Surat Hud Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

11. Hud (Hud) – هود

Surat Hud ( هود ) merupakan surat ke 11 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 123 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Hud tergolong Surat Makkiyah.


Surat Hud yang diwahyukan sesaat setelah Surah Yunus, yaitu pada tahun terakhir Nabi tinggal di Makkah. Keduanya memiliki banyak kemiripan, baik dalam hal metode maupun subjek bahasannya. Sebagaimana dalam Surah Yunus, tema utama surah ini adalah pewahyuan kehendak Allah melalui para nabi-Nya dan manifestasi kenabian itu sendiri. Sejumlah kisah para nabi terdahulu yang disebutkan dalam Surah Yunus dikembangkan secara lebih terperinci dalam surah ini, dan dijelaskan dari berbagai segi, dengan penekanan khusus pada hubungan yang jujur dan adil antar-sesama manusia. Yang terpenting dalam kaitannya dengan ini adalah ayat 117, yang menyatakan bahwa “Karena, Pemeliharamu tidak akan pernah membinasakan suatu masyarakat karena [kepercayaan] zalim [semata], selama penduduknya berbuat kebajikan [satu sama lain]”. (Dalam kaitan ini, lihat catatan no. 149.)

Sejumlah mufasir berpendapat bahwa ayat 12, 17, dan 114 diwahyukan pada masa yang belakangan di Madinah, namun, Rasyid Ridha menolak pandangan ini dengan menyatakan bahwa pendapat itu tidak meyakinkan dan berpendapat bahwa surah ini seluruhnya diwahyukan di Makkah (Al-Manar XII, h. 2).

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah Hud Ayat 1

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

alif lām rā, kitābun uḥkimat āyātuhụ ṡumma fuṣṣilat mil ladun ḥakīmin khabīr

1. Alif. Lam. Ra.1

[INI ADALAH] kitab Ilahi, dengan pesan-pesan yang dibuat jelas pada dan oleh dirinya sendiri, serta diuraikan secara terperinci pula2—[diturunkan kepada kalian] karena rahmat dari Sang Mahabijaksana, Yang Mahaawas,


1 Lihat Lampiran artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an. Menurut pendapat yang agak aneh dari Sibawaih (bdk. Al-Manar XII, h. 3) dan Al-Razi dalam tafsirnya tentang ayat ini, huruf-huruf Alif-Lam-Ra merupakan nama surah ini dan, karena itu, seharusnya dibaca bersambung dengan kalimat berikutnya sehingga menjadi: “Alif-Lam-Ra adalah kitab llahi …,” dan seterusnya. Namun, pendapat ini sangat bertolak belakang dengan pendapat beberapa mufasir awal yang masyhur, seperti Al-Zajjaj (yang dikutip oleh Al-Razi), dan—tambahan pula—tidak dapat diterima berdasarkan fakta bahwa beberapa surah lain juga diawali dengan huruf-huruf simbolik seperti ini tanpa ada kemungkinan sintaksis apa pun untuk menganggapnya sebagai “nama-nama surah”.

2 Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, kata sambung tsumma di awal klausa tsumma fushshilat (lit., “kemudian diuraikan secara terperinci”) tidak menunjukkan suatu urutan waktu, tetapi lebih menunjukkan penggabungan sifat atau keadaan; karena itu, saya menerjemahkannya demikian. Berkenaan dengan terjemahan saya atas frasa uhkimat ayatuhu menjadi “pesan-pesan yang dibuat jelas pada dan oleh dirinya sendiri”, lihat kalimat pertama Surah Ali ‘Imran [3]: 7 serta catatannya, no. 5, yang menjelaskan ungkapan ayat muhkamat. Rasyid Ridha menafsirkan frasa ini dalam makna yang sama (lihat Al-Manar XII, hh. 3 dan seterusnya).


Surah Hud Ayat 2

أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۚ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ

allā ta’budū illallāh, innanī lakum min-hu nażīruw wa basyīr

2. agar kalian tidak menyembah siapa pun kecuali Allah.

[Katakanlah, wahai Nabi:] “Perhatikanlah, aku datang kepada kalian dari Dia [sebagai] pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira:3


3 Kata sambung an (“bahwa”) yang mengawali kalimat berikutnya (“bahwa kalian hendaknya …,” dan seterusnya) dalam terjemahan ini diungkapkan melalui titik dua (:). Penyisipan kata-kata, “Katakanlah, wahai Nabi” di antara dua kurung siku diperlukan karena susunan kalimat ini yang menggunakan kata ganti orang pertama. Bagian berikutnya—hingga akhir ayat 4—menguraikan “peringatan” dan “kabar gembira” yang dirujuk di atas dan, dengan demikian, menjabarkan secara eliptis seluruh pesan yang dipercayakan kepada Nabi Muhammad Saw.


Surah Hud Ayat 3

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

wa anistagfirụ rabbakum ṡumma tụbū ilaihi yumatti’kum matā’an ḥasanan ilā ajalim musamman wa yu`ti kulla żī faḍlin faḍlah, wa in tawallau fa innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yauming kabīr

3. Mohonlah kepada Pemelihara kalian untuk mengampuni dosa-dosa kalian, lalu kembalilah kepada-Nya dalam tobat—[lalu] Dia akan menganugerahkan kenikmatan hidup yang baik kepada kalian [di dunia ini] hingga [terpenuhilah] batas-waktu yang ditentukan [oleh-Nya];4 dan [dalam kehidupan akhirat,] Dia akan menganugerahkan kepada setiap orang yang mempunyai kebaikan [balasan yang sempurna bagi] kebaikannya.5 Akan tetapi, jika kalian berpaling, sungguh, aku mengkhawatirkan bagi kalian derita [yang pasti akan menimpa kalian] pada Hari yang dahsyat!6


4 Yakni, “hingga akhir hayat kalian” (untuk penjelasan istilah ajal musamma, lihat catatan no. 2 pada Surah Al-An’am [6]: 2). Sebab, dalam kebijaksanaan-Nya yang tidak dapat diduga, Allah tidak selalu memberi kebahagiaan duniawi dan keuntungan materiel kepada setiap orang yang beriman kepada Nya dan menjalani hidup dengan berbuat kebajikan (beramal saleh), masuk akal untuk berasumsi—sebagaimana yang dilakukan Rasyid Ridha dalam Al-Manar XII, hh. 7 dan seterusnya—bahwa “kenikmatan hidup yang baik” (yakni di dunia ini) yang dijanjikan dalam kalimat di atas berhubungan dengan umat Mukmin secara keseluruhan, dan tidak harus selalu mengacu pada individu-individu Mukmin. (Bdk. Surah Ali ‘Imran [3]: 139—”kalian pasti akan bangkit berjaya jika kalian [benar-benar] orang-orang beriman”.)

5 Nomina fadhl, ketika digunakan dengan mengacu kepada Allah, selalu menunjukkan “karunia” atau “pemberian”; jika dikaitkan dengan manusia, istilah ini biasanya menunjukkan “kebaikan” atau, adakalanya, “keutamaan”. Ayat di atas memberi kejelasan bahwa—berbeda dengan balasan dan hukuman di dunia ini yang bersifat parsial dan sering kali hanya bersifat moral—dalam kehidupan akhirat, Allah akan melimpahkan karunia-Nya dengan sempurna kepada setiap orang yang telah memperoleh kebaikan berkat iman dan amal perbuatannya. (Bdk. Surah Ali ‘Imran [3]: 185—”baru pada Hari Kebangkitan-lah kalian akan mendapat balasan sepenuhnya [atas apa saja yang telah kalian lakukan]”.)

6 Lit., “penderitaan Hari yang besar”. Dalam kaitannya dengan ini, lihat Surah At-Taubah [9]: 128.


Surah Hud Ayat 4

إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

ilallāhi marji’ukum, wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

4. Kepada Allah-lah, kalian semua pasti kembali; dan Dia berkuasa menetapkan segala sesuatu.”


Surah Hud Ayat 5

أَلَا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ ۚ أَلَا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

alā innahum yaṡnụna ṣudụrahum liyastakhfụ min-h, alā ḥīna yastagsyụna ṡiyābahum ya’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

5. Oh, sungguh, mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran kitab Ilahi ini] menyelubungi hati mereka untuk bersembunyi dari-Nya.7 Oh, sungguh, [sekalipun] jika mereka menyelimuti diri mereka dengan pakaian mereka [agar tidak melihat atau mendengar],8 Dia mengetahui segala yang mereka rahasiakan serta segala yang mereka nyatakan—sebab, perhatikanlah, Dia Maha Mengetahui apa isi hati [manusia].


7 Karena orang-orang yang dirujuk dalam ayat ini jelas-jelas tidak beriman bahwa risalah Nabi Muhammad Saw. berasal dari Allah, tindakan mereka “bersembunyi dari Allah” dalam konteks ini hanya dapat memiliki satu arti—yakni, sebuah perumpamaan tentang ketidakinginan mereka untuk mendengarkan kebenaran yang berasal dari-Nya: dan ini juga menjelaskan pernyataan bahwa mereka “menyelubungi hati mereka” (lit., “dada-dada”, sebagaimana terdapat pada akhir ayat ini), yakni membiarkan hati dan pikiran mereka tetap terselimuti prasangka sehingga membuat mereka tidak peka terhadap penglihatan ruhani. Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-Anfal [8]: 55 dan catatannya, no. 58.

8 Penyisipan di atas berhubungan dengan arti yang diberikan oleh para ahli leksikografi pada frasa sebelumnya (bdk. Lane VI, h. 2262).


Surah Hud Ayat 6

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa mā min dābbatin fil-arḍi illā ‘alallāhi rizquhā wa ya’lamu mustaqarrahā wa mustauda’ahā, kullun fī kitābim mubīn

6. Dan, tiada makhluk hidup di bumi melainkan rezekinya bergantung pada Allah; dan Dia mengetahui batas-waktunya [di bumi] dan tempat peristirahatannya [setelah mati]:9 semua [ini] tercantum dalam ketetapan[-Nya] yang jelas.


9 Untuk terjemahan mustaqarr dan mustauda’ ini, lihat catatan no. 83 pada Surah Al-An’am [6]: 98. Keterangan di atas, yang mengacu pada pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu, berhubungan dengan akhir ayat sebelumnya (“Dia Maha Mengetahui segala isi hati [manusia]”).



Surah Hud Ayat 7

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa huwallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmiw wa kāna ‘arsyuhụ ‘alal-mā`i liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā, wa la`ing qulta innakum mab’ụṡụna mim ba’dil-mauti layaqụlannallażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn

7. Dan, Dia-lah yang telah menciptakan lelangit dan bumi dalam enam masa; dan [sejak saat Dia berkehendak untuk menciptakan kehidupan,] singgasana kemahakuasaan-Nya berada di atas air.10

[Allah mengingatkan kalian akan kebergantungan kalian pada-Nya] untuk menguji kalian [dan, dengan demikian, agar menjadi nyatalah] siapa di antara kalian yang terbaik tingkah lakunya. Sebab, demikianlah adanya:11 jika engkau berkata [kepada manusia], “Perhatikanlah, kalian akan dibangkitkan lagi sesudah mati!”—mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran itu pasti akan menjawab, “Jelaslah, ini tidak lain hanyalah khayalan yang memesonakan!”12


10 Mengenai terjemahan saya atas istilah ayyam (lit., “hari-hari”) menjadi “masa” dan ‘arsy menjadi “singgasana kemahakuasaan [Allah]”, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 43. Acuan simbolis kepada “singgasana kemahakuasaan-Nya berada di atas air” tampaknya menunjuk pada evolusi seluruh kehidupan yang berasal dari air—suatu proses yang merupakan ketetapan Allah. Fakta ini dengan jelas ditunjukkan oleh Al-Quran (lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 30 dan catatan no. 39) dan pada abad modern ini dikuatkan oleh penelitian biologi. Penafsiran sementara ini dikuatkan oleh penyebutan “makhluk hidup” pada ayat sebelumnya. Penyisipan “sejak saat Dia berkehendak untuk menciptakan kehidupan” yang saya letakkan di antara kurung siku bersesuaian dengan pandangan yang dikemukakan oleh Rasyid Ridha dalam penjelasannya yang panjang lebar terhadap ayat ini (Al-Manar XII, hh. 16 dan seterusnya).

11 Ungkapan la’in (lit., “sungguh, jika …”) yang terdapat di sini dan juga dalam tiga ayat selanjutnya dimaksudkan untuk menekankan ciri khas—yakni, yang selalu berulang—dan situasi yang dirujuknya. Menurut pendapat saya, terjemahan terbaiknya adalah “demikianlah adanya: jika ….”, dst.

12 Istilah sihr, yang sering digunakan dalam pengertian “ilmu sihir” atau “permainan magis”, terutama menunjukkan “pengubahan sesuatu dari keadaannya yang wajar [yakni alami] menjadi keadaan yang lain” (Taj Al-‘Arus); karenanya, ia menunjukkan perbuatan apa pun yang menyebabkan sesuatu yang salah atau tidak nyata seolah-olah menjadi kenyataan. Namun, karena pernyataan Al-Quran bahwa “kalian akan dibangkitkan lagi sesudah mati” bukanlah—sebagaimana dikemukakan oleh Al-Razi—merupakan suatu “tindakan” dalam pengertian yang sebenarnya dari kata ini, tidak masuk akal untuk berasumsi bahwa pernyataan ini dapat disifati sebagai “sihir” bahkan oleh orang-orang yang tidak memercayainya. Di sisi lain, jelaslah bahwa mereka menolaknya seraya mencemooh dengan menyebutnya sebagai “khayalan yang memesonakan” semata yang dimaksudkan untuk mencegah orang-orang yang mampu dari menikmati kehidupan duniawi mereka sepenuhnya (Al-Razi) atau, mungkin juga, untuk membujuk agar orang-orang miskin dan malang tetap pasrah dan puas atas nasib malang mereka di dunia: dan inilah makna sihr dalam konteks di atas. (Bdk. Surah Yunus [10]: 2 yang di dalamnya julukan sahir—dengan pengertian “penutur yang pandai memikat hati pendengarnya”—diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. oleh orang-orang yang tidak beriman.)


Surah Hud Ayat 8

وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِلَىٰ أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ لَيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُ ۗ أَلَا يَوْمَ يَأْتِيهِمْ لَيْسَ مَصْرُوفًا عَنْهُمْ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa la`in akhkharnā ‘an-humul-‘ażāba ilā ummatim ma’dụdatil layaqụlunna mā yaḥbisuh, alā yauma ya`tīhim laisa maṣrụfan ‘an-hum wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

8. Dan, demikianlah: jika Kami tangguhkan derita mereka hingga batas-waktu yang ditentukan [oleh Kami],13 mereka pasti akan berkata, “Apakah yang menghalanginya [untuk datang sekarang]?”14

Oh, sungguh, pada Hari ketika derita itu menimpa mereka, tiada yang akan dapat menghindarkannya dari mereka; dan mereka akan diliputi justru oleh hal-hal yang biasa mereka cemoohkan itu.15


13 Lit., “suatu waktu yang dihitung [oleh Kami]”, yakni Hari Pengadilan: merujuk pada kalimat terakhir ayat 3, yang di dalamnya Nabi dibuat berkata demikian: “aku mengkhawatirkan bagi kalian derita [yang pasti akan menimpa kalian] pada Hari yang dahsyat!”. Di antara beberapa makna yang terkandung dalam nomina ummah, pengertian “waktu” atau “suatu periode waktu” merupakan yang paling tepat di sini (Al-Zamakhsyari, Ibn Katsir, dan mufasir klasik lainnya).

14 Untuk penjelasan tentang rujukan kepada sikap orang-orang yang tidak beriman ini, lihat Surah Al-Anfal [8]: 32 dan Surah Yunus [10]: 50 serta catatan-catatannya; bdk. Surah Al-An’am [6]: 57-58. Rujukan Al-Quran yang berulang-ulang terhadap pertanyaan yang bersifat mengejek di atas jelas-jelas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa sikap mental yang menimbulkan pertanyaan semacam itu tidak terbatas pada suatu kejadian historis tertentu (lihat Surah Al-Anfal [8], catatan no. 32), tetapi merupakan gejala yang menjangkiti sebagian besar, jika bukan seluruhnya, kaum “yang berkukuh mengingkari kebenaran”.

15 Lit., “apa-apa yang biasa mereka cemoohkan itu mengepung mereka (haqa bihim)”. Menurut hampir seluruh mufasir, penggunaan bentuk lampau pada verba haqa, meskipun pada kenyataannya ia merujuk pada masa yang akan datang, memiliki nilai sintaksis yang mengandung penekanan, yang menunjukkan bahwa kejadian yang dirujuknya itu tidak dapat dihindari. (Lihat juga catatan no. 9 pada Surah Al-An’am [6]: 10.)


Surah Hud Ayat 9

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

wa la`in ażaqnal-insāna minnā raḥmatan ṡumma naza’nāhā min-h, innahụ laya`ụsung kafụr

9. Dan, demikianlah: jika Kami biarkan manusia merasakan sebagian rahmat Kami,16 dan kemudian mencabut rahmat itu darinya—perhatikanlah, niscaya dia berputus asa,17 melupakan segala rasa syukur [atas karunia Kami pada masa silam].


16 Rangkaian ayat ini memberikan kejelasan bahwa istilah generik “manusia” yang dirujuk di sini dan pada ayat berikutnya, utamanya, diterapkan pada orang-orang agnostik yang tidak yakin akan keberadaan Allah atau “berkukuh mengingkari kebenaran”; namun, dalam pengertiannya yang lebih luas, ia juga berlaku bagi orang-orang yang, meskipun beriman kepada Allah, imannya masih lemah dan, karena itu, mudah dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya dan, khususnya, oleh apa pun yang terjadi pada diri mereka sendiri.

17 Lit., “dia [atau ‘dia menjadi’] benar-benar putus asa” atau “kehilangan harapan” (ya’us), sebab dia menganggap bahwa kebahagiaan masa lalunya disebabkan oleh rangkaian sebab akibat yang kebetulan saja—singkatnya, oleh apa yang biasanya dianggap sebagai “keberuntungan”—dan bukan karena rahmat Allah. Karena itu, dalam penggunaannya dalam Al-Quran, istilah ya’us menunjukkan nihilisme ruhani.


Surah Hud Ayat 10

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي ۚ إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

wa la`in ażaqnāhu na’mā`a ba’da ḍarrā`a massat-hu layaqụlanna żahabas-sayyi`ātu ‘annī, innahụ lafariḥun fakhụr

10. Dan, demikianlah adanya: jika Kami biarkan dia merasakan kemudahan dan keberlimpahan18 setelah kesukaran mendatanginya, dia pasti berkata, “Telah pergi semua kesulitan dariku!”—sebab, perhatikanlah, dia cenderung pada kegembiraan yang sia-sia dan merasa bangga hanya pada dirinya sendiri.19


18 Penggabungan dua kata ini diperlukan untuk menunjukkan arti sepenuhnya dari nomina na’ma’, yang muncul hanya sekali dalam Al-Quran dengan bentuk ini. Untuk terjemahan saya atas la’in menjadi “demikianlah adanya: jika …”, dan seterusnya, lihat catatan no. 11.

19 Lit., “dia amat gembira melampaui batas dan berbangga diri secara berlebihan”—yakni, dia biasanya menganggap bahwa peralihan nasibnya disebabkan oleh sifat-sifat baiknya sendiri dan oleh apa yang dianggapnya sebagai “keberuntungan”.


Surah Hud Ayat 11

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

illallażīna ṣabarụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt, ulā`ika lahum magfiratuw wa ajrung kabīr

11. [Dan, demikianlah halnya dengan kebanyakan manusia—] kecuali orang-orang yang bersabar dalam menghadapi kesusahan dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan: mereka itulah orang yang dinanti oleh ampunan dosa-dosa dan pahala yang besar.



Surah Hud Ayat 12

فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ جَاءَ مَعَهُ مَلَكٌ ۚ إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

fa la’allaka tārikum ba’ḍa mā yụḥā ilaika wa ḍā`iqum bihī ṣadruka ay yaqụlụ lau lā unzila ‘alaihi kanzun au jā`a ma’ahụ malak, innamā anta nażīr, wallāhu ‘alā kulli syai`iw wakīl

12. MAKA, [WAHAI NABI,] mungkinkah engkau meninggalkan sebagian dari apa yang telah diwahyukan kepadamu [karena para pengingkar kebenaran itu tidak menyukainya, dan] karena hatimu menjadi susah disebabkan perkataan mereka,20 “Mengapa tidak diturunkan kekayaan kepadanya?”—atau, “[Mengapa tidak] datang malaikat [yang dapat dilihat dengan nyata] bersamanya?”21

[Mereka tidak dapat memahami bahwa] engkau hanyalah seorang pemberi peringatan, sedangkan Allah memelihara segala sesuatu;22


20 Lit., “karena dadamu menjadi sempit [karena takut] kalau-kalau mereka berkata”. Menurut semua mufasir yang ada, ungkapan la’alla (lit., “boleh jadi bahwa”) pada awal kalimat di atas merujuk pada harapan yang meleset dari pihak penentang pesan Nabi Muhammad Saw.; karenanya, istilah itu paling tepat diterjemahkan dalam bentuk pertanyaan yang mengandung sanggahannya sendiri—yakni: “Mungkinkah engkau …”, dan seterusnya. Berkenaan dengan adanya harapan bahwa Nabi mungkin menghilangkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadanya, diriwayatkan oleh ‘Abd Allah ibn ‘Abbas dan Sahabat lainnya (lihat penafsiran Al-Razi atas ayat ini) bahwa kaum pagan Quraisy menuntut kepada Nabi demikian, “Bawakan kepada kami sebuah wahyu (kitab) yang tidak berisi serangan terhadap dewa-dewa kami sehingga kami dapat mengikutimu dan beriman kepadamu”.

21 Ketika menjelaskan ayat ini, Ibn ‘Abbas menyebutkan bahwa beberapa kepala suku jahiliah Makkah mengatakan, “Hai, Muhammad, ubahlah gunung Makkah ini menjadi emas jika engkau benar-benar seorang rasul!”, sementara yang lain berseru sambil mengejek, “Bawalah ke hadapan kami malaikat yang akan menjadi saksi bahwa kau adalah rasul!”—lalu ayat di atas diturunkan (Al-Razi). Bdk. Surah Al-An’am [6]: 8 dan Surah Al-Isra’ [17]: 90-93.

22 Yakni, “jadi, Dia-lah yang akan menjadikan kebenaran menang”. Mengenai sangkalan Nabi bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki kemampuan apa pun untuk membuat keajaiban, lihat Surah Al-An’am [6]: 50 dan catatannya (no. 38).


Surah Hud Ayat 13

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

am yaqụlụnaftarāh, qul fa`tụ bi’asyri suwarim miṡlihī muftarayātiw wad’ụ manistaṭa’tum min dụnillāhi ing kuntum ṣādiqīn

13. dan lalu mereka menyatakan, “[Muhammad sendirilah yang] telah membuat [Al-Quran] ini!”23

Katakanlah [kepada mereka]: “Maka, buatlah sepuluh surah yang setara nilainya, yang dibuat [oleh kalian sendiri], dan [untuk tujuan ini] panggillah siapa pun yang dapat membantu kalian, selain Allah, jika apa yang kalian katakan itu benar!24


23 Untuk terjemahan saya atas partikel am di permulaan kalimat ini menjadi “dan”, lihat Surah Yunus [10], catatan no. 61.

24 Yakni, bahwa sebuah kitab Ilahi seperti Al-Quran ini dapat “dibuat” oleh manusia. Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 23, Surah Yunus [10]: 37-38, dan Surah Al-Isra’ [17]: 88, beserta catatan-catatannya.


Surah Hud Ayat 14

فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

fa il lam yastajībụ lakum fa’lamū annamā unzila bi’ilmillāhi wa al lā ilāha illā huw, fa hal antum muslimụn

14. Dan, jika mereka [yang kalian panggil untuk menolong itu] tidak mampu membantu kalian,25 ketahuilah bahwa [Al-Quran ini] telah diturunkan karena kebijaksanaan Allah saja,26 dan bahwa tiada tuhan kecuali Dia. Maka, maukah kalian berserah diri kepada-Nya?”


25 Lit., “jika mereka [yakni penyair-penyair dan orang-orang bijak kalian] tidak menjawab seruanmu”. Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 24, yang menyebutkan tantangan serupa yang kemudian diikuti oleh kata-kata, “dan jika kalian tidak dapat melakukannya—dan pasti kalian tidak akan dapat melakukannya—…”, dan seterusnya.

26 Lit., “hanya dengan pengetahuan Allah”.


Surah Hud Ayat 15

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

mang kāna yurīdul-ḥayātad-dun-yā wa zīnatahā nuwaffi ilaihim a’mālahum fīhā wa hum fīhā lā yubkhasụn

15. ADAPUN ORANG-ORANG yang [hanya] menginginkan kehidupan dunia ini dan keberlimpahannya*—akan Kami berikan kepada mereka balasan yang sempurna bagi semua yang telah mereka kerjakan dalam [kehidupan di dunia] ini, dan tidaklah hak mereka di dalamnya itu akan diambil:


* {Dalam teks asalnya: “As for those who care for [no more than] the life of this world and its bounties“. Frasa “care for” selain bermakna “menginginkan”, juga berarti “menyukai”, “merasa cinta terhadap”, “memperhatikan”, dan “memedulikan”. Di sini, frasa itu kami terjemahkan menjadi “menginginkan” saja, sesuai dengan makna kata bahasa Arabnya, yuridu.—peny.}


Surah Hud Ayat 16

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ulā`ikallażīna laisa lahum fil-ākhirati illan-nāru wa ḥabiṭa mā ṣana’ụ fīhā wa bāṭilum mā kānụ ya’malụn

16. [akan tetapi,] mereka itulah yang dalam kehidupan akhirat tidak akan memperoleh apa pun kecuali neraka—sebab, akan sia-sialah semua yang telah mereka usahakan di [dunia] ini, dan tiada bernilai semua yang pernah mereka kerjakan!27


27 Yakni, walaupun perbuatan baik mereka akan diperhitungkan dengan sempurna pada Hari Pengadilan, semua perbuatan itu masih kalah berat dibandingkan dengan penolakan mereka untuk beriman pada kebangkitan dan kehidupan akhirat.


Surah Hud Ayat 17

أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةً ۚ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الْأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ ۚ فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ ۚ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

a fa mang kāna ‘alā bayyinatim mir rabbihī wa yatlụhu syāhidum min-hu wa ming qablihī kitābu mụsā imāmaw wa raḥmah, ulā`ika yu`minụna bih, wa may yakfur bihī minal-aḥzābi fan-nāru mau’iduhụ fa lā taku fī miryatim min-hu innahul-ḥaqqu mir rabbika wa lākinna akṡaran-nāsi lā yu`minụn

17. Maka, dapatkah [orang yang hanya menginginkan kehidupan dunia ini dibandingkan dengan28] seseorang yang mengambil sikapnya berdasarkan bukti yang nyata dari Pemeliharanya, yang disampaikan melalui persaksian [ini] dari-Nya,29 sebagaimana wahyu yang diturunkan kepada Musa sebelumnya—[sebuah kitab Ilahi yang ditetapkan oleh-Nya] untuk menjadi petunjuk dan rahmat [bagi manusia]?

Mereka [yang memahami pesan ini—mereka sajalah yang benar-benar] beriman kepadanya;30 sedangkan siapa pun di antara mereka yang mengingkari kebenarannya, dengan bersekutu [dalam permusuhan bersama]31—api nerakalah yang akan menjadi tempat yang ditentukan bagi mereka [dalam kehidupan akhirat].

Maka,32 janganlah ragu terhadap [wahyu] ini: perhatikanlah, ia adalah kebenaran dari Pemeliharamu, meskipun33 kebanyakan manusia tidak akan beriman kepadanya.


28 Penyisipan ini didasarkan pada penafsiran yang diberikan Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Razi.

29 Lit., “yang seorang saksi dari Dia membacanya”, atau “mengumumkannya”. Menurut Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan sejumlah mufasir klasik lainnya, frasa ini merujuk pada Al-Quran; karenanya, saya menerjemahkan syahid menjadi “persaksian”. Jika, sebagaimana dipercayai sejumlah mufasir, istilah ini merujuk kepada Nabi atau kepada Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu kepadanya, syahid harus diterjemahkan menjadi “saksi”. Terjemahan mana pun yang diambil artinya tetap sama karena—sebagaimana yang dikemukakan Ibn Katsir dalam tafsirnya atas ayat ini—”AI-Quran diwahyukan melalui Jibril kepada Muhammad Saw., dan kemudian disampaikan oleh Muhammad Saw. kepada dunia”.

30 Secara tersirat, “dan, karena itu, akan meraih kebahagiaan di akhirat”. Ijaz (bentuk ungkapan eliptis, implisit) yang digunakan dalam bagian ini dapat dibandingkan subtilitasnya dengan yang ada pada Surah Yunus [10]: 103.

31 Yakni, dengan penentangan yang sengit dan apriori terhadap pesan Al-Quran tanpa benar-benar memahami tujuannya. Identifikasi “historis” yang dikemukakan oleh beberapa mufasir bahwa ahzab mengacu pada orang-orang pagan Arab yang bersekutu memusuhi Nabi jelas-jelas terlalu sempit dalam konteks ini.

32 Al-Razi mengusulkan bahwa kata sambung fa (“Maka”) yang mengawali kalimat ini (yang nyata-nyata ditujukan kepada manusia secara umum) berkaitan dengan ayat 12-14 suatu usulan yang paling meyakinkan mengingat rangkaian ayatnya.

33 Lit., “tetapi” atau “sungguhpun begitu”.


Surah Hud Ayat 18

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۚ أُولَٰئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibā, ulā`ika yu’raḍụna ‘alā rabbihim wa yaqụlul-asy-hādu hā`ulā`illażīna każabụ ‘alā rabbihim, alā la’natullāhi ‘alaẓ-ẓālimīn

18. Dan, siapakah yang lebih zalim daripada mereka yang menisbahkan rekaan-rekaan dusta mereka sendiri kepada Allah?34 [Pada Hari Pengadilan,] mereka [yang seperti] ini akan dibawa ke hadapan Pemelihara mereka, dan orang-orang yang dipanggil untuk bersaksi [melawan mereka]35 akan berkata, “Mereka inilah yang telah mengatakan berbagai dusta tentang Pemelihara mereka!”36

Oh, sungguh, penolakan Allah adalah balasan bagi semua orang zalim37


34 Ini adalah suatu sangkalan terhadap pernyataan orang-orang yang tidak beriman bahwa Al-Quran disusun oleh Muhammad Saw. sendiri (bdk. ayat 13 dan Surah Yunus [10]: 17) dan kemudian menisbahkannya kepada Allah.

35 Lit., “saksi-saksi”. Kebanyakan mufasir awal mengartikannya sebagai malaikat pencatat, sedangkan yang lainnya (misalnya, Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Al-Baghawi) menghubungkannya kepada para nabi, yang pada Hari Pengadilan akan dipanggil untuk memberikan kesaksian yang mendukung atau memberatkan umatnya. Penafsiran yang disebutkan terakhir ini didukung oleh Al-Dhahhak (dikutip oleh Al-Thabari dan Al-Baghawi) berdasarkan pada Surah An-Nahl [16]: 84, yang menyebutkan saksi-saksi “dari setiap masyarakat (ummah)”—sebuah ungkapan yang jelas-jelas hanya dapat merujuk kepada manusia.

36 Atau: “terhadap Pemelihara mereka”.

37 La’nah—yang biasanya, tetapi tidak tepat, diterjemahkan menjadi “kutukan”—makna utamanya sama dengan ib’ad (“alienasi”, “pengasingan”, atau “pembuangan”) dalam pengertian moral; karena itu, ia menunjukkan “penolakan dari segala sesuatu yang baik” (Lisan Al-‘Arab) dan, dengan merujuk kepada Allah, “dikucilkannya pendosa itu dari rahmat-Nya” (Al-Manar 11, h. 50).


Surah Hud Ayat 19

الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

allażīna yaṣuddụna ‘an sabīlillāhi wa yabgụnahā ‘iwajā, wa hum bil-ākhirati hum kāfirụn

19. yang memalingkan orang lain dari jalan Allah dan berusaha menjadikannya tampak bengkok—karena merekalah, mereka itu yang menolak untuk mengakui kebenaran kehidupan akhirat!38


38 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 44-45 yang hampir mirip dengan bagian di atas, dengan satu perbedaan saja, yakni: sementara dalam Surah Al-A’raf [7]: 45 kata ganti hum (mereka) hanya disebut sekali (dan, karena itu, frasa tersebut diterjemahkan menjadi “dan yang menolak …”, dan seterusnya), dalam ayat ini kata ganti tersebut diulangi untuk mengungkapkan penekanan dan kausalitas (“karena merekalah, mereka itu yang menolak …”, dst.)—jadi, menunjukkan bahwa penolakan mereka untuk beriman kepada adanya kehidupan setelah mati merupakan sebab pokok dari perilaku zalim mereka. Dengan kata lain, percaya kepada adanya kebangkitan, pengadilan Allah, dan kehidupan akhirat di sini ditetapkan sebagai satu-satunya sumber abadi dan absah dari moralitas manusia.


Surah Hud Ayat 20

أُولَٰئِكَ لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ۘ يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ ۚ مَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ

ulā`ika lam yakụnụ mu’jizīna fil-arḍi wa mā kāna lahum min dụnillāhi min auliyā`, yuḍā’afu lahumul-‘ażāb, mā kānụ yastaṭī’ụnas-sam’a wa mā kānụ yubṣirụn

20. Mereka tidak pernah bisa mengelakkan diri [dari perhitungan terakhir mereka, bahkan jika mereka tetap selamat tanpa cedera] di bumi:39 tidak akan pernah mereka menemukan siapa pun yang dapat melindungi mereka dari Allah. [Dalam kehidupan akhirat,] penderitaan yang berlipat ganda akan ditimpakan kepada mereka40 karena mereka telah kehilangan kemampuan mendengar [kebenaran] dan gagal melihat[nya].41


39 Menurut saya, penyisipan di atas diperlukan mengingat frasa ini bersifat sangat eliptis. Menurut Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, dan Ibn Katsir, maknanya adalah bahwa hukuman Allah mungkin menimpa para pendosa itu dalam kehidupan mereka di dunia, tetapi di akhirat, hukuman ini pasti akan menimpa mereka. Bdk. Surah Ali ‘Imran [3]: 185—”baru pada Hari Kebangkitan-lah kalian akan mendapat balasan sepenuhnya [atas apa saja yang telah kalian lakukan]”.

40 Untuk penjelasan tentang “penderitaan berlipat ganda”, lihat Surah AI-A’raf [7], catatan no. 29.

41 Lit., “mereka tidak mampu mendengar dan mereka tidak melihat”: bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 7 dan catatannya, no. 7, demikian juga Surah Al-A’raf [7]: 179.


Surah Hud Ayat 21

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

ulā`ikallażīna khasirū anfusahum wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

21. Mereka itulah yang menyia-nyiakan diri mereka sendiri—sebab [pada Hari Kebangkitan,] semua rekaan batil mereka42 akan meninggalkan mereka:


42 Lit., “semua yang biasa mereka buat-buat”: frasa ini menunjuk bukan saja pada khayalan-khayalan batil mengenai adanya “kekuasaan” riil apa pun selain Allah (yakni, adanya makhluk-makhluk yang diduga bersifat ilahiah atau semi-ilahiah), melainkan juga pada ide-ide yang menipu dan “kebenaran-kebenaran semu nan indah kemilau, yang dimaksudkan untuk memperdaya pikiran” (lihat Surah Al-An’am [6]: 112 dan catatannya)—seperti “keberuntungan”, kekayaan, kekuasaan pribadi, nasionalisme, materialisme deterministik, dan lain-lain—yang semuanya menyebabkan manusia kehilangan wawasan terhadap nilai-nilai ruhani dan, dengan demikian, “menyia-nyiakan diri mereka sendiri”.


Surah Hud Ayat 22

لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ

lā jarama annahum fil-ākhirati humul-akhsarụn

22. sungguh mereka, mereka itulah yang dalam kehidupan akhirat akan menjadi orang-orang yang rugi!


Surah Hud Ayat 23

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa akhbatū ilā rabbihim ulā`ika aṣ-ḥābul-jannah, hum fīhā khālidụn

23. Perhatikanlah, [hanya] mereka yang meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan dan merendahkan diri mereka di hadapan Pemelihara mereka—[hanya] merekalah yang ditetapkan di surga, di sanalah mereka akan berkediaman.


Surah Hud Ayat 24

مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَىٰ وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ ۚ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

maṡalul-farīqaini kal-a’mā wal-aṣammi wal-baṣīri was-samī’, hal yastawiyāni maṡalā, a fa lā tażakkarụn

24. Kedua jenis manusia ini43 dapatlah diumpamakan dengan orang buta dan tuli serta orang yang dapat melihat dan mendengar. Dapatkah keduanya ini dianggap sama hakikatnya?44

Maka, tidak maukah kalian mengingat hal ini?


43 Lit., “dua kelompok”—yakni, orang-orang beriman dan orang yang menolak kitab Ilahi.

44 Untuk penerjemahan saya atas istilah matsal (lit., “persamaan”) menjadi “hakikat” (nature), lihat bagian pertama catatan no. 47 pada Surah Ali ‘imran [3]: 59.


Surah Hud Ayat 25

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ

wa laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī innī lakum nażīrum mubīn

25. DAN, SESUNGGUHNYA, [dengan pesan yang sama pula] Kami utus Nuh kepada kaumnya:45 “Perhatikanlah, aku datang kepada kalian dengan membawa peringatan yang jelas


45 Kata sambung “dan” pada awal kalimat ini tampaknya berkaitan dengan ayat-ayat pembuka surah ini, dan menekankan fakta bahwa pesan fundamental Al-Quran sama saja dengan pesan yang disampaikan kepada manusia oleh nabi-nabi terdahulu (Al-Manar XII, hh. 59 dan seterusnya); demikianlah alasan penyisipan yang saya lakukan. Lihat juga Surah Al-A’raf [7], catatan no. 45.


Surah Hud Ayat 26

أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۖ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ

al lā ta’budū illallāh, innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin alīm

26. agar kalian tidak menyembah siapa pun kecuali Allah—sebab, sungguh, aku takut kalau-kalau penderitaan menimpa kalian pada Hari yang sangat memilukan!”46


46 Sebagaimana dalam Surah Al-A’raf [7]: 59, ini dapat merujuk pada air bah yang akan datang atau pada Hari Pengadilan.


Surah Hud Ayat 27

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

fa qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī mā narāka illā basyaram miṡlanā wa mā narākattaba’aka illallażīna hum arāżilunā bādiyar-ra`y, wa mā narā lakum ‘alainā min faḍlim bal naẓunnukum kāżibīn

27. Akan tetapi, pembesar-pembesar kaumnya, yang menolak untuk mengakui kebenaran, menjawab, “Kami tidak melihatmu, melainkan (sebagai) manusia biasa saja seperti kami; dan kami tidak melihat siapa pun mengikutimu selain mereka yang jelas-jelas paling hina di antara kami;47 dan kami tidak melihat bahwa kalian lebih unggul daripada kami dalam hal apa pun:48 sebaliknya, kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang berdusta!”


47 Sebagaimana dibuktikan dalam sejarah semua nabi—dan khususnya, sejarah Nabi Isa a.s. dan kemudian Nabi Muhammad Saw.—kebanyakan pengikut awal mereka adalah masyarakat kelas bawah (para budak, orang miskin, dan orang-orang tertindas). Kepada mereka inilah, risalah Ilahi menjanjikan suatu tatanan sosial yang adil di dunia ini dan harapan kebahagiaan di akhirat nanti: dan justru karakter revolusioner dari setiap misi para nabi inilah yang selalu dibenci oleh para penguasa tatanan yang mapan dan golongan-golongan yang diistimewakan dalam masyarakat yang bersangkutan.

48 Lit., “Kami tidak melihat dalam dirimu suatu keunggulan [atau kelebihan] apa pun atas kami”.


Surah Hud Ayat 28

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنْتُمْ لَهَا كَارِهُونَ

qāla yā qaumi a ra`aitum ing kuntu ‘alā bayyinatim mir rabbī wa ātānī raḥmatam min ‘indihī fa ‘ummiyat ‘alaikum, a nulzimukumụhā wa antum lahā kārihụn

28. Berkata [Nuh], “Wahai, kaumku! Bagaimana pendapat kalian? Jika [benar bahwa] pendirianku berdasarkan bukti yang nyata dari Pemeliharaku, yang telah memberiku rahmat dari-Nya sendiri—[sebuah wahyu] yang kalian tetap buta terhadapnya—: [andaikan ini benar,] dapatkah kami memaksakannya kepada kalian, meskipun kalian membencinya?49


49 Suatu rujukan terhadap doktrin utama dalam Al-Quran bahwa “tidak boleh ada paksaan dalam urusan keyakinan (agama)” (Surah Al-Baqarah [2]: 256), serta terhadap pernyataan yang sering diulang bahwa seorang nabi tidak lebih daripada “seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira”, yang menunjukkan bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan pesan yang dipercayakan padanya. Bentuk jamak “kami” dalam kalimat ini mengacu pada Nabi Nuh a.s. dan pengikut-pengikutnya.


Surah Hud Ayat 29

وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۚ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ

wa yā qaumi lā as`alukum ‘alaihi mālā, in ajriya illā ‘alallāhi wa mā ana biṭāridillażīna āmanụ, innahum mulāqụ rabbihim wa lākinnī arākum qauman taj-halụn

29. “Dan, wahai kaumku, aku tidak meminta keuntungan kepada kalian untuk [pesan] ini: imbalanku tiada lain hanyaJah dari Allah. Dan, aku tidak akan mengusir [siapa pun di antara] orang-orang yang telah meraih iman.50 Sungguh, mereka [mengetahui bahwa mereka] telah ditakdirkan untuk bertemu dengan Pemelihara mereka, sedangkan aku memandang kalian sebagai kaum yang tidak memiliki pengetahuan [tentang mana yang benar dan mana yang salah]!


50 Ini adalah suatu rujukan terhadap pernyataan hinaan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tidak beriman (pada ayat 27) bahwa pengikut Nabi Nuh hanya terdiri dari orang-orang kelas bawah masyarakat mereka—jadi, menyiratkan pengertian bahwa mereka mungkin akan mendengarkan seruan Nabi Nuh a.s. jika dia mau berlepas-diri dari orang-orang itu (bdk. Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 111). Nabi Muhammad Saw., selama tahun-tahun awal kenabiannya, mengalami hal yang sama ketika menghadapi para pemimpin jahiliah Quraisy; beberapa riwayat tentang hal ini dikutip oleh Ibn Katsir dalam penjelasannya tentang Surah Al-An’am [6]: 52.


Surah Hud Ayat 30

وَيَا قَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ طَرَدْتُهُمْ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

wa yā qaumi may yanṣurunī minallāhi in ṭarattuhum, a fa lā tażakkarụn

30. “Dan, wahai kaumku, siapakah yang akan melindungiku dari Allah andaikan aku mengusir mereka? Maka, tidakkah kalian mengingat ini?


Surah Hud Ayat 31

وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ ۖ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

wa lā aqụlu lakum ‘indī khazā`inullāhi wa lā a’lamul-gaiba wa lā aqụlu innī malakuw wa lā aqụlu lillażīna tazdarī a’yunukum lay yu`tiyahumullāhu khairā, allāhu a’lamu bimā fī anfusihim, innī iżal laminaẓ-ẓālimīn

31. “Dan, aku tidak berkata kepada kalian, ‘Perbendaharaan Allah ada padaku’; tidak pula [aku berkata], ‘Aku mengetahui kenyataan yang berada di luar jangkauan persepsi manusia’; tidak pula aku berkata, ‘Perhatikanlah, aku adalah malaikat’;51 tidak pula aku berkata tentang mereka yang kalian pandang hina,52 ‘Allah tidak akan pernah menganugerahkan kebaikan apa pun kepada mereka’—sebab, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.53 [Andaikan aku berkata demikian,] sungguh, aku pasti termasuk orang-orang zalim.”


51 Lihat Surah Al-An’am [6]: 50 dan Surah Al-A’raf [7]: 188.

52 Yakni, pengikut-pengikut Nabi Nuh a.s. yang miskin dan “hina” yang dibicarakan dalam ayat 27 (lihat juga catatan no. 47).

53 Lit., “semua yang ada dalam diri mereka”.


Surah Hud Ayat 32

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qālụ yā nụḥu qad jādaltana fa akṡarta jidālana fa`tinā bimā ta’idunā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

32. [Akan tetapi, para pembesar itu] berkata, “Wahai, Nuh! Engkau telah berbantah-bantahan dengan kami dan memperpanjang perbantahan kita [dengan sia-sia]:54 karena itu, datangkanlah kepada kami apa yang kau ancamkan kepada kami,55 jika engkau adalah orang yang benar!”


54 Dengan kata lain, “tanpa meyakinkan kami” (sebagaimana dijelaskan lebih terperinci dalam Surah Nuh [71]: 5-6). Kejengkelan yang memuncak terhadap Nabi Nuh a.s. yang dirasakan oleh kaumnya yang tidak beriman itu disinggung dalam perkataannya, “Jika keberadaanku [di antara kalian] dan peringatanku akan pesan-pesan Allah memuakkan bagi kalian …”, dan seterusnya (lihat Surah Yunus [10]: 71).

55 Lihat akhir ayat 26.


Surah Hud Ayat 33

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

qāla innamā ya`tīkum bihillāhu in syā`a wa mā antum bimu’jizīn

33. Dia menjawab, “Hanya Allah yang dapat mendatangkannya kepada kalian, jika Dia menghendaki, dan kalian tidak akan dapat mengelakkan diri darinya:


Surah Hud Ayat 34

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ ۚ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa lā yanfa’ukum nuṣ-ḥī in arattu an anṣaḥa lakum ing kānallāhu yurīdu ay yugwiyakum, huwa rabbukum, wa ilaihi turja’ụn

34. sebab, nasihatku tidak akan bermanfaat bagi kalian—meskipun aku sangat ingin memberi nasihat yang baik kepada kalian—seandainya sudah menjadi kehendak Allah bahwa kalian akan tetap tenggelam dalam kesalahan yang besar.56 Dia adalah Pemelihara kalian dan kepada-Nya kalian pasti kembali.”


56 Menurut sejumlah mufasir, ungkapan an yughwiyakum—yang secara harfiah berarti “bahwa Dia akan menjadikan kalian berbuat salah”—harus dipahami demikian: “bahwa Dia akan menghukum kalian karena dosa-dosa kalian” (Al-Hasan Al-Bashri, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi), atau “bahwa Dia akan membinasakan kalian” (Al-Thabari), atau “bahwa Dia akan mencabut segala kebaikan dari kalian” (Al-Jubba’i, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi); penafsiran yang disebutkan terakhir ini mirip dengan terjemahan saya atas ungkapan aghwaitani (“Engkau telah menggagalkanku”) pada Surah Al-A’raf [7]: 16 dan dijelaskan dalam catatannya, no. 11. Namun, dalam konteks ini, saya memilih menerjemahkannya menjadi “seandainya sudah menjadi kehendak Allah bahwa kalian akan tetap tenggelam dalam kesalahan yang besar” karena hal ini sesuai dengan doktrin Al-Quran tentang “ketetapan Allah” (sunnatullah) terhadap orang-orang yang berkukuh menolak untuk mengakui kebenaran (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7). Lebih jauh, penafsiran ini didukung oleh Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya atas ayat di atas, yakni demikian: “Ketika Allah—karena mengetahui bahwa orang yang mengingkari kebenaran (al-kafr) itu berkukuh [melakukan dosa]—membiarkannya dalam keadaan ini dan tidak memaksanya [untuk bertobat], [tindakan Allah] ini digambarkan [dalam Al-Quran] sebagai ‘menjadikan [seseorang] berbuat salah’ (ighwa) dan menjadikan [seseorang] tersesat (idhlal) begitu pula, ketika Dia—karena mengetahui bahwa seseorang akan bertobat—melindunginya dan berbuat baik kepadanya, [tindakan Allah] ini digambarkan sebagai ‘menunjuki arah yang benar’ (irsyad) atau ‘[menawarkan] petunuk (hidayah)'”. (Lihat juga Surah Ibrahim [14], catatan no. 4.)


Surah Hud Ayat 35

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ

am yaqụlụnaftarāh, qul iniftaraituhụ fa ‘alayya ijrāmī wa ana barī`um mimmā tujrimụn

35. APAKAH SEBAGIAN (manusia), mungkin, menyatakan, “[Muhammad] telah membuat-buat [cerita] ini?”57

Katakanlah [wahai Nabi]: “Jika aku membuat-buatnya, terhadapkulah dosanya; tetapi aku tidak berani melakukan dosa yang kalian lakukan.”58


57 Beberapa mufasir klasik menganggap bahwa ayat ini merupakan bagian dari kisah Nabi Nuh a.s. dan umatnya. Namun, hal ini mustahil mengingat adanya perubahan yang tiba-tiba dari bentuk kala lampau yang digunakan pada ayat-ayat sebelum dan sesudahnya (“dia telah berkata” {qala}, “mereka telah berkata” {qalu}) menjadi bentuk kala kini (“apakah mereka berkata” {yaquluna}). Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah yang dikemukakan oleh Al-Thabari dan Ibn Katsir (dan disebutkan juga oleh Al-Baghawi berdasarkan riwayat Muqatil): yakni, bahwa seluruh ayat 35 adalah wacana sisipan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw., yang utamanya mengacu pada kisah Nabi Nuh a.s. sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Quran, dan—secara tersirat—mengacu pada Al-Quran itu sendiri. Dengan kata lain, ia merupakan suatu pengulangan argumentasi yang disebutkan dalam ayat 13 surah ini dan juga di tempat-tempat lain. Penafsiran yang amat meyakinkan ini juga dipilih oleh Rasyid Ridha (A-Manar XII, h. 71).

58 Atau: “Aku tidak punya urusan apa pun dengan dosa yang kalian perbuat”—yakni, dosa mendustakan pesan-pesan Allah (bdk. Surah Yunus [10]: 41) atau membuat-buat kedustaan tentang Allah.


Surah Hud Ayat 36

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

wa ụḥiya ilā nụḥin annahụ lay yu`mina ming qaumika illā mang qad āmana fa lā tabta`is bimā kānụ yaf’alụn

36. DAN, TELAH diwahyukan kepada Nuh demikian: “Tidak akan beriman siapa pun dari antara kaummu, kecuali orang-orang yang telah meraih iman. Maka, janganlah bersedih hati terhadap apa pun yang mungkin mereka perbuat,


Surah Hud Ayat 37

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

waṣna’il-fulka bi`a’yuninā wa waḥyinā wa lā tukhāṭibnī fillażīna ẓalamụ, innahum mugraqụn

37. tetapi buatlah, di bawah pengawasan Kami59 dan menurut ilham dari Kami, sebuah bahtera [yang akan menyelamatknmu dan para pengikutmu];60 dan janganlah memohon kepada-Ku* demi kepentingan orang-orang yang berkukuh berbuat zalim itu—sebab, perhatikanlah, mereka itu pasti akan tenggelam!”


59 Yakni, “di bawah perlindungan Kami”. {Dalam teks asalnya: under Our eyes (bi a’yunina).—peny.}

60 Penyisipan ini menjadi perlu karena adanya kata sandang penentu (lam ta’rif) al yang mengawali nomina fulk (lit., “kapal laut” {ship}, tetapi saya terjemahkan menjadi “bahtera” {ark} karena maknanya lebih akrab dalam bahasa-bahasa Eropa).

* Harfiah: membicarakannya dengan-Ku.


Surah Hud Ayat 38

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ ۚ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ

wa yaṣna’ul-fulk, wa kullamā marra ‘alaihi mala`um ming qaumihī sakhirụ min-h, qāla in taskharụ minnā fa innā naskharu mingkum kamā taskharụn

38. Dan, [demikianlah Nuh] mulai membuat bahtera; dan setiap kali para pembesar kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. [Kemudian] dia berkata, “Jika kalian mengejek kami—perhatikanlah, kami mengejek kalian [dan ketidaktahuan kalian], persis sebagaimana kalian mengejek kami.61


61 Karena jelas mustahil menganggap bahwa seorang nabi bersikap sembrono dengan melemparkan cacian seperti ini (Al-Baghawi), arti frasa di atas tampaknya adalah demikian: “Jika kau menganggap kami bodoh karena apa yang kami percayai dan lakukan, kami menganggap kalian bodoh karena penolakan kalian untuk mengakui kebenaran dan kesiapan diri kalian untuk menerima hukuman Allah” (Al-Zamakhsyari dan, dalam bentuk yang lebih pendek, Al-Ba.ghawi). Itulah alasan saya menyisipkan kata-kata “dan ketidaktahuan kalian”.


Surah Hud Ayat 39

فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

fa saufa ta’lamụna may ya`tīhi ‘ażābuy yukhzīhi wa yaḥillu ‘alaihi ‘ażābum muqīm

39. Akan tetapi, kelak kalian akan tahu siapa yang [di dunia ini] akan didatangi oleh derita yang akan meliputinya dengan kenistaan dan kepada siapa derita yang kekal akan turun [dalam kehidupan akhirat]!”


Surah Hud Ayat 40

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

ḥattā iżā jā`a amrunā wa fārat-tannụru qulnaḥmil fīhā ming kullin zaujainiṡnaini wa ahlaka illā man sabaqa ‘alaihil-qaulu wa man āman, wa mā āmana ma’ahū illā qalīl

40. [Demikianlah hal itu terus berlangsung] hingga, tatkala telah datang keputusan Kami dan air telah memancar dengan semburan-semburan yang dahsyat di atas permukaan bumi,62 Kami berfirman [kepada Nuh], “Tempatkanlah ke atas [bahtera] ini sepasang dari setiap [jenis binatang] dari kedua jenis kelamin,63 serta keluargamu—kecuali orang-orang yang telah berlaku ketetapan [Kami] atas mereka64—dan semua [yang lainnya] yang telah meraih iman!”—sebab, hanya sedikit [kaum Nuh] yang beriman bersamanya.


62 Lit., “permukaan bumi meluap” (fara al-tannur). Frasa ini menjadi sasaran berbagai penafsiran yang saling bertentangan, yang sebagian di antaranya didasarkan hanya pada legenda Talmud (Al-Manar XII, hh. 75 dst.). Penjelasan yang paling meyakinkan adalah yang diberikan—di antaranya—oleh Al-Thabari, Al-Baghawi, dan Ibn Katsir berdasarkan riwayat Ibn ‘Abbas dan ‘Ikrimah: “Al-tannur [lit., ‘tungku’] berarti permukaan bumi”. Al-Razi juga menyebutkan bahwa “orang Arab menyebut permukaan bumi sebagai tannur“, sedangkan Al-Qamus mencantumkan salah satu arti tannur adalah “tempat apa pun yang memancarkan air”. Verba fara—yang secara harfiah berarti “sesuatu telah meluap”—menggambarkan aliran air deras yang mengamuk yang “mengubah bumi menjadi mata air-mata air” (Ibn Katsir; lihat juga Surah Al-Qamar [54]: 12). “semburan-semburan air di atas permukaan bumi” ini tampaknya menunjuk pada air bah yang menenggelamkan lembah raksasa yang sekarang tertutup oleh Laut Tengah (lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 47)—sebuah banjir yang, ditambah dengan hujan deras yang terus-menerus (bdk. Surah Al-Qamar [54]: 11), dengan cepat menyebar ke tanah yang luas di Suriah dan lrak Utara sekarang, dan berkembang menjadi air bah seperti yang digambarkan dalam Bibel dan Al-Quran, serta dirujuk dalam mitos-mitos Yunani kuno (seperti dalam cerita Deukalion dan Pyrrhea), serta dalam legenda-legenda Sumeria dan Babilonia.

63 Istilah zauj utamanya menunjukkan setiap unsur dari satu pasangan, dan juga digunakan dalam pengertian “sepasang”. Dalam konteks ini, istilah itu jelas memiliki arti yang pertama; karena itu, terjemahan terbaik dari ungkapan min kullin zaujain itsnain adalah seperti di atas.

Mengenai binatang-binatang yang diperintahkan kepada Nabi Nuh a.s. untuk dibawanya serta dalam perahu, masuk akal untuk berasumsi bahwa yang dimaksud adalah binatang-binatang piaraannya dan bukan semua binatang sebagaimana disebutkan dalam Bibel.

64 Yakni, orang-orang yang tetap terkutuk dalam pandangan Allah karena mereka berkukuh menolak untuk rnengakui kebenaran. Lihat juga ayat 42-43 dan 45-47.


Surah Hud Ayat 41

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa qālarkabụ fīhā bismillāhi majr)hā wa mursāhā, inna rabbī lagafụrur raḥīm

41. Maka, Nuh berkata [kepada pengikut-pengikutnya], “Naiklah ke dalam [kapal] ini! Dengan nama Allah-lah berlayarnya dan berlabuhnya! Perhatikanlah, Pemeliharaku benar-benar Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!”



Surah Hud Ayat 42

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

wa hiya tajrī bihim fī maujing kal-jibāl, wa nādā nụḥunibnahụ wa kāna fī ma’ziliy yā bunayyarkam ma’anā wa lā takum ma’al-kāfirīn

42. Dan, bahtera itu berlayar bersama mereka menembus gelombang-gelombang yang seperti gunung-gemunung.

Pada [waktu] itu, Nuh memanggil anak lelakinya, yang menjauhkan dirinya [dari yang lain]: “Wahai, Anakku tercinta!65 Naiklah bersama kami dan janganlah bersama orang-orang yang mengingkari kebenaran!”


65 Kata pemanis (diminutive, tasghir) dalam ya bunayya (lit., “Wahai, Anak kecilku”) adalah suatu ungkapan yang menunjukkan rasa kasih, terlepas dari usia anak itu: contohnya, anak Nabi Nuh a.s. dalam kisah di atas tampaknya adalah seorang dewasa, sedangkan Yusuf, yang juga disapa dengan ungkapan yang sama oleh ayahnya dalarn Surah Yusuf [12]: 5, adalah anak kecil atau, paling jauh, seorang remaja.


Surah Hud Ayat 43

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

qāla sa`āwī ilā jabaliy ya’ṣimunī minal-mā`, qāla lā ‘āṣimal-yauma min amrillāhi illā mar raḥim, wa ḥāla bainahumal-mauju fa kāna minal-mugraqīn

43. [Namun, anaknya] menjawab, “Aku akan pergi mencari gunung yang dapat melindungiku dari air.”

Berkata [Nuh], “Hari ini tiada perlindungan [bagi siapa pun] dari keputusan Allah, kecuali [bagi] mereka yang telah memperoleh belas kasih[-Nya]!”

Dan, gelombang pasang meninggi di antara mereka, dan [anak itu] termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.


Surah Hud Ayat 44

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa qīla yā arḍubla’ī mā`aki wa yā samā`u aqli’ī wa gīḍal-mā`u wa quḍiyal-amru wastawat ‘alal-jụdiyyi wa qīla bu’dal lil-qaumiẓ-ẓālimīn

44. Dan difirmankan: “Wahai, bumi, telanlah airmu! Dan, wahai langit, hentikanlah [hujanmu]!” Dan, air pun meresap masuk ke dalam bumi, dan ketetapan [Allah] telah terlaksana, dan bahtera itu berhenti di atas Gunung Judi.66

Dan, difirmankan: “Binasalah kaum yang zalim ini!”


66 Gunung ini, yang dalam bahasa Suriah kuno dikenal sebagai Qardu, terletak di daerah Danau Van, kurang lebih 25 mil dari timur laut kota Jazirah Ibn ‘Umar, ibu kota distrik Suriah modern, Al-Jazirah. Ia “mendapatkan kemasyhurannya lewat tradisi orang-orang Mesopotamia yang mengatakan bahwa gunung itulah, dan bukan Gunung Ararat, yang menjadi tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh a.s. … lokasi berlabuhnya bahtera Nabi Nuh a.s. ini … tentunya diriwayatkan berdasarkan tradisi Babilonia” (Encyclopaedia of Islam I, h. 1059). Namun, kita harus ingat bahwa julukan Ararat (dalam bahasa Suryani disebut Urarthu), pada suatu masa tertentu, mencakup keseluruhan area di bagian selatan Danau Van, tempat Gunung Judi terletak: ini dapat menjelaskan pernyataan Bibel, “Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada Pegunungan Ararat” (Bibel, Kejadian [8]: 4).


Surah Hud Ayat 45

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

wa nādā nụḥur rabbahụ fa qāla rabbi innabnī min ahlī, wa inna wa’dakal-ḥaqqu wa anta aḥkamul-ḥākimīn

45. Dan, Nuh berseru kepada Pemeliharanya, dan berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Sungguh, anakku termasuk keluargaku;67 dan, sungguh, janji-Mu selalu menjadi kenyataan,* dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya!”


67 Sebuah rujukan yang mengacu pada perintah Ilahi, yang disebutkan dalam ayat 40—”Tempatkanlah ke atas [bahtera] ini … keluargamu”—yang rupanya dipahami oleh Nabi Nuh a.s. dengan pengertian bahwa seluruh keluarganya akan diselamatkan; jadi, beliau melupakan klausa bersyarat, “kecuali orang-orang yang telah berlaku ketetapan [Kami] atas mereka”.

Sejumlah mufasir menduga bahwa ayat 45-47 berkaitan dengan ayat 43 sehingga mendahului, dari segi waktu, peristiwa yang diceritakan dalam ayat 44—suatu dugaan yang menyebabkan penerjemah-penerjemah modern Al-Quran menerjemahkan doa Nabi Nuh a.s., secara keliru, dalam bentuk kala kini (present tense, yakni dalam bentuk doa untuk keselamatan anaknya agar tidak mati tenggelam). Bagaimanapun, lebih masuk akal untuk berasumsi—seperti yang dilakukan oleh Al-Thabari dan Ibn Katsir—bahwa perkataan Nabi Nuh a.s. itu diucapkan setelah bahteranya berlabuh di Gunung Judi (yakni jauh setelah anaknya meninggal) dan bahwa perkataan itu merupakan “suatu upaya yang dilakukan Nabi Nuh a.s. untuk mendapatkan keterangan tentang kondisi anaknya yang tenggelam [di akhirat]” (Ibn Katsir). Karena itu, kalimat yang berhubungan dengan anaknya ini, baik doa Nabi Nuh a.s. maupun jawaban Allah, harus diterjemahkan dalam bentuk kala lampau (past tense).

* {Dalam teks aslinya: “Thy promise always comes true (wa’daka al haqq)”. True berarti “benar” (haqq), tetapi comes true merupakan ungkapan yang berarti “menjadi kenyataan”.—peny.}


Surah Hud Ayat 46

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

qāla yā nụḥu innahụ laisa min ahlik, innahụ ‘amalun gairu ṣāliḥin fa lā tas`alni mā laisa laka bihī ‘ilm, innī a’iẓuka an takụna minal-jāhilīn

46. [Allah] menjawab, “Wahai, Nuh! Perhatikanlah, dia tidaklah termasuk keluargamu karena, sungguh, dia tidak saleh dalam perilakunya.68 Dan, janganlah engkau memohon kepada-Ku apa pun yang engkau tidak dapat memiliki pengetahuan tentangnya:69 maka, perhatikanlah, Aku memperingatkanmu agar engkau tidak menjadi salah seorang di antara mereka yang tidak mengetahui [mana yang benar].”70


68 Menurut sejumlah mufasir (misalnya, Al-Thabari dan AlRazi), frasa innahu ‘amal ghair shalih mengacu pada doa Nabi Nuh a.s. untuk anaknya, dan merupakan celaan Allah—yang jika demikian, harus diterjemahkan menjadi “sungguh, [doa] ini adalah perbuatan yang tidak saleh [darimu]”. Namun, mufasir lainnya, misalnya Al-Zamakhsyari, menolak penafsiran ini dan menghubungkan frasa di atas kepada anak itu, seperti terjemahan saya. Menurut saya, terjemahan ini lebih sesuai dengan pernyataan, “dia tidaklah termasuk keluargamu”—yakni, secara spiritual, karena dia adalah, atau memilih untuk tetap bersama, “orang-orang yang mengingkari kebenaran”.

69 Yakni, pengetahuan tentang alasan terdalam dari ketetapan Allah dan nasib akhir manusia di akhirat: sebab, jawaban atas pertanyaan “kenapa” dan “bagaimana” ini terletak dalam ranah yang berada di luar jangkauan persepsi manusia (al-ghaib).

70 Yakni, “agar engkau tidak terbukti menjadi salah satu dari orang-orang dungu yang meminta Allah agar Dia mengubah keputusan-keputusan-Nya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri” (AI-Manar XII, h. 85).


Surah Hud Ayat 47

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

qāla rabbi innī a’ụżu bika an as`alaka mā laisa lī bihī ‘ilm, wa illā tagfir lī wa tar-ḥamnī akum minal-khāsirīn

47. Berkata [Nuh], “Wahai, Pemeliharaku! Sungguh, aku berlindung kepada Engkau dari memohon [lagi] kepada Engkau apa pun yang aku tidak dapat memiliki pengetahuan tentangnya! Karena, kecuali Engkau menganugerahkan ampunan kepadaku dan melimpahkan belas kasih-Mu kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi!”


Surah Hud Ayat 48

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

qīla yā nụḥuhbiṭ bisalāmim minnā wa barakātin ‘alaika wa ‘alā umamim mim mam ma’ak, wa umamun sanumatti’uhum ṡumma yamassuhum minnā ‘ażābun alīm

48. [Kemudian] difirmankan: “Wahai, Nuh! Turunlah dalam kedamaian dari Kami,71 dan dengan segenap keberkatan [Kami] kepadamu serta kepada umat-umat [yang bersamamu, dan orang-orang saleh yang akan lahir dari keturunanmu dan] dari mereka yang bersamamu.72 Namun, [adapun] umat [yang tidak saleh yang akan lahir dari keturunanmu]—Kami akan biarkan mereka menikmati hidup [untuk sementara], kemudian penderitaan yang pedih dari Kami akan menimpa mereka.”


71 Istilah salam (yang di sini diterjemahkan menjadi “kedamaian”) mencakup gagasan rasa aman, batiniah maupun lahiriah, dari segala hal yang buruk/jahat. Untuk penjelasan lebih lengkap tentang makna ini, Iihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 29.

72 Sisipan di atas didasarkan pada kesepakatan mayoritas mufasir. Frasa “umat-umat [atau ‘generasi’] dari mereka yang bersamamu” menunjuk pada generasi-generasi yang belum lahir; tetapi, karena rahmat Allah diberikan kepada semua orang beriman, dengan sendirinya ia juga mencakup orang-orang beriman pada generasi Nabi Nuh a.s. pula; dan karena “orang-orang yang mengingkari kebenaran” (al-kafirun) dikecualikan dari mendapat berkat Allah, hanya orang-orang saleh di antara keturunan orang-orang beriman terdahululah yang dijanjikan mendapatkan bagian rahmat-Nya (bdk. rujukan yang serupa, yang berhubungan dengan keturunan Nabi Ibrahim a.s., dalam Surah Al-Baqarah [2]: 124): itulah alasan saya menyisipkan kalimat “adapun yang tidak saleh yang akan lahir dari keturunanmu” dalam kalimat berikutnya.


Surah Hud Ayat 49

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

tilka min ambā`il-gaibi nụḥīhā ilaīk, mā kunta ta’lamuhā anta wa lā qaumuka ming qabli hāżā, faṣbir, innal-‘āqibata lil-muttaqīn

49. BERITA-BERITA tentang sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsimu ini Kami wahyukan kepadamu [kini, wahai Muhammad: sebab,] baik engkau maupun kaummu tidak mengetahuinya [dengan sepenuhnya] sebelum ini.73 Maka, bersabarlah dalam menghadapi kesusahan [seperti Nuh]—sebab, perhatikanlah, masa depan adalah milik orang yang sadar akan Allah!


73 Lihat ayat 35. Walaupun kisah Nabi Nuh a.s. secara samar-samar telah dikenal orang-orang Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw., mereka—dan nabi mereka—sama sekali tidak mengetahui perincian kisah itu sebagaimana yang diceritakan dalam keterangan Al-Quran sebelumnya (Al-Razi). Penggunaan bentuk jamak pada permulaan bagian parentetik ini (tilka min anba-i, these accounts, “Berita-berita ini”)—berbeda dengan bentuk tunggal yang digunakan dalam frasa serupa yang terdapat dalam Surah Ali ‘Imran [3]: 44, Hud [11]: 100, dan Yusuf [12]: 102 (dzalika min anba-i, this account, “berita ini”)—menurut pendapat saya, tampaknya adalah untuk menunjukkan bahwa ia tidak hanya merujuk pada kisah Nabi Nuh a.s. sebelumnya, tetapi juga pada kisah para nabi selanjutnya. Dalam kaitan ini, hendaknya diingat—seperti yang telah sering ditekankan—bahwa tujuan Al-Quran bukanlah menuturkan “uraian” kisah itu sendiri. Setiap kali Al-Quran merujuk pada kisah para nabi terdahulu, atau menyinggung hikayat kuno, atau kejadian-kejadian sejarah yang terjadi sebelum kedatangan Islam atau selama kehidupan Nabi, tujuannya adalah selalu menyampaikan ajaran moral; dan, karena satu peristiwa—atau bahkan legenda—yang sama biasanya memiliki banyak sisi yang mengungkapkan ajaran-ajaran moral yang sama banyaknya, Al-Quran berulang-ulang merujuk pada kisah-kisah yang sama, tetapi setiap kali dengan sedikit variasi penekanan pada salah satu aspek kebenaran fundamental tertentu yang melatarbelakangi pewahyuan Al-Quran secara keseluruhan.


Surah Hud Ayat 50

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

wa ilā ‘ādin akhāhum hụdā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, in antum illā muftarụn

50. DAN, KEPADA [kaum] ‘Ad, [Kami utus] saudara mereka, Hud.74 Dia berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah [saja]: kalian tidak memiliki tuhan selain Dia. [Begitulah,] kalian hanyalah pembuat-buat kebatilan!75


74 Untuk keterangan-keterangan tentang nama Hud serta suku ‘Ad, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 48.

75 Yakni, para pencipta dewa-dewa yang tidak memiliki realitas apa pun (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 71, yang juga mengacu pada kisah Nabi Hud a.s.). Mengenai istilah muftarun, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 119.


Surah Hud Ayat 51

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

yā qaumi lā as`alukum ‘alaihi ajrā, in ajriya illā ‘alallażī faṭaranī, a fa lā ta’qilụn

51. “Wahai, kaumku! Aku tiada meminta imbalan kepada kalian untuk [risalah] ini: imbalanku tiada lain kecuali dari Dia yang telah menciptakanku. Maka, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?


Surah Hud Ayat 52

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

wa yā qaumistagfirụ rabbakum ṡumma tụbū ilaihi yursilis-samā`a ‘alaikum midrāraw wa yazidkum quwwatan ilā quwwatikum wa lā tatawallau mujrimīn

52. “Maka, wahai kaumku, mohonlah kepada Pemelihara kalian umuk mengampuni dosa-dosa kalian dan kembalilah kepada-Nya dalam tobat—[kemudian] Dia akan mencurahkan kepada kalian berkah-berkah samawi yang berlimpah,76 dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian: asalkan jangan berpaling [dariku] sebagai kaum yang tenggelam dalam dosa!”


76 Lit., “Dia akan mengirimkan langit ke atas kalian dengan berlimpah”. Istilah sama’ (lit., “Iangit”) sering digunakan dalam bahasa Arab klasik sebagai suatu metonimia untuk “hujan”, dan kelangkaan curah hujan merupakan ciri khas negeri padang pasir yang di sebut Al-Ahqaf (“Bukit-Bukit Pasir”), yang dahulunya adalah tempa ttinggal suku ‘Ad—sebelum mereka lenyap. Seperti terbaca dalam Surah Al-Ahqaf [46]: 24, waktu yang disinggung dalam ayat di atas adalah suatu periode kekeringan yang hebat dan, karena itu, boleh jadi bahwa “berkah-berkah yang berlimpah” di sini maksudnya adalah hujan.


Surah Hud Ayat 53

قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

qālụ yā hụdu mā ji`tanā bibayyinatiw wa mā naḥnu bitārikī ālihatinā ‘ang qaulika wa mā naḥnu laka bimu`minīn

53. Mereka berkata, “Wahai, Hud! Engkau tidak mendatangkan kepada kami bukti yang nyata [bahwa engkau adalah seorang nabi]; dan kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami hanya karena perkataanmu, apalagi karena kami tidak memercayaimu.


Surah Hud Ayat 54

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ ۗ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

in naqụlu illa’tarāka ba’ḍu ālihatinā bisū`, qāla innī usy-hidullāha wasy-hadū annī barī`um mimmā tusyrikụn

54. Tiada lain yang dapat kami katakan kecuali bahwa boleh jadi salah satu di antara tuhan kami telah menimpakan suatu yang buruk kepadamu!”77

Hud menjawab, “Perhatikanlah, aku menyeru Allah untuk bersaksi—dan kalian juga menjadi saksi-saksi[ku]—bahwa, sungguh, aku berlepas diri dari menisbahkan ketuhanan, sebagaimana yang kalian lakukan,78 kepada apa pun


77 Yakni, kegilaan.

78 Atau: “bahwa, sungguh, aku tidak bersalah terhadap tindakan kalian mempersekutukan ketuhanan [Allah] (mimma tusyrikun) …”, dan seterusnya—jadi, menolak ejekan kaumnya yang menyatakan bahwa salah satu tuhan khayalan mereka mungkin telah membuatnya gila.


Surah Hud Ayat 55

مِنْ دُونِهِ ۖ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ

min dụnihī fa kīdụnī jamī’an ṡumma lā tunẓirụn

55. selain Dia! Maka, rencanakanlah tipu daya [apa pun yang kalian inginkan] terhadapku, kalian semua, dan janganlah memberi penangguhan kepadaku!79


79 Bdk. tantangan yang sangat mirip pada kalimat terakhir Surah Al-A’raf [7]: 195.


Surah Hud Ayat 56

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

innī tawakkaltu ‘alallāhi rabbī wa rabbikum, mā min dābbatin illā huwa ākhiżum bināṣiyatihā, inna rabbī ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

56. “Perhatikanlah, aku telah bersandar penuh percaya kepada Allah, [yang merupakan] Pemeliharaku serta Pemelihara kalian: sebab, tiada satu makhluk hidup pun yang tidak Dia pegang ubun-ubunnya.80 Sungguh, luruslah jalan Pemeliharaku!81


80 Yakni, tidak ada satu pun makhluk hidup yang tidak berada di bawah kekuasaan-Nya yang sempurna dan yang tidak sepenuhnya bergantung kepada-Nya (bdk. ayat 6 surah ini). Ketika menggambarkan kerendahan hati dan ketundukan seseorang kepada orang lain, orang Arab kuno biasa berkata, “ubun-ubun si fulan ada dalam tangan si fulan”. Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-‘Alaq [96]: 15-16, yang menyebutkan ungkapan idiomatis ini untuk pertama kalinya dalam kronologi pewahyuan Al-Quran.

81 Lit., “Pemeliharaku ada pada jalan yang lurus”—menunjukkan pengertian bahwa Dia mengatur segala sesuatu menurut suatu sistem kebenaran dan keadilan—dalam pengertian yang hakiki dan mutlak dari istilah-istilah ini. Dia tidak pernah membiarkan orang yang dengan sadar melakukan kejahatan melarikan diri dari akibat perbuatannya; dan tidak per nah membiarkan kesalehan tak diberi balasan, di dunia ini atau di akhirat (karena hanya dalam kombinasi dua fase inilah kehidupan manusia itu dapat dinilai secara keseluruhannya).



Surah Hud Ayat 57

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ ۚ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

fa in tawallau fa qad ablagtukum mā ursiltu bihī ilaikum, wa yastakhlifu rabbī qauman gairakum, wa lā taḍurrụnahụ syai`ā, inna rabbī ‘alā kulli syai`in ḥafīẓ

57. “Namun, jika kalian memilih berpaling, [ketahuilah bahwa] aku telah menyampaikan kepada kalian pesan yang dengannya aku diutus kepada kalian, dan [bahwa] Pemeliharaku mungkin saja akan menjadikan kaum yang lain menggantikan kalian,82 sedangkan kalian sedikit pun tidak akan menimpakan mudarat kepada-Nya. Sungguh, Pemeliharaku menjaga segala sesuatu!”


82 Lit., “untuk menggantikan kalian”.


Surah Hud Ayat 58

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَنَجَّيْنَاهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

wa lammā jā`a amrunā najjainā hụdaw wallażīna āmanụ ma’ahụ biraḥmatim minnā, wa najjaināhum min ‘ażābin galīẓ

58. Dan, tatkala telah datang keputusan Kami,83 Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami; dan Kami selamatkan mereka [pula] dari derita yang pedih [pada kehidupan akhirat].84


83 Mengenai cerita penghancuran suku ‘Ad melalui badai topan yang hebat, lihat Surah Al-Qamar [54]: 19 dan, lebih khusus lagi, Surah Al-Haqqah [69]: 6-8.

84 Yakni, derita yang masih akan menimpa suku ‘Ad yang tersisa. Penyisipan frasa “pada kehidupan akhirat” yang saya letakkan di antara kurung siku didasarkan atas penafsiran yang dikemukakan Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, dan Al-Razi, yang menyatakan bahwa penyebutan pertama tentang penyelamatan Nabi Hud dan pengikutnya merujuk pada penghancuran kaum ‘Ad di dunia ini, sedangkan penyebutan kedua merujuk pada derita yang menimpa mereka di akhirat nanti.


Surah Hud Ayat 59

وَتِلْكَ عَادٌ ۖ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

wa tilka ‘ādun jaḥadụ bi`āyāti rabbihim wa ‘aṣau rusulahụ wattaba’ū amra kulli jabbārin ‘anīd

59. Dan, itulah [akhir-kesudahan kaum] ‘Ad, [yang] telah menolak pesan-pesan Pemelihara mereka, dan membangkang melawan rasul-rasul-Nya, dan mengikuti perintah setiap musuh kebenaran yang (bersikap) sombong.85


85 Mengingatkan pada “pembesar-pembesar kaumnya, yang menolak mengakui kebenaran” (Surah Al-A’raf [7]: 66). Mengenai penafsiran istilah jabbar di atas, lihat catatan no. 58 pada Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 130.


Surah Hud Ayat 60

وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ هُودٍ

wa utbi’ụ fī hāżihid-dun-yā la’nataw wa yaumal-qiyāmah, alā inna ‘ādang kafarụ rabbahum, alā bu’dal li’āding qaumi hụd

60. Dan, di dunia ini, mereka dikejar-kejar oleh penolakan [Allah], dan [pada akhirnya mereka akan ditimpa olehnya] pada Hari Kebangkitan.86

Oh, sungguh, [suku] ‘Ad mengingkari Pemelihara mereka! Oh, binasalah ‘Ad, kaum Hud!


86 Mengenai terjemahan saya terhadap istilah la’nah menjadi “penolakan [Allah]”, lihat catatan no. 37.


Surah Hud Ayat 61

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

wa ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, huwa ansya`akum minal-arḍi wasta’marakum fīhā fastagfirụhu ṡumma tụbū ilaīh, inna rabbī qarībum mujīb

61. DAN, KEPADA [suku] Tsamud, [Kami utus] saudara mereka, Shaleh.87 Dia berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah [saja]: kalian tidak memiliki tuhan kecuali Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi,88 dan menjadikan kalian tumbuh makmur di atasnya.89 Karena itu, mohonlah kepada-Nya untuk mengampuni dosa-dosa kalian, kemudian kembalilah kepada-Nya dalam tobat—sebab, sungguh, Pemeliharaku amat dekat memperkenankan [doa siapa pun yang berdoa kepada-Nya]!”90


87 Cerita singkat tentang suku Tsamud (yang dalam syair pra-Islam dikenal sebagai “suku ‘Ad kedua”) terdapat dalam Surah Al-A’raf [7], catatan no. 56. Nabi Shaleh a.s. dipercaya sebagai nabi kedua yang diutus kepada bangsa Arab setelah Nabi Hud a.s.

88 Yakni, dari zat-zat organik yang mendapatkan sumber gizi—dan, karena itu, kemampuan untuk berkembang, bermultiplikasi, dan berevolusi—dari bumi, baik secara langsung maupun tidak langsung (Al-Razi). Jelaslah bahwa ini pula makna dari sejumlah rujukan dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa manusia “diciptakan dari tanah” (bdk. Surah Ali ‘Imran [3]: 59, Surah Al-Kahfi [18]: 37, Surah Al-Hajj [22]: 5, dan Surah Ar-Rum [30]: 20).

89 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 74 dan catatan-catatannya.

90 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 186.


Surah Hud Ayat 62

قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

qālụ yā ṣāliḥu qad kunta fīnā marjuwwang qabla hāżā a tan-hānā an na’buda mā ya’budu ābā`unā wa innanā lafī syakkim mimmā tad’ụnā ilaihi murīb

62. Mereka menjawab, “Wahai, Shaleh! Kami menaruh harapan besar kepadamu sebelum ini!91 Akankah engkau melarang kami menyembah apa yang biasa disembah nenek-nenek moyang kami? Karena [hal ini], perhatikanlah, kami berada dalam keraguan besar, sampai-sampai curiga, tentang [makna] seruanmu kepada kami!”92


91 Lit., “Engkau termasuk salah seorang di antara kami yang diharapkan sebelum ini”: mengacu pada kepandaian dan kekuatan karakter luar biasa yang dimiliki Nabi Hud a.s., yang mungkin menyebabkan kaumnya melihat potensi beliau untuk menjadi pemimpin mereka di masa depan—hingga dia mengejutkan mereka dengan tuntutannya yang menggebu-gebu bahwa mereka harus meninggalkan kepercayaan tradisional mereka dan mengabdikan diri mereka untuk menyembah Tuhan Yang Esa.

92 Lit., “Kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang engkau serukan kepada kami”. Hendaknya diingat bahwa bangsa Arab pra-Islam menganggap tuhan-tuhan dan juga malaikat-malaikat mereka (yang mereka percayai sebagai “anak-anak perempuan Allah”) sebagai perantara yang sah antara manusia dan Allah, yang keberadaan-Nya sendiri memang tidak mereka tolak; karena itu, mereka sangat terganggu oleh tuntutan nabi mereka agar meninggalkan penyembahan terhadap makhluk-makhluk yang dianggap bersifat Ilahi atau semi-Ilahi itu. Jawaban kaum Tsamud di atas tampaknya menunjukkan bahwa mereka mungkin akan mempertimbangkan pernyataan kenabian Shaleh a.s. dengan lebih baik jika saja dia bersedia menghentikan seruan bahwa “kalian tidak memiliki tuhan selain Dia”: suatu pernyataan yang menjelaskan sepenuhnya jawaban Shaleh dalam ayat berikutnya.


Surah Hud Ayat 63

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ ۖ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ

qāla yā qaumi a ra`aitum ing kuntu ‘alā bayyinatim mir rabbī, wa ātānī min-hu raḥmatan fa may yanṣurunī minallāhi in ‘aṣaituh, fa mā tazīdụnanī gaira takhsīr

63. Dia menimpali, “Wahai, kaumku! Bagaimana pendapat kalian? Jika [benar bahwa] pendirianku adalah berdasarkan bukti yang nyata dari Pemeliharaku, yang telah memberiku rahmat dari-Nya sendiri—[andaikan ini benar,] siapakah yang akan melindungiku dari Allah seandainya aku membangkang terhadap-Nya?93 Karena itu, yang kalian tawarkan kepadaku tak lebih hanyalah kebinasaan!”94


93 Yakni, “jika aku harus menyembunyikan—terlepas dari semua bukti yang diperoleh melalui wahyu Ilahi—kebenaran fundamental bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dan bahwa menisbahkan ketuhanan atau kekuasaan ketuhanan kepada siapa pun atau apa pun selain Dia adalah dosa yang tidak terampuni” (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 48 dan catatannya, no. 65).

94 Lit., “kalian tidak menambah [sesuatu pun] kepadaku selain kebinasaan”. Walaupun dialog ini diuraikan dalam konteks kisah Nabi Shaleh a.s. dan para pemimpin kaum Tsamud, ia—sebagaimana semua kisah dan perumpamaan dalam Al-Quran—menunjukkan pengertian yang universal dan abadi. Penekanannya di sini adalah pada kemustahilan intrinsik untuk mendamaikan kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa—yang kemahatahuan dan kemahakuasaan-Nya meliputi segala sesuatu—dengan tindakan menisbahkan sifat-sifat dan fungsi-fungsi ketuhanan atau semi-ketuhanan kepada siapa pun atau apa pun selain Allah. Pernyataan kaum Tsamud yang terselubung dengan amat halus ini (lihat catatan no. 92) dan sanggahan Nabi Shaleh a.s. atasnya menunjuk pada semua sikap keagamaan yang didasarkan pada hasrat untuk “membawa Tuhan lebih dekat kepada manusia” melalui peran apa yang diduga sebagai “perantara” antara Dia dan manusia. Dalam agama-agama primitif, perantaraan ini mengakibatkan penuhanan berbagai kekuatan alam dan, selanjutnya, penciptaan tuhan-tuhan khayalan yang dianggap mengambil peran di muka, sedangkan latar belakangnya adalah suatu Kekuatan Tertinggi yang tidak terdefinisikan dan yang dipahami secara samar-samar (contohnya, Moira dalam tradisi Yunani Kuno). Dalam konsep keagamaan yang lebih tinggi, kebutuhan terhadap adanya perantara ini berbentuk manifestasi Tuhan yang dipersonifikasi melalui dewa-dewa yang lebih rendah (seperti halnya, dalam Hinduisme, dengan personifikasi Brahma yang Absolut dalam bentuk Wishnu atau Syiwa dalam Kitab Upanishad dan Vedanta), atau dalam apa yang dianggap sebagai inkarnasi Tuhan ke dalam bentuk manusia (sebagaimana ditunjukkan dalam gagasan agama Kristen tentang Isa a.s. sebagai “anak Tuhan” dan sebagai Oknum Kedua dalam Trinitas). Dan, terakhir, Tuhan dianggap dapat “dibawa lebih dekat kepada manusia” melalui peran penengah yang dimainkan oleh hierarki orang-orang suci, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, yang syafaatnya dicari-cari bahkan oleh orang yang menganggap dirinya “monoteis”—dan ini mencakup banyak umat Muslim yang salah jalan, yang tidak menyadari bahwa kepercayaan mereka terhadap wali-wali sebagai “perantara” antara manusia dan Allah justru bertentangan dengan intisari ajaran Islam sendiri. Al-Quran berulang-ulang menekankan keesaan dan keunikan Allah dan menolak mentah-mentah gagasan yang menyatakan bahwa seseorang atau sesuatu—apakah ia makhluk nyata atau kekuatan abstrak—berserikat, sekecil apa pun, dalam sifat-sifat ketuhanan atau memiliki pengaruh, sekecil apa pun, dalam cara Dia mengatur alam semesta. Pengulang-ulangan ini bertujuan membebaskan manusia dari sikap penghambaan-diri (yang dibebankan oleh orang yang bersangkutan kepada dirinya sendiri) kepada hierarki khayali “kekuatan-kekuatan perantara”. Di samping itu, pengulang-ulangan tersebut juga bertujuan membuat manusia menyadari bahwa “ke mana pun kalian berpaling, di sanalah wajah Allah” (Surah Al-Baqarah [2]: 115), dan bahwa Allah “[selalu] dekat, menjawab [permohonan siapa pun yang berdoa kepada-Nya]” (Surah Al-Baqarah [2]: 186; juga, dalam bentuk yang padat, dalam ayat 61 surah ini).


Surah Hud Ayat 64

وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ

wa yā qaumi hāżihī nāqatullāhi lakum āyatan fa żarụhā ta`kul fī arḍillāhi wa lā tamassụhā bisū`in fa ya`khużakum ‘ażābung qarīb

64. Dan, [kemudian dia berkata], “Wahai, kaumku! Unta betina milik Allah ini akan menjadi pertanda bagi kalian: maka, biarkanlah dia merumput di atas bumi Allah dan jangan menyakitinya agar azab yang cepat tidak menimpa kalian!”95


95 Untuk penjelasan bagian ini, lihat Surah AI-A’raf [7], catatan no. 57.


Surah Hud Ayat 65

فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ

fa ‘aqarụhā fa qāla tamatta’ụ fī dārikum ṡalāṡata ayyām, żālika wa’dun gairu makżụb

65. Namun, mereka menyembelih unta betina itu dengan kejam.96 Dan, kemudian [Shaleh] berkata, “[Hanya] selama tiga hari [lagi] kalian akan menikmati hidup di rumah-rumah kalian: ini adalah keputusan97 yang tidak akan dimungkiri!”


96 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 61.

97 Lit., “janji”.


Surah Hud Ayat 66

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

fa lammā jā`a amrunā najjainā ṣāliḥaw wallażīna āmanụ ma’ahụ biraḥmatim minnā wa min khizyi yaumi`iż, inna rabbaka huwal-qawiyyul-‘azīz

66. Maka, tatkala telah datang keputusan Kami, Kami selamatkan Shaleh dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami; dan [Kami selamatkan mereka pula] dari kenistaan [penolakan Kami pada] Hari [Kebangkitan] itu.

Sungguh, Pemeliharamu sajalah Yang Mahadigdaya, Mahaperkasa!


Surah Hud Ayat 67

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

wa akhażallażīna ẓalamuṣ-ṣaiḥatu fa aṣbaḥụ fī diyārihim jāṡimīn

67. Dan, ledakan [hukuman Allah] menimpa orang-orang yang berkukuh berbuat zalim: dan kemudian mereka bergelimpangan di atas tanah, tanpa nyawa, dalam rumah-rumah mereka sendiri,98


98 Lit., “Mereka menjadi, dalam rumah-rumah mereka, bergelimpangan di atas tanah”. Ibn ‘Abbas—seperti dikutip Al-Razi—menjelaskan istilah shaihah (lit., “teriakan” atau “bunyi yang amat keras”) yang terdapat dalam surah ini sebagai sinonim kata sha’iqah, yakni “halilintar” atau “bunyi guruh”. Karena kejadian yang sama digambarkan dalam Surah Al-A’raf [7]: 78 sebagai “getaran dahsyat” (rajfah), yang dalam konteks ayat tersebut jelas menunjukkan gempa bumi, mungkin saja “bunyi yang amat keras” yang disebutkan di sini dan di beberapa tempat lain menggambarkan suara gaduh yang berasal dari bawah tanah yang sering mendahului dan menyertai gempa bumi dan/atau suara mirip halilintar dari ledakan gunung berapi (lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 62). Namun, mengingat pengulangan penggunaan ungkapan ini dalam berbagai konteks, kita dapat berasumsi bahwa ia memiliki makna yang lebih umum, yakni “ledakan hukuman” atau—sebagaimana dalam Surah Qaf [50]: 42, tempat ia mengacu pada Saat Terakhir—”ledakan terakhir”.


Surah Hud Ayat 68

كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِثَمُودَ

ka`al lam yagnau fīhā, alā inna ṡamụda kafarụ rabbahum, alā bu’dal liṡamụd

68. seolah-olah mereka tidak pernah tinggal di sana.

Oh, sungguh, [suku] Tsamud mengingkari Pemelihara mereka! Oh, binasalah kaum Tsamud!


Surah Hud Ayat 69

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

wa laqad jā`at rusulunā ibrāhīma bil-busyrā qālụ salāmā, qāla salāmun fa mā labiṡa an jā`a bi’ijlin ḥanīż

69. DAN, SESUNGGUHNYA, telah datang kepada Ibrahim utusan-utusan [samawi] Kami, membawa berita gembira.99 Mereka mengucapkan salam damai kepadanya; [dan] dia menjawab, “[Dan] salam damai [semoga tercurah kepada kalian]!”—dan bergegas menyuguhkan daging anak sapi panggang ke hadapan mereka.100


99 AI-Quran tidak menyatakan dengan banyak kata bahwa tamu-tamu Nabi Ibrahim a.s. itu adalah malaikat; tetapi karena istilah rusuluna (utusan-utusan Kami) sering digunakan dalam pengertian utusan-utusan samawi, seluruh mufasir klasik menafsirkannya seperti dalam konteks di atas. Mengenai isi “berita gembira” yang dirujuk di sini, lihat ayat 71.

Alasan untuk mengawali kisah Nabi Luth a.s. dengan suatu episode kehidupan Nabi Ibrahim a.s. adalah karena adanya permohonan Nabi Ibrahim a.s. menyangkut kepentingan orang-orang Sodom yang penuh dosa (ayat 74-76) dan juga, kemungkinan, karena janji Allah sebelumnya kepadanya, “Perhatikanlah, Aku akan menjadikanmu seorang pemimpin bagi manusia”, (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 124), yang pasti telah memberinya suatu perasaan tanggung jawab moral yang lebih besar, tidak hanya terhadap keluarganya sendiri, tetapi juga terhadap orang-orang yang secara tidak langsung berhubungan dengannya melalui Nabi Luth a.s., keponakannya.

100 Lit., “dan tidak menunda membawakan”. Mengenai makna yang lebih dalam dari kata “salam damai” (salam) sebagaimana yang digunakan dalam bagian ini, lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 29.


Surah Hud Ayat 70

فَلَمَّا رَأَىٰ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۚ قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍ

fa lammā ra`ā aidiyahum lā taṣilu ilaihi nakirahum wa aujasa min-hum khīfah, qālụ lā takhaf innā ursilnā ilā qaumi lụṭ

70. Namun, ketika dia melihat bahwa tangan-tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perilaku mereka dan menjadi khawatir kepada mereka.101 [Namun,] mereka berkata, “Jangan takut! Perhatikanlah, kami diutus kepada kaum Luth.”102


101 Lit ., “dia tidak mengetahui [apa yang harus diperbuat] dan merasa takut kepada mereka”. Karena mereka adalah malaikat, mereka tidak makan (berbeda dengan pernyataan Bibel dalam Kitab Kejadian 18: 8); dan karena, dalam tradisi keramahtamahan bangsa Arab, penolakan orang-orang asing untuk memakan hidangan yang ditawarkan kepadanya adalah suatu tanda ketidakbersahabatan, Nabi Ibrahim a.s.—yang hingga saat itu belum menyadari bahwa tamu-tamunya adalah malaikat—menjadi khawatir bahwa mereka mungkin akan bertindak jahat.

102 Menurut cerita Bibel (yang tidak bertentangan dengan Al-Quran), Nabi Luth a.s., putra saudara Nabi Ibrahim a.s., tinggal di timur Yordania, di sekitar daerah yang sekarang adalah Laut Mati (dalam bahasa Arab disebut Bahr Luth, “Laut Luth”). “Kaum Luth” sebenarnya bukanlah saudara sebangsa Nabi Luth a.s. karena—seperti Nabi Ibrahim a.s.—dia adalah seorang penduduk asli Ur di Babilonia selatan, dan kemudian pindah bersama pamannya: karena itu, di semua tempat dalam Al-Quran, ungkapan “kaum Luth” merujuk pada penduduk Kota (atau negeri) Sodom. Di tengah-tengah kaum inilah Nabi Luth memilih untuk tinggal, dan kepada mereka inilah beliau diamanatkan untuk menyampaikan misi kenabian.


Surah Hud Ayat 71

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

wamra`atuhụ qā`imatun fa ḍaḥikat fa basysyarnāhā bi`is-ḥāqa wa miw warā`i is-ḥāqa ya’qụb

71. Dan istrinya, yang berdiri [di dekatnya], tertawa [bahagia];103 kemudian, Kami memberinya berita gembira tentang [kelahiran] Ishaq, dan setelah Ishaq, [anaknya] Ya’qub.


103 Yakni, karena mengetahui bahwa orang-orang asing itu adalah utusan-utusan Allah, dan bahwa dia dan Ibrahim tidak perlu takut kepada mereka (Al-Zamakhsyari): karena itulah, saya menyisipkan kata “bahagia”. Ini berbeda dengan Bibel (Kitab Kejadian 18: 12-15) yang menyatakan bahwa Sarah “tertawa dalam hatinya” ketika mendengar berita bahwa dia, seorang wanita tua, akan melahirkan seorang anak laki-laki: sebab, dalam bagian Al-Quran di atas, berita ini disebutkan setelah pernyataan bahwa dia tertawa, dan diawali dengan kata sambung fa, yang dalam konteks ini berarti “maka” atau “akibatnya”.


Surah Hud Ayat 72

قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

qālat yā wailatā a alidu wa ana ‘ajụzuw wa hāżā ba’lī syaikhā, inna hāżā lasyai`un ‘ajīb

72. Istrinya berkata, “Oh, betapa malangnya aku!104 Apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku seorang perempuan tua, dan suamiku ini seorang yang sudah tua? Sungguh, itu benar-benar suatu hal yang sangat aneh!”


104 Ekspresi kesedihan ini jelas berhubungan dengan kemandulannya pada masa silam serta ketakutannya bahwa berita yang mengejutkan ini mungkin hanya ilusi.


Surah Hud Ayat 73

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

qālū a ta’jabīna min amrillāhi raḥmatullāhi wa barakātuhụ ‘alaikum ahlal-baīt, innahụ ḥamīdum majīd

73. [Para utusan itu] menjawab, “Apakah engkau anggap aneh bahwa Allah menetapkan apa yang Dia kehendaki?105 Rahmat Allah dan berkah-Nya semoga tercurah kepada kalian, wahai penghuni rumah ini! Sungguh, Dia-lah yang Maha Terpuji, Mahamulia!”


105 Lit., “Apakah engkau takjub pada ketetapan Allah?”—atau: “Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah?” Namun, arti sebenarnya dari pertanyaan retoris ini hanya dapat dikemukakan dengan memparafrasakannya sebagaimana yang saya upayakan: yakni, sebagai gaung dari pernyataan berikut ini yang diulang beberapa kali dalam Al-Quran: “Manakala Dia menghendaki untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah’—maka terjadilah ia!”.


Surah Hud Ayat 74

فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَىٰ يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ

fa lammā żahaba ‘an ibrāhīmar-rau’u wa jā`at-hul-busyrā yujādilunā fī qaumi lụṭ

74. Dan, tatkala rasa takut telah pergi meninggalkan Ibrahim dan berita gembira itu telah disampaikan kepadanya, dia mulai bersoal jawab dengan Kami mengenai kaum Luth:106*


106 Menurut semua mufasir, ini berarti “dia bersoal-jawab [lit., “berbantahan”, yujadil] dengan utusan-utusan Kami” (yang, sebagaimana tampak dalam Surah Al-‘Ankabut [29]: 31, telah memberitakan kepadanya tentang hukuman yang akan menimpa Sodom dan Gomora), dan bukan dengan Allah sendiri.

* {Dalam teks asalnya, he began to plead with Us for Lot’s people. Di antara makna plead, antara lain adalah “mengajukan alasan” (yakni bersoal-jawab), “memohon dengan sangat”, dan “membela”; suatu pilihan diksi yang padat dan sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia.—peny.}


Surah Hud Ayat 75

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

inna ibrāhīma laḥalīmun awwāhum munīb

75. sebab, perhatikanlah, Ibrahim itu paling penyantun, paling lembut hati dan berulang-ulang kembali kepada Allah dengan segenap kesungguhan.


Surah Hud Ayat 76

يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۖ إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ ۖ وَإِنَّهُمْ آتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ

yā ibrāhīmu a’riḍ ‘an hāżā, innahụ qad jā`a amru rabbik, wa innahum ātīhim ‘ażābun gairu mardụd

76. [Namun, utusan-utusan Allah menjawab,] “Wahai, Ibrahim! Hentikanlah [soal-jawab] ini! “Perhatikanlah, telah datang keputusan Pemeliharamu: dan, sungguh, akan menimpa mereka hukuman yang tiada seorang pun dapat menolaknya!”


Surah Hud Ayat 77

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

wa lammā jā`at rusulunā lụṭan sī`a bihim wa ḍāqa bihim żar’aw wa qāla hāżā yaumun ‘aṣīb

77. DAN, KETIKA utusan-utusan Kami datang kepada Luth, dia merasa amat sedih perihal mereka, mengingat bahwa di luar kuasanyalah melindungi mereka;107 dan dia berseru, “Ini adalah hari yang amat malang!”


107 Lit., “dia merasa susah demi mereka berkenaan dengan jangkauan tangannya”—suatu frasa idiomatis yang sering digunakan dalam bahasa Arab klasik, yang di sini menunjukkan ketidakmampuan Nabi Luth a.s. memberikan perlindungan bagi tamu-tamunya terhadap orang-orang Sodom, kaum yang kecenderungan homoseksualnya sejak itu diabadikan dengan istilah “sodomi”. Karena berpikir bahwa orang-orang asing itu tidak lebih daripada pemuda-pemuda tampan, Nabi Luth a.s. merasa pasti bahwa mereka akan mengalami serangan seksual dari penduduk kotanya yang penuh dosa.


Surah Hud Ayat 78

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ ۚ قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي ۖ أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

wa jā`ahụ qaumuhụ yuhra’ụna ilaīh, wa ming qablu kānụ ya’malụnas-sayyi`āt, qāla yā qaumi hā`ulā`i banatī hunna aṭ-haru lakum fattaqullāha wa lā tukhzụni fī ḍaifī, a laisa mingkum rajulur rasyīd

78. Dan, kaumnya datang dengan berlari kepadanya, didorong [oleh hasrat berahi mereka] menuju rumahnya:108 sebab, sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji [seperti ini].

Berkata [Luth], “Wahai, kaumku! [Ambillah] putri-putriku ini [sebagai ganti]: mereka lebih suci bagi kalian [ketimbang laki-laki]!109 Maka, sadarlah akan Allah, dan janganlah membuatku terhina dengan [menyerang] tamu-tamuku. Tidak adakah di antara kalian seorang pun yang berakal sehat?”


108 Lit., “kepadanya”—tetapi karena hasrat mereka jelas diarahkan kepada tamu-tamu Nabi Luth a.s., dan bukan kepada dirinya sendiri, terjemahan saya tampaknya tepat. Perlu dicatat bahwa dalam bentuk pasifnya, seperti digunakan di sini, verba yuhra’un berarti bukan hanya “mereka datang berlari”, alih-alih “berlari seakan-akan didorong ke depan oleh suatu kekuatan” (Al-Zamakhsyari)—dalam kasus ini, kekuatan nafsu mereka yang menyimpang.

109 Kebanyakan mufasir berpendapat bahwa frasa “putri-putriku ini” di sini berarti “putri-putri kaumku” (karena seorang nabi adalah ayah spiritual kaumnya). Namun, apakah memang demikian adanya, atau apakah—yang lebih mungkin—kata-kata Nabi Luth a.s. ini merujuk pada anak-anak perempuannya sendiri, tidak ada keraguan bahwa, dalam pengertian yang lebih luas, kata-kata tersebut mengacu pada hubungan alami antara laki-laki dan perempuan, bertentangan dengan nafsu menyimpang pria-pria Sodom.


Surah Hud Ayat 79

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

qālụ laqad ‘alimta mā lanā fī banātika min ḥaqq, wa innaka lata’lamu mā nurīd

79. Mereka menjawab, “Engkau sudah tahu bahwa kami tidak mempunyai keperluan apa pun terhadap putri-putrimu;110 dan, sungguh, engkau tahu benar apa yang kami inginkan!”


110 Lit., “tidak ada klaim {haqq} apa pun terhadap putri-putrimu”.


Surah Hud Ayat 80

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ

qāla lau anna lī bikum quwwatan au āwī ilā ruknin syadīd

80. Berserulah [Luth], “Andaikan aku mempunyai kekuatan untuk mengalahkan kalian atau andaikan aku dapat bersandar pada suatu sokongan yang lebih kuat!”111


111 Lit., “atau andaikan aku dapat pergi kepada suatu sokongan yang kuat”. Walaupun beberapa mufasir berpendapat bahwa ungkapan ini menunjukkan “sokongan suku” (yang, bagaimanapun, tidak dimiliki Nabi Luth a.s. karena dia adalah orang asing di Sodom), kita mempunyai sejumlah hadis sahih (yang secara panjang lebar dikutip oleh Al-Thabari) yang menyatakan bahwa yang dimaksud oleh Nabi Luth a.s. adalah sokongan Allah: sebab, Nabi Muhammad Saw., berkenaan dengan pasase Al-Quran ini, diriwayatkan telah bersabda, “Allah menganugerahkan rahmat-Nya kepada Luth, sebab dia pergi menuju sokongan yang benar-benar kuat”.


Surah Hud Ayat 81

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

qālụ yā lụṭu innā rusulu rabbika lay yaṣilū ilaika fa asri bi`ahlika biqiṭ’im minal-laili wa lā yaltafit mingkum aḥadun illamra`atak, innahụ muṣībuhā mā aṣābahum, inna mau’idahumuṣ-ṣub-h, a laisaṣ-ṣub-ḥu biqarīb

81. [Kemudian, para malaikat] berkata, “Wahai, Luth! Perhatikanlah, kami adalah utusan-utusan dari Pemeliharamu! [Musuh-musuhmu] tidak akan dapat menjangkaumu! Maka, berangkatlah dengan orang-orang seisi rumahmu ketika hari masih malam, dan janganlah siapa pun di antara kalian melihat ke belakang;112 [dan bawalah bersamamu seluruh keluargamu,] kecuali istrimu: sebab, perhatikanlah, apa yang akan menimpa [kaum Sodom] akan menimpanya [pula].113 Sungguh, waktu yang telah ditetapkan bagi mereka adalah kala shubuh—[dan] bukankah shubuh itu sudah dekat?”


112 Yakni, dalam suatu pengertian abstrak, “ke arah apa yang kalian tinggalkan” (Al-Razi)—hal ini jelas berarti pemutusan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kota para pendosa itu, dan bukan melihat ke belakang dalam pengertian fisik.

113 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 83 dan catatannya, serta Surah At-Tahrim [66]: 10, yang menyebutkan bahwa istri Luth, yang tampaknya adalah penduduk asli Sodom, tidak memercayai suaminya, yakni menolak untuk beriman kepada misi kenabiannya; dan kisah tentang istrinya ini kemudian “dikemukakan sebagai suatu perumpamaan bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran”.


Surah Hud Ayat 82

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

fa lammā jā`a amrunā ja’alnā ‘āliyahā sāfilahā wa amṭarnā ‘alaihā ḥijāratam min sijjīlim manḍụd

82. Maka, tatkala telah datang keputusan Kami, Kami jadikan [kota-kota yang penuh dosa] itu terbalik, dan Kami hujani mereka dengan serangan-serangan hukuman sekeras batu yang telah ditakdirkan sebelumnya,114 bertubi-tubi,


114 Lit., “batu-batu dari sijjil“. Oleh beberapa filolog, nomina sijjil ini dianggap sebagai bentuk Arabisasi dari kata bahasa Persia sang-i-gil (“batu tanah liat” atau “tanah liat yang mengeras”): bdk. Al-Qamus dan Taj Al-‘Arus. Jika anggapan ini benar, “batu-batu tanah liat yang mengeras” kurang lebih sama artinya dengan “belerang”, yang pada gilirannya menunjuk pada letusan gunung berapi, yang mungkin saja berbarengan dengan suatu gempa bumi (yang disinggung dalam frasa sebelumnya, “Kami jadikan [kota-kota yang penuh dosa] itu terbalik”). Namun, ada pula kemungkinan kuat, yang dikemukakan oleh Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, bahwa istilah sijjil murni berasal dari bahasa Arab—yakni, merupakan sinonim kata sijill, yang makna primernya adalah “tulisan”, sedangkan makna sekundernya adalah “sesuatu yang telah ditetapkan”: dalam hal ini, ungkapan hijarah min sijjil dapat dipahami dalam pengertian metaforisnya, yakni “bebatuan hukuman yang telah ditentukan dalam ketetapan Allah” (baik Al-Zamakhsyari maupun Al-Razi mengemukakannya sehubungan dengan ayat di atas dan dalam tafsiran mereka atas Surah Al-Fil [105]: 4). Menurut saya, ujung kalimat ayat 83 berikutnya merujuk pada makna metaforis dari “serangan-serangan hukuman sekeras batu yang telah ditakdirkan sebelumnya”, yakni merujuk pada hukuman yang ditetapkan Allah.


Surah Hud Ayat 83

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

musawwamatan ‘inda rabbik, wa mā hiya minaẓ-ẓālimīna biba’īd

83. yang ditandai dalam pandangan Pemeliharamu [sebagai hukuman bagi orang-orang yang tenggelam dalam dosa].

Dan, [serangan-serangan hukuman yang ditetapkan Allah] ini tidak pernah jauh dari orang-orang zalim!115


115 Menurut beberapa mufasir yang paling awal (seperti Qatadah dan ‘Ikrimah, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari), ancaman malapetaka ini berlaku bagi orang-orang zalim di sepanjang masa—yang semakin mendukung pendapat bahwa ungkapan hijarah min sijjil memiliki konotasi metaforis.


Surah Hud Ayat 84

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ

wa ilā madyana akhāhum syu’aibā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, wa lā tangquṣul-mikyāla wal-mīzāna innī arākum bikhairiw wa innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumim muḥīṭ

84. DAN, KEPADA [suku] Madyan, [Kami utus] saudara mereka, Syu’aib.116 Dia berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah [saja]: kalian tidak memiliki tuhan selain Dia; dan janganlah mengurangi takaran dan timbangan [dalam segala urusan kalian dengan sesama].117 Perhatikanlah, aku melihat kalian [sekarang] dalam keadaan bahagia; tetapi, sungguh, aku khawatir kalau-kalau derita menimpa kalian pada Hari yang akan meliputi [kalian dengan kebinasaan]!


116 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 67.

117 Jadi, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berlaku adil dalam segala urusan di antara manusia (lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 150) di sini ditempatkan secara berdampingan sebagai postulat-kembar dari segala kesalehan. Sebagian mufasir menyimpulkan bahwa kaum Madyan cenderung bermental komersial dan terbiasa melakukan penipuan. Namun, jelaslah bahwa maksud ayat ini dan ayat selanjutnya jauh melampaui apa pun yang dapat dijelaskan oleh penafsiran “historis” murni. Tujuan dari pemaparan kisah Nabi Syu’aib a.s. ini, sebagaimana yang selalu terjadi dalam Al- Quran, adalah untuk menyatakan suatu prinsip etika yang berlaku umum: yakni, bahwa manusia mustahil menjadi orang yang saleh dalam hubungannya dengan Allah, kecuali jika manusia itu juga bertindak saleh—dalam pengertian moral dan sosial dari kata ini—dalam hubungannya dengan sesama manusia. Inilah yang menjelaskan mengapa larangan di atas ditegaskan kembali dalam bentuk kalimat positif, yakni dalam bentuk perintah, pada ayat berikutnya.


Surah Hud Ayat 85

وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

wa yā qaumi auful-mikyāla wal-mīzāna bil-qisṭi wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā`ahum wa lā ta’ṡau fil-arḍi mufsidīn

85. Karena itu, wahai kaumku, sempurnakanlah [selalu] takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah mengambil dari manusia apa-apa yang merupakan milik-sah mereka,118 dan janganlah berbuat jahat di muka bumi dengan menyebarkan kerusakan.


118 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 68.


Surah Hud Ayat 86

بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

baqiyyatullāhi khairul lakum ing kuntum mu`minīn, wa mā ana ‘alaikum biḥafīẓ

86. Yang ada pada Allah119 adalah yang terbaik bagi kalian, jika kalian beriman [kepada-Nya]! Namun, aku bukanlah penjaga kalian.”


119 Yakni, pahala abadi yang diterima karena melakukan perbuatan-perbuatan baik dan berurusan secara adil dan jujur dengan sesama manusia (bdk. ungkapan al-baqiyat al-shalihat dalam Surah Al-Kahfi [18]: 46 dan Surah Maryam [19]: 76).


Surah Hud Ayat 87

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

qālụ yā syu’aibu a ṣalātuka ta`muruka an natruka mā ya’budu ābā`unā au an naf’ala fī amwālinā mā nasyā`, innaka la`antal-ḥalīmur-rasyīd

87. Mereka berkata, “Wahai, Syu’aib! Apakah [kebiasaan] doamu memaksamu untuk meminta kami120 meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami atau menghentikan kami dari melakukan apa yang kami sukai dengan harta kami?121 Perhatikanlah, [engkau ingin membuat kami percaya bahwa] sungguh hanya engkaulah satu-satunya orang yang penyantun lagi berakal sehat!”


120 Lit., “Apakah doamu memerintahkanmu …”, dst.

121 Yakni, tanpa memedulikan hak-hak dan kebutuhan sesama, terutama orang-orang miskin: inilah yang menjelaskan pernyataan sarkastik mereka, dalam kalimat berikutnya, yang mencemooh sifat belas kasih dan pikiran lurus Nabi Syu’aib a.s.


Surah Hud Ayat 88

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

qāla yā qaumi a ra`aitum ing kuntu ‘alā bayyinatim mir rabbī wa razaqanī min-hu rizqan ḥasanaw wa mā urīdu an ukhālifakum ilā mā an-hākum ‘an-h, in urīdu illal-iṣlāḥa mastaṭa’t, wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb

88. Dia menjawab, “Wahai, kaumku! Bagaimana pendapat kalian? Jika [benar bahwa] pendirianku berdasarkan bukti yang nyata dari Pemeliharaku, yang telah menganugerahkan kepadaku rezeki yang baik [sebagai karunia] dari diri-Nya—[bagaimana mungkin aku dapat mengatakan kepada kalian sebaliknya dari apa yang kulakukan]?122 Lagi pula, aku tidak berhasrat melakukan, karena permusuhan dengan kalian, hal-hal yang aku meminta kalian untuk tidak melakukannya:123 aku hanya ingin mengadakan perbaikan sepanjang hal itu berada dalam kesanggupanku; tetapi, tercapainya tujuanku bergantung pada Allah saja. Kepada-Nya aku telah bersandar penuh percaya*, dan kepada-Nya aku selalu berpaling kembali!


122 Menurut Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan beberapa mufasir lainnya, klausa yang disisipkan di antara dua kurung siku ini secara eliptis tersirat dalam jawaban Nabi Syu’aib a.s. Pernyataan Nabi Syu’aib a.s. yang menekankan fakta bahwa Allah telah merahmatinya dengan kebaikan duniawi yang berlimpah dimaksudkan untuk mengingatkan penduduk negerinya bahwa tindakannya menyuruh mereka agar berlaku adil dalam segala urusan antarmanusia bukanlah didasarkan atas kepentingan pribadi.

123 Yakni, “Aku tidak bermaksud mengambil apa-apa yang merupakan milik-sah kalian”—merujuk pada ayat 85 di atas.

* {bertawakal; in Him have I placed my trust—peny.}


Surah Hud Ayat 89

وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ

wa yā qaumi lā yajrimannakum syiqāqī ay yuṣībakum miṡlu mā aṣāba qauma nụḥin au qauma hụdin au qauma ṣāliḥ, wa mā qaumu lụṭim mingkum biba’īd

89. “Dan, wahai kaumku, jangan biarkan pertentangan [kalian] denganku menjerumuskan kalian ke dalam dosa agar jangan sampai kalian ditimpa (oleh hal-hal) sebagaimana yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud, atau kaum Shaleh: dan [ingatlah bahwa] kaum Luth tinggal tidak jauh dari kalian!124


124 Sebagaimana ditunjukkan dalam Surah Al-A’raf [7], catatan no. 67, wilayah yang didiami kaum Syu’aib terbentang mulai dari daerah yang kini dikenal sebagai Teluk ‘Aqabah sampai Pegunungan Moab, yang terletak di timur Laut Mati, di sekitar wilayah Sodom dan Gomora dahulu.


Surah Hud Ayat 90

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ

wastagfirụ rabbakum ṡumma tụbū ilaīh, inna rabbī raḥīmuw wadụd

90. Karena itu, mohonlah kepada Pemelihara kalian untuk mengampuni dosa-dosa kalian, kemudian kembalilah kepada-Nya dalam tobat—sebab, sungguh, Pemeliharaku adalah Sang Pemberi Rahmat, Sang Sumber Cinta!”


Surah Hud Ayat 91

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

qālụ yā syu’aibu mā nafqahu kaṡīram mimmā taqụlu wa innā lanarāka fīnā ḍa’īfā, walau lā rahṭuka larajamnāka wa mā anta ‘alainā bi’azīz

91. [Namun, kaumnya] berkata, “Wahai, Syu’aib! Kami tidak dapat menangkap maksud dari kebanyakan yang kau katakan:125 di lain pihak, perhatikanlah, kami melihat dengan jelas bagaimana lemahnya engkau di tengah-tengah kami;126 dan kalau bukan karena keluargamu, tentulah kami telah merajammu sampai mati karena engkau tidak memiliki kekuasaan terhadap kami!”


125 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 25. Namun, dalam kasus ini, ketidakmengertian kaum Madyan—yang diakui oleh mereka sendiri—mungkin mengandung makna yang lebih subjektif, yang mirip dengan jawaban setengah-marah, setengah-malu, “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan”.

126 Lit., “kami menganggapmu benar-benar sebagai seorang yang lemah di antara kami”—yakni, tanpa dukungan yang memadai dari suku.


Surah Hud Ayat 92

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا ۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

qāla yā qaumi a rahṭī a’azzu ‘alaikum minallāh, wattakhażtumụhu warā`akum ẓihriyyā, inna rabbī bimā ta’malụna muḥīṭ

92. Dia berkata, “Wahai, kaumku! Apakah kalian menganggap keluargaku lebih terhormat daripada Allah?—sebab, Dia kalian anggap sebagai sesuatu yang dapat dicampakkan ke belakang kalian dan dapat dilupakan!127 Sungguh, Pemeliharaku meliputi [dengan kekuasaan-Nya] semua yang kalian perbuat!


127 Dalam pemakaian bahasa Arab klasik, serta dalam percakapan suku-suku Badui tertentu hingga saat ini, frasa ittakhadzahu (atau ja’lahu) zhihriyyan (lit., “dia meletakkannya di belakang punggungnya”) berarti “dia melecehkannya”, atau “dia melupakannya”, atau “menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat dilupakan”. Terjemahan yang disebutkan terakhir ini tampaknya adalah yang paling tepat dalam konteks di atas.


Surah Hud Ayat 93

وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ ۖ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ

wa yā qaumi’malụ ‘alā makānatikum innī ‘āmil, saufa ta’lamụna may ya`tīhi ‘ażābuy yukhzīhi wa man huwa kāżib, wartaqibū innī ma’akum raqīb

93. Karena itu, wahai kaumku, lakukanlah apa pun [terhadapku] semampu kalian, [sedangkan] aku, perhatikanlah, akan berbuat [di jalan Allah]; kelak kalian akhirnya akan tahu siapa [di antara kita] yang akan didatangi oleh penderitaan yang akan meliputinya dengan kenistaan, dan siapa [di antara kita] yang berdusta. Maka, tunggulah [apa yang akan terjadi:] perhatikanlah, aku akan menunggu bersama kalian!”


Surah Hud Ayat 94

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

wa lammā jā`a amrunā najjainā syu’aibaw wallażīna āmanụ ma’ahụ biraḥmatim minnā, wa akhażatillażīna ẓalamuṣ-ṣaiḥatu fa aṣbaḥụ fī diyārihim jāṡimīn

94. Dan, tatkala telah datang keputusan Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat Kami, sedangkan suara ledakan [hukuman Kamij menimpa orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman: dan kemudian mereka bergelimpangan di atas tanah, tanpa nyawa, dalam rumah-rumah mereka sendiri,128


128 Lihat ayat 67 surah ini dan catatannya, no. 98; juga Surah Al-A’raf [7], catatan no. 73.


Surah Hud Ayat 95

كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ

ka`al lam yagnau fīhā, alā bu’dal limadyana kamā ba’idat ṡamụd

95. seolah-olah mereka tidak pernah tinggal di sana.

Oh, binasalah [kaum] Madyan, sebagaimana kaum Tsamud telah binasa!


Surah Hud Ayat 96

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa laqad arsalnā mụsā bi`āyātinā wa sulṭānim mubīn

96. DAN, SUNGGUH, telah Kami utus Musa dengan pesan pesan Kami beserta kekuasaan yang nyata [dari Kami]


Surah Hud Ayat 97

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ ۖ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ

ilā fir’auna wa mala`ihī fattaba’ū amra fir’aụn, wa mā amru fir’auna birasyīd

97. kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya: tetapi, mereka ini [hanya] mengikuti perintah Fir’aun—dan perintah Fir’aun sama sekali tidak mengantarkan pada hal-hal yang benar.129


129 Lit., “tidak dibimbing dengan benar (rasyid)”. Bagian singkat yang mengisahkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya ini (ayat 96-99) berkaitan dengan, dan memperkuat, rujukan terhadap suku ‘Ad yang “mengikuti perintah setiap musuh kebenaran yang (bersikap) sombong” (ayat 59 surah ini). Jadi, inti utama bagian ini menyangkut masalah kepemimpinan yang tidak bermoral dan, yang lalu memunculkan, masalah tanggung jawab moral individu manusia karena melakukan kezaliman dalam rangka mematuhi “otoritas yang lebih tinggi”. Al-Quran menjawab persoalan ini dengan tegas dalam nada menyetujui: pemimpin dan yang dipimpin sama-sama bersalah, dan tiada yang dapat mengelak bertanggung jawab dengan berdalih bahwa dia hanya bertaklid buta menuruti perintah-perintah yang diberikan oleh orang-orang yang berkuasa atasnya. Rujukan tidak langsung terhadap kebebasan relatif manusia dalam menentukan keinginannya ini—yakni kebebasannya untuk memilih antara yang benar dan yang salah—dengan amat tepat mengakhiri rangkaian kisah nabi-nabi terdahulu beserta umat-umatnya yang zalim itu sebagaimana diceritakan dalam surah ini.


Surah Hud Ayat 98

يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۖ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ

yaqdumu qaumahụ yaumal-qiyāmati fa auradahumun-nār, wa bi`sal-wirdul-maurụd

98. [Maka] dia akan berjalan di hadapan kaumnya pada Hari Kebangkitan, (karena) telah mengantarkan mereka [di dunia ini] menuju api neraka [dalam kehidupan akhirat]; dan betapa buruknya tujuan yang mereka diantarkan kepadanya—


Surah Hud Ayat 99

وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ

wa utbi’ụ fī hāżihī la’nataw wa yaumal-qiyāmah, bi`sar-rifdul-marfụd

99. karena mereka dikejar-kejar oleh penolakan [Allah] di [dunia] ini, dan [pada akhirnya mereka akan ditimpa olehnya] pada Hari Kebangkitan;130 [dan] betapa buruknya pemberian yang diberikan kepada mereka!


130 Lihat catatan no. 37 pada klausa terakhir ayat 18 surah ini, serta ayat 60, yang merujuk pada nasib suku ‘Ad dengan menggunakan istilah yang sama.


Surah Hud Ayat 100

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَىٰ نَقُصُّهُ عَلَيْكَ ۖ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ

żālika min ambā`il-qurā naquṣṣuhụ ‘alaika min-hā qā`imuw wa ḥaṣīd

100. BERITA131 tentang [nasib] masyarakat-masyarakat [terdahulu] itu—yang sebagiannya masih ada, dan sebagiannya [punah bagaikan] ladang yang dibabat habis—Kami sampaikan kepadamu [sebagai pelajaran bagi manusia]:132


131 Lit., “Inilah dari berita-berita” (This of the accounts, dzalika min anba-i; suatu susunan kalimat yang sama dengan yang digunakan dalam Surah Ali ‘Imran [3]: 44, Hud [11]: 49, dan Yusuf [12]: 102), yang menyinggung kenyataan bahwa hanya aspek-aspek tertentu dari kisah-kisah yang relevan, dan bukan kisah-kisah yang lengkap itu sendiri, yang dikemukakan di sini (bdk. ayat 120): tujuannya adalah, sebagaimana dengan semua kisah dalam Al-Quran, menyajikan ilustrasi mengenai suatu prinsip atau serangkaian prinsip etis, dan mengenai beragam reaksi manusia terhadap petunjuk yang Allah tawarkan kepada mereka secara langsung melalui nabi-nabi-Nya dan secara tidak langsung melalui fenomena ciptaan-Nya yang teramati. (Dalam kaitannya dengan ini, lihat bagian kedua dari catatan no. 73 pada ayat 49 surah ini.)

132 Lihat catatan sebelumnya.


Surah Hud Ayat 101

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ۖ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ ۖ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

wa mā ẓalamnāhum wa lākin ẓalamū anfusahum fa mā agnat ‘an-hum ālihatuhumullatī yad’ụna min dụnillāhi min syai`il lammā jā`a amru rabbik, wa mā zādụhum gaira tatbīb

101. sebab, tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. Dan, tatkala telah datang keputusan Kami, sembahan-sembahan mereka yang biasa mereka seru selain Allah terbukti tidak bermanfaat sedikit pun bagi mereka! dan tak lebih hanyalah mengakibatkan kebinasaan mereka belaka.


Surah Hud Ayat 102

وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

wa każālika akhżu rabbika iżā akhażal-qurā wa hiya ẓālimah, inna akhżahū alīmun syadīd

102. Dan, demikianlah genggaman hukuman Pemeliharamu setiap kali Dia menghukum masyarakat mana pun yang terbiasa berbuat kezaliman: sungguh, genggaman hukuman-Nya sangat pedih, keras!


Surah Hud Ayat 103

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ

inna fī żālika la`āyatal liman khāfa ‘ażābal-ākhirah, żālika yaumum majmụ’ul lahun-nāsu wa żālika yaumum masy-hụd

103. Perhatikanlah, di dalam yang demikian ini benar-benar terdapat pesan bagi semua yang takut akan penderitaan [yang boleh jadi menimpa mereka] di akhirat, [dan sadar akan datangnya] Hari ketika semua manusia akan dikumpulkan—Hari [Pengadilan] yang akan disaksikan [oleh semua yang pernah hidup],


Surah Hud Ayat 104

وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ

wa mā nu`akhkhiruhū illā li`ajalim ma’dụd

104. dan yang tidak akan Kami undurkan di luar batas-waktu yang telah ditentukan [oleh Kami].133


133 Lit., “kecuali hingga suatu batas-waktu yang dihitung [oleh Kami]”.


Surah Hud Ayat 105

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

yauma ya`ti lā takallamu nafsun illā bi`iżnih, fa min-hum syaqiyyuw wa sa’īd

105. Tatkala Hari itu datang, tiada satu jiwa pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya; dan di antara mereka [yang dikumpulkan bersama], sebagian akan celaka dan sebagian bahagia.


Surah Hud Ayat 106

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

fa ammallażīna syaqụ fa fin-nāri lahum fīhā zafīruw wa syahīq

106. Adapun orang-orang yang akan mendatangkan celaka terhadap diri mereka sendiri [akibat perbuatan mereka, akan tinggal] di dalam neraka, di mana mereka [tidak lain hanya] akan merintih dan tersedu-sedu [untuk meringankan rasa sakit mereka],


Surah Hud Ayat 107

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

khālidīna fīhā mā dāmatis-samāwātu wal-arḍu illā mā syā`a rabbuk, inna rabbaka fa”ālul limā yurīd

107. di dalamnya (mereka) berkediaman selama ada lelangit dan bumi—kecuali Pemeliharamu menghendaki sebaliknya:134 sebab, sungguh, Pemeliharamu adalah Sang Maha Pelaksana terhadap apa pun yang Dia kehendaki.


134 Yakni, kecuali kalau Tuhan ingin menangguhkan hukuman mereka (bdk. paragraf terakhir Surah Al-An’am [6]: 128 dan catatannya no. 114, serta catatan no. 10 pada Surah Ghafir [40]: 12). Frasa “selama ada lelangit dan bumi” telah memunculkan sejumlah kebingungan di kalangan mayoritas mufasir klasik, mengingat banyaknya pernyataan Al-Quran yang menyebutkan bahwa dunia sebagaimana yang kita kenal ini akan musnah pada Hari Terakhir, yakni Hari Kebangkitan. Namun, kebingungan ini dapat dipecahkan jika kita ingat—sebagaimana yang ditunjukkan Al-Thabari dalam tafsirnya terhadap ayat di atas—bahwa dalam pemakaian bahasa Arab klasik, ungkapan “selama ada lelangit dan bumi”, atau “sepanjang malam dan siang silih berganti”, dan seterusnya, digunakan secara metonomia dalam pengertian “selama masa yang tak terhitung” (abad). Lihat juga Surah TaHa [20]: 105-107 dan catatannya (no. 90), serta catatan no. 63 pada Surah Ibrahim [14]: 48.


Surah Hud Ayat 108

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

wa ammallażīna su’idụ fa fil-jannati khālidīna fīhā mā dāmatis-samāwātu wal-arḍu illā mā syā`a rabbuk, ‘aṭā`an gaira majżụż

108. Namun, adapun orang-orang yang [berkat perbuatan-perbuatan mereka pada masa silam] akan dianugerahi kebahagiaan, [mereka akan tinggal] di surga, di dalamnya (mereka) berkediaman selama ada lelangit dan bumi—kecuali Pemeliharamu menghendaki sebaliknya135—sebagai karunia yang tiada henti.


135 Yakni, kecuali kalau Allah menghendaki untuk menganugerahi mereka balasan pahala yang bahkan lebih besar lagi (Al-Razi; juga Al-Manar XII, h. 161); atau—yang menurut saya lebih mungkin—kecuali kalau Dia membukakan kepada manusia tahapan evolusi yang baru dan bahkan lebih tinggi lagi.


Surah Hud Ayat 109

فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ هَٰؤُلَاءِ ۚ مَا يَعْبُدُونَ إِلَّا كَمَا يَعْبُدُ آبَاؤُهُمْ مِنْ قَبْلُ ۚ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنْقُوصٍ

fa lā taku fī miryatim mimmā ya’budu hā`ulā`, mā ya’budụna illā kamā ya’budu ābā`uhum ming qabl, wa innā lamuwaffụhum naṣībahum gaira mangqụṣ

109. MAKA, [wahai Nabi,] janganlah ragu terhadap apa pun yang disembah oleh orang-orang [yang tersesat] itu:136 mereka tiada lain hanyalah menyembah [tanpa berpikir] sebagaimana nenek moyang mereka menyembah pada masa silam; dan perhatikanlah, Kami pasti akan memberikan balasan kepada mereka [atas kebaikan atau keburukan apa pun yang mereka usahakan] sepenuhnya, tanpa menguranginya sedikit pun.137


136 Yakni, “jangan menyangka bahwa keimanan mereka didasarkan pada nalar”: hal ini, terutama, merujuk pada bangsa Arab Jahiliah yang—seperti orang-orang zalim yang telah dibicarakan pada bagian sebelumnya—menolak pesan Allah dengan berdalih bahwa pesan itu bertentangan dengan kepercayaan leluhur mereka; dan, secara lebih umum, merujuk pada semua manusia yang terbiasa menyembah (dalam pengertian yang terluas dari kata ini) nilai-nilai batil yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dan yang, karena itu, mengikuti standar moralitas yang batil: suatu sikap yang—sebagaimana ditunjukkan dalam kalimat terakhir ayat ini—pasti berakibat pada penderitaan pada masa mendatang, baik di dunia, di akhirat, ataupun di dunia dan akhirat sekaligus.

137 Lit., “Kami akan membalasi mereka bagian mereka sepenuhnya, tanpa dikurangi”. Untuk penjelasan tentang kalimat ini, lihat catatan no. 27 pada ayat 15-16 surah ini.


Surah Hud Ayat 110

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba fakhtulifa fīh, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum, wa innahum lafī syakkim min-hu murīb

110. Dan, sesungguhnya, [serupalah kejadiannya ketika] Kami memberikan kitab Ilahi kepada Musa, dan sebagian kaumnya menyusun pandangan mereka sendiri guna menentangnya;138 dan kalau bukan karena suatu ketetapan yang telah ada dari Pemeliharamu, niscaya keputusan telah ditetapkan atas mereka [seketika itu juga]:139 sebab, perhatikanlah, mereka berada dalam keraguan yang besar, sampai-sampai curiga, tentang dia [yang menyeru mereka kepada Allah].140


138 Lit., “dan ia diperselisihkan”, atau “pandangan yang bertentangan dianut terhadapnya”: artinya, seperti orang-orang pada zaman awal Nabi Muhammad Saw., sebagian umat Nabi Musa a.s. menerima kitab Ilahi, sedangkan yang lain menolak tunduk pada petunjuknya.

139 Lit., “pasti telah diputuskan di antara mereka”—yakni, mereka pasti telah dihukum dengan kebinasaan, seperti umat-umat pada masa silam, kalau bukan karena ketetapan Allah (kalimah, lit., “kata” [word]) bahwa hukuman mereka akan ditunda hingga Hari Kebangkitan (bdk. kalimat terakhir Surah Yunus [10]: 93 dan catatannya, no. 114).

140 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 55—”Wahai, Musa, sungguh kami tidak akan beriman kepadamu hingga kami melihat Allah secara langsung!”.


Surah Hud Ayat 111

وَإِنَّ كُلًّا لَمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمْ رَبُّكَ أَعْمَالَهُمْ ۚ إِنَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

wa inna kullal lammā layuwaffiyannahum rabbuka a’mālahum, innahụ bimā ya’malụna khabīr

111. Dan, sungguh, kepada setiap (manusia), Pemeliharamu akan memberikan balasan yang sempurna atas [kebaikan maupun keburukan] apa pun yang telah mereka lakukan: perhatikanlah, Dia Maha Mengetahui segala yang mereka kerjakan!


Surah Hud Ayat 112

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahụ bimā ta’malụna baṣīr

112. Maka, tetaplah pada jalan yang benar, sebagaimana yang telah diperintahkan [Allah] kepadamu, bersama-sama dengan semua orang yang telah kembali kepada-Nya denganmu; dan jangan ada siapa pun di antara kalian yang bertingkah secara berlebihan:141 sebab, sungguh, Dia Maha Melihat semua yang kalian kerjakan.


141 Ketika menjelaskan kalimat perintah ini, yang diungkapkan dalam bentuk orang kedua jamak, Ibn Katsir menunjukkan bahwa perintah ini ditujukan kepada semua orang Mukmin, dan bahwa perintah ini mengacu pada sikap mereka terhadap setiap orang, baik yang beriman maupun yang tidak beriman; dalam hal ini, Ibn Katsir jelas bersandar pada penafsiran yang dikemukakan oleh Ibn ‘Abbas (dan dikutip oleh Al-Razi): “Artinya, ‘Bersikap rendah hatilah di hadapan Allah dan janganlah bersikap angkuh kepada siapa pun'”. Menurut sejumlah mufasir yang terkemudian (misalnya, Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi), maknanya lebih luas, yakni “jangan melampaui batas dari apa-apa yang telah Allah tetapkan” atau “janganlah melewati batas kewajaran”.


Surah Hud Ayat 113

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

wa lā tarkanū ilallażīna ẓalamụ fa tamassakumun-nāru wa mā lakum min dụnillāhi min auliyā`a ṡumma lā tunṣarụn

113. Dan, janganlah mengandalkan dan cenderung kepada orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman142 agar api neraka [pada hari kiamat] tidak menyentuh kalian: sebab, [pada saat itu] kalian tidak akan memiliki siapa pun yang melindungi kalian dari Allah, dan kalian tidak pula akan ditolong [oleh-Nya].143


142 Verba rakana mencakup konsep mengandalkan serta cenderung (dalam perasaan atau pendapat seseorang) kepada seseorang atau sesuatu. Kata ini tidak dapat diterjemahkan dengan satu kata saja; demikianlah alasan mengapa saya menerjemahkan frasa la tarkanu seperti di atas. Penggunaan bentuk lampau dalam alladzina zhalamu mengindikasikan—sebagaimana yang sering terjadi di dalam Al-Quran—perbuatan zalim yang disengaja dan dilakukan secara terus-menerus; karena itu, istilah ini lebih tepat diterjemahkan menjadi “orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman”.

143 Menurut Al-zamakhsyari, partikel tsumma pada permulaan klausa terakhir ini tidak menunjukkan suatu urutan waktu (“dan kemudian” atau “setelah itu”), alih-alih merupakan suatu penekanan pada mustahilnya (istib’ad) mereka akan dibantu oleh Allah.


Surah Hud Ayat 114

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

wa aqimiṣ-ṣalāta ṭarafayin-nahāri wa zulafam minal-laīl, innal-ḥasanāti yuż-hibnas-sayyi`āt, żālika żikrā liż-żākirīn

114. Dan teguhlah mendirikan shalat pada awal dan akhir144 siang, serta pada permulaan waktu malam:145 sebab, sungguh, perbuatan-perbuatan baik itu mengusir perbuatan-perbuatan buruk: ini adalah peringatan bagi semua orang yang ingat [Allah].


144 Lit., “pada dua tepi”.

145 Perintah ini mencakup semua shalat wajib tanpa memerinci bentuk maupun waktu pelaksanaannya secara pasti. Perincian terhadapnya telah ditentukan dengan jelas dalam Sunnah (yakni, perkataan dan perbuatan autentik) Nabi: yaitu, pagi hari (fajr), sesaat setelah tengah hari (zhuhr), sore (‘ashr), segera setelah matahari terbenam (maghrib), dan pada bagian awal malam (‘isya). Karena ayat di atas menekankan demikian pentingnya shalat secara umum, kiranya dapat disimpulkan bahwa ayat ini merujuk bukan saja pada shalat wajib yang lima waktu, melainkan juga pada tindakan mengingat Allah di sepanjang waktu ketika seseorang dalam keadaan sadar.


Surah Hud Ayat 115

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

waṣbir fa innallāha lā yuḍī’u ajral-muḥsinīn

115. Dan, bersabarlah dalam menghadapi kesusahan: sebab, sungguh, Allah tidak lalai memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan!


Surah Hud Ayat 116

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

falau lā kāna minal-qurụni ming qablikum ulụ baqiyyatiy yan-hauna ‘anil-fasādi fil-arḍi illā qalīlam mim man anjainā min-hum, wattaba’allażīna ẓalamụ mā utrifụ fīhi wa kānụ mujrimīn

116. NAMUN, DUHAI CELAKA!, di antara generasi-generasi itu, [yang Kami binasakan] sebelum masa kalian, tiada seorang pun yang dianugerahi dengan kebajikan apa pun146—[kaum] yang akan berseru melawan [penyebaran] kerusakan di muka bumi—kecuali sebagian kecil di antara mereka yang Kami selamatkan [karena kesalehan mereka], sedangkan mereka yang berkukuh melakukan kezaliman hanya mengejar kesenangan yang merusak keseluruhan wujud mereka147 dan, karena itu, menenggelamkan diri mereka dalam perbuatan dosa.


146 Untuk penerjemahan saya atas partikel lau la, di permulaan kalimat ini, menjadi “duhai”, lihat Surah Yunus [10], catatan no. 119. Bagian ini berkaitan dengan pernyataan pada ayat sebelumnya, “Allah tidak lalai memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan”, serta dengan ayat 111, “kepada setiap (manusia), Pemeliharamu akan memberikan balasan yang sempurna atas [kebaikan maupun keburukan] apa pun yang telah mereka lakukan”.

Untuk kandungan makna yang lebih luas dari istilah qarn (“generasi”), lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 5.

147 Verba tarifa berarti “dia telah menikmati suatu kehidupan yang nyaman dan berlimpah”, sedangkan bentuk partisip mutraf berarti “seseorang yang menikmati kehidupan yang nyaman dan berlimpah” atau “melenakan diri dalam kesenangan hidup”, yakni dengan mengesampingkan pertimbangan moral. Bentuk mutarraf memiliki arti tambahan, yakni “seseorang yang berperilaku angkara karena menikmati kemudahan dan kenyamanan hidup”, atau “seseorang yang rusak karena memburu kesenangan hidup [semata]” (Al-Mughni). Demikianlah penjelasan mengenai penerjemahan saya atas frasa ma utrifu fihi di atas.


Surah Hud Ayat 117

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

wa mā kāna rabbuka liyuhlikal-qurā biẓulmiw wa ahluhā muṣliḥụn

117. Karena, Pemeliharamu tidak akan pernah membinasakan suatu masyarakat148 karena [kepercayaan] zalim [semata], selama penduduknya berbuat kebajikan [satu sama lain].149


148 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 116.

149 Bagian ini berkaitan dengan klausa terakhir pada ayat sebelumnya, “menenggelamkan diri mereka dalam perbuatan dosa.”. Menurut mayoritas mufasir klasik, istilah zhulm (lit., “salah “atau “kezaliman”) dalam konteks ini sama artinya dengan “kepercayaan yang salah” yang bermuara pada: (1) penolakan terhadap kebenaran yang telah diwahyukan Allah melalui nabi-nabi-Nya; (2) penolakan untuk mengakui keberadaan-Nya; atau (3) tindakan menisbahkan kuasa-kuasa atau sifat-sifat ketuhanan kepada apa pun atau siapa pun selain-Nya. Ketika menjelaskan ayat di atas dalam pengertian ini, Al-Razi mengatakan, “Hukuman Allah tidak menimpa manusia mana pun semata-mata karena mereka menganut kepercayaan yang bermuara pada syirk dan kufr, tetapi menimpa mereka hanya jika mereka secara terus-menerus melakukan kejahatan dalam urusan-urusan sesama manusia, dan sengaja menyakiti [orang lain] dan bertindak kejam [kepada mereka]. Karena itu, para cerdik-cendekia dalam Hukum Islam (ahli-ahli fiqih, al-fuqaha) berpendapat bahwa kewajiban manusia terhadap Allah didasarkan pada prinsip ampunan dan kemurahhatian[-Nya], sedangkan hak manusia pada hakikatnya bersifat kaku dan harus selalu ditaati dengan ketat”—alasannya jelas sekali, yakni karena Allah Mahabesar dan tidak memerlukan pembela, sedangkan manusia lemah dan membutuhkan perlindungan. (Bdk. kalimat terakhir pada Surah Al-Qasas [28]: 59 dan catatannya, no. 61.)


Surah Hud Ayat 118

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

walau syā`a rabbuka laja’alan-nāsa ummataw wāḥidataw wa lā yazālụna mukhtalifīn

118. Dan, seandainya Pemeliharamu menghendaki, pasti Dia dapat menjadikan seluruh manusia satu umat yang tunggal: tetapi [Dia menginginkan sebaliknya, maka] mereka terus berselisih pendapat150


150 Yakni, tentang segala sesuatu, bahkan tentang kebenaran yang diwahyukan kepada mereka oleh Allah.

Untuk pembahasan mengenai istilah ummah wabidah (“satu umat yang tunggal”) dan pengertiannya yang lebih luas, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 197 dan 198; bagian kedua Surah Al-Baqarah [2]: 253 dan catatannya (no. 245); dan bagian kedua Surah Al-Ma’idah [5]: 48 dan catatannya (no. 66 dan 67). Dengan demikian, Al-Quran menekankan sekali lagi bahwa perbedaan abadi dalam hal pandangan-pandangan dan gagasan-gagasan manusia bukanlah suatu kebetulan, melainkan merupakan unsur dasar eksistensi manusia yang ditetapkan Allah. Jika Allah menghendaki bahwa seluruh manusia menganut satu kepercayaan saja, niscaya seluruh perkembangan intelektual akan sirna, dan “kehidupan sosial mereka akan sama seperti lebah dan semut, sementara kehidupan ruhani mereka akan sama seperti malaikat, yakni dibatasi oleh fitrah mereka untuk selalu percaya pada apa yang benar dan selalu taat kepada Allah” (Al-Manar XII, h. 193)—yakni, tanpa kehendak-bebas relatif yang memungkinkan mausia memilih antara yang baik dan yang buruk sehingga menjadikan hidupnya—berbeda dengan seluruh makhluk berperasaan lainnya—memiliki makna moral dan potensi ruhani yang unik.


Surah Hud Ayat 119

إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

illā mar raḥima rabbuk, wa liżālika khalaqahum, wa tammat kalimatu rabbika la`amla`anna jahannama minal-jinnati wan-nāsi ajma’īn

119. [seluruhnya,] kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Pemeliharamu.151

Dan, untuk tujuan inilah, Allah menciptakan mereka [semua].152

Namun, [adapun bagi mereka yang menolak memanfaatkan petunjuk Ilahi untuk kepentingan mereka sendiri,] kalam Pemeliharamu itu akan dipenuhi: “Aku pasti akan memenuhi neraka dengan makhluk-makhluk gaib dan manusia bersama-sama!”153


151 Yakni, orang-orang yang mengambil manfaat dari rahmat Allah, yang mencakup (1) kemampuan yang telah diberikan Allah untuk menyadari keberadaan-Nya (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 172 dan catatannya, no. 139); dan (2) petunjuk yang Dia tawarkan kepada manusia melalui para nabi-Nya (Al-Razi).

152 Sebagian mufasir yang paling awal (misalnya, Mujahid dan ‘Ikrimah) berpendapat bahwa ungkapan li dzalika (yang saya terjemahkan menjadi “untuk tujuan inilah”) merujuk pada pelimpahan rahmat Allah kepada manusia, sedangkan mufasir lainnya (misalnya, Al-Hasan dan ‘Atha’) menghubungkannya dengan kemampuan manusia untuk membedakan dirinya secara intelektual di antara sesamanya. Menurut Al-Zamakhsyari, ia mengacu pada kebebasan untuk melakukan pilihan moral yang merupakan ciri khas manusia dan yang dibicarakan pada bagian-bagian sebelumnya: dan karena kebebasan inilah yang merupakan pemberian khusus Allah kepada manusia dan yang memuliakannya di atas seluruh ciptaan yang lain (bdk. perumpamaan kisah Adam dan para malaikat pada Surah Al-Baqarah [2]: 30-34), menurut pendapat saya, penafsiran Al-Zamakhsyari inilah yang paling komprehensif.

153 “Kalam Allah” yang disebutkan kembali di sini sebagaimana pada Surah As-Sajdah [32]: 13 semula sudah disampaikan dalam Surah Al-A’raf [7]: 18 dengan mengacu pada “para pengikut setan”, yakni orang-orang yang menolak petunjuk yang ditawarkan Allah kepada mereka; demikianlah alasan penyisipan saya pada awal paragraf ini. Mengenai makna jinn (yang dalam kasus ini dan dalam kasus lainnya yang serupa saya terjemahkan menjadi “makhluk gaib”), lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah Hud Ayat 120

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

wa kullan naquṣṣu ‘alaika min ambā`ir-rusuli mā nuṡabbitu bihī fu`ādaka wa jā`aka fī hāżihil-ḥaqqu wa mau’iẓatuw wa żikrā lil-mu`minīn

120. DAN, [ingatlah:] dari semua berita mengenai rasul-rasul [terdahulu], yang Kami sampaikan kepadamu [hanyalah berita] yang dengannya Kami [bertujuan untuk] meneguhkan hatimu:154 sebab, melalui [berita-berita] ini, datanglah kebenaran kepadamu serta pengajaran dan peringatan bagi semua orang beriman.


154 Yakni, Al-Quran tidak bermaksud sekadar menceritakan kisah-kisah itu, alih-alih menggunakannya (atau, lebih tepatnya, menggunakan bagian yang relevan dari kisah-kisah itu) sebagai ilustrasi terhadap kebenaran-kebenaran moral dan sebagai suatu sarana untuk menguatkan keimanan orang-orang Mukmin (lihat bagian kedua catatan no. 73 serta catatan no. 131).


Surah Hud Ayat 121

وَقُلْ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ

wa qul lillażīna lā yu`minụna’malụ ‘alā makānatikum, innā ‘āmilụn

121. Dan, katakanlah kepada orang-orang yang tidak akan beriman: “Lakukanlah apa pun sekemampuan kalian, [sedangkan] kami, perhatikanlah, akan berbuat [di jalan Allah];


Surah Hud Ayat 122

وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

wantaẓirụ, innā muntaẓirụn

122. dan tunggulah [apa yang akan datang]: perhatikanlah, kami pun menunggu!”


Surah Hud Ayat 123

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

wa lillāhi gaibus-samāwāti wal-arḍi wa ilaihi yurja’ul-amru kulluhụ fa’bud-hu wa tawakkal ‘alaīh, wa mā rabbuka bigāfilin ‘ammā ta’malụn

123. Dan, Allah sajalah yang memahami realitas tersembunyi lelangit dan bumi:155 sebab, segala yang ada kembali kepada-Nya [sebagai sumbernya].

Maka, sembahlah Dia, dan bersandarlah penuh percaya kepada-Nya saja*: sebab, Pemeliharamu tidaklah lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.


155 Lit., “Milik Allah-lah [pengetahuan tentang] realitas tersembunyi …”, dan seterusnya. Untuk pengertian istilah al-ghaib ini, lihat catatan no. 3 pada Surah Al-Baqarah [2]: 3.

* {bertawakal; place thy trust in Him alone—peny.}


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)