Surat Al-Hijr Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

15. Al-Hijr (Al-Hijr) – الحجر

Surat Al-Hijr ( الحجر ) merupakan surah ke 15 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 99 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Hijr termasuk golongan Surat Makkiyah.


Menurut Al-Suyuthi, surah ini diwahyukan hanya beberapa saat setelah Surah Yusuf: dengan kata lain, pada tahun terakhir sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Anggapan (yang disebutkan oleh Al-Razi) bahwa ayat 87 diwahyukan di Madinah tidak memiliki bukti yang kuat dan, karena itu, dapat ditolak.

Seperti kebanyakan surah dalam periode ini, tema pokok Surah Al-Hijr adalah bukti tindakan kreatif Allah dalam mencipta dan petunjuk yang Dia berikan kepada manusia melalui wahyu—khususnya wahyu Al-Qur’an yang, seperti diramalkan dalam ayat 9, akan tetap terpelihara sepanjang masa dari kerusakan.

Nama surah ini, yang berasal dari penyebutan dalam ayat 80 tentang wilayah di Arabia yang dikenal sebagai Al-Hijr, dengan jelas mengilhami Sahabat-Sahabat Nabi untuk menamainya demikian, karena banyak legenda yang melekat pada nama-tempat itu sejak zaman dahulu. Bahwa Al-Hijr adalah nama suatu tempat dan bukan suatu deskripsi (“risalah batu” atau, menurut sebagian orang, “risalah terlarang”), terlihat jelas dari fakta bahwa sebuah daerah kota kuno dengan nama itu telah disebutkan oleh Ptolemeus, lama setelah kepunahannya, sebagai “Hegra”; dan oleh Pliny sebagai “Egra”. Karena itu, saya membiarkan judul ini tidak diterjemahkan.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah Al-Hijr Ayat 1

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ

alif lām rā, tilka āyātul-kitābi wa qur`ānim mubīn

1. Alif. Lam. Ra.1

INI ADALAH PESAN-PESAN wahyu—sebuah wacana yang jelas dalam dirinya sendiri dan secara jelas menunjukkan kebenaran.2


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.

2 Mengenai terjemahan yang panjang dari adjektiva partisipial {na’t fa’iliyyah} mubin ini, lihat Surah Yusuf [12], catatan no. 2. Dalam konteks di atas, istilah qur’an (yang, setiap kali muncul tanpa kata sandang penentu [adah al-ta’rif] “al“, berarti “bacaan” atau “wacana” religius) didahului oleh kata hubung wa, yang dalam konotasinya yang paling sederhana berarti “dan”; tetapi, karena di sini ia digunakan untuk menekankan frasa kitab Ilahi (al-kitab) yang sekarang sedang dibicarakan secara khusus ini, kata hubung wa tersebut dapat dibuang dalam penerjemahan tanpa memengaruhi makna kalimatnya.



Surah Al-Hijr Ayat 2

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

rubamā yawaddullażīna kafarụ lau kānụ muslimīn

2. Dan, akan terjadi bahwa orang-orang itu yang [sekarang] berkukuh mengingkari kebenaran ini akan menginginkan seandainya mereka berserah diri kepada Allah [ketika hidup di dunia].3


3 Karena wahyu ini—yakni Al-Quran—jelas pada dirinya sendiri dan dengan jelas menunjukkan kebenaran, orang-orang yang kini menolaknya dengan sengaja tidak akan memiliki dalih apa pun pada Hari Kebangkitan. Sebagaimana sering dijumpai di dalam Al-Quran, bentuk lampau dalam alladzina kafaru menunjukkan niat yang sadar (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 6).


Surah Al-Hijr Ayat 3

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

żar-hum ya`kulụ wa yatamatta’ụ wa yul-hihimul-amalu fa saufa ya’lamụn

3. Tinggalkanlah mereka; biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang sementara harapan [akan kesenangan yang sia-sia] memperdaya mereka: sebab, pada saatnya, mereka akhirnya akan mengetahui [kebenaran].


Surah Al-Hijr Ayat 4

وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٌ مَعْلُومٌ

wa mā ahlaknā ming qaryatin illā wa lahā kitābum ma’lụm

4. Dan, Kami tidak pernah menghancurkan suatu masyarakat pun [karena kezaliman mereka], kecuali sebuah kitab Ilahi telah diperkenalkan kepadanya [sebelumnya];4


4 Lit., “kecuali ia [masyarakat itu] mempunyai kitab Ilahi yang dikenal (kitab ma’lum)”—yakni, kecuali kalau orang-orang tersebut telah ditunjukkan makna kebenaran dan kesalahan melalui sebuah risalah Ilahi, lalu dengan sengaja menolak petunjuk Ilahi itu: bdk. pernyataan, dalam Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 208, bahwa “tidak pernah Kami menghancurkan suatu umat pun kecuali umat tersebut telah memiliki para pemberi peringatannya”, atau dalam Surah Al-An’am [6]: 131, bahwa Allah “tidak akan pernah membinasakan suatu masyarakat karena kezalimannya, selama penduduknya masih belum menyadari [makna kebenaran dan kesalahan]”.


Surah Al-Hijr Ayat 5

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

mā tasbiqu min ummatin ajalahā wa mā yasta`khirụn

5. [tetapi ingatlah bahwa] tidak ada umat yang pernah dapat memperkirakan [akhir] batas—waktunya—dan, tidak pula mereka dapat mengundurkan[nya].5


5 Yakni, setiap masyarakat—dan, dalam makna yang terluas dari istilah ini, setiap peradaban—mempunyai suatu batas-waktu kehidupan organik yang ditetapkan oleh Allah, yang dalam hal ini menyerupai seluruh organisme hidup lainnya, yang ditakdirkan untuk tumbuh, mencapai kedewasaan, dan akhirnya binasa. Untuk implikasi-implikasi etis dari hukum alam ini dan hubungannya dengan rangkaian ayat berikutnya, lihat Surah Al-A’raf [7]: 34 dan catatannya, no. 25.


Surah Al-Hijr Ayat 6

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

wa qālụ yā ayyuhallażī nuzzila ‘alaihiż-żikru innaka lamajnụn

6. Sungguhpun begitu, mereka [yang mengingkari kebenaran] berkata, “Wahai, engkau yang peringatan ini [konon] telah diturunkan kepadamu: sungguh, engkau gila!


Surah Al-Hijr Ayat 7

لَوْ مَا تَأْتِينَا بِالْمَلَائِكَةِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

lau mā ta`tīnā bil-malā`ikati ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

7. Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat-malaikat di hadapan kami jika engkau adalah seorang yang benar?”6


6 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 8-9. Kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang yang tidak beriman terhadap wahyu Nabi jelas-jelas bersifat mengejek (Al-Zamakhsyari); karenanya, saya menyisipkan kata “konon” {allegedly}. Meskipun ayat-ayat ini, pada dasarnya, berhubungan dengan kaum pagan (musyrik) pada masa Nabi, ayat-ayat tersebut secara garis-besarnya menggambarkan sikap penolakan orang-orang yang tidak beriman sepanjang masa.


Surah Al-Hijr Ayat 8

مَا نُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَا كَانُوا إِذًا مُنْظَرِينَ

mā nunazzilul-malā`ikata illā bil-ḥaqqi wa mā kānū iżam munẓarīn

8. [Namun,] Kami tidak pernah menurunkan malaikat-malaikat melainkan sesuai dengan [tuntutan-tuntutan] kebenaran;7 dan [andaikan para malaikat itu kini muncul,] lihatlah! mereka [yang menolak kitab Ilahi ini] tidak akan memiliki penangguhan lebih lanjut!8


7 Dengan kata lain, “dan tidak hanya untuk memuaskan tuntutan kosong dari orang-orang yang menolak untuk mempertimbangkan pesan-pesan kenabian berdasarkan nilai-nilai yang dikandungnya”. Lebih jauh—sebagaimana terlihat jelas dari klausa berikutnya—tampilnya malaikat-malaikat dalam bentuk sebenarnya di hadapan manusia biasa justru menjadi pertanda datangnya Hari Pengadilan (yang dalam Surah An-Naba’ [78]: 39 digambarkan sebagai “Hari Kebenaran Tertinggi”) dan, dengan demikian, pertanda datangnya malapetaka bagi pengingkar-pengingkar kebenaran yang dibicarakan di sini.

8 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 8—”seandainya Kami turunkan seorang malaikat, segalanya pasti akan telah diputuskan”, yakni Hari Pengadilan pasti telah datang.


Surah Al-Hijr Ayat 9

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

innā naḥnu nazzalnaż-żikra wa innā lahụ laḥāfiẓụn

9. Perhatikanlah, Kami sendirilah yang telah menurunkan, setahap demi setahap, pengingat ini:9 dan, perhatikanlah, Kamilah yang akan benar-benar menjaganya [dari segala kerusakan].10


9 Yakni, Al-Quran. Bentuk gramatikal nazzalna menyiratkan pewahyuan secara berangsur-angsur (“setahap demi setahap”) sepanjang periode waktu tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya atas Surah Al-Baqarah [2]: 23 (lihat kalimat terakhir catatan no. 14 pada Surah Al-Baqarah).

10 Nubuat ini secara mengesankan betul-betul dikuatkan oleh fakta bahwa teks Al-Quran tetap bebas dari segala perubahan, penambahan, atau penghapusan, sejak diucapkan oleh Nabi pada abad ke-7 M; dan tidak ada kitab mana pun yang lain, apa pun jenisnya, yang dengan cara yang sama telah terpelihara selama jangka waktu tersebut. Ragam pelafalan kata-kata tertentu dalam Al-Quran sejak masa-masa awal, yang kadang-kadang dirujuk oleh para mufasir klasik, hanyalah merupakan perbedaan ihwal tanda-tanda diakritik atau pengucapan (vokalisasi) dan, pada lazimnya, tidak memengaruhi makna ayat yang bersangkutan. (Lihat juga catatan no. 11 pada Surah Al-Buruj [85]: 22, yang menjelaskan ungkapan lauh al-mahfuzh).



Surah Al-Hijr Ayat 10

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي شِيَعِ الْأَوَّلِينَ

wa laqad arsalnā ming qablika fī syiya’il-awwalīn

10. DAN, SESUNGGUHNYA, [wahai Nabi,] bahkan sebelum masamu, Kami telah mengutus [rasul-rasul Kami] kepada masyarakat-masyarakat11 yang terdahulu—


11 Istilah syi’ah menunjukkan suatu kelompok khas yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kepercayaan atau ketaatan pada prinsip-prinsip perilaku yang sama, dan kadang-kadang (meskipun bukan dalam ayat ini) dipakai dalam pengertian “sekte”.


Surah Al-Hijr Ayat 11

وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa mā ya`tīhim mir rasụlin illā kānụ bihī yastahzi`ụn

11. dan tidak pernah datang seorang rasul pun kepada mereka kecuali mereka memperolok-olokkannya.


Surah Al-Hijr Ayat 12

كَذَٰلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ

każālika naslukuhụ fī qulụbil-mujrimīn

12. Meskipun demikian, Kami [sekarang] menjadikan [cemoohan terhadap pesan-pesan Kami] ini meliputi hati orang-orang yang tenggelam dalam dosa,


Surah Al-Hijr Ayat 13

لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ

lā yu`minụna bihī wa qad khalat sunnatul-awwalīn

13. yang tidak beriman padanya,12 meskipun jalan yang ditempuh oleh orang-orang [zalim] pada masa silam telah lama mereka ketahui.13


12 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 10 dan catatannya, no. 9. Kata-kata “cemoohan terhadap pesan-pesan Kami” yang saya sisipkan tersebut didasarkan pada penafsiran Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari terhadap ayat di atas. Mengenai tindakan Allah yang “menyebabkan” para pengingkar kebenaran itu menjadi berdosa, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7, serta Surah Ibrahim [14], catatan no. 4.

13 Lit., “meskipun jalan hidup (sunnah) orang-orang masa silam sudah berlalu”—yakni, meskipun tindakan-tindakan Allah terhadap mereka itu telah menjadi pengetahuan umum sejak lama (Ibn Katsir).


Surah Al-Hijr Ayat 14

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ

walau fataḥnā ‘alaihim bābam minas-samā`i fa ẓallụ fīhi ya’rujụn

14. Dan bahkan, seandainya Kami bukakan untuk mereka sebuah gerbang menuju Iangit dan mereka naik, terus naik, ke atasnya,


Surah Al-Hijr Ayat 15

لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ

laqālū innamā sukkirat abṣārunā bal naḥnu qaumum mas-ḥụrụn

15. tentulah mereka akan berkata, “Hanyalah mata kami yang terpesona! Tidak, kami telah tersihir!”14


14 Lit., “kami adalah orang-orang yang tersihir”. Bdk. Surah Al-An’am [6]: 7, serta paragraf terakhir Surah Yunus [10]: 2 dan catatan no. 5 yang terkait. Tindakan menjuluki “kebenaran yang diwahyukan” sebagai “pemikatan” ilusif atau “sihir” sering dikemukakan dalam Al-Quran sebagai ciri khas orang-orang yang secara apriori menolak untuk menerima gagasan tentang wahyu dan, dengan demikian, menolak gagasan tentang kenabian. Dua ayat di atas (yang menyiratkan bahwa bahkan pengetahuan-mendalam yang langsung terhadap keajaiban-keajaiban langit pun tidak dapat meyakinkan “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu”) merupakan pendahuluan bagi rangkaian ayat berikutnya, yang sekali lagi mengarahkan perhatian kita terhadap keajaiban-keajaiban alam sebagai bukti tindakan kreatif Allah.



Surah Al-Hijr Ayat 16

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ

wa laqad ja’alnā fis-samā`i burụjaw wa zayyannāhā lin-nāẓirīn

16. DAN, SESUNGGUHNYA, Kami telah menciptakan di langit gugusan-gugusan bintang yang besar,15 dan menganugerahinya dengan keindahan bagi semua orang yang memperhatikan;


15 Terjemahan saya terhadap kata buruj sebagai “gugusan-gugusan bintang yang besar” didasarkan pada Taj Al-‘Arus; di antara mufasir klasik, Al-Baghawi, Al-Baidhawi, dan ibn Katsir memberikan penafsiran yang serupa, sedangkan Al-Thabari (berdasarkan riwayat Mujahid dan Qatadah) menjelaskan bahwa istilah ini berarti “bintang-bintang” pada umumnya.


Surah Al-Hijr Ayat 17

وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ

wa ḥafiẓnāhā ming kulli syaiṭānir rajīm

17. dan Kami telah menjaganya dari setiap kekuatan setani yang terkutuk16


16 Istilah syaithan (“setan”)—yang diderivasikan dari verba syathana (“dia telah [atau ‘menjadi’] jauh”)—dalam Al-Quran sering menunjukkan suatu kekuatan atau pengaruh yang jauh dari, dan berlawanan dengan, semua yang benar dan baik (Taj Al-‘Arus, Raghib): jadi, sebagai contoh, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 14, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan dorongan-dorongan jahat (syayathin) dalam hati “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran”. Dalam pengertiannya yang paling luas dan abstrak, istilah tersebut menunjukkan setiap “kekuatan setani”, yakni setiap dorongan hati yang diarahkan pada tujuan-tujuan yang  bertentangan dengan postulat-postulat etis yang valid. Dalam konteks ini, frasa “setiap kekuatan setani yang terkutuk (rajim)”—seperti frasa “setiap kekuatan setani yang durhaka (marid)” dalam konteks yang serupa yang terdapat dalam Surah As-Shaffat [37]: 7—tampaknya mengacu pada upaya-upaya, yang amat sangat dikutuk dalam Islam, untuk meramalkan masa depan melalui spekulasi-spekulasi astrologis: inilah yang menjelaskan acuan sebelumnya terhadap lelangit dan bintang. Pernyataan bahwa Allah telah menjadikan langit “terjaga” dari kekuatan-kekuatan setani secara jelas menunjukkan bahwa Dia telah menjadikan kekuatan-kekuatan setani tersebut mustahil memperoleh pengetahuan nyata apa pun tentang “yang berada di luar jangkauan persepsi manusia” (al-ghaib), melalui astrologi ataupun melalui apa yang secara populer digambarkan sebagai ilmu-ilmu klenik/supernatural”.


Surah Al-Hijr Ayat 18

إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ

illā manistaraqas-sam’a fa atba’ahụ syihābum mubīn

18. sehingga siapa pun yang mencoba-coba mencari tahu [tentang hal-hal yang tidak diketahui] dengan mencuri-curi, akan dikejar oleh suatu nyala api yang jelas terlihat.17


17 Lit., “dengan mengecualikan [atau, ‘kecuali’] siapa pun yang mencoba-coba mendengar dengan mencuri-curi …”, dan seterusnya. Tampaknya, implikasinya adalah bahwa usaha apa pun untuk memahami misteri hal-hal yang tidak diketahui (the unknowable) dengan cara-cara tercela seperti itu (“dengan mencuri-curi”, “sembunyi-sembunyi”) tak pelak lagi pasti akan diikuti oleh “suatu nyala api yang jelas terlihat”, yakni diikuti oleh rasa frustrasi membara yang jelas terbukti dengan sendirinya (bdk. Surah As-Shaffat [37]: 10).


Surah Al-Hijr Ayat 19

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ

wal-arḍa madadnāhā wa alqainā fīhā rawāsiya wa ambatnā fīhā ming kulli syai`im mauzụn

19. Dan bumi—Kami telah menghamparkannya dengan luas, meletakkan di atasnya gunung-gunung yang kukuh, dan menjadikan segala macam [kehidupan] tumbuh di atasnya menurut suatu cara yang seimbang,


Surah Al-Hijr Ayat 20

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ

wa ja’alnā lakum fīhā ma’āyisya wa mal lastum lahụ birāziqīn

20. dan menyediakan di atasnya sarana penghidupan untuk kalian [wahai manusia] serta untuk semua [makhluk hidup] yang rezekinya tidak bergantung pada kalian.18


18 Lit., “yang bukan kalianlah pemberi rezekinya”, yakni seluruh organisme hidup—baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan—yang tidak dipelihara oleh manusia, tetapi meskipun begitu tetap mendapatkan rezeki. Dalam pengertiannya yang lebih luas, frasa ini menekankan gagasan bahwa seluruh makhluk hidup—termasuk manusia—diberi rezeki oleh Allah, dan hanya oleh Allah (bdk. Surah Hud [11]: 6).


Surah Al-Hijr Ayat 21

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

wa im min syai`in illā ‘indanā khazā`inuhụ wa mā nunazziluhū illā biqadarim ma’lụm

21. Sebab, tidak ada sesuatu pun yang ada, kecuali pada Kami-lah sumbernya;19 dan tidak ada sesuatu pun yang Kami turunkan kecuali sesuai dengan ukuran yang ditetapkan dengan baik.20


19 Lit., “kecuali pada Kami-lah gudang khazanahnya”.

20 Lit., “dan Kami tidak menurunkannya [yakni ‘menciptakannya’] kecuali menurut ukuran yang diketahui [oleh Kami]”: artinya, sesuai dengan batasan-batasan rencana Allah sendiri dan sesuai dengan fungsi yang harus dijalankan oleh sesuatu benda atau fenomena tertentu itu dalam kerangka rencana tersebut.


Surah Al-Hijr Ayat 22

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

wa arsalnar-riyāḥa lawāqiḥa fa anzalnā minas-samā`i mā`an fa asqainākumụh, wa mā antum lahụ bikhāzinīn

22. Dan, Kami biarkan angin bertiup untuk menyuburkan [tumbuh-tumbuhan],21 dan Kami turunkan air dari langit dan membiarkan kalian minum darinya: dan bukanlah kalian yang mengatur sumbernya—


21 Yakni, dengan penyerbukan atau pun dengan mengirimkan awan-hujan.


Surah Al-Hijr Ayat 23

وَإِنَّا لَنَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَنَحْنُ الْوَارِثُونَ

wa innā lanaḥnu nuḥyī wa numītu wa naḥnul-wāriṡụn

23. sebab, perhatikanlah: Kami-lah—hanya Kami—yang menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian, dan hanya Kami-lah yang akan tetap ada setelah segala sesuatu berlalu menuju binasa!22


22 Lit., “Kami adalah [atau ‘akan menjadi’ ] para ahli waris (al-waritsun)”: sebuah metafora idiomatik yang, menurut kesepakatan semua mufasir klasik, didasarkan pada penggunaan istilah “penerima waris” atau “ahli waris” dalam pengertian “seorang yang tetap hidup setelah pendahulunya meninggal”—dalam kasus ini, setelah seluruh ciptaan binasa. (Bdk. ungkapan “warisan lelangit dan bumi” yang digunakan untuk mengacu pada Allah dalam Surah Ali ‘Imran [3]: 180 dan Surah Al-Hadid [57]: 10.)


Surah Al-Hijr Ayat 24

وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ

wa laqad ‘alimnal-mustaqdimīna mingkum wa laqad ‘alimnal-musta`khirīn

24. Dan, Kami sangat mengetahui [hati dan perbuatan semua manusia—baik] orang-orang yang hidup sebelum kalian maupun orang-orang yang akan datang setelah kalian;23


23 Atau: “orang-orang di antara kalian yang bergegas maju [menuju Kami], dan orang-orang yang tertinggal di belakang”. Kedua penafsiran ini sama-sama dianggap absah oleh mufasir-mufasir awal.


Surah Al-Hijr Ayat 25

وَإِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَحْشُرُهُمْ ۚ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

wa inna rabbaka huwa yaḥsyuruhum, innahụ ḥakīmun ‘alīm

25. dan, perhatikanlah, Pemeliharamulah yang akan mengumpulkan mereka semua bersama [pada Hari Pengadilan]: sungguh, Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui!


Surah Al-Hijr Ayat 26

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

wa laqad khalaqnal-insāna min ṣalṣālim min ḥama`im masnụn

26. DAN, SESUNGGUHNYA, telah Kami ciptakan manusia dari tanah liat yang menimbulkan suara, dari lumpur hitam yang diubah-bentuk24


24 Ada banyak acuan dalam Al-Quran terhadap proses terjadinya manusia yang “diciptakan dari tanah liat (clay, thin)” atau “dari tanah (dust, turab)”. Kedua istilah ini menunjukkan asal-usul biologis manusia yang rendah, serta fakta bahwa tubuhnya terdiri dari berbagai substansi organik dan anorganik yang terdapat—baik dalam kombinasi-kombinasi lainnya maupun dalam bentuk-bentuk elementernya—di atas atau di dalam perut bumi. Istilah shalshal, yang terdapat pada tiga ayat dalam surah ini dan juga dalam Surah Ar-Rahman [55]: 14, menambahkan suatu dimensi yang lebih lanjut terhadap konsep ini. Menurut kebanyakan filolog, istilah tersebut menunjukkan “tanah liat kering yang menimbulkan suara” (yakni, ketika dipukul); dan, karena istilah tersebut digunakan dalam AI-Quran hanya untuk mengacu pada penciptaan manusia, istilah tersebut tampaknya mengandung suatu kiasan terhadap kemampuan berbicara melalui bahasa, yang membedakan manusia dengan seluruh spesies binatang lainnya, serta suatu kiasan terhadap kerapuhan eksistensinya (bdk. ungkapan “seperti tembikar” dalam Surah Ar-Rahman [55]: 14). Sebagaimana ditunjukkan oleh susunan kalimatnya, shalshal ini dikatakan telah berevolusi (Al-Razi) dari hama’—yang, menurut beberapa mufasir, merupakan bentuk jamak dari ham’ah, yang berarti “lumpur hitam yang berbau busuk” atau “lanyau hitam”—sedangkan adjektiva partisipial (na’t maf’uliyyah) masnun yang menerangkan nomina shalshal ini berarti (sebagaimana dijelaskan Al-Razi) “diubah” (yakni, dalam komposisinya) dan “dibentuk”: karenanya, saya menerjemahkan ungkapan ini menjadi transmuted (“diubah-bentuk”), yang sampai batas tertentu menggabungkan kedua makna di atas. Dalam pandangan saya, di sini kita disuguhi dengan sebuah gambaran tentang lingkungan biologis awal yang menjadi tempat asal berkembangnya “tanah liat yang menimbulkan suara”—yakni matrix*, begitulah kira-kira—sehingga membentuk jasad manusia sesuai dengan rencana penciptaan yang ditetapkan oleh Allah.

* {Di antara sekian banyak arti matrix, di antaranya adalah: (1) rahim; dan (2) zat pembentuk-jaringan: zat yang berada di antara sel-sel tempat tumbuh tulang dan tulang rawan.—peny.}


Surah Al-Hijr Ayat 27

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

wal-jānna khalaqnāhu ming qablu min nāris-samụm

27. sedangkan makhluk-makhluk gaib telah Kami ciptakan, [jauh] sebelum itu, dari api (yang berasal) dari angin yang sangat panas.25


25 Bdk. Surah Ar-Rahman [55]: 15—”dari nyala api yang mengacaukan (marij min nar)”: yakni, dari unsur-unsur nonfisik/nonmateri. Nomina al-jann, yang saya terjemahkan menjadi “makhluk-makhluk gaib”, pada kenyataannya adalah kata berbentuk tunggal, yang di sini menunjukkan jenis makhluk atau kekuatan tertentu, yang mirip dengan penggunaan nomina tunggal “manusia” (al-insan) yang menggambarkan kesatuan kolektif “umat manusia”. Etimologi kata jann (jamak: jinn) secara sekilas telah disinggung dalam catatan no. 86 pada Surah Al-An’am [6]: 100; pembahasan yang lebih terperinci tentang maknanya terdapat dalam artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah Al-Hijr Ayat 28

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

wa iż qāla rabbuka lil-malā`ikati innī khāliqum basyaram min ṣalṣālim min ḥama`im masnụn

28. Dan, lihatlah! Pemeliharamu berfirman kepada para malaikat, “Perhatikanlah, Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat yang menimbulkan suara, dari lumpur hitam yang diubah-bentuk;


Surah Al-Hijr Ayat 29

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

fa iżā sawwaituhụ wa nafakhtu fīhi mir rụḥī faqa’ụ lahụ sājidīn

29. dan apabila Aku telah membentuknya dengan sempurna dan meniupkan ke dalamnya dari ruh-Ku, tunduklah kalian di hadapannya dengan bersujud!”26


26 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 30-34 dan catatan-catatannya, serta Surah Al-A’raf [7]: 11-18. Semua ayat yang berkenaan dengan penciptaan manusia dan perintah Allah kepada para malaikat agar bersujud di hadapan manusia bersifat alegoris, dan hal ini dikemukakan dengan jelas dalam firman Allah: “Aku akan menciptakan manusia …; dan apabila Aku telah membentuknya dengan sempurna …” dst.: sebab, jelaslah bahwa, pada kenyataannya, Allah tidak memerlukan selang waktu tertentu untuk menyempurnakan ciptaan-Nya—sebab, “manakala Dia menetapkan untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya, ‘Jadilah’—maka terjadilah ia!” (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 117, Ali ‘Imran [3]: 47 dan 59, Al-An’am [6]: 73, An-Nahl [16]: 40, Maryam [19]: 35, YaSin [36]: 82, dan Ghafir [40]: 68). Tindakan Allah “meniupkan dari ruh-Nya” (min ruhi, of My spirit) ke dalam manusia jelas merupakan metafora bagi tindakan-Nya menganugerahi manusia dengan kehidupan dan kesadaran: yakni menganugerahi jiwa.


Surah Al-Hijr Ayat 30

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

fa sajadal-malā`ikatu kulluhum ajma’ụn

30. Lalu, para malaikat itu bersujud semuanya, bersama-sama,


Surah Al-Hijr Ayat 31

إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ

illā iblīs, abā ay yakụna ma’as-sājidīn

31. kecuali iblis: dia menolak untuk ikut di antara yang bersujud.27


27 Lihat catatan no. 10 pada Surah Al-A’raf [7]: 11. Untuk makna yang lebih dalam dari “pemberontakan” ini, lihat catatan no. 31.


Surah Al-Hijr Ayat 32

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ

qāla yā iblīsu mā laka allā takụna ma’as-sājidīn

32. Berfirmanlah Dia, “Wahai, iblis! Apa alasanmu untuk tidak ikut di antara mereka yang bersujud itu?”


Surah Al-Hijr Ayat 33

قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

qāla lam akul li`asjuda libasyarin khalaqtahụ min ṣalṣālim min ḥama`im masnụn

33. [Iblis] menjawab, “Tidak selayaknya bagiku bersujud di hadapan manusia yang telah Engkau ciptakan dari tanah liat yang menimbulkan suara, dari lumpur hitam yang diubah-bentuk!”


Surah Al-Hijr Ayat 34

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

qāla fakhruj min-hā fa innaka rajīm

34. Berfirmanlah Dia, “Maka, keluarlah dari [kedudukan kemalaikatan] ini: sebab, perhatikanlah, [mulai sekarang] engkau terkutuk,


Surah Al-Hijr Ayat 35

وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ

wa inna ‘alaikal-la’nata ilā yaumid-dīn

35. dan penolakan[-Ku] akan menjadi hukumanmu yang pantas28 hingga Hari Pengadilan!”


28 Lit., “adalah atasmu”.


Surah Al-Hijr Ayat 36

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

qāla rabbi fa anẓirnī ilā yaumi yub’aṡụn

36. Berkata [Iblis], “Maka, wahai Pemeliharaku, berikanlah kepadaku penangguhan hingga Hari ketika semua akan dibangkitkan dari kematian!”


Surah Al-Hijr Ayat 37

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

qāla fa innaka minal-munẓarīn

37. Dia (Allah) menjawab, “Sungguh, demikianlah yang akan terjadi: engkau akan termasuk di antara mereka yang diberi penangguhan


Surah Al-Hijr Ayat 38

إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

ilā yaumil-waqtil-ma’lụm

38. hingga Hari yang waktunya diketahui [oleh-Ku sendiri].”


Surah Al-Hijr Ayat 39

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

qāla rabbi bimā agwaitanī la`uzayyinanna lahum fil-arḍi wa la`ugwiyannahum ajma’īn

39. [Kemudian, Iblis] berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Karena Engkau telah menggagalkanku,29 aku benar-benar akan menjadikan [semua yang buruk] di bumi tampak baik bagi mereka, dan pasti akan kuperdayakan mereka ke dalam kesesatan yang memilukan—


29 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 11.


Surah Al-Hijr Ayat 40

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādaka min-humul-mukhlaṣīn

40. [semua] kecuali di antara mereka yang merupakan hamba-hamba-Mu yang sejati!”30


30 Lit., “Hamba-hamba-Mu yang tulus (mukhlashin)”: yakni, orang-orang yang memiliki kesadaran amat mendalam akan Allah sehingga tiada “bujuk-rayu setan” yang dapat membuat mereka tersesat. (Lihat juga catatan no. 32.)


Surah Al-Hijr Ayat 41

قَالَ هَٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ

qāla hāżā ṣirāṭun ‘alayya mustaqīm

41. Berfirmanlah Dia, “Inilah, bersama-Ku, jalan yang lurus:31


31 Yakni, “Inilah yang telah Aku tetapkan”—yakni, bahwa iblis (atau setan) akan menggoda manusia, tetapi dia tidak mempunyai kekuatan untuk membujuk orang-orang yang benar-benar sadar akan Allah. Dengan demikian, Al-Quran memperlihatkan dengan jelas bahwa meskipun setan tampaknya “memberontak” Penciptanya, dia menjalankan suatu fungsi tertentu dalam rencana Allah: setan adalah penggoda abadi yang memungkinkan manusia menggunakan kebebasan yang diberikan oleh Allah untuk memilih antara kebaikan dan keburukan dan, karena itu, menjadi makhluk yang diberkahi dengan kehendak bebas yang bermoral. (Dalam kaitan ini, lihat Surah Maryam [19]: 83, serta catatan no. 26 pada Surah Al-Baqarah [2]: 34 dan catatan no. 16 pada Surah Al-A’raf [7]: 24.)


Surah Al-Hijr Ayat 42

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

inna ‘ibādī laisa laka ‘alaihim sulṭānun illā manittaba’aka minal-gāwīn

42. sungguh, engkau tidak akan memiliki kekuasaan terhadap makhluk-makhluk-Ku—kecuali orang-orang yang [sudah] tenggelam dalam kesalahan yang memilukan dan mengikutimu [atas kehendak mereka sendiri]:32


32 Lit., “kecuali dia yang akan mengikutimu dari kalangan orang-orang yang tenggelam dalam kesalahan yang memilukan”. (Bdk. Surah Ibrahim [14]: 22, yang menyatakan bahwa pada Hari Pengadilan, setan akan berbicara kepada para pengikutnya di dunia dahulu: “Aku sama sekali tidak mempunyai kekuasaan terhadap kalian: aku hanya menyeru kalian—dan kalian memenuhi seruanku.”) Frasa ini secara esensial membedakan rangkaian ayat di atas dengan rangkaian ayat lainnya yang mirip dalam Surah Al-A’raf [7]: 11-18.


Surah Al-Hijr Ayat 43

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ

wa inna jahannama lamau’iduhum ajma’īn

43. dan bagi semua orang yang seperti itu, perhatikanlah, neraka adalah tempat yang dijanjikan,


Surah Al-Hijr Ayat 44

لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ

lahā sab’atu abwāb, likulli bābim min-hum juz`um maqsụm

44. dengan tujuh pintu gerbang yang mengantar ke dalamnya, setiap pintu gerbang menerima golongan tertentu para pendosa.”33


33 Lit., “ia memiliki tujuh pintu-gerbang, [dengan] bagian yang telah ditentukan dari mereka untuk setiap pintu-gerbangnya”. Ini mungkin berarti “tujuh tingkatan” neraka, yakni derita kehidupan akhirat yang menanti “pengikut-pengikut setan” sesuai dengan besarnya dosa-dosa mereka (Al-Razi; penjelasan serupa dikemukakan Qatadah, sebagaimana dikutip Al-Thabari). Perlu diingat pula bahwa konsep “neraka” itu sendiri dirujuk dalam Al-Quran dengan tujuh nama yang berbeda, yang seluruhnya metaforis (memang demikianlah seharusnya, sebab nama-nama itu berkenaan dengan apa yang oleh Al-Quran digambarkan sebagai al-ghaib, “sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi manusia”); ketujuh nama itu adalah: nar (“api”, yang merupakan istilah umum), jahannam (“neraka”), jahim (“api yang berkobar”), sa’ir (“nyala api yang berkobar”), saqar (“api-neraka”), lazha (“nyala api yang mengamuk”), dan huthamah (“siksaan yang meremukkan”). Seperti yang telah saya sebutkan, karena istilah-istilah yang merujuk pada penderitaan yang terjadi di dunia-lain ini jelas-jelas bersifat alegoris, kita dapat pula berasumsi bahwa “tujuh pintu gerbang neraka” juga bersifat alegoris, dan menunjukkan “tujuh pendekatan [atau ‘jalan’] ke neraka”. Lebih jauh lagi, telah masyhur dikenal bahwa dalam bahasa-bahasa Semit—dan lebih khususnya dalam bahasa Arab klasik—angka “tujuh” sering digunakan dalam arti “beberapa” atau “berbagai” (bdk. Lisan Al-‘Arab, Taj Al-‘Arus, dan sebagainya): dengan demikian, frasa Al-Quran di atas bisa diartikan dengan “berbagai jalan yang mengantar ke neraka”—dengan kata lain, berbagai jalan untuk berbuat dosa.


Surah Al-Hijr Ayat 45

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

innal-muttaqīna fī jannātiw wa ‘uyụn

45. SUNGGUH, orang-orang yang sadar akan Allah [akan mendapati diri mereka di akhirat] berada di tengah taman-taman dan mata air-mata air,


Surah Al-Hijr Ayat 46

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ

udkhulụhā bisalāmin āminīn

46. [yang disambut dengan salam,] “Masuklah ke sini dengan damai dan aman!”


Surah Al-Hijr Ayat 47

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

wa naza’nā mā fī ṣudụrihim min gillin ikhwānan ‘alā sururim mutaqābilīn

47. Dan, [saat itu] akan Kami hilangkan segala pikiran atau perasaan yang tidak berguna yang mungkin masih ada [melekat] dalam dada mereka, [dan mereka akan hidup tenteram] sebagai saudara, saling berhadapan [dalam cinta] di atas singgasana-singgasana kebahagiaan.34


34 Yakni, semua sama martabatnya dan, karena itu, bebas dari rasa iri-dengki. Sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Razi, nomina jamak surur (tunggal: sarir) yang secara harfiah berarti “dipan-dipan” atau adakalanya “takhta-takhta”, juga berarti “singgasana-singgasana (atau ‘takhta-takhta’) kebesaran” atau “takhta-takhta kebahagiaan” (surur), yang mungkin dari kata yang disebutkan terakhir inilah nomina sarir dan jamaknya surur diderivasikan. Sifat mahamulia dari “singgasana-singgasana kebahagiaan” ini, dalam beberapa contoh lain, disimbolkan lebih lanjut dengan ungkapan-ungkapan seperti “dilapisi emas” (Surah Al-Waqi’ah [56]: 15) atau “ditinggikan” (Surah Al-Ghasyiyah [88]: 13).


Surah Al-Hijr Ayat 48

لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ

lā yamassuhum fīhā naṣabuw wa mā hum min-hā bimukhrajīn

48. Lelah tidak akan pernah menyentuh mereka dalam [keadaan yang bahagia] ini, dan mereka tidak akan pernah diharuskan untuk meninggalkannya.35


35 Lit., “mereka tidak akan pernah dibuat keluar darinya”.


Surah Al-Hijr Ayat 49

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

nabbi` ‘ibādī annī anal-gafụrur-raḥīm

49. Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku—Aku sajalah—Yang Maha Pengampun, Sang Maha Pemberi Rahmat;


Surah Al-Hijr Ayat 50

وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

wa anna ‘ażābī huwal-‘ażābul-alīm

50. dan [juga] bahwa derita yang akan Aku timpakan [kepada para pendosa] benar-benar akan menjadi suatu derita yang paling pedih.36


36 Dalam tafsirnya terhadap dua ayat di atas, Al-Razi mencatat bahwa pernyataan yang berkenaan dengan ampunan (ghafur) dan rahmat (rahim) Allah mengandung tiga-lapis penekanan—yang diungkapkan dengan pengulangan kata ganti personal ana (“aku”) yang mengacu pada Allah, dan kata sandang tentu (adah al-ta’rif) “al” di depan masing-masing adjektiva partisipial (na’t fa’iliyyah) itu (al-ghafur dan al-rahim)—sementara tidak ada penekanan seperti itu ketika yang disebutkan adalah derita (azab) yang Dia timpakan terhadap para pendosa yang suka melawan. (Bdk. Surah Al-An’am [6]: 12—dan catatannya no. 10—serta Surah Al-An’am [6]: 54, yang keduanya menyatakan bahwa Allah “telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih”.)


Surah Al-Hijr Ayat 51

وَنَبِّئْهُمْ عَنْ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ

wa nabbi`hum ‘an ḍaifi ibrāhīm

51. DAN, KABARKANLAH KEPADA MEREKA [sekali lagi] tentang tamu-tamu Ibrahim37


37 Untuk perincian mengenai kisah Ibrahim dan para malaikat ini, lihat ayat 69-76 Surah Hud [11], yang diwahyukan persis sebelum surah ini. Kaitan antara kisah ini dan penekanan terhadap rahmat Allah yang disebutkan sebelumnya muncul dari perkataan Ibrahim (dalam ayat 56): “Dan, siapakah—selain dari orang-orang yang benar-benar telah tersesat jalannya—yang sekali-kali dapat berputus asa dari rahmat Pemeliharanya?” Begitu pula, acuan-acuan berikutnya (dalam ayat 58-84) terhadap umat-umat yang banyak melakukan dosa yang akhirnya dibinasakan karena mereka menolak mengindahkan peringatan nabi-nabi mereka, jelas-jelas dimaksudkan untuk menggambarkan kebalikan dari rahmat Allah: yakni, hukuman-Nya yang tidak terhindarkan, sebagai balasan atas perbuatan dosa yang disengaja dan yang tidak ditobati (ayat 50 di atas).


Surah Al-Hijr Ayat 52

إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ

iż dakhalụ ‘alaihi fa qālụ salāmā, qāla innā mingkum wajilụn

52. [bagajmana,] ketika mereka menampakkan diri di hadapannya dan mengucapkan salam damai kepadanya, dia menjawab, “Perhatikanlah, kami takut terhadapmu!”38


38 Mengenai alasan yang mendasari ketakutan Ibrahim dan Sarah, lihat Surah Hud [11]: 70.


Surah Al-Hijr Ayat 53

قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

qālụ lā taujal innā nubasysyiruka bigulāmin ‘alīm

53. Berkatalah mereka, “Janganlah takut! Perhatikanlah, kami membawakan kepadamu berita gembira tentang [kelahiran] seorang putra yang akan dianugerahi dengan pengetahuan yang dalam.”39


39 Yakni, akan menjadi seorang nabi.


Surah Al-Hijr Ayat 54

قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَىٰ أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ

qāla a basysyartumụnī ‘alā am massaniyal-kibaru fa bima tubasysyirụn

54. Berkata dia, “Apakah kalian memberikan kepadaku berita gembira ini meskipun kenyataannya usia tua telah menyergapku? Maka, betapa [aneh] berita yang kalian sampaikan kepadaku ini!”


Surah Al-Hijr Ayat 55

قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ

qālụ basysyarnāka bil-ḥaqqi fa lā takum minal-qāniṭīn

55. Mereka menjawab, “Kami telah menyampaikan berita gembira kepadamu tentang sesuatu yang pasti akan terjadi:40 maka, janganlah termasuk di antara orang-orang yang berputus asa!”


40 Lit., “Kami telah memberikan kepadamu berita gembira tentang kebenaran”—yakni, kebenaran yang ditetapkan oleh Allah (Ibn ‘Abbas, seperti dikutip oleh Ar-Razi).


Surah Al-Hijr Ayat 56

قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

qāla wa may yaqnaṭu mir raḥmati rabbihī illaḍ-ḍāllụn

56. [Ibrahim] berseru, “Dan, siapakah—selain dari orang-orang yang benar-benar telah tersesat jalannya—yang sekali-kali dapat berputus asa dari rahmat Pemeliharanya?”


Surah Al-Hijr Ayat 57

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ

qāla fa mā khaṭbukum ayyuhal-mursalụn

57. Dia menambahkan, “Dan apa [lagi]-kah tujuan kalian, wahai kalian para utusan [samawi]?”


Surah Al-Hijr Ayat 58

قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمٍ مُجْرِمِينَ

qālū innā ursilnā ilā qaumim mujrimīn

58. Mereka menjawab, “Kami diutus kepada kaum yang tenggelam dalam dosa41 [yang akan dihancurkan],


41 Yakni, kepada kaum Sodom (lihat juga Surah Al-A’raf [7]: 80-84 dan Surah Hud [11]: 77-83.


Surah Al-Hijr Ayat 59

إِلَّا آلَ لُوطٍ إِنَّا لَمُنَجُّوهُمْ أَجْمَعِينَ

illā āla lụṭ, innā lamunajjụhum ajma’īn

59. kecuali keluarga Luth, yang semuanya, perhatikanlah, akan kami selamatkan—


Surah Al-Hijr Ayat 60

إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا ۙ إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ

illamra`atahụ qaddarnā innahā laminal-gābirīn

60. dengan mengecualikan istrinya saja, [yang mengenainya, Allah berfirman demikian,] ‘Kami telah menentukan [bahwa], perhatikanlah, dia termasuk di antara orang-orang yang tertinggal!’”42


42 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 83 dan catatan no. 66 yanq terkait, serta Surah Hud [11]: 81 dan At-Tahrim [66]: 10. Frasa sisipan saya, “yang mengenainya, Allah berfirman demikian”, perlu disisipkan di sini mengingat adanya verba qaddarna yang digunakan secara elipsis—verba qaddarna ini, dalam pengertian “Kami telah menentukan” atau “menetapkan”, merupakan suatu tindakan yang di dalam Al-Quran selalu, dan hanya, dinisbahkan kepada Allah. Sebagaimana telah berulang-ulang saya jelaskan dalam catatan saya, tindakan Allah yang “menentukan” seorang pendosa untuk berbuat dosa atau “menetapkan” bahwa orang tersebut tetap tuli terhadap suara kebenaran merupakan suatu metonimia bagi hukum alam yang diatur oleh-Nya, yang telah dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7; ia juga mengacu, pada umumnya, kepada pengetahuan mutlak Allah yang sedari awal-mulanya telah mengetahui tentang bagaimana makhluk-makhluk-Nya akan bertindak dalam suatu situasi tertentu (Al-Zamakhsyari). Lihat juga catatan no. 56 pada Surah Hud [11]: 34 dan catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-Hijr Ayat 61

فَلَمَّا جَاءَ آلَ لُوطٍ الْمُرْسَلُونَ

fa lammā jā`a āla lụṭinil-mursalụn

61. DAN, TATKALA para utusan [Allah] datang kepada keluarga Luth,


Surah Al-Hijr Ayat 62

قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

qāla innakum qaumum mungkarụn

62. dia (Luth) berkata, “Perhatikanlah, kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal [di sini]!”43


43 Yang menyiratkan bahwa mereka mungkin akan diserang oleh para pendosa di kotanya: bdk. Surah Hud [11]: 77 dan catatan no. 10 yang terkait.


Surah Al-Hijr Ayat 63

قَالُوا بَلْ جِئْنَاكَ بِمَا كَانُوا فِيهِ يَمْتَرُونَ

qālụ bal ji`nāka bimā kānụ fīhi yamtarụn

63. Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami datang kepadamu dengan [pemberitahuan tentang] sesuatu yang mereka [orang-orang yang terbiasa dengan keburukan itu] selalu persoalkan,44


44 Lit., “sesuatu yang tentangnya mereka sangsikan secara terus-menerus (kanu)”—yakni, malapetaka yang, di dunia ini atau di akhirat, merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan akibat perbuatan dosa yang disengaja: sebuah ramalan yang sering dicemoohkan oleh para pendosa sendiri (bdk. Surah Al-An’am [6]: 57-58, Surah Al-Anfal [8]: 32, Surah Hud [11]: 8, dan catatan-catatannya). Menurut saya, kalimat ini merupakan alasan diulangnya, dalam surah ini, kisah kaum Luth dan kisah umat-umat lainnya pada masa silam, yang banyak berbuat dosa dan akhirnya dihukum karena mereka berkukuh melanggar semua hukum moral.


Surah Al-Hijr Ayat 64

وَأَتَيْنَاكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

wa ataināka bil-ḥaqqi wa innā laṣādiqụn

64. dan kami bawakan kepadamu kepastian [terjadinya]:45 sebab, perhatikanlah, kami sungguh mengatakan kebenaran.


45 Lit., “Kami telah membawakan kepadamu [atau ‘datang kepadamu dengan’] kebenaran”.


Surah Al-Hijr Ayat 65

فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ وَامْضُوا حَيْثُ تُؤْمَرُونَ

fa asri bi`ahlika biqiṭ’im minal-laili wattabi’ adbārahum wa lā yaltafit mingkum aḥaduw wamḍụ ḥaiṡu tu`marụn

65. Maka, pergilah dengan keluargamu selagi masih malam, dengan engkau sendiri mengikuti mereka di belakang; dan janganlah biarkan seorang pun di antara kalian menoleh ke belakang,46 melainkan teruslah maju ke arah yang diperintahkan kepada kalian.”


46 Untuk penjelasan tentang ”menoleh ke belakang” yang metaforis ini, lihat Surah Hud [11], catatan no. 112.


Surah Al-Hijr Ayat 66

وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ

wa qaḍainā ilaihi żālikal-amra anna dābira hā`ulā`i maqṭụ’um muṣbiḥīn

66. Dan, [melalui utusan-utusan Kami,] Kami wahyukan kepadanya keputusan ini: “Sisa terakhir dari [para pendosa] itu akan disapu habis47 pada waktu shubuh.”


47 Lit., “dipotong”.


Surah Al-Hijr Ayat 67

وَجَاءَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَسْتَبْشِرُونَ

wa jā`a ahlul-madīnati yastabsyirụn

67. Dan, penduduk kota itu datang [kepada Luth] dengan riang karena berita gembira itu.48


48 Yakni, “karena kedatangan orang-orang asing yang tampan”. Lihat juga Surah Al-A’raf [7]: 80-81 dan Surah Hud [11]: 77-79, serta catatan-catatannya yang terkait.


Surah Al-Hijr Ayat 68

قَالَ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي فَلَا تَفْضَحُونِ

qāla inna hā`ulā`i ḍaifī fa lā tafḍaḥụn

68. Berseru [Luth], “Perhatikanlah, ini adalah tamu-tamuku: maka janganlah mempermalukanku,


Surah Al-Hijr Ayat 69

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ

wattaqullāha wa lā tukhzụn

69. tetapi sadarlah akan Allah dan janganlah membuatku malu!”


Surah Al-Hijr Ayat 70

قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ

qālū a wa lam nan-haka ‘anil-‘ālamīn

70. Mereka menjawab, “Bukankah kami telah melarangmu [untuk memberi perlindungan] kepada manusia mana pun?”49


49 Lit., “semua orang” (al-‘alamin): tampaknya, karena Luth adalah orang asing di Sodom—yang datang ke sana dari Mesopotamia, negeri asalnya dan juga negeri asal Ibrahim (lihat Surah Hud [11], catatan no. 102;—dan sebelumnya telah membangkitkan kemarahan orang-orang Sodom karena kritik-kritik moralnya (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 80-82).


Surah Al-Hijr Ayat 71

قَالَ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

qāla hā`ulā`i banātī ing kuntum fā’ilīn

71. [Luth] berkata, “[Alih-alih, bawalah] putri-putriku ini,50 jika kalian mesti melakukan [apa pun yang hendak kalian lakukan]!”


50 Lihat Surah Hud [11], catatan no. 109.


Surah Al-Hijr Ayat 72

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

la’amruka innahum lafī sakratihim ya’mahụn

72. [Akan tetapi, para malaikat berkata demikian] “Seumur hidupmu, [wahai Luth, mereka tidak akan mendengarkanmu:]51 perhatikanlah, dalam kemabukan [nafsu] mereka, mereka terhuyung-huyung ke sana kemari!”


51 Dua sisipan di atas didasarkan pada penafsiran Al-Zamakhsyari atas ayat ini. Sumpah “Seumur hidupmu” secara harfiah berbunyi “Demi hidupmu”.


Surah Al-Hijr Ayat 73

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ

fa akhażat-humuṣ-ṣaiḥatu musyriqīn

73. Dan kemudian, ledakan [hukuman Kami] membinasakan mereka52 ketika matahari terbit,


52 Mengenai makna istilah shayhah, yang saya terjemahkan menjadi “ledakan hukuman [Allah]”, lihat Surah Hud [11], catatan no. 98.


Surah Al-Hijr Ayat 74

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

fa ja’alnā ‘āliyahā sāfilahā wa amṭarnā ‘alaihim ḥijāratam min sijjīl

74. dan Kami buat [kota-kota yang penuh dosa] itu menjadi terbalik dan menghujani mereka dengan serangan-serangan hukuman sekeras batu yang telah ditakdirkan sebelumnya.53


53 Lihat Surah Hud [11], catatan no. 114.


Surah Al-Hijr Ayat 75

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ

inna fī żālika la`āyātil lil-mutawassimīn

75. Sungguh, dalam semua hal yang demikian ini, benar-benar terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang bisa membaca pertanda:54


54 Dalam pengertiannya yang menyeluruh, istilah mutawassim menunjukkan “seorang yang mempergunakan pikirannya untuk mempelajari tampilan lahir dari sesuatu dengan maksud untuk memahami hakikat sesungguhnya dan karakteristik-karakteristik batinnya” (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi).


Surah Al-Hijr Ayat 76

وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُقِيمٍ

wa innahā labisabīlim muqīm

76. sebab, perhatikanlah, [kota-kota] itu dahulu terletak di dekat sebuah jalan yang masih ada.55


55 Keberadaan jalan itu, yang memanjang dari bagian utara Hijaz ke Suriah, menyusuri Laut Mati—menuju timur laut, tempat Sodom dan Gomora terletak—telah mendapatkan konfirmasi yang mengejutkan melalui foto-foto udara yang baru-baru ini dipublikasikan oleh American School of Oriental Research (New Haven, Connecticut). Foto-foto ini dengan jelas memperlihatkan jalan kuno tersebut sebagai sebuah lintasan hitam yang berbelok ke arah utara, lebih kurang sejajar dengan pantai timur Laut Mati.


Surah Al-Hijr Ayat 77

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ

inna fī żālika la`āyatal lil-mu`minīn

77. Sungguh, di dalam hal ini benar-benar terdapat sebuah pesan bagi semua orang yang beriman [pada Allah].


Surah Al-Hijr Ayat 78

وَإِنْ كَانَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ لَظَالِمِينَ

wa ing kāna aṣ-ḥābul-aikati laẓālimīn

78. DAN, PENDUDUK lembah-lembah yang berhutan [di Madyan itu, juga] merupakan orang-orang yang biasa berbuat zalim,56


56 Sebagaimana tampak jelas dari Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 176 dst., “penduduk lembah-lembah yang berhutan (al-aikah)” adalah orang-orang Madyan, yang menolak untuk menaati nabi mereka, Syu’aib a.s., dan yang kemudian dibinasakan, sepertinya oleh gempa bumi dan/atau letusan gunung berapi (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 85-93 dan Surah Hud [11]: 84-95).


Surah Al-Hijr Ayat 79

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُبِينٍ

fantaqamnā min-hum, wa innahumā labi`imāmim mubīn

79. maka demikianlah Kami timpakan hukuman Kami terhadap mereka.

Dan, perhatikanlah, kedua [umat yang penuh dosa] ini dahulu tinggal di dekat sebuah jalan raya, yang [hingga hari ini] jelas terlihat.57


57 Yakni, umat Nabi Luth a.s. dan umat Nabi Syu’aib a.s., yang mendiami wilayah-wilayah yang berbatasan (lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 67), dan yang nasibnya hendaknya dijadikan contoh yang jelas sebagaimana jelasnya jalan raya yang melewati wilayah-wilayah yang pernah didiami oleh mereka.


Surah Al-Hijr Ayat 80

وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ

wa laqad każżaba aṣ-ḥābul-ḥijril-mursalīn

80. DAN, [begitu pula,] sesungguhnya, penduduk Al-Hijr58 mendustakan para rasul pengemban pesan [Kami]:


58 Yakni, suku Tsamud (lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 56), yang pada masa-masa pra-Islam mendiami wilayah Al-Hijr di bagian paling utara Hijaz, di sebelah selatan oase Taimah. Kisah tentang suku Tsamud terdapat dalam Surah Al-A’raf [7]: 73-79.


Surah Al-Hijr Ayat 81

وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

wa ātaināhum āyātinā fa kānụ ‘an-hā mu’riḍīn

81. sebab, Kami telah menyampaikan kepada mereka pesan-pesan Kami, tetapi mereka dengan bebal berpaling darinya—


Surah Al-Hijr Ayat 82

وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ

wa kānụ yan-ḥitụna minal-jibāli buyụtan āminīn

82. meskipun mereka biasa [menikmati karunia Kami dan] memahat tempat-tempat tinggal dari gunung-gunung, [tempat mereka dapat hidup] dengan aman59


59 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 74 dan catatan-catatannya (terutama no. 59).


Surah Al-Hijr Ayat 83

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ

fa akhażat-humuṣ-ṣaiḥatu muṣbiḥīn

83. lalu, suara ledakan [hukuman Kami] membinasakan mereka pada waktu shubuh,


Surah Al-Hijr Ayat 84

فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

fa mā agnā ‘an-hum mā kānụ yaksibụn

84. dan tiada faedahnya bagi mereka semua [kekuasaan] yang telah mereka peroleh.


Surah Al-Hijr Ayat 85

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqq, wa innas-sā’ata la`ātiyatun faṣfaḥiṣ-ṣaf-ḥal jamīl

85. DAN, [ingatlah:] tidak Kami ciptakan lelangit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya tanpa [suatu] kebenaran [hakiki];60 tetapi, perhatikanlah, Saat [ketika hal ini akan menjadi jelas bagi semuanya] pasti akan datang.

Karena itu, maafkanlah [kekurangan manusia] dengan kesabaran yang elok:


60 Untuk penjelasan tentang penerjemahan illa bi al-haqq (lit., melainkan dengan [atau “dalam”] kebenaran) ini, lihat Surah Yunus [10], catatan no. 11.


Surah Al-Hijr Ayat 86

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

inna rabbaka huwal-khallāqul-‘alīm

86. sungguh, Pemeliharamu adalah Pencipta segala sesuatu, Yang Maha Mengetahui!61


61 Yakni, “Dia telah menciptakan semua manusia dengan pengetahuan yang sempurna tentang diferensiasi alamiah mereka dan tentang perbedaan kondisi mereka masing-masing” (Al-Razi)—dan ini, tentu saja, mencakup kelalaian-kelalaian dan kesalahan-kesalahan mereka. (Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 199—”Berlapang dadalah dalam menghadapi tabiat manusia”—dan catatannya, no. 162.)


Surah Al-Hijr Ayat 87

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

wa laqad ātaināka sab’am minal-maṡānī wal-qur`ānal-‘aẓīm

87. DAN, SESUNGGUHNYA, Kami telah menganugerahkan kepadamu tujuh [ayat] yang sering diulang, dan [dengan demikian, telah membentangkan di hadapanmu] Al-Quran yang agung ini:62


62 Dengan kata-kata ini, wacana kembali pada tema yang diuraikan di awal surah ini dan yang secara tidak langsung disinggung juga dalam ayat 85: yaitu, pewahyuan kitab Ilahi, yang ditakdirkan untuk berfungsi sebagai petunjuk moral bagi manusia, yang masih belum dapat melihat makna dan tujuan penciptaan yang dilakukan oleh Allah.

Menurut kebanyakan mufasir, termasuk sejumlah Sahabat Nabi yang terkemuka, “Tujuh [Ayat] yang Sering Diulang” adalah julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw. sendiri terhadap surah pertama Al-Quran, yang juga digambarkannya sebagai “Intisari Kitab Ilahi” (Umm Al-Kitab), sebab ia menyinggung seluruh prinsip etis dan metafisis yang ditetapkan dalam Al-Quran (Al-Bukhari, Kitab Al-Tafsir). Lihat juga artikel Mengenal Nama Lain Surah Al-Fatihah dan Artinya.


Surah Al-Hijr Ayat 88

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

lā tamuddanna ‘ainaika ilā mā matta’nā bihī azwājam min-hum wa lā taḥzan ‘alaihim wakhfiḍ janāḥaka lil-mu`minīn

88. [maka] janganlah menujukan kedua matamu [dengan hasrat] ke arah keuntungan-keuntungan duniawi yang telah Kami anugerahkan kepada sejumlah63 orang [yang mengingkari kebenaran]. Dan, jangan pula bersedih hati terhadap orang-orang [yang menolak untuk taat kepadamu], tetapi bentangkanlah sayap-sayap kelembutanmu pada orang-orang yang beriman,64


63 Para filolog sepakat bahwa nomina jamak azwaj di sini berarti “jenis-jenis” manusia atau “beberapa” dari mereka, dan bukan—sebagaimana diasumsikan oleh sejumlah penerjemah modern Al-Quran tertentu—”pasangan-pasangan”.

64 Lit., “rendahkanlah sayapmu bagi orang-orang yang beriman”: sebuah metafora idiomatik untuk menunjukkan kelembutan dan kerendahhatian yang penuh cinta (lihat Surah Al-Isra’ [17]: 24 dan catatan no. 28 yang terkait).


Surah Al-Hijr Ayat 89

وَقُلْ إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ

wa qul innī anan-nażīrul-mubīn

89. dan katakan: “Perhatikanlah, aku benar-benar sang pemberi peringatan yang nyata [yang dijanjikan oleh Allah]!”65


65 Menurut pemikiran saya, frasa yang disisipkan di atas memberikan satu-satunya penjelasan yang memuaskan terhadap kata sandang tentu (adah al-ta’rif) “al” yang diimbuhkan di depan kata-kata al-nadzir al-mubin (“sang pemberi peringatan yang nyata”). Susunan ini mungkin menyinggung ramalan Biblikal tentang kedatangan Nabi Muhammad yang tercantum dalam Bibel, Kitab Ulangan 18: 15 dan 18, yang telah saya bahas dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 33.


Surah Al-Hijr Ayat 90

كَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى الْمُقْتَسِمِينَ

kamā anzalnā ‘alal-muqtasimīn

90. [Karena, engkaulah pengemban kitab Ilahi66] sebagaimana Kami telah menurunkan kepada orang-orang yang [kemudian] memecahnya menjadi bagian-bagian,67


66 Demikianlah Al-Zamakhsyari ketika menjelaskan permulaan eliptis kalimat ini dan kaitan logisnya dengan ayat sebelumnya serta ayat 87.

67 Tampaknya, ini mengacu pada para pengikut Alkitab (Bibel) yang “beriman pada sebagian kitab Ilahi dan mengingkari kebenaran bagian lainnya” (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 85)—yakni, yang berperilaku sesuai dengan ajaran-ajaran Alkitab (Bibel) yang cocok dengan kecenderungan hasrat mereka dan sesuai dengan tren-tren sosial yang sedang berlaku, dan mengabaikan ajaran-ajaran lainnya—karena itu, secara tersirat, mengingkari keabsahan kitab suci itu sendiri.


Surah Al-Hijr Ayat 91

الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ

allażīna ja’alul-qur`āna ‘iḍīn

91. [dan] yang [kini] menyatakan Al-Quran ini sebagai [kumpulan] kebohongan!68


68 Menurut Taj Al-‘Arus (entri ‘adhiha dan ‘adhawa), inilah makna ‘idhin dalam konteks di atas: penafsiran yang juga dikemukakan oleh Al-Thabari dan Al-Razi (pada paragraf terakhir tafsir Al-Razi terhadap ayat ini). Penafsiran lain—yang sama-sama dapat diterima dari sudut pandang linguistik murni—adalah: “[orang-orang] yang memilah-milah Al-Quran menjadi bagian-bagian yang terpisah”: yakni, (analog dengan orang-orang Yahudi dan Kristen) menerima sebagian ajarannya sebagai kebenaran dan memandang ajaran lainnya sebagai hasil buatan Nabi Muhammad Saw. Namun, sebagaimana ditunukkan oleh Al-Thabari, karena orang-orang yang menolak memercayai bahwa Al-Quran berasal dari Allah tidak menerima bagian mana pun darinya sebagai kebenaran, penafsiran pertama jauh lebih baik.


Surah Al-Hijr Ayat 92

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

fa wa rabbika lanas`alannahum ajma’īn

92. Namun, demi Pemeliharamu! [Pada Hari Pengadilan,] Kami pasti akan memanggil mereka untuk dimintai pertanggungjawaban, semuanya,


Surah Al-Hijr Ayat 93

عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

‘ammā kānụ ya’malụn

93. terhadap apa pun yang telah mereka perbuat!


Surah Al-Hijr Ayat 94

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

faṣda’ bimā tu`maru wa a’riḍ ‘anil-musyrikīn

94. Karena itu, sampaikanlah secara terang-terangan semua yang telah diperintahkan kepadamu [untuk dikatakan], dan tinggalkanlah semua orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah:



Surah Al-Hijr Ayat 95

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

innā kafainākal-mustahzi`īn

95. sungguh, cukuplah Kami bagimu dalam menghadapi semua orang yang [sekarang] memperolok-olok [pesan ini—semuanya]


Surah Al-Hijr Ayat 96

الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

allażīna yaj’alụna ma’allāhi ilāhan ākhar, fa saufa ya’lamụn

96. yang menegaskan bahwa berdampingan dengan Allah, ada pula kuasa-kuasa Ilahi yang lain:69 karena, pada saatnya, mereka akan mengetahui [kebenaran].


69 Lit., “yang memostulatkan (mendalilkan, yaj’alun) bahwa berdampingan dengan Allah, ada tuhan (ilah) yang lain”—sebuah istilah yang di sini jelas-jelas digunakan dalam pengertian generiknya, yang mencakup segala sesuatu yang dapat dibayangkan sebagai suatu “kuasa Ilahi”: inilah alasan mengapa saya menerjemahkannya ke dalam bentuk jamak.


Surah Al-Hijr Ayat 97

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

wa laqad na’lamu annaka yaḍīqu ṣadruka bimā yaqụlụn

97. Dan, Kami sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena hal-hal [penghujatan] yang mereka ucapkan:


Surah Al-Hijr Ayat 98

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

fa sabbiḥ biḥamdi rabbika wa kum minas-sājidīn

98. tetapi bertasbihlah engkau memuji kemuliaan Pemeliharamu yang tiada terhingga, dan pujilah Dia, serta jadilah engkau di antara orang-orang yang bersujud [di hadapan-Nya],


Surah Al-Hijr Ayat 99

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

wa’bud rabbaka ḥattā ya`tiyakal-yaqīn

99. dan sembahlah Pemeliharamu hingga kematian datang kepadamu.70


70 lit., “sampai datang kepadamu yang pasti (al-yaqin)”—sebuah istilah yang dalam Al-Quran sering digunakan sebagai metonimia untuk “kematian” {Al-Bukhari, Kitab Al-Tafsir). Namun, lihat juga penggunaan paling awal istilah ini dalam Surah Al-Muddassir [74]: 47.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)