Surah Maryam Ayat 11

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

fa kharaja ‘alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥā ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa ‘asyiyyā

11. Kemudian, dia keluar dari mihrab menuju kaumnya dan memberitahukan kepada mereka [dengan isyarat]: “Bertasbihlah memuji kemuliaan-Nya yang tiada batas pada waktu pagi dan petang!”



Surah Maryam Ayat 12

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

yā yaḥyā khużil-kitāba biquwwah, wa ātaināhul-ḥukma ṣabiyyā

12. [Dan, ketika anak itu telah lahir dan tumbuh dewasa,10 dikatakan kepadanya,] “Wahai, Yahya! Berpegang teguhlah kepada kitab Ilahi dengan [seluruh] kekuatan[mu]!”—sebab, Kami telah menganugerahkan kepadanya hikmah selagi dia masih kecil,


10 Menurut Al-Razi, kalimat sisipan ini jelas tersirat karena ayat ini mengisyaratkan bahwa pada waktu itu Yahya telah mencapai suatu usia ketika dia telah mampu menerima dan memahami perintah Allah.


Surah Maryam Ayat 13

وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً ۖ وَكَانَ تَقِيًّا

wa ḥanānam mil ladunnā wa zakāh, wa kāna taqiyyā

13. demikian pula, dengan rahmat Kami, [pemberian] rasa kasih11 dan kesucian; dan dia [selalu] sadar akan Kami


11 Lit., “rasa kasih dari Kami”—yakni, sebagai suatu anugerah khusus dari Allah.


Surah Maryam Ayat 14

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

wa barram biwālidaihi wa lam yakun jabbāran ‘aṣiyyā

14. dan penuh pengabdian kepada kedua orangtuanya; dan dia tidak pernah sombong atau durhaka.


Surah Maryam Ayat 15

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

wa salāmun ‘alaihi yauma wulida wa yauma yamụtu wa yauma yub’aṡu ḥayyā

15. Karena itu, kedamaian [Allah] terlimpah atas dirinya pada hari dia dilahirkan, dan pada hari dia diwafatkan, dan akan [terlimpah kepadanya] pada hari dia dibangkitkan hidup [kembali].


Surah Maryam Ayat 16

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا

ważkur fil-kitābi maryam, iżintabażat min ahlihā makānan syarqiyyā

16. DAN, INGATLAH Maryam melalui kitab Ilahi ini.12 Lihatlah! Dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di timur


12 Lit., “di dalam kitab Ilahi”. Di dalam surah ini, sebagaimana juga di dalam Surah Ali ‘Imran, cerita kelahiran Nabi Yahya diikuti dengan cerita kelahiran Nabi Isa a.s.—pertama, karena Nabi Yahya (yang dijuluki sebagai “Sang Pembaptis” di dalam Bibel) diutus sebagai pendahulu Nabi Isa a.s., dan kedua, karena kelahiran kedua nabi ini diberitakan dengan modus yang sama.


Surah Maryam Ayat 17

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

fattakhażat min dụnihim ḥijābā, fa arsalnā ilaihā rụḥanā fa tamaṡṡala lahā basyaran sawiyyā

17. dan mengasingkan dirinya dari mereka,13 kemudian Kami utus kepadanya malaikat pembawa wahyu Kami, yang menampakkan diri kepadanya dalam bentuk manusia yang sempurna.14


13 Tampaknya, untuk mencurahkan dirinya dalam doa dan tafakur tanpa gangguan. Ada pun “suatu tempat di timur”, sebagaimana pendapat Ibn Katsir, mungkin berarti suatu ruangan di sebelah timur biara, tempat Maryam dipersembahkan oleh ibunya (bdk. Surah Ali ‘Imran [3]: 35-37).

14 Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 71 dan Surah An-Nahl [16], catatan no. 2, istilah ruh sering bermakna “ilham Ilahi”. Namun, kadang-kadang, istilah ini juga digunakan untuk menunjuk medium yang dipakai untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada manusia pilihan Allah: dengan kata lain, malaikat (atau kekuatan malaikati) pembawa wahyu. Karena—sebagaimana yang tersirat dalam Surah Al-An’am [6]: 9—manusia tidak mampu melihat malaikat dalam wujudnya yang asli, Allah menjadikan malaikat itu tampil di hadapan Maryam “dalam bentuk manusia yang utuh”, yakni dalam bentuk yang dapat dilihat melalui indranya. Menurut Al-Razi, penyebutan malaikat sebagai ruh mengindikasikan bahwa makhluk jenis ini murni bersifat spiritual, tanpa unsur fisik sama sekali.


Surah Maryam Ayat 18

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

qālat innī a’ụżu bir-raḥmāni mingka ing kunta taqiyyā

18. Maryam berseru, “Sungguh, aku berlindung kepada Yang Maha Pengasih darimu! [Janganlah mendekatiku] jika engkau sadar akan Dia!”


Surah Maryam Ayat 19

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

qāla innamā ana rasụlu rabbiki li`ahaba laki gulāman zakiyyā

19. [Malaikat] menjawab, “Aku hanyalah utusan Pemeliharamu, [yang berfirman,] ‘Aku akan menganugerahkan kepadamu hadiah berupa putra yang diberkati dengan kesucian.’”


Surah Maryam Ayat 20

قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

qālat annā yakụnu lī gulāmuw wa lam yamsasnī basyaruw wa lam aku bagiyyā

20. Berkatalah Maryam, “Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang anak, padahal tak seorang Iaki-laki pun pernah menyentuhku?—sebab, tidak pernah aku menjadi seorang wanita pezina!”


Surah Maryam Ayat 21

قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

qāla każālik, qāla rabbuki huwa ‘alayya hayyin, wa linaj’alahū āyatal lin-nāsi wa raḥmatam minnā, wa kāna amram maqḍiyyā

21. [Malaikat] menjawab, “Demikianlah; [tetapi] Pemeliharamu berfirman, ‘Ini mudah bagi-Ku;15 dan [engkau akan mempunyai seorang putra,] agar Kami dapat menjadikannya sebagai suatu perlambang bagi umat manusia dan sebagai suatu rahmat dari Kami.’”16

Dan, itu adalah suatu hal yang sudah diputuskan [Allah]:


15 Bdk. frasa yang identik dalam ayat 9, yang menceritakan pemberitaan kelahiran Nabi Yahya a.s. kepada Nabi Zakariya a.s. Dalam dua kasus ini, implikasinya adalah bahwa Allah mampu dan benar-benar menciptakan kejadian-kejadian yang sama sekali tidak terduga atau bahkan yang tidak dapat dipahami sebelum hal itu terwujud. Dalam hubungannya dengan berita tentang pemberian putra kepada Maryam, Al-Quran menyatakan dalam Surah Ali ‘Imran [3]: 47 bahwa “manakala Dia menetapkan untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya, ‘Jadilah’—maka terjadilah ia”: tetapi, karena baik Al-Quran maupun hadis sahih tidak pernah menceritakan apa pun kepada kita mengenai rantai sebab-akibat (asbab) yang menjeleskan bagaimana firman Allah “Jadilah” itu terwujud dalam realitas, semua spekulasi mengenai “bagaimana” sebenarnya kejadian ini terjadi berada di luar lingkup penafsiran Al-Quran. (Namun, lihat juga catatan no. 87 pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 91.)

16 Salah satu pengertian ayah adalah “tanda”, atau—seperti yang didefinisikan secara panjang lebar oleh Raghib—”suatu perlambang” (bdk. Surah Al-Isra’ [17], catatan no. 2). Namun, istilah ini lebih sering digunakan Al-Quran dalam makna “pesan [Ilahi]”: karena itu, penerapan istilah ini secara metonimia terhadap Nabi Isa a.s. bisa berarti bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi sarana pembawa pesan Allah kepada manusia—yakni, seorang nabi—dan, dengan demikian, menjadi suatu perlambang rahmat Allah. Adapun mengenai kalimat “engkau akan mempunyai seorang putra”, yang saya sisipkan di antara dua kurung siku, didasarkan pada pernyataan yang tersirat dalam frasa berikutnya yang dimulai dengan “li” (agar) (Al-Zamakhsyari dan Al -Razi).


Surah Maryam Ayat 22

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا

fa ḥamalat-hu fantabażat bihī makānang qaṣiyyā

22. dan ketika Maryam mengandung, kemudian dia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.


Surah Maryam Ayat 23

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

fa ajā`ahal-makhāḍu ilā jiż’in-nakhlah, qālat yā laitanī mittu qabla hāżā wa kuntu nas-yam mansiyyā

23. Maka, [ketika] rasa sakit karena melahirkan mendorongnya pada pangkal pohon kurma,17 Maryam berseru, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi sesuatu yang dilupakan, sama sekali dilupakan!”


17 Yakni, memaksa dia bersandar pada pohon tersebut untuk menahan tubuhnya: jadi, menekankan sifat alami dan normal dari peristiwa melahirkan anak, yang—sebagaimana dirasakan semua perempuan—diiringi dengan rasa sakit melahirkan yang sangat hebat.


Surah Maryam Ayat 24

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

fa nādāhā min taḥtihā allā taḥzanī qad ja’ala rabbuki taḥtaki sariyyā

24. Kemudian, [sebuah suara] memanggilnya dari bawah [pohon kurma]18 itu, “Janganlah bersedih! Pemeliharamu telah menjadikan anak sungai [mengalir] di bawahmu;


18 Atau: “dari bawahnya {Maryam}”. Namun, Qatadah (sebagaimana dikutip oleh Al-Zamakhsyari) menafsirkannya “dari bawah pohon kurma itu”.


Surah Maryam Ayat 25

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

wa huzzī ilaiki bijiż’in-nakhlati tusāqiṭ ‘alaiki ruṭaban janiyyā

25. dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu: ia akan menggugurkan buah kurma yang segar dan masak kepadamu.


Surah Maryam Ayat 26

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

fa kulī wasyrabī wa qarrī ‘ainā, fa immā tarayinna minal-basyari aḥadan fa qụlī innī nażartu lir-raḥmāni ṣauman fa lan ukallimal-yauma insiyyā

26. Maka, makan dan minumlah, dan biarkanlah matamu bersinar bahagia! Dan, jika engkau melihat manusia, sampaikanlah19 ini kepadanya: ‘Perhatikanlah, aku telah bernazar kepada Yang Maha Pengasih untuk tidak berbicara; karena itu, aku tidak boleh berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’”20


19 Lit., “katakanlah”—tetapi, karena terjemahan harfiah ini bertentangan secara maknawi dengan kalimat berikutnya, “katakanlah” di sini menyiratkan suatu komunikasi dengan isyarat.

20 Dalam pengertian yang utama, istilah shaum berarti “puasa” atau “menahan nafsu/diri”; dalam konteks ini sama artinya dengan shamt (“tidak berbicara”); kenyataannya, sebagaimana dijelaskan Al-Zamakhsyari, istilah shamt ini konon tercantum dalam mushaf Al-Quran milik ‘Abd Allah ibn Mas’ud (mungkin sebagai catatan pinggir untuk penjelasan).


Surah Maryam Ayat 27

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا

fa atat bihī qaumahā taḥmiluh, qālụ yā maryamu laqad ji`ti syai`an fariyyā

27. Dan, akhirnya Maryam kembali kepada kaumnya dengan menggendong anak itu.21

Mereka berkata, “Wahai, Maryam! Engkau benar-benar telah melakukan sesuatu yang sangat menghebohkan!


21 Lit., “dia {Maryam} datang dengannya kepada kaumnya, dengan menggendongnya {Isa}”.


Surah Maryam Ayat 28

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

yā ukhta hārụna mā kāna abụkimra`a sau`iw wa mā kānat ummuki bagiyyā

28. Wahai, saudara perempuan Harun!22 Ayahmu bukanlah seorang yang jahat dan ibumu bukanlah perempuan murahan!”


22 Dalam bahasa Semit kuno, nama seseorang sering dihubungkan dengan leluhur yang termasyhur atau pendiri garis kesukuan. Jadi, misalnya, seseorang dari suku Banu Tamim kadang-kadang dipanggil “anak Tamim” atau “saudara Tamim”. Karena Maryam merupakan keturunan golongan rahib, yakni keturunan Nabi Harun a.s., saudara Nabi Musa a.s., Maryam dipanggil sebagai “saudara Harun” (seperti saudara sepupunya, Elisabet, istri Zakariya, yang disebutkan di dalam Bibel, Lukas 1: 5, sebagai salah seorang dari “anak perempuan Harun”).


Surah Maryam Ayat 29

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا

fa asyārat ilaīh, qālụ kaifa nukallimu mang kāna fil-mahdi ṣabiyyā

29. Kemudian, Maryam menunjuk putranya.

Mereka berseru, “Bagaimana kami dapat berbicara dengan anak kecil [yang masih] dalam buaian?”


Surah Maryam Ayat 30

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

qāla innī ‘abdullāh, ātāniyal-kitāba wa ja’alanī nabiyyā

30. [Namun,] anak itu berkata,23 “Perhatikanlah, aku adalah hamba Allah. Dia memberiku wahyu dan menjadikanku seorang nabi,24


23 Meskipun Al-Quran menyebutkan dalam Surah Ali ‘Imran [3]: 46 bahwa Nabi Isa a.s. “berbicara kepada manusia [ketika masih] dalam buaiannya”—yakni, akan dikaruniai hikmah sejak kecil—ayat 30-33 ini tampaknya diungkapkan dalam gaya bahasa figuratif yang—untuk memberikan penekanan—memproyeksikan peristiwa yang akan terjadi dengan meoggunakan verba bentuk lampau untuk menggambarkan sesuatu yang akan menjadi kenyataan pada masa depan. (Lihat juga catatan benkut.)

24 Karena seseorang tidak mungkin mendapat wahyu Ilahi dan menjadi nabi sebelum mencapai kedewasaan intelektual dan pengalaman sepenuhnya, ‘Ikrimah dan Al-Dhahhak—sebagaimana dikutip Al-Thabari—menafsirkan frasa ini dengan pengertian “Allah telah menetapkan (qadha) bahwa Dia akan memberikan wahyu kepadaku …” dan seterusnya. Jadi, mereka memandang hal di atas sebagai suatu rujukan terhadap masa yang akan datang. Al-Thabari sendiri memberikan penafsiran yang sama pada ayat berikutnya sehingga penafsirannya menjadi: “Dia telah menetapkan bahwa Dia akan memerintahkan kepadaku shalat dan derma”. Namun, keseluruhan rangkaian ayat ini (ayat 30-33) bisa juga dipahami sebagai diucapkan Nabi Isa a.s. jauh sesudah hal itu—yakni, setelah beliau mencapai kedewasaan dan benar-benar sudah mendapatkan amanat misi kenabian: dengan kata lain, bagian ini bisa dipahami sebagai suatu gambaran antisipatif mengenai prinsip-prinsip moral dan etika yang memandu kehidupan Nabi Isa a.s. ketika dewasa dan, khususnya, mengenai kesadaran yang mendalam bahwa dirinya hanyalah “seorang hamba Allah”.


Surah Maryam Ayat 31

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

wa ja’alanī mubārakan aina mā kuntu wa auṣānī biṣ-ṣalāti waz-zakāti mā dumtu ḥayyā

31. dan menjadikanku seorang yang diberkati di mana pun aku berada; dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan derma selama aku hidup,


Surah Maryam Ayat 32

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

wa barram biwālidatī wa lam yaj’alnī jabbāran syaqiyyā

32. dan [telah memberkatiku dengan] pengabdian kepada ibuku; dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong atau tercabut dari rahmat.


Surah Maryam Ayat 33

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

was-salāmu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amụtu wa yauma ub’aṡu ḥayyā

33. “Karena itu, kedamaian dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, dan [akan dilimpahkan kepadaku] pada hari aku diwafatkan, serta pada hari ketika aku akan dibangkitkan hidup [kembali]!”



Surah Maryam Ayat 34

ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ

żālika ‘īsabnu maryam, qaulal-ḥaqqillażī fīhi yamtarụn

34. DEMIKIANLAH, dalam kata-kata yang benar, Isa putra Maryam, yang hakikatnya diperbantahkan mereka dengan sengit.25


25 Lit., “yang mereka ragukan “atau” yang mereka perselisihkan (dengan sia-sia]”: suatu pernyataan yang mengingatkan banyaknya perbedaan pandangan mengenai hakikat Nabi Isa a.s. dan kejadiannya, mulai dari pernyataan orang-orang Yahudi yang menghina dia sebagai “nabi palsu” dan anak zina (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 156) hingga kepercayaan orang Kristen bahwa beliau adalah “anak Allah” dan, karena itu, merupakan inkarnasi Allah. Sehubungan dengan ini, lihat juga Surah Ali ‘Imran [3]: 59 dan catatannya, no. 47.



Surah Maryam Ayat 35

مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ ۖ سُبْحَانَهُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

mā kāna lillāhi ay yattakhiża miw waladin sub-ḥānah, iżā qaḍā amran fa innamā yaqụlu lahụ kun fa yakụn

35. Tidak mungkin Allah mengambil bagi diri-Nya sendiri seorang anak: Maha Tak Terhingga Dia dalam kemuliaan-Nya!26 Manakala Dia menetapkan untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah”—maka terjadilah ia!


26 Lihat catatan no. 96 pada Surah Al-Baqarah [2]: 116.


Surah Maryam Ayat 36

وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

wa innallāha rabbī wa rabbukum fa’budụh, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

36. Dan [demikianlah, Isa selalu berkata]: “Sungguh, Allah adalah Pemeliharaku dan juga Pemeliharamu; maka, sembahlah Dia [saja]: inilah [satu-satunya] jalan yang lurus.”27


27 Bdk. Surah Ali ‘Imran [3]: 51 dan Surah Az-Zukhruf [43]: 64.


Surah Maryam Ayat 37

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ ۖ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ

fakhtalafal-aḥzābu mim bainihim, fa wailul lillażīna kafarụ mim masy-hadi yaumin ‘aẓīm

37. Namun, berbagai golongan [yang mengikuti Bibel] berselisih di antara mereka sendiri [tentang hakikat Isa]!28

Maka, celakalah semua yang mengingkari kebenaran ketika Hari yang dahsyat itu muncul!29


28 Yakni, atau sama sekali menolaknya (seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi), atau justru menuhankannya (seperti dalam kasus orang-orang Kristen).

29 Lit., “dari terwujudnya (masyhad) suatu Hari yang dahsyat”, yakni, Hari Pengadilan.


Surah Maryam Ayat 38

أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا ۖ لَٰكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

asmi’ bihim wa abṣir yauma ya`tụnanā lākiniẓ-ẓālimụnal-yauma fī ḍalālim mubīn

38. Alangkah jelasnya mereka mendengar dan melihat [kebenaran] pada Hari ketika mereka datang di hadapan Kami!

Namun, pada hari ini, orang-orang zalim itu jelas tersesat dalam kesalahan:


Surah Maryam Ayat 39

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

wa anżir-hum yaumal-ḥasrati iż quḍiyal-amr, wa hum fī gaflatiw wa hum lā yu`minụn

39. karena itu, berilah mereka peringatan [akan datangnya] Hari Penyesalan, ketika segala sesuatu akan diputuskan—sebab, mereka masih lalai dan tidak beriman [kepadanya].


Surah Maryam Ayat 40

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

innā naḥnu nariṡul-arḍa wa man ‘alaihā wa ilainā yurja’ụn

40. Perhatikanlah, Kami sajalah yang akan tetap ada setelah bumi dan semua yang hidup di atasnya mati,30 dan [ketika] semua akan dikembalikan kepada Kami.


30 Lit., “Kami sajalah yang akan mewarisi bumi beserta siapa pun yang ada di atasnya”. Untuk penjelasan mengenai konsep “pewarisan” yang digunakan secara metaforis ini, lihat Surah Al-Hijr [15], catatan no. 22.


Surah Maryam Ayat 41

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi ibrāhīm, innahụ kāna ṣiddīqan nabiyyā

41. DAN, INGATLAH, melalui kitab Ilahi ini, Ibrahim.31 Perhatikanlah, dia adalah seorang yang benar [lagi] seorang nabi


31 Penyebutan Nabi Ibrahim serta seruannya yang sia-sia terhadap ayahnya agar mengakui keesaan dan keunikan Allah, dalam aspek yang sama, berkaitan dengan pembahasan sebelumnya tentang hakikat Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa dan semata-mata seorang hamba Allah Yang Maha Esa.


Surah Maryam Ayat 42

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

iż qāla li`abīhi yā abati lima ta’budu mā lā yasma’u wa lā yubṣiru wa lā yugnī ‘angka syai`ā

42. ketika dia berkata [demikian] kepada bapaknya: “Wahai, Bapakku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak memberi manfaat apa pun kepadamu?


Surah Maryam Ayat 43

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

yā abati innī qad jā`anī minal-‘ilmi mā lam ya`tika fattabi’nī ahdika ṣirāṭan sawiyyā

43. “Wahai, Bapakku! Perhatikanlah, sungguh telah datang kepadaku [cahaya] pengetahuan yang belum pernah datang kepadamu:32 maka ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang sempurna.


32 Yakni, suatu pengertian mengenai eksistensi dan keunikan Allah melalui wawasan intelektual (intellectual insight) (bdk. Surah Al-An’am [6]: 74-82).


Surah Maryam Ayat 44

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

yā abati lā ta’budisy-syaiṭān, innasy-syaiṭāna kāna lir-raḥmāni ‘aṣiyyā

44. “Wahai, Bapakku! Janganlah engkau menyembah setan—sebab, sungguh, setan itu membangkang kepada Yang Maha Pengasih!33


33 Dalam ayat ini, kemustahilan yang inheren dalam tindakan menyifatkan nilai-nilai Ilahi kepada sesuatu atau seseorang selain Allah, secara tersirat, dinyatakan sama artinya dengan “menyembah” sikap “tidak mau menggunakan akal” dan tidak bersyukur” yang dilambangkan dengan tindakan setan yang membangkang penciptanya. Sehubungan dengan hal ini, harus diperhatikan bahwa istilah syaithan berasal dari verba syathana yang berarti “dia telah [atau ‘menjadi’] jauh [dari kebenaran]” (Lisan Al-‘Arab, Taj Al-‘Arus). Karena itu, Al-Quran menggambarkan bahwa setiap dorongan batin yang secara inheren mengingkari kebenaran, nalar, dan moral, sebagai “bersifat seperti setan”, dan setiap tindakan sadar untuk tunduk kepada pengaruh setani semacam itu dianggap sebagai suatu tindakan “menyembah setan”.


Surah Maryam Ayat 45

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

yā abati innī akhāfu ay yamassaka ‘ażābum minar-raḥmāni fa takụna lisy-syaiṭāni waliyyā

45. Wahai, Bapakku! Aku khawatir kalau-kalau engkau ditimpa hukuman dari Yang Maha Pengasih, dan kemudian engkau akan menjadi [sadar bahwa selama ini engkau] dekat dengan setan!”34


34 Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, konstruksi klausa ini (yang dimulai dengan “li” [sehingga]) dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa kesadaran yang terlambat pada Hari Kiamat—bahwa seseorang “dekat dengan setan”—adalah konsekuensi yang paling mengerikan dari perbuatan dosa yang disengaja.


Surah Maryam Ayat 46

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

qāla a rāgibun anta ‘an ālihatī yā ibrāhīm, la`il lam tantahi la`arjumannaka wahjurnī maliyyā

46. Dia menjawab, “Apakah engkau membenci tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Sungguh, jika engkau tidak berhenti, aku pasti akan membuatmu dirajam hingga mati! Sekarang, tinggalkanlah aku selama-lamanya!”


Surah Maryam Ayat 47

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

qāla salāmun ‘alaīk, sa`astagfiru laka rabbī, innahụ kāna bī ḥafiyyā

47. [Ibrahim] menjawab, “Kedamaian semoga dilimpahkan kepadamu! Aku akan memohon Pemeliharaku untuk mengampunimu: sebab, perhatikanlah, Dia senantiasa sangat baik kepadaku.


Surah Maryam Ayat 48

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

wa a’tazilukum wa mā tad’ụna min dụnillāhi wa ad’ụ rabbī ‘asā allā akụna bidu’ā`i rabbī syaqiyyā

48. Namun, aku akan menarik diri dari kalian semuanya dan dari apa yang kalian seru selain Allah, dan akan menyeru Pemeliharaku [saja]: boleh jadi, doaku [untukmu] dijawab Pemeliharaku.”35


35 Lit., “bahwa aku tidak akan kecewa dalam berdoa kepada Pemeliharaku”.


Surah Maryam Ayat 49

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

fa lamma’tazalahum wa mā ya’budụna min dụnillāhi wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụb, wa kullan ja’alnā nabiyyā

49. Dan, setelah Ibrahim menarik diri dari mereka dan dari semua yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub, dan menjadikan mereka masing-masing sebagai nabi;


Surah Maryam Ayat 50

وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا

wa wahabnā lahum mir raḥmatinā wa ja’alnā lahum lisāna ṣidqin ‘aliyyā

50. dan Kami anugerahkan kepada mereka [bermacam-macam] pemberian dari rahmat Kami, dan memberikan kepada mereka kekuatan yang tinggi untuk menyampaikan kebenaran [kepada orang lain].36


36 Lit., “suatu bahasa kebenaran yang tinggi” atau “kejujuran”—istilah lisan (“bahasa” atau “lidah”) di sini digunakan secara metonimia untuk apa saja yang diucapkan oleh lidah (Al-Zamakhsyari). Penafsiran lainnya dari frasa ini yang dikemukakan banyak mufasir adalah “menjadikan mereka sangat masyhur dalam hal kebearan” atau “kejujuran”, atau singkatnya “sangat termasyhur”.


Surah Maryam Ayat 51

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚ إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi mụsā innahụ kāna mukhlaṣaw wa kāna rasụlan nabiyyā

51. DAN, INGATLAH, melalui kitab Ilahi ini, Musa. Perhatikanlah, dia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul [Allah] dan nabi.37


37 Dalam konteks ini, penyebutan Nabi Musa a.s., dan nabi-nabi lainnya, menguatkan pernyataan bahwa mereka semua—sebagaimana Nabi Isa a.s.—adalah hamba-hamba Allah belaka, yang telah mendapatkan wahyu dari-Nya untuk disampaikan kepada manusia (bdk. ayat 30). Mengenai perbedaan antara istilah “nabi” (nabi, prophet) dan “rasul” (rasul, apostle) , lihatlah kalimat pembuka pada Surah Al-Hajj [22]: 52 dan catatannya, no. 65.


Surah Maryam Ayat 52

وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا

wa nādaināhu min jānibiṭ-ṭụril-aimani wa qarrabnāhu najiyyā

52. Dan, [ingatlah bagaimana] Kami memanggilnya dari sebelah kanan lereng Gunung Sinai38 dan mendekatkannya [kepada Kami] dalam keakraban mistik,


38 Yakni, dari arah kanan tempat Nabi Musa a.s. berdiri ketika dia menghadap Gunung Sinai (Al-Thabari). Namun, kemungkinan besar istilah “sisi kanan” di sini—sebagaimana juga pada ayat lainnya dalam Al-Quran—mempunyai konotasi abstrak yang artinya adalah “keadaan diberkahi” (bdk. catatan no. 25 pada Surah Al-Muddassir [74]: 39). Untuk keterangan lebih lengkap mengenai panggilan Allah kepada Musa untuk menjadi nabi, lihat Surah TaHa [20]: 9 dan ayat-ayat seterusnya.


Surah Maryam Ayat 53

وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا

wa wahabnā lahụ mir raḥmatinā akhāhu hārụna nabiyyā

53. dan [bagaimana] melalui rahmat Kami, telah Kami anugerahkan kepadanya Harun, saudaranya, menjadi seorang nabi [bersamanya].


Surah Maryam Ayat 54

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi ismā’īla innahụ kāna ṣādiqal-wa’di wa kāna rasụlan nabiyyā

54. DAN, INGATLAH, melalui kitab Ilahi ini, Isma’il.39 Perhatikanlah, dia adalah seorang yang selalu benar memegang janjinya, seorang rasul [Allah] dan nabi,


39 Setelah penyebutan Nabi Musa a.s., yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui Nabi Ishaq a.s., kita diingatkan mengenai Nabi Isma’il a.s. yang merupakan anak pertama Nabi Ibrahim a.s. dan yang menjadi nenek moyang kelompok suku-suku Arab bagian “utara”. Dengan demikian, kita juga diingatkan kepada Nabi Muhammad Saw., yang merupakan keturunan Nabi Isma’il a.s. melalui garis langsung dari suku Quraisy.


Surah Maryam Ayat 55

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

wa kāna ya`muru ahlahụ biṣ-ṣalāti waz-zakāti wa kāna ‘inda rabbihī marḍiyyā

55. yang memerintahkan shalat dan derma40 kepada kaumnya, dan mendapatkan ridha dalam pandangan Pemeliharanya.


40 Boleh jadi, ini mungkin berarti bahwa Nabi Isma’il a.s. adalah nabi pertama yang menetapkan shalat dan sedekah sebagai bentuk-bentuk ibadah yang wajib.


Surah Maryam Ayat 56

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

ważkur fil-kitābi idrīsa innahụ kāna ṣiddīqan nabiyyā

56. DAN, INGATLAH, melalui kitab Ilahi ini, Idris.41 Perhatikanlah, dia adalah seorang yang benar dan seorang nabi,


41 Mayoritas mufasir klasik menyamakan Nabi Idris a.s.—yang di dalam Al-Quran disebutkan sekali lagi pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 85—dengan Henokh yang disebutkan di dalam Bibel (Kejadian 5: 18-19 dan 21-24). Namun, mereka tidak mampu mengemukakan satu riwayat pun untuk membuktikan penyamaan yang hanya bersifat terkaan ini. Beberapa mufasir Al-Quran modern menganggap bahwa nama Idris mungkin merupakan bentuk Arabisasi dari Osiris (yang merupakan versi bahasa Yunani kuno dari nama orang Mesir As-ar atau Us-ar), yang menurut cerita merupakan seorang raja yang bijaksana dan/atau nabi yang akhirnya dipertuhankan oleh orang Mesir (bdk. Maraghi [XVI, 64] dan Sayyid Quthb, Fi Zhilal Al-Quran, Kairo, t.t., [XVI, 44]); tetapi asumsi ini terlalu dibuat-buat sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan serius. Akhirnya, beberapa mufasir Al-Quran yang paling awal (‘Abd Allah ibn Mas’ud, Qatadah, ‘Ikrimah, dan Al-Dhahhak) mengemukakan pendapat yang—menurut pikiran saya—lebih masuk akal, yakni bahwa Idris adalah nama lain dari Ilyas atau Elia, menurut Bibel (mengenai siapa Ilyas ini, lihat catatan no. 48 pada Surah As-Saffat [37]: 123).


Surah Maryam Ayat 57

وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

wa rafa’nāhu makānan ‘aliyyā

57. yang Kami muliakan ke martabat yang tinggi.42


42 Mengenai terjemahan saya atas kata rafa’nahu menjadi “yang Kami muliakan”, lihat Surah Ali ‘Imran [3]: 55 dan An-Nisa’ [4]: 158 (beserta catatan no. 172). Pada kedua ayat itu, kata yang sama digunakan untuk merujuk pada Nabi Isa a.s.


Surah Maryam Ayat 58

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

ulā`ikallażīna an’amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna min żurriyyati ādama wa mim man ḥamalnā ma’a nụḥiw wa min żurriyyati ibrāhīma wa isrā`īla wa mim man hadainā wajtabainā, iżā tutlā ‘alaihim āyātur-raḥmāni kharrụ sujjadaw wa bukiyyā

58. MEREKA INI adalah sebagian dari nabi yang telah diberi nikmat oleh Allah—[nabi-nabi] dari keturunan Adam dan dari orang-orang yang Kami angkut [dalam perahu] bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil:43 dan [mereka ini semuanya] termasuk orang-orang yang telah Kami tunjuki dan pilih; [dan] setiap kali disampaikan ayat-ayat Yang Maha Pengasih kepada mereka, mereka menyungkurkan diri [di hadapan-Nya] dengan bersujud dan menangis.44


43 Sementara para nabi Ibrani, yang garis keturunannya berakhir pada Nabi Isa a.s., merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui Nabi Ishaq a.s. dan Israil (Nabi Ya’qub a.s.), Nabi Muhammad Saw. adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui putranya yang pertama, yakni Nabi Isma’il a.s.

44 Yakni, semua nabi itu menyadari bahwa mereka tidak lebih dari manusia biasa dan hamba-hamba sederhana Allah. (Lihat juga Surah As-Sajdah [32]: 15.)



Surah Maryam Ayat 59

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

fa khalafa mim ba’dihim khalfun aḍā’uṣ-ṣalāta wattaba’usy-syahawāti fa saufa yalqauna gayyā

59. Namun, mereka digantikan oleh generasi [orang-orang] yang menyia-nyiakan seluruh [perhatian tentang] shalat dan [hanya] memperturutkan syahwatnya; dan mereka kelak akan menemui kekecewaan yang amat besar.45


45 Yakni, pada hari kemudian, mereka akan menyadari sepenuhnya ketertipuan-diri yang mengantarkan mereka pada kebinasaan spiritual.


Surah Maryam Ayat 60

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

illā man tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa ulā`ika yadkhulụnal-jannata wa lā yuẓlamụna syai`ā

60. Namun, orang-orang yang bertobat dan meraih keimanan dan beramal saleh akan dikecualikan: sebab, merekalah yang akan masuk surga dan tidak akan dirugikan sedikit pun:46


46 Yakni, tidak saja pahala mereka tidak akan dikurangi, sekecil apa pun perbuatan baik yang mereka lakukan, tetapi anugerah yang diberikan akan jauh melampaui pahala mereka yang sebenarnya (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 40).


Surah Maryam Ayat 61

جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا

jannāti ‘adninillatī wa’adar-raḥmānu ‘ibādahụ bil-gaīb, innahụ kāna wa’duhụ ma`tiyyā

61. [bagi merekalah] taman-taman kebahagiaan abadi yang telah dijanjikan Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, dalam dunia yang berada di luar jangkauan persepsi manusia:47 [dan] sungguh, janji-Nya itu pasti selalu ditepati!


47 Parafrasa yang panjang dari ungkapan bi al-ghaib ini, menurut saya, merupakan penafsiran yang paling mendekati terhadap gagasan yang dikandung oleh ungkapan tersebut: yakni, adanya suatu realitas yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia dalam kaitannya dengan pengalaman keduniawiannya sehingga hanya dapat ditunjukkan secara tidak langsung melalui ungkapan alegoris. (Lihat juga klausa pertama dari Surah Al-Baqarah [2]: 3 dan catatannya [no. 3].)


Surah Maryam Ayat 62

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا ۖ وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

lā yasma’ụna fīhā lagwan illā salāmā, wa lahum rizquhum fīhā bukrataw wa ‘asyiyyā

62. Di sana, mereka tidak akan mendengar perkataan yang tak berguna—kecuali [berita] kesejahteraan dan kedamaian batin;48 dan di dalamnya mereka akan mendapatkan rezeki pada pagi maupun petang:49


48 Istilah salam mengandung konsep kesejahteraan dan kedamaian spiritual, kebebasan dari segala macam kesalahan dan kejahatan, serta kepuasan batin. Sebagaimana telah saya jelaskan dalam catatan no. 29 pada Surah Al-Ma’idah [5]: 16 (yang di dalamnya istilah ini diterjemahkan, dalam konteks yang berbeda, menjadi salvation: “keselamatan”), padanan kata yang paling dekat dengannya—waJaupun sama sekali tidak sempurna—adalah kata bahasa Prancis salut dalam pen,gertian abstraknya, atau kata bahasa Jerman, Heil.

49 Yakni, selalu. Harus dicatat bahwa istilah rizq (“rezeki”) dipakai untuk menunjuk segala sesuatu yang menguntungkan bagi makhluk hidup, baik secara spiritual maupun secara fisik.


Surah Maryam Ayat 63

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا

tilkal-jannatullatī nụriṡu min ‘ibādinā mang kāna taqiyyā

63. inilah surga yang akan Kami berikan sebagai warisan kepada hamba-hamba Kami yang sadar akan Kami.


Surah Maryam Ayat 64

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

wa mā natanazzalu illā bi`amri rabbik, lahụ mā baina aidīnā wa mā khalfanā wa mā baina żālika wa mā kāna rabbuka nasiyyā

64. DAN [para malaikat berkata], “Kami tidak turun berulang-ulang [dengan membawa wahyu], kecuali dengan perintah Pemeliharamu: kepunyaan-Nya semua yang terbentang di hadapan kita dan semua yang tersembunyi dari kita serta semua yang ada di antara keduanya.50 Dan, Pemeliharamu tidak pernah lupa [sesuatu pun]—


50 Yakni, yang bahkan para malaikat hanya dapat melihatnya sekilas, tetapi tidak mengerti sepenuhnya. Secara harfiah, frasa di atas berbunyi “apa-apa yang ada di antara tangan-tangan kita dan apa-apa yang ada di belakang kita serta apa apa yang ada di antaranya”. Mengenai ungkapan idiomatik ini, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 255—”Dia mengetahui segala yang terbentang di hadapan manusia dan segala yang tersembunyi dari mereka”—dan catatannya, no. 247. Paparan tentang malaikat ini berkaitan dengan penyebutan beberapa nabi terdahulu dalam ayat-ayat sebelumnya yang, seperti Nabi Muhammad Saw., menerima wahyu Allah.


Surah Maryam Ayat 65

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā fa’bud-hu waṣṭabir li’ibādatih, hal ta’lamu lahụ samiyyā

65. Pemelihara lelangit dan bumi dan semua yang ada di antara keduanya! Maka, sembahlah Dia saja, dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya! Tahukah engkau, apakah ada yang namanya layak disebutkan berdampingan dengan nama-Nya?”


Surah Maryam Ayat 66

وَيَقُولُ الْإِنْسَانُ أَإِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا

wa yaqụlul-insānu a iżā mā mittu lasaufa ukhraju ḥayyā

66. DENGAN SEMUA INI, manusia [sering] berkata, “Apa? Setelah aku mati, akankah aku dijadikan hidup kembali?”


Surah Maryam Ayat 67

أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا

a wa lā yażkurul-insānu annā khalaqnāhu ming qablu wa lam yaku syai`ā

67. Namun, apakah manusia tidak ingat bahwa dahulu Kami telah menciptakannya dari ketiadaan?51


51 Lit., “ketika [atau ‘meskipun’] dia tidak ada sama sekali”.


Surah Maryam Ayat 68

فَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا

fa wa rabbika lanaḥsyurannahum wasy-syayāṭīna ṡumma lanuḥḍirannahum ḥaula jahannama jiṡiyyā

68. Maka, demi Pemeliharamu, [pada Hari Pengadilan,] Kami pasti akan membangkitkan mereka bersama kekuatan-kekuatan setani [yang menggoda mereka dalam kehidupan]52 dan kemudian Kami pasti akan mengumpulkan mereka dalam keadaan berlutut di sekeliling neraka;


52 Lihat Surah Al-Hijr [15], paruh pertama catatan no. 16, bandingkan juga dengan ungkapan “menyembah setan” dalam ayat 44-45 surah ini dan catatannya (no. 33 dan 34). Simbolisme bahwa pada Hari Pengadilan para pendosa terkait “dengan kekuatan-kekuatan setani yang menggoda mereka dalam kehidupan” mudah dimengerti jika kita ingat—sebagaimana dijelaskan dalam catatan no. 10 pada Surah Al-Baqarah [2]: 14—bahwa istilah syaithan (“setan” atau “kekuatan setani”) sering digunakan di dalam Al-Quran untuk menggambarkan setiap kecenderungan jahat dalam diri manusia. Sedangkan, kata ganti “hum” (mereka) mengacu pada orang-orang yang menolak konsep kebangkitan dan hidup sesudah mati.


Surah Maryam Ayat 69

ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَٰنِ عِتِيًّا

ṡumma lananzi’anna ming kulli syī’atin ayyuhum asyaddu ‘alar-raḥmāni ‘itiyyā

69. dan kemudian, Kami sungguh akan menarik dari tiap-tiap golongan [pendosa itu] orang-orang yang paling berkukuh dalam pembangkangannya kepada Yang Maha Pengasih:53


53 Yakni, mereka yang secara sadar dan sengaja menolak gagasan mengenai tanggung jawab manusia di hadapan Allah dan kemudian menyesatkan pengikut mereka yang lebih lemah dan kurang memiliki kesadaran. Mereka inilah yang akan merasakan penderitaan paling pedih pada hari kemudian.


Surah Maryam Ayat 70

ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَىٰ بِهَا صِلِيًّا

ṡumma lanaḥnu a’lamu billażīna hum aulā bihā ṣiliyyā

70. sebab, sungguh, Kami paling mengetahui siapa di antara mereka yang paling pantas mendapatkan api neraka.54


54 Lit., “pembakaran di sana”: mengacu secara tidak langsung kepada fakta bahwa tidak semua pendosa akan terus-menerus merasakan penderitaan abadi—yang digambarkan Al-Quran sebagai neraka. (Partikel tsumma yang mengawali klausa ini di sini berfungsi sebagai konjungsi penjelas terkait pernyataan di ayat sebelumnya dan, karena itu, paling tepat diterjemahkan menjadi “sebab”.)


Surah Maryam Ayat 71

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

wa im mingkum illā wāriduhā, kāna ‘alā rabbika ḥatmam maqḍiyyā

71. Dan, setiap orang di antara kalian akan datang melihatnya:55 hal ini, bagi Pemeliharamu, adalah suatu ketetapan yang harus dipenuhi.


55 Lit., “tidak seorang pun di antara kalian kecuali akan mencapainya”. Menurut beberapa mufasir klasik, kata ganti “kum” (-kalian) mengacu pada para pendosa yang dibicarakan pada ayat sebelumnya dan, khususnya, pada mereka yang menolak mengimani kebangkitan; namun, mayoritas mufasir berpendapat bahwa kata ganti tersebut mengacu pada semua manusia, baik para pendosa maupun pelaku kebajikan, dengan pengertian bahwa semua “akan datang melihatnya”: demikianlah alasan terjemahan saya.


Surah Maryam Ayat 72

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

ṡumma nunajjillażīnattaqaw wa nażaruẓ-ẓālimīna fīhā jiṡiyyā

72. Dan sekali lagi:56 Kami akan menyelamatkan [dari neraka] orang-orang yang sadar akan Kami; tetapi, akan Kami biarkan orang-orang zalim itu dalam neraka, dalam keadaan berlutut.57


56 Untuk terjemahan tsumma yang khusus ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 31.

57 Yakni, benar-benar dihinakan dan dihancurkan karena kesadaran mereka yang terlambat terhadap keputusan Allah dan terhadap kebenaran-kebenaran etis yang dengan congkak telah mereka abaikan dalam kehidupan.


Surah Maryam Ayat 73

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālallażīna kafarụ lillażīna āmanū ayyul-farīqaini khairum maqāmaw wa aḥsanu nadiyyā

73. DAN setiap kali disampaikan kepada mereka ayat-ayat Kami dengan segala kejelasannya, mereka—yang berkukuh mengingkari kebenaran—biasa berkata kepada orang-orang yang telah meraih keimanan: “Manakah di antara kedua golongan manusia itu58 yang lebih kuat kedudukannya dan lebih unggul sebagai suatu umat?”59


58 Lit., “dua kelompok” atau “golongan”: suatu paparan terhadap dua tipe masyarakat manusia, yang dapat dikenali melalui perbedaan mereka yang mendasar dalam mendekati masalah keimanan dan moralitas. (Lihat catatan berikut ini.)

59 Lit., “yang lebih baik perkumpulannya”. ” Ucapan” majasi (parabolic) dari orang-orang yang tidak beriman ini mengimplikasikan, dalam bentuk pertanyaan retoris, suatu argumen yang sepintas lalu masuk akal, tetapi, pada hakikatnya, menyesatkan. Argumen ini mengunggulkan masyarakat yang menolak untuk tunduk terhadap suatu tuntunan moral absolut dan bertekad untuk menaati tuntutan asas manfaat semata. Dalam tatanan masyarakat yang demikian, kesuksesan materiel dan kekuasaan biasanya dipandang sebagai konsekuensi dari penolakan (yang kurang-lebih dilakukan secara sadar) terhadap semua perimbangan metafisika—dan, khususnya, penolakan terhadap semua yang terkandung dalam konsep “standar moral yang ditetapkan Allah”—dengan asumsi bahwa semua itu hanya merintangi jalan untuk mencapai “kemajuan” manusia secara bebas dan tidak terbatas. Jelaslah bahwa sikap haus kemajuan seperti ini (yang mencapai puncaknya dalam pernyataan modern bahwa “agama adalah candu bagi rakyat”) bertentangan sama sekali dengan tuntutan, yang disuarakan oleh setiap agama yang lebih tinggi, bahwa kehidupan sosial manusia—jika ingin menjadi kehidupan yang benar-benar “baik”—harus tunduk pada prinsip-prinsip dan larangan etis yang jelas dan tegas. Sesuai dengan sifat dasarnya, larangan-larangan ini menghambat dorongan-berkuasa tanpa kendali yang mendominasi masyarakat yang lebih materialistis. Dorongan ini memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk mencapai kenyamanan lahiriah dan kedudukan yang kuat dalam waktu yang sesingkat mungkin—tanpa memedulikan kerugian yang diderita orang lain dan kerusakan spiritual yang menimpa diri mereka sendiri. Namun, justru karena prinsip dan larangan ini berperan mengendalikan egoisme manusia dan rasa haus akan kekuasaan itu, hanya prinsip dan larangan ini yang mampu membebaskan masyarakat dari frustrasi dan ketegangan internal yang merusak-diri dan tidak berkesudahan, yang rentan menimpa masyarakat materialistis. Pada gilirannya, prinsip dan larangan tersebut menciptakan kondisi kesejahteraan sosial yang lebih abadi, karena bersifat lebih organis. Singkatnya, inilah jawaban Al-Quran yang diungkapkan secara eliptis dan tersirat terhadap pertanyaan retoris yang disampaikan oleh “mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran” itu.


Surah Maryam Ayat 74

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِئْيًا

wa kam ahlaknā qablahum ming qarnin hum aḥsanu aṡāṡaw wa ri`yā

74. Namun, betapa banyaknya generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka—[orang-orang] yang melampaui mereka dalam hal kekuasaan materi60 dan penampilan lahiriah!


60 Lit., “dalam kepemilikan” atau “keberlimpahan kepemilikan”. Dalam konteks ini—sebagaimana dalam ayat terakhir surah ini—istilah qarn tampaknya berarti “orang-orang dari suatu zaman”, yakni suatu “peradaban”.


Surah Maryam Ayat 75

قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلَالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَٰنُ مَدًّا ۚ حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ إِمَّا الْعَذَابَ وَإِمَّا السَّاعَةَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضْعَفُ جُنْدًا

qul mang kāna fiḍ-ḍalālati falyamdud lahur-raḥmānu maddā, ḥattā iżā ra`au mā yụ’adụna immal-‘ażāba wa immas-sā’ah, fa saya’lamụna man huwa syarrum makānaw wa aḍ’afu jundā

75. Katakanlah: “Bagi siapa pun yang hidup dalam kesesatan, semoga Yang Maha Pengasih memperpanjang jangka waktu kehidupannya!”61

[Dan, biarkanlah mereka mengatakan apa saja62] sampai tiba saatnya mereka menyaksikan [malapetaka] yang diancamkan kepada mereka—baik derita [di dunia ini] ataupun [ketika datangnya] Saat Terakhir—: sebab, pada saat itulah mereka akan mengetahui mana [dari dua golongan manusia itu] yang lebih buruk kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya!63


61 Atau: “memberinya kelonggaran” sehingga dia mempunyai kesempatan untuk menyadari kesalahan dan bertobat: dengan demikian, setiap orang yang beriman diperintahkan untuk mendoakan mereka yang berbuat dosa.

62 Kalimat sisipan ini mengacu pada, dan berkaitan dengan, “ucapan” para pengingkar kebenaran yang disebutkan dalam ayat 73 di atas (Al-Zamakhsyari).

63 Lit., “dalam hal dukungan” atau “pasukan/kekuatan” (jundan)—suatu ungkapan yang dalam konteks ini menunjuk pada sumber daya materiel dan kemampuan menggunakannya untuk mencapai tujuan yang baik.


Surah Maryam Ayat 76

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى ۗ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا

wa yazīdullāhullażīnahtadau hudā, wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawābaw wa khairum maraddā

76. Dan, Allah memberikan kesadaran yang lebih mendalam akan jalan yang benar kepada mereka yang mengambil manfaat dari petunjuk [Nya];64 dan perbuatan-perbuatan baik—yang buahnya kekal itu—jauh lebih besar nilainya dalam pandangan Pemeliharamu [daripada harta duniawi apa pun], dan menghasilkan imbalan-imbalan yang jauh lebih baik.65


64 Lit., “Allah menambah petunjuk bagi mereka yang …” dst.

65 Lit., “yang lebih baik dalam pandangan Pemeliharamu dalam hal pahala dan lebih baik dalam hal pembalasan” (bdk. Surah Al-Kahfi [18]: 46).


Surah Maryam Ayat 77

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا

a fa ra`aitallażī kafara bi`āyātinā wa qāla la`ụtayanna mālaw wa waladā

77. Dan, pernahkah engkau perhatikan [jenis manusia] yang berkukuh mengingkari kebenaran ayat-ayat Kami dan berkata, “Pastilah aku akan diberi harta dan anak-anak”?66


66 Ini adalah ilustrasi lebih lanjut mengenai sikap yang digambarkan dalam ayat 73-75 sebelum ini (dan yang dijelaskan pada catatan no. 59): yakni, sikap mengutamakan nilai-nilai materiel dengan mengesampingkan semua pertimbangan moral dan keyakinan bahwa “kesuksesan” duniawi adalah satu-satunya hal yang berharga dalam kehidupan. Sebagaimana dalam ayat-ayat Al-Quran lainnya, konsep “sukses” yang materialistis ini secara metonimia dipadankan dengan tenggelamnya seseorang dalam memikirkan “harta dan anak-anak”.


Surah Maryam Ayat 78

أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

aṭṭala’al-gaiba amittakhaża ‘indar-raḥmāni ‘ahdā

78. Pernahkah dia mencapai alam yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk?67—atau sudahkah dia membuat perjanjian dengan Yang Maha Pengasih?


67 Dalam konteks ini, istilah al-ghaib berarti masa depan yang tidak diketahui.


Surah Maryam Ayat 79

كَلَّا ۚ سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا

kallā, sanaktubu mā yaqụlu wa namuddu lahụ minal-‘ażābi maddā

79. Tidak! Kami akan mencatat apa yang dia katakan dan Kami akan memperpanjang deritanya [pada Hari Kiamat],


Surah Maryam Ayat 80

وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأْتِينَا فَرْدًا

wa nariṡuhụ mā yaqụlu wa ya`tīnā fardā

80. dan mengambil alih68 semua yang dia bicarakan [kini]: sebab, [pada Hari Pengadilan,] dia akan datang kepada Kami seorang diri.69


68 Lit., “mewarisi darinya”—suatu metafora yang berdasarkan konsep pengambilalihan yang dilakukan seseorang terhadap apa yang dahulu dimiliki atau menjadi bagian dari orang lain. {Maksudnya, Allah akan mengambil alih harta dan anak-anaknya yang menjadi tumpuan harapannya; lihat ayat 77 sebelumnya.—peny.}

69 Yakni, sendiri tanpa dukungan siapa pun sehingga hanya bergantung pada rahmat dan kemurahan Allah semata (bdk. Surah Al-An’am [6]: 94 dan juga ayat 95 surah ini).


Surah Maryam Ayat 81

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا

wattakhażụ min dụnillāhi ālihatal liyakụnụ lahum ‘izzā

81. Karena orang-orang [seperti] ini telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, dengan berharap bahwa sembahan-sembahan itu akan menjadi [sumber] kekuatan bagi mereka.70


70 Ini mengacu kepada tipe manusia yang dibicarakan pada bagian sebelumnya, sebagaimana dibicarakan juga pada ayat 73-75: orang-orang yang “menyembah” kekayaan dan kekuasaan dengan cara yang hampir menyerupai ketaatan religius dan menyamakan manifestasi kesuksesan duniawi ini dengan kekuatan Ilahi.


Surah Maryam Ayat 82

كَلَّا ۚ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

kallā, sayakfurụna bi’ibādatihim wa yakụnụna ‘alaihim ḍiddā

82. Namun, tidak! [Pada Hari Pengadilan,] mereka [sembahan-sembahan itu] akan mengingkari penyembahan terhadap mereka, dan akan beralih melawan mereka [yang telah menyembahnya]!


Surah Maryam Ayat 83

أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا

a lam tara annā arsalnasy-syayāṭīna ‘alal-kāfirīna ta`uzzuhum azzā

83. TIDAKKAH ENGKAU sadari bahwa Kami membiarkan semua [jenis] kekuatan setani71 pergi menuju orang-orang yang mengingkari kebenaran—[kekuatan] yang menggoda mereka [melakukan dosa] dengan godaan yang kuat?72


71 Lit., “setan-setan”. Istilah setan sering dipakai Al-Quran untuk menggambarkan semua hal yang secara intrinsik jahat, khususnya dorongan-dorongan imoral dalam jiwa manusia (bdk. catatan no. 10 pada Surah Al-Baqarah [2]: 14 dan catatan no. 33 pada ayat 44 surah ini).

72 Lihat catatan no. 31 pada Surah Al-Hijr [15]: 41. Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, “Kami membiarkan pergi (arsalna) semua [jenis] kekuatan setani (syayathin) menuju orang-orang yang mengingkari kebenaran” di sini berarti “Kami mengizinkan mereka (syayathin) berbuat secara aktif (khallaina) terhadap mereka” sehingga terpulang pada kebebasan kehendak manusia untuk menerima atau menolak pengaruh atau godaan jahat tersebut. Al-Razi, khususnya, dalam konteks ini menunjuk pada Surah Ibrahim [14]: 22 yang menyebutkan bahwa pada Hari Kebangkitan, setan akan berkata kepada para pendosa, “Aku sama sekali tidak mempunyai kekuasaan terhadap kalian, aku hanya menyeru kalian—dan kalian menanggapiku. Karena itu, janganlah kalian menyalahkanku, tetapi salahkan diri kalian sendiri.” Lihat juga catatan no. 31 pada Surah Ibrahim [14]: 22, yang di dalamnya tafsiran Al-Razi dikutip secara kata per kata.


Surah Maryam Ayat 84

فَلَا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

fa lā ta’jal ‘alaihim, innamā na’uddu lahum ‘addā

84. Karena itu, janganlah tergesa-gesa [memohon turunnya hukuman Allah] terhadap mereka: sebab, Kami hanyalah menghitung bilangan hari-hari mereka.73


73 Ljt., “Kami hanyalah menghitung untuk mereka suatu hitungan”. Bdk. juga dengan kalimat pertama ayat 75.


Surah Maryam Ayat 85

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَٰنِ وَفْدًا

yauma naḥsyurul-muttaqīna ilar-raḥmāni wafdā

85. Pada Hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang sadar akan Allah menuju [Kami,] Yang Maha Pengasih, sebagai tamu-tamu yang terhormat,


Surah Maryam Ayat 86

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرْدًا

wa nasụqul-mujrimīna ilā jahannama wirdā

86. dan menghalau orang-orang yang berdosa ke neraka seperti iringan hewan ternak yang kehausan yang dihalau ke sumur—


Surah Maryam Ayat 87

لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

lā yamlikụnasy-syafā’ata illā manittakhaża ‘indar-raḥmāni ‘ahdā

87. [pada Hari itu] tidak ada yang akan mendapatkan [manfaat] syafaat, kecuali dia [yang pada masa hidupnya] telah mengadakan ikatan dengan Yang Maha Pengasih.74


74 Lit., “kecuali dia yang telah …,” dan seterusnya. Menurut para mufasir klasik—termasuk beberapa Sahabat Nabi yang terkemuka—”ikatan dengan Allah” dalam konteks ini berarti kesadaran akan keesaan dan keunikan Allah; untuk implikasi yang lebih luas dari istilah ini, Iihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19. Karena itu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Razi, bahkan para pelaku dosa besar pun masih boleh mengharapkan ampunan Allah—hal ini secara simbolik diungkapkan melalui hak untuk mendapatkan “syafaat”, yang akan diberikan kepada para nabi pada Hari Pengadilan (lihat catatan no. 7 pada Surah Yunus [10]: 3)—dengan syarat bahwa selama hidup di dunia, mereka menyadari eksistensi dan keesaan Allah.


Surah Maryam Ayat 88

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا

wa qāluttakhażar-raḥmānu waladā

88. Namun,75 sebagian orang menyatakan, “Yang Maha Pengasih mengambil untuk diri-Nya sendiri seorang anak!”76


75 Lit., “Dan” (wa), yang mengaitkan ayat ini dengan ayat 81.

76 Acuan terhadap kepercayaan agama Kristen ini, yang meyakini bahwa Yesus adalah “anak Allah”—dan, secara umum, terhadap setiap kepercayaan tentang “inkarnasi” (perwujudan) Allah ke dalam makhluk—melanjutkan tema yang mulai dibicarakan pada ayat 81: yakni, penuhanan daya-daya atau wujud-wujud selain Allah “dengan meyakini bahwa daya-daya atau wujud-wujud ini menjadi sumber kekuatan” bagi mereka yang mengandalkannya. Namun, sementara ayat 81 secara khusus mengacu pada orang-orang tak bertuhan (yang memberikan status quasi-ketuhanan kepada kekayaan materiel dan kekuasaan, serta menelantarkan diri mereka sendiri untuk sepenuhnya mengejar kesuksesan duniawi), ayat 88 ini mengacu pada orang-orang yang, walaupun beriman kepada Allah, pada saat yang sama juga menuhankan para nabi dan orang-orang suci dengan harapan, di bawah sadar, bahwa mereka itu bisa menjadi “perantara” untuk berhubungan dengan Yang Mahakuasa. Karena penuhanan ini menyalahi prinsip keesaan dan keunikan Allah yang transendental, tindakan ini berarti pelanggaran manusia terhadap “ikatan dengan Allah” dan, jika secara sadar terus-menerus diyakini, akan menjadi dosa yang tidak diampuni (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 48 dan 116).


Surah Maryam Ayat 89

لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا

laqad ji`tum syai`an iddā

89. Sungguh, [dengan pernyataan ini,] kalian telah menimbulkan suatu yang dahsyat,


Surah Maryam Ayat 90

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا

takādus-samāwātu yatafaṭṭarna min-hu wa tansyaqqul-arḍu wa takhirrul-jibālu haddā

90. akibatnya, lelangit hampir pecah berkeping-keping, bumi pecah terbelah-belah, dan gunung-gunung hancur menjadi reruntuhan!


Surah Maryam Ayat 91

أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا

an da’au lir-raḥmāni waladā

91. Bahwa manusia menisbahkan anak kepada Yang Maha Pengasih,


Surah Maryam Ayat 92

وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

wa mā yambagī lir-raḥmāni ay yattakhiża waladā

92. meskipun mustahil bahwa Yang Maha Pengasih mengambil untuk diri-Nya sendiri seorang anak!77


77 Gagasan bahwa Allah mungkin mempunyai seorang “anak”—baik dalam pengertian sebenarnya maupun metaforis—mengandung praanggapan adanya keserupaan dalam derajat tertentu antara “ayah” dan “anak”: namun, Allah bersifat unik dalam segala hal, sehingga “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Surah Asy-Syura’ [42]: 11) dan “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya” (Surah Al-Ikhlash [112]: 4). Lagi pula, konsep “anak” menyiratkan suatu kelanjutan organis dari orangtua, atau suatu bagian darinya di dalam makhluk lain dan, karena itu, mengasumsikan adanya kekurangan dalam derajat tertentu sebelum terjadinya peristiwa prokreasi (atau peristiwa inkarnasi, jika istilah “anak” digunakan secara metaforis): dan gagasan tentang “kekurangan” ini, dalam pengertian apa pun, mengingkari konsep tentang ketuhanan itu sendiri. Namun, bahkan jika gagasan “anak” ini dimaksudkan untuk mengungkapkan tidak lebih dari suatu “aspek” yang berbeda dengan Ketuhanan Yang Esa (sebagaimana diklaim dalam dogma Kristen tentang konsep “Trinitas”), hal ini digambarkan dalam Al-Quran sebagai pelecehan terhadap Allah karena hal ini sama dengan usaha mendefinisikan-Nya, padahal Dia “Mahasuci dan Mahatinggi melampaui apa pun yang mungkin dipikirkan manusia melalui definisi” (lihat kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 100).


Surah Maryam Ayat 93

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

ing kullu man fis-samāwāti wal-arḍi illā ātir-raḥmāni ‘abdā

93. Tidak satu pun dari semua [makhluk] yang ada di Ielangit dan di bumi datang ke hadapan Yang Maha Pengasih, kecuali sebagai hamba:78


78 Yakni, mereka seluruhnya—baik manusia maupun malaikat—hanyalah makhluk yang tidak memiliki bagian apa pun dalam ketuhanan-Nya, dan mereka semua tunduk, sadar maupun tidak, pada kehendak-Nya (bdk. Surah Ar-Ra’d [13]: 15 dan Surah An-Nahl [16]: 48-49).


Surah Maryam Ayat 94

لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا

laqad aḥṣāhum wa ‘addahum ‘addā

94. sungguh, Allah Maha Mengetahui mereka dan telah menghitung jumlah mereka dengan hitungan [yang teliti];


Surah Maryam Ayat 95

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

wa kulluhum ātīhi yaumal-qiyāmati fardā

95. dan masing-masing dari mereka akan datang ke hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan dengan sendiri-sendiri.79


79 Lihat catatan no. 69.


Surah Maryam Ayat 96

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti sayaj’alu lahumur-raḥmānu wuddā

96. SUNGGUH, orang-orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan, kelak Yang Maha Pengasih akan menganugerahkan cinta kepada mereka:80


80 Yakni, melimpahkan cinta-Nya kepada mereka dan menganugerahi mereka kemampuan untuk mencintai makhluk-Nya, dan juga menjadikan mereka dicintai sesamanya. Sebagaimana ditunjukkan pada ayat berikutnya, anugerah cinta ini merupakan unsur inheren yang terkandung dalam petunjuk yang diberikan kepada manusia melalui wahyu Ilahi.


Surah Maryam Ayat 97

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

fa innamā yassarnāhu bilisānika litubasysyira bihil-muttaqīna wa tunżira bihī qaumal luddā

97. dan hanya untuk maksud inilah Kami jadikan [kitab Ilahi] ini mudah dimengerti, dalam bahasamu sendiri [wahai Nabi,]81 agar dengannya engkau dapat memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sadar akan Allah, dan dengannya memperingatkan orang-orang yang berselisih [dengan sia-sia]:


81 Karena manusia tidak mampu memahami “kata-kata” Allah secara langsung, firman Allah itu selalu diwahyukan kepada manusia melalui bahasa manusia sendiri (bdk. Surah Ibrahim [14]: 4)—”Kami tidak pernah mengutus seorang rasul pun kecuali [dengan membawa pesan] dalam bahasa kaumnya sendiri”, dan selalu diuraikan dengan menggunakan konsep yang mampu dijangkau akal manusia: karena itu, wahyu yang diterima Nabi dikatakan sebagai “yang diturunkan ke atas hatimu” (Surah Al-Baqarah [2]: 97), atau “[ilham Ilahi] telah turun dengannya ke atas hatimu” (Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 193-194).


Surah Maryam Ayat 98

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا

wa kam ahlaknā qablahum ming qarn, hal tuḥissu min-hum min aḥadin au tasma’u lahum rikzā

98. sebab, betapa banyaknya generasi82 yang telah Kami binasakan sebelum mereka—[dan] dapatkah engkau melihat seorang saja dari mereka [kini,] atau rnendengar bisikan mereka?


82 Yakni, peradaban. Pengertian istilah qarn di sini sama pula dengan yang terdapat pada ayat 74.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)