Surat Luqman Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

31. Luqman (Luqman) – لقمان

Surat Luqman ( لقمان ) merupakan surah ke 31 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 34 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Luqman termasuk ke dalam kategori Surat Makkiyah.


Sama dengan surah sebelumnya, Surah Luqman ini diwahyukan pada pertengahan periode Makkah. Nama surah ini diambil dari ayat 12-19 yang bercerita tentang Luqman, manusia bijaksana yang legendaris itu, yang sedang menasihati putranya (lihat catatan no. 12).

Tidak ada alasan yang meyakinkan untuk menganggap, sebagaimana yang dilakukan beberapa mufasir, bahwa ayat-ayat tertentu dari surah ini termasuk ke dalam periode Madinah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah Luqman Ayat 1

الم

alif lām mīm

1. Alif. Lam. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Luqman Ayat 2

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

tilka āyātul-kitābil-ḥakīm

2. INILAH PESAN-PESAN kitab Ilahi, yang penuh hikmah,2


2 Lihat catatan no. 2 pada Surah Yunus [10]: 1.


Surah Luqman Ayat 3

هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ

hudaw wa raḥmatal lil-muḥsinīn

3. yang memberikan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan


Surah Luqman Ayat 4

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

allażīna yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa hum bil-ākhirati hum yụqinụn

4. yang teguh mendirikan shalat dan berderma:3 sebab, mereka itulah orang-orang yang dalam sanubarinya meyakini kehidupan akhirat!


3 Tampaknya, istilah al-zakah di sini mengandung pengertian yang lebih umum, yakni “derma”, ketimbang pengertian legal, yakni “zakat iuran penyucian” (lihat catatan no. 34 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 43), lebih-lebih karena pasase di atas memiliki kemiripan pesan inti yang cukup erat dengan Surah Al-Baqarah [2]: 2-4, yang menggambarkan tindakan “menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka” sebagai salah satu dari sifat-sifat orang yang sadar akan Allah.


Surah Luqman Ayat 5

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

ulā`ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụn

5. Merekalah orang-orang yang mengikuti petunjuk [yang datang kepada mereka] dari Pemelihara mereka; dan, mereka itulah orang-orang yang akan meraih kebahagiaan!


Surah Luqman Ayat 6

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

wa minan-nāsi may yasytarī lahwal-ḥadīṡi liyuḍilla ‘an sabīlillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattakhiżahā huzuwā, ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn

6. Namun, di antara manusia ada banyak orang yang lebih suka pada permainan kata-kata semata [daripada petunjuk Ilahi]4 untuk menyesatkan [orang-orang] yang tidak berpengetahuan dari jalan Allah, dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan: bagi orang-orang seperti itu tersedia derita yang hina.


4 Lit., “di antara manusia terdapat orang [atau ‘segolongan orang’) yang mengambil perkataan main-main [atau ‘sia-sia’] sebagai pengganti”, yakni sebagai ganti petunjuk Ilahi: rupanya hal ini mengacu pada suatu permainan filosofis-semu dengan kata-kata dan spekulasi metafisik tanpa ada makna nyata apa pun dibaliknya (bdk. catatan no. 38 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 67). Bertentangan dengan anggapan sejumlah mufasir, pernyataan di atas tidak merujuk pada orang tertentu (yang diduga hidup semasa dengan Rasul), tetapi menggambarkan suatu tipe mentalitas dan, oleh karena itu, memiliki makna yang umum.


Surah Luqman Ayat 7

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّىٰ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

wa iżā tutlā ‘alaihi āyātunā wallā mustakbirang ka`al lam yasma’hā ka`anna fī użunaihi waqrā, fa basysyir-hu bi’ażābin alīm

7. Karena, setiap kali pesan-pesan Kami disampaikan kepada orang seperti itu, dia berpaling dengan menyombongkan diri5 seolah-olah dia belum belum pernah mendengarnya—seolah-olah ada ketulian di kedua telinganya: maka, berikanlah kepadanya kabar tentang penderitaan yang pedih [di akhirat].


5 Bdk. Surah Al-Mu’minun [23]: 66-67.


Surah Luqman Ayat 8

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

innallażīna āmanu wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum jannātun na’īm

8. [Sebaliknya,] sungguh, orang-orang yang meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan akan meraih taman-taman kebahagiaan,


Surah Luqman Ayat 9

خَالِدِينَ فِيهَا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

khālidīna fīhā, wa’dallāhi ḥaqqā, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

9. berkediaman di dalamnya sesuai dengan janji yang benar dari Allah: sebab, Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.6


6 Ketika menafsirkan tiga ayat di atas, Al-Razi menunjukkan bahwa, pertama, pembedaan yang disengaja antara kata berbentuk jamak pada frasa “taman-taman (jannat) kebahagiaan” dan kata berbentuk tunggal pada kata “penderitaan” (‘adzab) dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa rahmat Allah melampaui murka-Nya (bdk. catatan no. 10 pada Surah Al-An’am [6]: 12); dan, kedua, ungkapan “berkediaman (hidup kekal) di dalamnya” yang hanya digunakan dalam kaitannya dengan penyebutan surga, dan tidak digunakan dalam kaitannya dengan derita akhirat (atau neraka), adalah indikasi bahwa sementara kenikmatan surgawi tidak dibatasi jangka waktunya, derita yang digambarkan sebagai “neraka” akan dibatasi jangka waktunya.


Surah Luqman Ayat 10

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

khalaqas-samāwāti bigairi ‘amadin taraunahā wa alqā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bikum wa baṡṡa fīhā ming kulli dābbah, wa anzalnā minas-samā`i mā`an fa ambatnā fīhā ming kulli zaujing karīm

10. Dia[-lah yang] telah menciptakan lelangit tanpa penyangga apa pun yang dapat kalian lihat,7 dan telah meletakkan gunung-gunung yang kokoh di atas bumi agar bumi itu tidak bergoyang bersama kalian,8 dan telah menjadikan seluruh jenis makhluk hidup berkembang biak di atasnya.

Dan, Kami9 turunkan air dari langit, dan demikianlah Kami jadikan setiap jenis [kehidupan] yang mengesankan tumbuh di atas bumi.10


7 Lihat catatan no. 4 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 2.

8 Lihat catatan no. 11 pada Surah An-Nahl [16]: 15.

9 Ini adalah contoh lain dari sekian banyak contoh ayat Al-Quran yang menampilkan perubahan yang tiba-tiba dalam kata ganti yang mengacu pada Allah—dalam contoh ini, dari “Dia” menjadi “Kami”—untuk menunjukkan, pertama, bahwa Allah, karena Dia tidak terhingga, tidak dapat dirujuk melalui kata ganti apa pun yang bisa diterapkan pada makhluk-makhluk ciptaan yang terbatas; dan, kedua, bahwa penggunaan kata ganti seperti ini dengan merujuk pada-Nya tidak lain hanyalah suatu kelonggaran yang diberikan mengingat terbatasnya semua bahasa manusia.

10 Lit., “di atasnya”. Seperti dalam Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 7, istilah zauj di sini berarti “satu jenis”.


Surah Luqman Ayat 11

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

hāżā khalqullāhi fa arụnī māżā khalaqallażīna min dụnih, baliẓ-ẓālimụna fī ḍalālim mubīn

11. [Semua] ini adalah ciptaan Allah: maka, perlihatkanlah kepada-Ku apa yang telah diciptakan oleh selain Allah! Tidak, tetapi orang-orang yang zalim itu11 nyata-nyata tenggelam dalam kesalahan!


11 Secara tersirat, “yang menisbahkan kekuatan-kekuatan Ilahi kepada makhluk-makhluk atau benda-benda selain Allah”.


Surah Luqman Ayat 12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

wa laqad ātainā luqmānal-ḥikmata anisykur lillāh, wa may yasykur fa innamā yasykuru linafsih, wa mang kafara fa innallāha ganiyyun ḥamīd

12. DAN, SUNGGUH, telah Kami anugerahkan hikmah ini kepada Luqman:12 “Bersyukurlah kepada Allah—sebab, orang yang bersyukur [kepada-Nya], semata-mata bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri; sedangkan, orang yang memilih untuk tidak bersyukur [hendaklah mengetahui bahwa], sungguh, Allah adalah Mahacukup, Maha Terpuji!”


12 Luqman, yang secara luas (meskipun tanpa dasar yang memadai) disamakan dengan Aesop, adalah figur legendaris yang tertanam kuat dalam tradisi orang Arab kuno sebagai prototipe orang bijak yang tidak memedulikan keagungan atau keuntungan duniawi dan berjuang untuk mencapai kesempurnaan batin. Jauh sebelum kedatangan Islam, sosok Luqman—yang diabadikan dalam sebuah puisi karya Ziyad ibn Mu’awiyah (yang lebih dikenal lewat nama-penanya, Nabighah Al-Dzubyani), yang hidup pada abad ke-6 M—telah menjadi tokoh dalam legenda-legenda, cerita-cerita, dan perumpamaan-perumpamaan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengungkapkan kebijaksanaan dan kematangan ruhani: dan, karena alasan inilah, Al-Qur’an memakai figur mitologis ini—sebagaimana ia juga menggunakan figur mitologis Al-Khidhr pada Surah Al-Kahfi—sebagai sarana untuk menyampaikan sejumlah peringatannya mengenai bagaimana sikap yang harus dijalani manusia.



Surah Luqman Ayat 13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya’iẓuhụ yā bunayya lā tusyrik billāh, innasy-syirka laẓulmun ‘aẓīm

13. Dan, lihatlah, Luqman berkata demikian kepada anaknya untuk menasihatinya, “Wahai, Anakku sayang!13 Janganlah menisbahkan kuasa-kuasa ketuhanan kepada apa pun selain Allah: sebab, perhatikanlah, tindakan [keliru] dalam menisbahkan ketuhanan seperti itu benar-benar suatu kezaliman yang dahsyat!”


13 Lit., “Wahai, Putra Kecilku”—sebuah kata diminutif (pengecil/pemanis [Arab: ism tasghir]) yang secara idiomatik mengungkapkan rasa sayang, terlepas dari apakah anak itu masih kecil ataupun sudah dewasa.


Surah Luqman Ayat 14

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

14. Dan, [Allah berfirman,] “Kami telah memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orangtuanya: ibunya telah mengandungnya dengan menanggung beban demi beban, dan kebergantungan penuhnya kepada ibunya berlangsung selama dua tahun:14 [karena itu, wahai manusia,] bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu [dan ingatlah bahwa] pada-Ku-lah akhir seluruh perjalanan.15


14 Lit., “sapihannya adalah (atau ‘berlangsung selama’) dua tahun”. Menurut beberapa filolog, istilah fishal melingkupi keseluruhan periode pembuahan, waktu selama hamil, kelahiran, dan masa kecil awal (Taj Al-‘Arus): singkatnya, periode ketika anak mulai lepas dari kebergantungan total pada ibunya.

15 Demikianlah, rasa syukur kepada orangtua—yang telah menjadi perantara lahirnya seseorang ke dunia di sini ditetapkan sebagai suatu hal yang beriringan dengan rasa syukur manusia kepada Allah, yang merupakan sebab dan sumber utama dari keberadaannya (bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 23-24).



Surah Luqman Ayat 15

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi’humā wa ṣāḥib-humā fid-dun-yā ma’rụfaw wattabi’ sabīla man anāba ilayy, ṡumma ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

15. “[Hormatilah orangtuamu;] sungguhpun begitu, jika mereka berupaya menjadikanmu menisbahkan ketuhanan, selain-Ku, kepada sesuatu yang akalmu tidak dapat menerimanya [sebagai bersifat Ilahi],16 janganlah menaati mereka; tetapi [meskipun begitu,] pergaulilah mereka dalam kehidupan dunia ini dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Pada akhirnya, kepada-Ku-lah kalian semua pasti kembali, kemudian Aku akan membuat kalian [benar-benar] memahami semua yang kalian kerjakan [dalam kehidupan].


16 Lit., “sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya”, yakni “sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuanmu, yakni bahwa sifat-sifat Ilahi hanyalah milik Allah semata” (bdk. Surah Al-‘Ankabut [29]: 8).


Surah Luqman Ayat 16

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

yā bunayya innahā in taku miṡqāla ḥabbatim min khardalin fa takun fī ṣakhratin au fis-samāwāti au fil-arḍi ya`ti bihallāh, innallāha laṭīfun khabīr

16. “Wahai, Anakku sayang,” [lanjut Luqman,] “sungguh, meskipun terdapat sesuatu yang seberat biji sawi, dan meskipun ia [tersembunyi] di dalam batu, atau di lelangit, atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mengungkapnya: sebab, perhatikanlah, Allah Maha Tak Terduga [dalam hikmah-Nya], Maha Mengetahui.17


17 Untuk terjemahan saya terhadap kata la’thif menjadi “Maha Tak Terduga”, Iihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 89.


Surah Luqman Ayat 17

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

yā bunayya aqimiṣ-ṣalāta wa`mur bil-ma’rụfi wan-ha ‘anil-mungkari waṣbir ‘alā mā aṣābak, inna żālika min ‘azmil-umụr

17. “Wahai, Anakku sayang! Berteguhlah mendirikan shalat, perintahkanlah perbuatan yang benar dan laranglah perbuatan yang salah, dan bersabarlah terhadap [kemalangan] apa pun yang mungkin menimpamu: perhatikanlah, inilah yang hendaknya dicita-citakan!


Surah Luqman Ayat 18

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

wa lā tuṣa”ir khaddaka lin-nāsi wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr

18. “Dan, jangan palingkan pipimu dari manusia karena kebanggaan [batil], dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh: sebab, perhatikanlah, Allah tidak mencintai siapa pun yang, karena perasaan bangga-diri, bersikap sombong.



Surah Luqman Ayat 19

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

waqṣid fī masy-yika wagḍuḍ min ṣautik, inna angkaral-aṣwāti laṣautul-ḥamīr

19. “Oleh karena itu, sederhanalah engkau dalam berjalan, dan rendahkanlah suaramu: sebab, perhatikanlah, seburuk-buruk suara ialah [lengkingan] suara keledai ….”


Surah Luqman Ayat 20

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

a lam tarau annallāha sakhkhara lakum mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa asbaga ‘alaikum ni’amahụ ẓāhirataw wa bāṭinah, wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa lā hudaw wa lā kitābim munīr

20. TIDAKKAH KALIAN perhatikan bahwa Allah telah menundukkan bagi kalian semua18 yang ada di lelangit dan yang ada di bumi, dan melimpah-ruahkan untuk kalian nikmat-nikmat-Nya, baik yang lahir maupun batin?19

Dan, sungguhpun begitu, di antara manusia ada banyak yang berdebat tentang Allah tanpa memiliki pengetahuan apa pun [tentang-Nya], tanpa petunjuk apa pun, dan tanpa wahyu apa pun yang menerangi;


18 Yakni, “telah menjadikanmu mampu mendapatkan keuntungan dari semua …”, dan seterusnya. (Bdk. catatan no. 46 pada Surah Ibrahim [14]: 32-33.)

19 Yakni, kebaikan-kebaikan yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat, dan juga anugerah jasmani dan intelektual (atau ruhani).


Surah Luqman Ayat 21

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

wa iżā qīla lahumuttabi’ụ ma anzalallāhu qālụ bal nattabi’u mā wajadnā ‘alaihi ābā`anā, a walau kānasy-syaiṭānu yad’ụhum ilā ‘ażābis-sa’īr

21. dan ketika [orang-orang] yang seperti itu diberi tahu agar mengikuti apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, “Tidak, kami akan mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami memercayai dan melakukannya!”

Mengapa—[kalian ingin mengikuti bapak-bapak kalian] walaupun setan mengajak mereka ke dalam derita api yang menyala-nyala?20


20 Mengenai arti yang tersirat dari istilah “setan” dalam konteks ini, lihat catatan no. 10 pada Surah Al-Baqarah [2]: 14 dan catatan no. 16 pada Surah Al-Hijr [15]: 17. Sebagaimana dalam banyak tempat lain di dalam Al-Quran, ayat di atas secara tidak langsung mengungkapkan suatu celaan terhadap prinsip dan praktik taqlid (lihat pengamatan Al-Razi yang dikutip dalam catatan no. 38 pada Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 74).


Surah Luqman Ayat 22

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

wa may yuslim waj-hahū ilallāhi wa huwa muḥsinun fa qadistamsaka bil-‘urwatil-wuṡqā, wa ilallāhi ‘āqibatul-umụr

22. Siapa pun yang menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah,21 sedangkan dia adalah orang yang berbuat kebaikan, benar-benar telah berpegang kepada penyangga yang paling kukuh: sebab, pada Allah-lah hasil akhir dari segala urusan.


21 Lihat catatan no. 91 pada Surah Al-Baqarah [2]: 112.


Surah Luqman Ayat 23

وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ ۚ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

wa mang kafara fa lā yaḥzungka kufruh, ilainā marji’uhum fa nunabbi`uhum bimā ‘amilụ, innallāha ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

23. Namun, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—janganlah keingkarannya menyedihkanmu: kepada Kami-lah mereka pasti kembali, lalu Kami akan menjadikan mereka [benar-benar] memahami semua yang telah mereka kerjakan [dalam kehidupan]: sebab, sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati [manusia].


Surah Luqman Ayat 24

نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٍ

numatti’uhum qalīlan ṡumma naḍṭarruhum ilā ‘ażābin galīẓ

24. Kami akan biarkan mereka bersenang-senang sebentar—tetapi, pada akhirnya, Kami akan giring mereka ke dalam penderitaan yang dahsyat.


Surah Luqman Ayat 25

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqụlunnallāh, qulil-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’lamụn

25. DAN, DEMIKIANLAH [kebanyakan manusia]: jika22 engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang telah menciptakan lelangit dan bumi?”—tentu mereka akan menjawab, “Allah.”

Katakanlah: “[Maka, kalian harus mengetahui bahwa] segala puji hanya bagi Allah!”—sebab, kebanyakan mereka tidak mengethaui [apa yang terkandung dalam hal ini].23


22 Untuk terjemahan kata la’in di atas, lihat Surah Ar-Rum [30], catatan no. 45.

23 Yakni, mereka memberikan jawaban di atas tanpa berpikir, dengan mengikuti kebiasaan berpikir yang lemah, tanpa menyadari bahwa pengetahuan tentang Allah sebagai Sebab Tertinggi dari semua eksistensi secara logis menuntut penyerahan diri ke pada-Nya, dan hanya kepada-Nya.


Surah Luqman Ayat 26

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd

26. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi. Sungguh, Allah sajalah Yang Mahacukup, yang kepada-Nya-lah segala pujian hendaknya ditujukan!


Surah Luqman Ayat 27

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

walau anna mā fil-arḍi min syajaratin aqlāmuw wal-baḥru yamudduhụ mim ba’dihī sab’atu ab-ḥurim mā nafidat kalimātullāh, innallāha ‘azīzun ḥakīm

27. Dan, seandainya seluruh pohon di bumi adalah pena dan laut [adalah] tinta, ditambah dengan tujuh laut [lagi],24 niscaya tidak akan habis firman Allah: sebab, sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.25


24 Lit., “setelah itu”.

25 Bdk. rangkaian ayat yang serupa pada Surah Al-Kahfi [18]: 109.


Surah Luqman Ayat 28

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

mā khalqukum wa lā ba’ṡukum illā kanafsiw wāḥidah, innallāha samī’um baṣīr

28. [Bagi Dia,] penciptaan dan pembangkitan kalian seluruhnya hanyalah seperti [penciptaan dan pembangkitan] satu jiwa saja:26 sebab, sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.


26 Yakni, mengingat bahwa Dia Mahaperkasa, maka tidak ada perbedaan antara menciptakan dan membangkitkan kembali satu makhluk ataupun banyak makhluk, sebagaimana pengetahuan-Nya tentang setiap jiwa secara individual sama luasnya dengan pengetahuan-Nya tentang seluruh manusia.


Surah Luqman Ayat 29

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

a lam tara annallāha yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laili wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara kullui yajrī ilā ajalim musammaw wa annallāha bimā ta’malụna khabīr

29. Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah-lah yang menjadikan malam bertambah panjang dengan memendekkan siang, dan menjadikan siang bertambah panjang dengan memendekkan malam, dan bahwa Dia telah menjadikan matahari dan bulan tunduk [kepada hukum-hukum-Nya], masing-masing menjalani garis edarnya menurut batas-waktu yang ditentukan [oleh-Nya]27—dan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan?


27 Lihat catatan no. 5 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 2.


Surah Luqman Ayat 30

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

żālika bi`annallāha huwal-ḥaqqu wa anna mā yad’ụna min dụnihil-bāṭilu wa annallāha huwal-‘aliyyul-kabīr

30. Demikianlah, karena hanya Allah-lah Kebenaran Tertinggi,28 maka semua yang diseru manusia selain Allah adalah kebatilan belaka; dan karena hanya Allah-lah Yang Mahatinggi lagi Maha Besar!


28 Lihat Surah TaHa [20], catatan no. 99.


Surah Luqman Ayat 31

أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ آيَاتِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

a lam tara annal-fulka tajrī fil-baḥri bini’matillāhi liyuriyakum min āyātih, inna fī żālika la`āyātil likulli ṣabbārin syakụr

31. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana kapal berlayar di laut dengan nikmat Allah, sehingga Dia dapat memperlihatkan kepada kalian sebagian dari keajaiban-keajaiban-Nya?

Dalam yang demikian ini, perhatikanlah, benar-benar terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang sepenuhnya sabar dalam menghadapi kesusahan, dan yang amat dalam rasa syukurnya [kepada Allah].



Surah Luqman Ayat 32

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ

wa iżā gasyiyahum maujung kaẓ-ẓulali da’awullāha mukhliṣīna lahud-dīn, fa lammā najjāhum ilal-barri fa min-hum muqtaṣid, wa mā yaj-ḥadu bi`āyātinā illā kullu khattāring kafụr

32. Karena [demikianlah pada kebanyakan manusia:] tatkala gelombang ombak menelan mereka bagaikan bayang-bayang [kematian], mereka berdoa kepada Allah, tulus [pada saat itu] dalam keyakinan mereka kepada-Nya semata: tetapi, segera setelah Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, sebagian mereka berhenti di tengah jalan [antara iman dan ingkar].29

Dan, tidak ada yang dengan sengaja menolak pesan-pesan Kami, kecuali orang yang sungguh berkhianat, tidak berterima kasih.


29 Bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 67, dan juga Surah Al-‘Ankabut [29]: 65, yang mengatakan—dalam konteks yang serupa—bahwa “mereka [mulai] mempersekutukan Allah dengan kekuatan-kekuatan khayali” (yusyrikun). Tentunya, perumpamaan tentang badai di laut merupakan sebuah metonimia yang mencakup semua bentuk bahaya yang bisa menimpa manusia dalam kehidupan.


Surah Luqman Ayat 33

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakum wakhsyau yaumal lā yajzī wālidun ‘aw waladihī wa lā maulụdun huwa jāzin ‘aw wālidihī syai`ā, inna wa’dallāhi ḥaqqun fa lā tagurrannakumul-ḥayātud-dun-yā, wa lā yagurrannakum billāhil-garụr

33. WAHAI, MANUSIA! Sadarlah akan Pemelihara kalian, dan takutlah akan Hari ketika orangtua tidak lagi bermanfaat sedikit pun bagi anaknya dan seorang anak tidak lagi bermanfaat sedikit pun bagi orangtuanya!

Sungguh, janji Allah [tentang kebangkitan] pasti benar: maka, janganlah sekali-kali biarkan kehidupan dunia ini menipu kalian, dan jangan biarkan tipuan pikiran-pikiran [kalian sendiri] tentang Allah, menipu kalian.30


30 Sebagai contoh, harapan yang menipu-diri—saat berbuat dosa dengan sengaja—bahwa Allah pasti memaafkannya (Sa’id ibn Jubair, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari, Al-Baghawi, dan Al-Zamakhsyari). Menurut Al-Thabari, istilah gharur berarti “segala sesuatu yang memperdaya” (ma gharra) seseorang dalam pengertian moral, apakah itu berupa setan, manusia lain, konsep abstrak, atau  (sebagaimana dalam Surah Al-Hadid [57]: 14) “angan-angan kosong”.


Surah Luqman Ayat 34

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

innallāha ‘indahụ ‘ilmus-sā’ah, wa yunazzilul-gaīṡ, wa ya’lamu mā fil-ar-ḥām, wa mā tadrī nafsum māżā taksibu gadā, wa mā tadrī nafsum bi`ayyi arḍin tamụt, innallāha ‘alīmun khabīr

34. Sungguh, hanya pada sisi Allah-lah terletak pengetahuan tentang kapan Saat Terakhir itu akan datang; dan Dia[-lah yang] menurunkan hujan; dan Dia [saja] yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim:31 sedangkan, tiada seorang pun yang tahu apa yang akan dia peroleh esok, dan tiada seorang pun yang tahu di negeri mana dia akan mati.

Sungguh, [hanya] Allah Yang Maha Mengetahui, Mahaawas.


31 Ini berhubungan tidak hanya dengan persoalan jenis kelamin dari embrio yang belum lahir itu, tetapi juga dengan pertanyaan apakah bayi itu sendiri memang benar-benar akan lahir atau tidak; dan jika bayi itu lahir, bagaimanakah bakat alami dan karakternya, serta apa peran yang akan dimainkannya dalam kehidupan; hidup itu sendiri dilambangkan dengan hujan yang telah disebutkan sebelumnya, dan akhir semua kehidupan di bumi ini dilambangkan dengan penyebutan Saat Terakhir.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)