Surat Al-Qiyamah Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

75. Al-Qiyamah (Kebangkitan) – القيامة

Surat Al-Qiyamah ( القيامة ) merupakan surat ke 75 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 40 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Qiyamah termasuk Surat Makkiyah.


Surah Al-Qiyamah diwahyukan pada sepertiga pertama periode Makkah, dan hampir seluruhnya (kecuali pasase sisipan pada ayat 16-19) membicarakan konsep kebangkitan, yang mendasari “nama” tradisional surah ini.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

Surah Al-Qiyamah Ayat 1

لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

lā uqsimu biyaumil-qiyāmah

1. TIDAK! Aku bersaksi demi Hari Kebangkitan!1


1 Dengan “menyeru untuk menyaksikannya”—yakni, dengan berbicara tentang Hari Kebangkitan seolah-olah ia telah terjadi—frasa di atas dimaksudkan untuk menyampaikan kepastian datangnya kebangkitan itu.


Surah Al-Qiyamah Ayat 2

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

wa lā uqsimu bin-nafsil-lawwāmah

2. Akan tetapi, tidak! Aku bersaksi dengan suara hati nurani manusia sendiri yang menyalahkan!2


2 Lit., “jiwa yang mencela [dirinya sendiri]”: yakni, pengetahuan bawah-sadar manusia akan kelemahan dan kekurangannya sendiri.


Surah Al-Qiyamah Ayat 3

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ

a yaḥsabul-insānu allan najma’a ‘iẓāmah

3. Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak dapat [membangkitkannya dan] mengumpulkan kembali tulang belulangnya?


Surah Al-Qiyamah Ayat 4

بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ

balā qādirīna ‘alā an nusawwiya banānah

4. Ya, sungguh. Kami benar-benar mampu menjadikan ujung jari jemarinya utuh kembali!


Surah Al-Qiyamah Ayat 5

بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ

bal yurīdul-insānu liyafjura amāmah

5. Meskipun demikian, manusia memilih untuk menolak apa yang ada di hadapannya,


Surah Al-Qiyamah Ayat 6

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ

yas`alu ayyāna yaumul-qiyāmah

6. seraya bertanya [dengan nada mengejek], “Kapan Hari Kebangkitan itu terjadi?”


Surah Al-Qiyamah Ayat 7

فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ

fa iżā bariqal-baṣar

7. Namun [pada Hari itu,] ketika pandangan mata terbelalak karena takut,


Surah Al-Qiyamah Ayat 8

وَخَسَفَ الْقَمَرُ

wa khasafal-qamar

8. dan bulan menjadi gelap,


Surah Al-Qiyamah Ayat 9

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

wa jumi’asy-syamsu wal-qamar

9. dan matahari serta bulan dikumpulkan3


3 Yakni, sama-sama kehilangan cahaya, atau bulan bertabrakan dengan matahari.


Surah Al-Qiyamah Ayat 10

يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ

yaqụlul-insānu yauma`iżin ainal-mafarr

10. pada Hari itu, manusia akan berseru, “Ke mana harus berlari?”


Surah Al-Qiyamah Ayat 11

كَلَّا لَا وَزَرَ

kallā lā wazar

11. Namun, tidak: [bagimu, wahai manusia,] tidak ada tempat berlindung!


Surah Al-Qiyamah Ayat 12

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ

ilā rabbika yauma`iżinil-mustaqarr

12. Kepada Pemeliharamulah, pada Hari itu, perjalanan akan berujung!


Surah Al-Qiyamah Ayat 13

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

yunabba`ul-insānu yauma`iżim bimā qaddama wa akhkhar

13. Manusia akan diberi tahu, pada Hari itu, tentang apa yang telah dia kerjakan serta apa yang tidak dia kerjakan:4


4 Lit., “apa yang telah dia dahulukan dan tinggalkan”, yakni, perbuatan baik dan buruk apa pun yang telah dilakukan atau tidak dilakukan oleh manusia (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Qiyamah Ayat 14

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ

balil-insānu ‘alā nafsihī baṣīrah

14. tidak, tetapi terhadap dirinya sendirilah manusia akan menjadi saksi,


Surah Al-Qiyamah Ayat 15

وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ

walau alqā ma’āżīrah

15. meskipun boleh jadi dia menutupi dirinya dengan berbagai dalih.5


5 Bdk. Surah An-Nur [24]: 24, Surah Ya’Sin [36]: 65, atau Surah Fushshilat [41]: 20-22.


Surah Al-Qiyamah Ayat 16

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

lā tuḥarrik bihī lisānaka lita’jala bih

16. JANGANLAH engkau tergesa-gesa menggerakkan lidahmu [untuk mengulangi kata-kata wahyu:]6


6 Lit., “Jangan gerakkan lidahmu dengannya sehingga engkau dapat mempercepatnya”—tidak diragukan lagi, kata ganti bihi (nya) tersebut merujuk pada kandungan wahyu. Untuk memahami pasase sisipan ini (ayat 16-19) secara lebih utuh, kita harus membacanya bersamaan dengan pasase terkait yang terdapat dalam ayat 114 Surah ThaHa [20] beserta catatannya (no. 101). Kedua pasase ini pertama-tama ditujukan kepada Nabi yang konon khawatir bahwa beliau mungkin lupa sebagian kata yang diwahyukan jika tidak mengulanginya persis pada saat pewahyuan; akan tetapi, kedua pasase ini juga memiliki makna yang lebih luas karena keduanya berlaku bagi setiap Mukmin yang membaca, mendengar, atau mengkaji Al-Quran. Dalam Surah ThaHa [20]: 114, kita dilarang menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa-sehingga berpotensi salah—dari ayat-ayat atau pernyataan-pernyataan Al-Quran yang terpisah-pisah, karena hanya kajian atas seluruh pesannyalah yang dapat memberikan pemahaman yang benar kepada kita. Di sisi lain, pasase ini menekankan perlunya mencerna kitab Ilahi secara perlahan-lahan dan sabar guna mencurahkan seluruh pikiran kita pada makna setiap kata dan frasanya, dan untuk menghindari bentuk ketergesa-gesaan yang tidak dapat dibedakan dengan kefasihan-mekanis saja yang, selanjutnya, menyebabkan orang yang membaca, mengumandangkan, atau mendengarkannya cukup puas hanya dengan lantunan indah bahasa Al-Quran, tanpa memahami—atau bahkan memberikan perhatian yang memadai terhadap—pesan-pesannya.



Surah Al-Qiyamah Ayat 17

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

inna ‘alainā jam’ahụ wa qur`ānah

17. sebab, perhatikanlah, kewajiban Kami-lah mengumpulkannya [dalam hatimu] dan menjadikannya dibaca [sebagaimana mestinya ia dibaca].7


7 Yakni, “kewajiban Kami-lah untuk membuatmu mengingatnya dan menjadikannya dibaca dengan segenap pikiran dan hati”. Seperti ditunjukkan dalam catatan sebelumnya, Al-Quran hanya dapat dipahami jika dibaca dengan penuh perhatian sebagai suatu kesatuan yang utuh, dan bukan sekadar kumpulan pepatah moral, kisah-kisah, atau hukum-hukum yang terpisah-pisah.


Surah Al-Qiyamah Ayat 18

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

fa iżā qara`nāhu fattabi’ qur`ānah

18. Karena itu, manakala Kami membacanya, ikutilah susunan kata-katanya [dengan sepenuh jiwamu]:8


8 Lit., “ikutilah pembacaannya”, yakni, pesannya yang diungkapkan dalam kata-kata. Karena Allah-lah yang mewahyukan Al-Quran dan menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memahaminya, Dia menisbahkan “pembacaan”-nya kepada diri-Nya.



Surah Al-Qiyamah Ayat 19

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

ṡumma inna ‘alainā bayānah

19. kemudian, perhatikanlah, kewajiban Kami-lah menjelaskan maknanya.9


9 Yakni, jika Al-Quran dibaca “sebagaimana mestinya ia dibaca” (Iihat catatan no. 7 sebelumnya), ia akan menjadi—seperti ditekankan Muhammad ‘Abduh—”tafsir terbaik terhadap dirinya sendiri”.


Surah Al-Qiyamah Ayat 20

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ

kallā bal tuḥibbụnal-‘ājilah

20. TIDAK, tetapi [kebanyakan di antara] kalian mencintai kehidupan yang berlalu demikian cepat ini,


Surah Al-Qiyamah Ayat 21

وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

wa tażarụnal-ākhirah

21. dan tidak memikirkan kehidupan yang akan datang [dan Hari Pengadilan]!


Surah Al-Qiyamah Ayat 22

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

wujụhuy yauma`iżin nāḍirah

22. Pada Hari itu, sebagian wajah akan berseri-seri memancarkan kebahagiaan


Surah Al-Qiyamah Ayat 23

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

ilā rabbihā nāẓirah

23. seraya memandang Pemelihara mereka;


Surah Al-Qiyamah Ayat 24

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ

wa wujụhuy yauma`iżim bāsirah

24. dan sebagian wajah pada Hari itu akan muram karena putus asa,


Surah Al-Qiyamah Ayat 25

تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

taẓunnu ay yuf’ala bihā fāqirah

25. (karena) mengetahui bahwa malapetaka yang dahsyat akan segera menimpa mereka.


Surah Al-Qiyamah Ayat 26

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ

kallā iżā balagatit-tarāqī

26. TIDAK, tetapi ketika [napas terakhir] sudah sampai ke kerongkongan [orang-orang yang sekarat],


Surah Al-Qiyamah Ayat 27

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ

wa qīla man rāq

27. dan orang-orang bertanya, “Adakah tukang sihir [yang dapat menyelamatkannya]?”10


10 Lit., “Siapakah tukang sihir [atau ‘pemikat hati’]?” Struktur kalimat yang mirip dapat ditemukan dalam Surah Al-Qashash [28]: 71 dan 72.



Surah Al-Qiyamah Ayat 28

وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ

wa ẓanna annahul-firāq

28. padahal dia [sendiri] mengetahui bahwa ini adalah perpisahan itu,


Surah Al-Qiyamah Ayat 29

وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ

waltaffatis-sāqu bis-sāq

29. dan terbungkus dalam rasa sakit kematian:11


11 Lit., “ketika betis dibungkus betis”—suatu ungkapan idiomatik yang berarti “penderitaan pada tahap eksistensi kini … ditambah dengan penderitaan pada tahap eksistensi terakhir” (Lane IV, 1471, yang mengutip baik Qamus maupun Taj Al-‘Arus). Seperti ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari, nomina saq (lit., “tulang kering”) sering digunakan secara metafora dalam pengertian “kesulitan”, “penderitaan”, atau “kedahsyatan” (syiddah); inilah asal-usul ungkapan terkenal, qamat al-harb ‘ala saq, “perang itu meletus dengan dahsyat” (Taj Al-‘Arus).


Surah Al-Qiyamah Ayat 30

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

ilā rabbika yauma`iżinil-masāq

30. pada saat itu, kepada Pemeliharamulah dia benar-benar merasa terpaksa untuk kembali!12


12 Lit., “kepada Pemeliharamulah penghalauan akan terjadi”, yakni, dengan penyesalan yang terlambat (lihat tiga ayat berikutnya). Ungkapan pada ayat di atas yang diterjemahkan menjadi “pada saat itu” secara harfiah berbunyi “pada hari itu”; tetapi, istilah yaum sering digunakan secara idiomatik dalam pengertian “saat” terlepas dari berapa lama jangka waktunya.


Surah Al-Qiyamah Ayat 31

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ

fa lā ṣaddaqa wa lā ṣallā

31. [Bagaimanapun jua, tidak bergunalah tobatnya:13] karena [sepanjang hidupnya,] dia tidak menerima kebenaran, dan tidak pula dia berdoa [memohon pencerahan],


13 Sisipan ini—yang penting bagi suatu pemahaman yang utuh terhadap rangkaian ayat tersebut—didasarkan pada Surah An-Nisa’ [4]: 17-18, yang memiliki hubungan yang pasti dengan pasase di atas.


Surah Al-Qiyamah Ayat 32

وَلَٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

wa lāking każżaba wa tawallā

32. tetapi, sebaliknya, dia mendustakan kebenaran dan berpaling [darinya],


Surah Al-Qiyamah Ayat 33

ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰ أَهْلِهِ يَتَمَطَّىٰ

ṡumma żahaba ilā ahlihī yatamaṭṭā

33. kemudian dengan angkuh kembali ke tempat asalnya.14


14 Lit., “kepada kaumnya”: yakni, kepada kepercayaan arogan—yang berurat akar pada materialisme lingkungan sosialnya—yang beranggapan bahwa manusia “serbacukup” (self-sufficient) dan, karena itu, sama sekali tidak membutuhkan petunjuk Ilahi (bdk. Surah Al-‘Alaq [96]: 6).


Surah Al-Qiyamah Ayat 34

أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ

aulā laka fa aulā

34. [Namun, wahai manusia, (perjalanan) akhirmu setiap saat] semakin dekat kepadamu, dan semakin dekat—


Surah Al-Qiyamah Ayat 35

ثُمَّ أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ

ṡumma aulā laka fa aulā

35. dan senantiasa mendekat kepadamu, dan mendekat!


Surah Al-Qiyamah Ayat 36

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

a yaḥsabul-insānu ay yutraka sudā

36. MAKA, apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan sendiri, pergi ke sana kemari sekehendaknya?15


15 Yakni, tanpa dimintai pertanggungjawaban moral atas perbuatan-perbuatannya.


Surah Al-Qiyamah Ayat 37

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ

a lam yaku nuṭfatam mim maniyyiy yumnā

37. Bukankah dia dahulu [hanyalah] setetes air mani yang ditumpahkan,


Surah Al-Qiyamah Ayat 38

ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ

ṡumma kāna ‘alaqatan fa khalaqa fa sawwā

38. dan kemudian menjadi sel benih—lalu Dia menciptakan dan membentuk[-nya] sesuai dengan apa yang telah ditentukan [baginya],16


16 Mengenai penerjemahan kata sawwa ini, lihat catatan no. 1 pada Surah Al-A’la [87]: 2 dan catatan no. 5 pada Surah Asy-Syams [91]: 7. Penekanan pada tindakan Allah yang menciptakan manusia setelah sebelumnya ia hanya berupa sel benih merupakan suatu metonimia bagi tindakan-Nya menganugerahi organisme yang (awalnya) rendah dengan apa yang digambarkan sebagai “nyawa”.


Surah Al-Qiyamah Ayat 39

فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ

fa ja’ala min-huz-zaujainiż-żakara wal-unṡā

39. dan menjadikan darinya dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan?


Surah Al-Qiyamah Ayat 40

أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ

a laisa żālika biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā

40. Maka, bukankah Dia mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati?


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)