Surat Al-Baqarah Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

2. Al-Baqarah (Sapi Betina) – البقرة

Surat Al-Baqarah ( البقرة ) merupakan surah ke 2 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 286 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surat Al-Baqarah termasuk golongan Surat Madaniyah.


Nama surah ini diambil dari kisah yang diceritakan dalam ayat 67-73. Al-Baqarah merupakan surah yang pertama kali diwahyukan secara utuh setelah Nabi hijrah ke Madinah. Sebagian besar ayat dalam surah ini diturunkan pada dua tahun pertama periode itu; namun, ayat 275-281 turun pada bulan-bulan terakhir sebelum Nabi wafat (ayat 281 diperkirakan sebagai wahyu terakhir yang diterimanya).

Diawali dengan pernyataan mengenai tujuan yang mendasari pewahyuan Al-Qur’an secara keseluruhan—yakni, sebagai petunjuk bagi manusia dalam segala urusan spiritual dan duniawi—Surah Al-Baqarah, seiring dengan penekanannya yang terus-menerus pada pentingnya kesadaran akan Allah (takwa), banyak menceritakan kesalehan yang dilakukan oleh umat penganut wahyu-wahyu terdahulu, khususnya Bani Israil. Pernyataan dalam ayat 106 tentang penggantian (nasakh) seluruh wahyu sebelumnya oleh wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sangatlah penting untuk memahami surah ini dengan benar, dan bahkan untuk memahami seluruh Al-Qur’an. Aturan-aturan hukum yang terdapat di dalam Al-Baqarah (khususnya pada bagian akhir surah)—yang menyinggung masalah etika, hubungan sosial (mu’amalah), peperangan, dan sebagainya—banyak yang merupakan akibat langsung dari pernyataan nasakh yang penting itu. Surah ini berulang-ulang menunjukkan bahwa aturan-aturan Al-Qur’an sejalan dengan kebutuhan hakiki fitrah manusia, dan tidak lain hanya merupakan kelanjutan dari petunjuk etis yang diberikan Allah kepada manusia sejak awal sejarah keberadaannya. Perhatian khusus diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s., bapak para nabi, yang pergulatan intensnya tentang gagasan keesaan Allah (tauhid) menjadi fondasi tiga agama monoteis besar; dan ditetapkannya rumah ibadah Ibrahim, Ka’bah, sebagai kiblat shalat bagi “orang-orang yang berserah diri kepada Allah” (yaitu makna dari kata muslimun, jamak dari muslim) menjadi lambang—begitulah kira-kira—identifikasi-diri secara sadar seluruh kaum yang benar-benar beriman dengan ajaran agama Ibrahim.

Keseluruhan surah ini mencakup lima doktrin Al-Qur’an, yaitu:

  1. bahwa hanya Allah yang menjadi Sumber serbacukup dari segala makhluk (Al-Qayyum, self-sufficient Fount of all being);
  2. bahwa bukti-bukti keberadaan-Nya, yang ditegaskan secara berulang-ulang oleh para nabi, dapat dijangkau oleh akal manusia;
  3. bahwa hidup yang saleh (bajik)—dan bukan sekedar percaya—merupakan konsekuensi niscaya dari persepsi intelektual tersebut;
  4. bahwa kematian jasad akan diikuti oleh kebangkitan dan pengadilan; dan
  5. bahwa semua orang yang benar-benar sadar akan tanggung jawabnya kepada Allah “tidak perlu merasa takut, dan tidak pula akan bersedih hati”.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah Al-Baqarah Ayat 1

الم

alif lām mīm

1. Alif. Lam. Mim.1


1 Mengenal kemungkinan makna dari huruf-huruf terpsah (al-muqaththa’at) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran, lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an, yang membahas beragam teori yang menjelaskan masalah tersebut.


Surah Al-Baqarah Ayat 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

żālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn

2. KITAB ILAHI INI—yang tiada keraguan tentangnya—[dimaksudkan untuk menjadi] petunjuk bagi semua orang yang sadar akan Allah2*


2 Terjemahan konvensional dari kata muttaqi menjadi “orang yang takut kepada Allah” kurang memadai untuk menerjemahkan makna positif ungkapan tersebut—yaitu kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini, sedangkan, penafsiran yang dikemukakan beberapa penerjemah, seperti “orang yang menjaga dirinya dari kejahatan—atau “orang yang sangat hati-hati dalam melaksanakan kewajiban”, hanya menjelaskan salah satu aspek tertentu dari konsep kesadaran akan Allah {taqwa, God-consciousness—peny.}.

* {Dalam terjemahan Al-Quran Depag RI, kata taqwa diadopsi menjadi “takwa”, dan al-muttaqin menjadi “orang-orang yang bertakwa”. Untuk selanjutnya, “kesadaran akan Allah” adalah terjemahan dari “takwa”, dan “orang-orang yang sadar akan Allah” adalah terjemahan dari “orang-orang yang bertakwa”—AM. Untuk penerjemahan al-kitab (divine writ) menjadi “kitab Ilahi”, lihat “Prakata” Asad.—peny.}


Surah Al-Baqarah Ayat 3

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

3. yang beriman pada [adanya] hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia,3 teguh mendirikan shalat,** dan menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka;4


3 Al-ghaib (yang umumnya keliru diterjemahkan menjadi “Yang Tak Terlihat”) digunakan dalam Al-Quran untuk menunjukkan segala bidang atau tahapan realitas yang berada di luar jangkauan persepsi manusia dan, karena itu, tidak dapat dibuktikan atau disangkal oleh pengamatan ilmiah (sains), atau bahkan tidak dapat dimasukkan secara memadai ke dalam kategori-kategori umum dalam pemikiran spekulatif: misalnya, keberadaan Tuhan, adanya tujuan hakiki yang mendasari alam semesta, hidup setelah mati, hakikat waktu, adanya kekuatan-kekuatan spiritual dan interaksinya, dan sebagainya. Hanya orang yang yakin bahwa realitas tertinggi itu jauh melampaui wilayah yang dapat kita amati-lah yang dapat mencapai iman kepada Allah dan, karena itu, sampai pada keyakinan bahwa hidup itu memiliki makna dan tujuan. Dengan menunjukkan bahwa ia merupakan “suatu petunjuk bagi orang-orang yang beriman pada adanya hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia”, pada dasarnya Al-Quran mengatakan bahwa dirinya—pasti—akan tetap tertutup bagi pikiran orang-orang yang tidak dapat menerima premis mendasar ini.

** {constant in prayer, teguh dan istiqamah mendirikan shalat (berdoa)—peny.}

4 Al-rizq (“rezeki”) mencakup semua hal yang bermanfaat bagi manusia, baik yang konkret (seperti, makanan, harta, keturunan, dan sebagainya) maupun yang abstrak (seperti, pengetahuan, kesalehan, dan sebagainya). Dalam ayat ini, “menafkahkan untuk orang lain” disebut senapas dengan “kesadaran akan Allah {taqwa}” dan “mendirikan shalat”, sebab hanya dalam tindakan-tindakan tanpa pamrih seperti itulah kesalehan sejati akan mendatangkan manfaatnya yang sempurna. Harus diingat bahwa, dalam Al-Quran, verba anfaqa (lit., “dia telah menafkahkan”) selalu digunakan untuk menunjukkan “penafkahan” secara sukarela untuk—atau sebagai pemberian kepada—orang lain, apa pun motifnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 4

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

wallażīna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablik, wa bil-ākhirati hum yụqinụn

4. dan yang beriman pada apa yang telah diturunkan kepadamu [wahai Nabi,] dan juga pada apa yang telah diturunkan sebelum zaman engkau:5 sebab, mereka itulah orang-orang yang dalam lubuk hatinya yakin akan kehidupan akhirat!


5 Ini merupakan suatu paparan tentang salah satu doktrin mendasar Al-Quran, yaitu: doktrin kontinuitas-historis wahyu Allah. Hidup—demikian Al-Quran mengajarkan kepada kita—bukanlah sekadar rentetan peristiwa yang terpisah-pisah, melainkan merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan organik: dan hukum ini juga berlaku bagi kehidupan akal-pikiran, yang di dalamnya pengalaman keagamaan manusia (dalam pengertian akumulatif) menjadi salah satu bagiannya. Karena itu, agama yang diajarkan oleh Al-Quran hanya dapat dipahami dengan benar berdasarkan latar belakang agama-agama monoteis besar sebelumnya yang—menurut keyakinan umat Mustim—memuncak dan mencapai rumusan akhirnya dalam agama Islam.


Surah Al-Baqarah Ayat 5

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

ulā`ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụn

5. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti petunjuk [yang datang] dari Pemelihara mereka; dan mereka, mereka itulah orang-orang yang akan meraih kebahagiaan!


Surah Al-Baqarah Ayat 6

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

innallażīna kafarụ sawā`un ‘alaihim a anżartahum am lam tunżir-hum lā yu`minụn

6. PERHATIKANLAH, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran6—sama saja bagi mereka, baik engkau beri peringatan maupun tidak kau beri peringatan: mereka tidak akan beriman.


6 Berlawanan dengan istilah al-kafirun (“orang-orang yang mengingkari kebenaran”) yang sering digunakan, penggunaan bentuk lampau (al-madhi) dalam alladzina kafaru* menunjukkan niat yang penuh kesadaran dan, karena itu, tepatnya diterjemahkan menjadi “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran”. Penafsiran ini didukung oleh banyak mufasir, khususnya Al-Zamakhsyari (yang dalam tafsirnya atas ayat ini menggunakan ungkapan “orang-orang yang dengan sengaja memutuskan untuk tetap dalam sikap kufr [kekufuran] mereka”). Di bagian lain dalam Al-Quran, orang-orang seperti itu disebut sebagai “yang mempunyai hati, tetapi tidak dapat menangkap kebenaran, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, dan mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar” (Surah Al-A’raf [7]: 179).

Untuk penjelasan tentang istilah kufr (“pengingkaran terhadap kebenaran”), kafir (“orang yang mengingkari kebenaran”), dan seterusnya, lihat catatan no. 4 pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 10, yang di dalamnya konsep ini muncul untuk pertama kalinya dalam sejarah pewahyuan Al-Quran.

* {“Orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” adalah terjemahan yang digunakan penyusun untuk kata kafaru. Kafir diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kafir”. Untuk selanjutnya, “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” adalah padanan dari “orang-orang kafir” dalam terjemahan Al-Quran Depag RI.—AM}


Surah Al-Baqarah Ayat 7

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

khatamallāhu ‘alā qulụbihim wa ‘alā sam’ihim, wa ‘alā abṣārihim gisyāwatuw wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm

7. Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan di mata mereka terdapat suatu tabir;7 dan derita yang dahsyat menanti mereka.


7 Suatu sebutan untuk hukum alam yang ditetapkan oleh Allah, yang di dalamnya seseorang yang terus-menerus mengikuti keyakinan batil dan menolak mendengarkan kebenaran, lama-kelamaan akan kehilangan kemampuan untuk memahami kebenaran “sehingga pada akhirnya, demikianlah kira-kira, sebuah tutup dikenakan pada hatinya” (Raghib). Karena Allah-lah yang telah menetapkan segala hukum alam—yang secara keseluruhan dikenal sebagai sunnatullah (“ketetapan Allah”, the way of God)—”tindakan menutup” ini dinisbahkan kepada-Nya: namun, jelaslah bahwa penutupan itu merupakan akibat dari pilihan bebas manusia dan bukan karena telah ditetapkan sebelumnya (predestined). Begitu juga dengan azab (derita, siksa)—yang di akhirat nanti disediakan bagi mereka yang semasa hidupnya di dunia ini sengaja tetap tuli dan buta terhadap kebenaran—merupakan konsekuensi Iogis dari pilihan bebas mereka, sebagaimana kebahagiaan di akhirat nanti juga merupakan konsekuensi logis dari perjuangan manusia untuk mencapai kesalehan dan pencerahan batin. Dalam pengertian inilah, paparan Al-Quran tentang “pahala” dan “hukuman” Allah harus dipahami.


Surah Al-Baqarah Ayat 8

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

wa minan-nāsi may yaqụlu āmannā billāhi wa bil-yaumil-ākhiri wa mā hum bimu`minīn

8. Dan, ada manusia yang mengatakan, “Kami sungguh beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu tidak [benar-benar] beriman.


Surah Al-Baqarah Ayat 9

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

yukhādi’ụnallāha wallażīna āmanụ, wa mā yakhda’ụna illā anfusahum wa mā yasy’urụn

9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang telah meraih iman—padahal mereka tidak menipu siapa pun, kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.


Surah Al-Baqarah Ayat 10

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

fī qulụbihim maraḍun fa zādahumullāhu maraḍā, wa lahum ‘ażābun alīmum bimā kānụ yakżibụn

10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah membiarkan penyakitnya itu bertambah; dan penderitaan yang pedih menanti mereka disebabkan dusta mereka yang terus-menerus.8


8 Yakni, dusta terhadap Allah dan terhadap manusia—dan juga terhadap diri mereka sendiri. Secara umum, diasumsikan bahwa orang-orang yang disinggung dalam ayat ini pertama-tama adalah kaum munafik Madinah yang, pada tahun-tahun awal setelah hijrah, menyatakan ketaatan mereka secara lahiriah pada Islam, tetapi dalam hati, mereka tetap ragu akan kebenaran risalah Nabi Muhammad Saw. Namun, sebagaimana halnya dengan semua alusi Al-Quran yang mengacu pada peristiwa saat itu atau pada peristiwa historis, ayat-ayat di atas (dan juga ayat-ayat selanjutnya) bermakna umum dan abadi, sebab mengacu pada semua orang yang cenderung menipu diri sendiri untuk menghindari suatu komitmen spiritual.


Surah Al-Baqarah Ayat 11

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

wa iżā qīla lahum lā tufsidụ fil arḍi qālū innamā naḥnu muṣliḥụn

11. Dan, apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian menyebarkan kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, “Kami tidak lain hanyalah mengadakan perbaikan!”


Surah Al-Baqarah Ayat 12

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

alā innahum humul-mufsidụna wa lākil lā yasy’urụn

12. Oh, sungguh, mereka itulah orang-orang yang menyebarkan kerusakan—tetapi mereka tidak memahaminya!9


9 Tampaknya, ini merupakan sindiran bagi orang-orang yang menentang segala bentuk “campur tangan” pertimbangan keagamaan dalam urusan praktis, sehingga—sering tanpa sadar, karena menganggap bahwa mereka “tidak lain hanyalah mengadakan perbalkan”—turut berperan menciptakan kacauan moral dan sosial yang disinggung dalam ayat berikutnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 13

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

wa iżā qīla lahum āminụ kamā āmanan-nāsu qālū a nu`minu kamā āmanas-sufahā`, alā innahum humus-sufahā`u wa lākil lā ya’lamụn

13. Dan, apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah sebagaimana orang lain telah beriman,” mereka menjawab, “Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang yang lemah-akal itu beriman?” Oh, sungguh, mereka itulah orang-orang yang lemah-akal—tetapi mereka tidak mengetahuinya!


Surah Al-Baqarah Ayat 14

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

wa iżā laqullażīna āmanụ qālū āmannā, wa iżā khalau ilā syayāṭīnihim qālū innā ma’akum innamā naḥnu mustahzi`ụn

14. Dan, apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang telah meraih iman, mereka menyatakan, “Kami beriman [seperti kalian beriman]”; tetapi ketika mereka sendirian bersama dorongan-dorongan jahat mereka10 saja, mereka berkata, “Sungguh, kami bersama kalian; kami hanyalah berolok-olok!”


10 Lit., “setan-setan mereka” (syayathin, jamak dari syaithan). Menurut bahasa Arab klasik, istilah ini sering menunjuk pada orang-orang “yang, karena terus-menerus melakukan kejahatan (tamarrud), telah menjadi seperti setan” (Al-Zamakhsyari): sebuah penafsiran ayat di atas yang disepakati oleh banyak mufasir. Namun, istilah syaithan—yang berasal dari verba syathana, yang berarti “dia telah [atau ‘menjadi’] jauh [dari semua kebaikan dan kebenaran]” (Lisan Al-‘Arab, Taj Al-‘Arus)—sering digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan kecenderungan “setani” (yakni, sifat yang sangat jahat) yang bercokol dalam jiwa manusia, dan terutama segala dorongan batin yang berlawanan dengan kebenaran dan moralitas (Raghib).


Surah Al-Baqarah Ayat 15

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

allāhu yastahzi`u bihim wa yamudduhum fī ṭugyānihim ya’mahụn

15. Allah akan memberikan balasan atas olok-olokan mereka11 dan akan membiarkan mereka sejenak dalam kesombongan mereka yang melampaui batas, tersandung ke sana kemari dalam keadaan buta:


11 Lit., “Allah akan mengolok-olok mereka”. Terjemahan saya sejalan dengan penafsiran yang umum diterima atas ungkapan ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 16

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

ulā`ikallażīnasytarawuḍ-ḍalālata bil-hudā fa mā rabiḥat tijāratuhum wa mā kānụ muhtadīn

16. [sebab,] mereka itulah orang-orang yang telah menukar petunjuk dengan kesesatan; dan tidaklah perniagaan itu membawa keuntungan bagi mereka, dan tidak pula mereka mendapat petunjuk [di tempat lain].


Surah Al-Baqarah Ayat 17

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

maṡaluhum kamaṡalillażistauqada nārā, fa lammā aḍā`at mā ḥaulahụ żahaballāhu binụrihim wa tarakahum fī ẓulumātil lā yubṣirụn

17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang-orang yang menyulut api: namun, segera setelah api itu menerangi sekeliling mereka, Allah menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam gelap gulita, yang di dalamnya mereka tidak dapat melihat:


Surah Al-Baqarah Ayat 18

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

ṣummum bukmun ‘umyun fa hum lā yarji’ụn

18. tuli, bisu, buta—dan mereka tidak dapat kembali.


Surah Al-Baqarah Ayat 19

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

au kaṣayyibim minas-samā`i fīhi ẓulumātuw wa ra’duw wa barq, yaj’alụna aṣābi’ahum fī āżānihim minaṣ-ṣawā’iqi ḥażaral-maụt, wallāhu muḥīṭum bil-kāfirīn

19. Atau seperti [perumparnaan] hujan lebat yang deras dari langit, disertai gelap gulita, guntur, dan halilintar: mereka menyumbat telinga dengan jari-jari mereka untuk menahan bunyi guntur karena takut mati; tetapi Allah meliputi [dengan kekuatan-Nya] semua orang yang mengingkari kebenaran.


Surah Al-Baqarah Ayat 20

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

yakādul-barqu yakhṭafu abṣārahum, kullamā aḍā`a lahum masyau fīhi wa iżā aẓlama ‘alaihim qāmụ, walau syā`allāhu lażahaba bisam’ihim wa abṣārihim, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

20. Halilintar itu nyaris saja melenyapkan penglihatan mereka; setiap kali halilintar itu menyinari mereka, mereka berjalan menuju sinar itu, dan setiap kali kegelapan menimpa mereka, mereka berhenti.

Dan jika Allah menghendaki, Dia benar-benar dapat melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka:12 sebab, sungguh, Allah berkuasa menetapkan apa saja.


12 Implikasinya yang jelas adalah: “tetapi Dia tidak menghendaki ini”—yakni, Dia tidak menutup kemungkinan bahwa “orang-orang yang telah menukar petunjuk dengan kesesatan” itu suatu saat dapat memahami kebenaran dan memperbaiki jalan hidupnya. Ungkapan “pendengaran dan penglihatan mereka” jelas merupakan suatu metonimia yang menunjukkan kemampuan instingtif manusia dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan juga menunjukkan tanggung jawab moralnya.

Perumpamaan “orang-orang yang menyulut api”, saya kira, merupakan suatu kiasan terhadap sebagian orang yang hanya memercayai “pendekatan ilmiah” sebagai cara untuk menerangkan dan menjelaskan seluruh aspek yang tak diketahui dalam kehidupan dan agama, sehingga mereka dengan angkuh menolak mengakui bahwa apa pun dapat berada di luar jangkauan akal manusia. “Kesombongan yang melampaui batas” ini, demikian Al-Quran mengistilahkannya, tak pelak akan menimpakan kepada para pelakunya—dan kepada masyarakat yang didominasi oleh orang-orang seperti itu—halilintar kekecewaan yang “nyaris saja melenyapkan penglihatan mereka”, yakni semakin memperlemah persepsi moral mereka dan memperdalam “ketakutan mereka terhadap kematian”.


Surah Al-Baqarah Ayat 21

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

yā ayyuhan-nāsu’budụ rabbakumullażī khalaqakum wallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn

21. WAHAI, MANUSIA! Sembahlah Pemelihara kalian, yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang hidup sebelum kalian agar kalian senantiasa sadar kepada-Nya


Surah Al-Baqarah Ayat 22

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

allażī ja’ala lakumul-arḍa firāsyaw was-samā`a binā`aw wa anzala minas-samā`i mā`an fa akhraja bihī minaṡ-ṡamarāti rizqal lakum, fa lā taj’alụ lillāhi andādaw wa antum ta’lamụn

22. yang telah menjadikan bumi sebagai tempat istirahat bagi kalian dan langit sebagai atap, dan telah mencurahkan air dari langit sehingga menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki kalian: maka, janganlah kalian menyatakan bahwa ada kekuatan lain yang dapat menandingi Allah,13 jika kalian mengetahui [bahwa Dia Maha Esa].


13 Lit., “jangan memberikan tandingan (andad, jamak dari nidd) apa pun kepada Allah”. Ada kesepakatan bulat di kalangan mufasir bahwa istilah ini menunjukkan setiap objek pemujaan yang dilekati dengan sebagian atau seluruh sifat Allah, baik dipahami sebagai Tuhan “sebagaimana seharusnya” atau sebagai orang suci yang dianggap memiliki kekuatan Ilahi atau semi-Ilahi tertentu. Pengertian ini hanya dapat ditunjukkan dengan penerjemahan bebas atas istilah tersebut.


Surah Al-Baqarah Ayat 23

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa ing kuntum fī raibim mimmā nazzalnā ‘alā ‘abdinā fa`tụ bisụratim mim miṡlihī wad’ụ syuhadā`akum min dụnillāhi ing kuntum ṣādiqīn

23. Dan, jika kalian ragu terhadap bagian mana pun dari apa yang Kami turunkan secara bertahap kepada hamba Kami [Muhammad],14 buatlah sebuah surah yang setara nilainya dan panggillah siapa saja selain Allah sebagai saksi bagi kalian15—jika apa yang kalian katakan itu benar!


14 Yakni, risalah yang tema utamanya adalah doktrin Keesaan dan Keunikan Allah. Dengan menggunakan kata “ragu” (raib), ayat ini dimaksudkan untuk mengingatkan kalimat pembuka surah ini: “Kitab Ilahi ini—yang tiada keraguan tentangnya …”, dan seterusnya. Fakta bahwa wahyu diturunkan secara bertahap ditunjukkan melalui bentuk gramatikal nazzalna—hal yang penting dalam konteks ini, sebab para penentang Nabi berpendapat bahwa Al-Quran tidak mungkin bersumber dari Allah karena diturunkan secara bertahap, tidak sekaligus dalam satu bentuk yang utuh (Al-Zamakhsyari).

15 Lit., “datanglah dengan satu surah seperti itu dan panggillah saksi-saksi kalian selain Allah”—yakni, “untuk membuktikan bahwa jerih payah sastra hipotetis kalian itu dapat menyamai bagian mana pun dari Al-Quran”. Tantangan ini juga terdapat dalam dua surah lainnya (Surah Yunus [10]: 38 dan Surah Hud [11]: 13, yang dalam kasus yang disebutkan terakhir ini, orang-orang kafir diseru untuk membuat 10 surah yang memiliki nilai yang sama dengan surah-surah Al-Quran). Lihat juga Surah Al-Isra’ [17]: 88.


Surah Al-Baqarah Ayat 24

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

fa il lam taf’alụ wa lan taf’alụ fattaqun-nārallatī waqụduhan-nāsu wal-ḥijāratu u’iddat lil-kāfirīn

24. Dan, jika kalian tidak dapat melakukannya—dan pasti kalian tidak akan dapat melakukannya—sadarlah akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu16, yang menanti semua orang yang mengingkari kebenaran!


16 Jelaslah bahwa ini menunjukkan semua objek sesembahan selain Allah—ketidakberdayaan dan kelemahan mereka disimbolkan dengan batu yang mati—sedangkan kata “manusia” melambangkan tindakan-tindakan manusia yang menyimpang dari jalan kebenaran (bdk. Al-Manar I, hh.197 dan seterusnya): ingatan terhadap hal-hal ini niscaya akan menambah penderitaan (azab) yang dirasakan oleh para pendosa itu di akhirat, azab yang dalam Al-Quran disebut sebagai “neraka” (nar).


Surah Al-Baqarah Ayat 25

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wa basysyirillażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti anna lahum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, kullamā ruziqụ min-hā min ṡamaratir rizqang qālụ hāżallażī ruziqnā ming qablu wa utụ bihī mutasyābihā, wa lahum fīhā azwājum muṭahharatuw wa hum fīhā khālidụn

25. Namun, kepada orang-orang yang telah meraih iman* dan berbuat kebajikan, sampaikanlah berita gembira bahwa bagi mereka taman-taman yang dilalui aliran sungai. Setiap kali mereka diberi buah-buahan dari taman itu sebagai rezeki mereka yang telah ditetapkan, mereka akan berkata, “Inilah yang dahulu diberikan kepada kami sebagai rezeki!”—sebab, mereka akan diberi sesuatu yang mengingatkan pada [masa lalu] itu.17 Di sana mereka akan memiliki pasangan yang suci dan di sana mereka akan hidup kekal.


* {Those who have attained to faith, “orang-orang yang telah meraih iman”, adalah terjemahan Asad untuk alladzina amanu, yang berbentuk madhi, yakni menunjuk arti masa lalu (telah). Asad membedakannya dari bentuk mudhari-nya (yu’minun), yang menunjuk arti masa kini (sedang berproses), yang dia terjemahkan menjadi who believe, “yang beriman” (lihat ayat 3). Dalam terjemahan Depag RI, kedua kata tersebut lazimnya tidak dibedakan dan diterjemahkan menjadi “orang-orang beriman”. Untuk seterusnya, kalimat “orang-orang yang telah meraih iman” adalah padanan dari “orang-orang beriman” dalam terjemahan Depag RI.—AM}

17 Lit., “sesuatu yang menyerupainya”. Beragam penafsiran, sebagian di antaranya bercorak esoterik dan sangat spekulatif, telah diberikan terhadap ayat ini. Mengenai cara saya menerjemahkannya, saya mengacu pada Muhammad ‘Abduh (dalam Al-Manar I, hh. 232 dan seterusnya) yang menafsirkan ungkapan “Inilah yang dahulu diberikan kepada kami sebagai rezeki!” menjadi: “Inilah yang dijanjikan kepada kami ketika hidup di dunia, sebagai ganjaran atas iman dan amal kebajikan kami”. Dengan kata lain, seluruh perilaku dan sikap manusia selama di dunia akan tecermin dalam “buah” atau konsekuensi dalam kehidupan akhirat—sebagaimana diungkapkan di ayat lain dalam Al-Quran, “Maka, siapa pun yang mengerjakan kebaikan, walau seberat atom, niscaya akan melihatnya; dan siapa pun yang mengerjakan kejahatan, walau seberat atom, niscaya akan melihatnya” (Surah Al-Zalzalah [99]: 7-8). Adapun mengenai sebutan “pasangan” pada kalimat berikutnya, perlu dicatat bahwa istilah zauj (jamak: azwaj) bisa menunjuk pada komponen mana pun dari suatu pasangan, yakni bisa merujuk ke pihak laki-laki maupun perempuan.


Surah Al-Baqarah Ayat 26

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

innallāha lā yastaḥyī ay yaḍriba maṡalam mā ba’ụḍatan fa mā fauqahā, fa ammallażīna āmanụ fa ya’lamụna annahul-ḥaqqu mir rabbihim, wa ammallażīna kafarụ fa yaqụlụna māżā arādallāhu bihāżā maṡalā, yuḍillu bihī kaṡīraw wa yahdī bihī kaṡīrā, wa mā yuḍillu bihī illal-fāsiqīn

26. Perhatikanlah, Allah tidak segan-segan mengemukakan sebuah perumpamaan seekor nyamuk atau perumpamaan sesuatu yang [bahkan] lebih rendah daripada itu.18 Adapun orang-orang yang telah meraih iman, mereka tahu bahwa (perumpamaan) itu adalah kebenaran dari Pemelihara mereka—sementara orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?”

Dengan cara ini, Dia menjadikan banyak orang tersesat, sebagaimana Dia menunjuki banyak orang ke (jalan yang) benar: namun, tiada seorang pun yang disesatkan-Nya melalui (perumpamaan) itu kecuali orang-orang yang fasik,


18 Lit., “sesuatu di atasnya”, yakni berkaitan dengan derajat kecilnya yang ditekankan di sini—seperti orang yang mengatakan, “si anu adalah orang yang paling rendah, dan bahkan lebih daripada itu” (Al-Zamakhsyari). Disebutkannya “perumpamaan oleh Allah”, segera setelah diceritakannya gambaran tentang taman-taman surga dan penderitaan dalam neraka dalam kehidupan akhirat, dimaksudkan untuk menegaskan watak alegoris dari tamsil ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 27

الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

allażīna yangquḍụna ‘ahdallāhi mim ba’di mīṡāqihī wa yaqṭa’ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍ, ulā`ika humul-khāsirụn

27. yang memutus ikatan mereka dengan Allah sesudah ikatan itu dibina [di dalam fitrah mereka]19 dan menceraikan apa yang telah Allah perintahkan agar dihubungkan, dan menyebarkan kerusakan di muka bumi: inilah orang-orang yang akan merugi.


19 “Ikatan dengan Allah” (‘ahd Allah, yang biasanya diterjemahkan menjadi “perjanjian Allah”) di sini tampaknya mengacu pada kewajiban moral manusia untuk memanfaatkan anugerah-anugerah bawaannya sejak lahir—baik anugerah intelektual maupun fisik—dengan cara yang Allah kehendaki. “Pembinaan” ikatan ini muncul dari daya nalar manusia yang, jika digunakan dengan benar, pasti mendorong manusia untuk menyadari kelemahan dan kebergantungan dirinya sendiri pada suatu kekuatan penyebab dan, karenanya, secara bertahap akan sampai pada pemahaman tentang kehendak Allah berkenaan dengan perilakunya sendiri. Penafsiran “ikatan dengan Allah” ini tampaknya diisyaratkan oleh fakta bahwa tidak ada sebutan khusus tentang “perjanjian” apa pun dalam ayat sebelum atau sesudah ayat ini. Tidak dicantumkannya—secara sengaja—rujukan penjelasan apa pun dalam hal ini, menunjukkan bahwa ungkapan “ikatan dengan Allah” di sini berarti sesuatu yang berakar dalam keadaan manusia itu sendiri dan, karena itu, dapat dipahami baik secara naluriah maupun melalui pengalaman-sadar: yaitu, hubungan bawaan dengan Allah yang membuat-Nya “lebih dekat kepada manusia daripada urat-lehernya sendiri” (Surah Qaf [50]: 16). Untuk penjelasan tentang “apa yang telah Allah perintahkan agar dihubungkan”, lihat Surah Ar-Ra’d [13], catatan no. 43.


Surah Al-Baqarah Ayat 28

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

kaifa takfurụna billāhi wa kuntum amwātan fa aḥyākum, ṡumma yumītukum ṡumma yuḥyīkum ṡumma ilaihi turja’ụn

28. Bagaimana kalian menyangkal Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Dia memberi kalian kehidupan; dan Dia akan menjadikan kalian mati, lalu kembali menghidupkan kalian, kemudian kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan?


Surah Al-Baqarah Ayat 29

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

huwallażī khalaqa lakum mā fil-arḍi jamī’an ṡummastawā ilas-samā`i fa sawwāhunna sab’a samāwāt, wa huwa bikulli syai`in ‘alīm

29. Dia-lah yang telah menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi, dan telah menerapkan rancangan-Nya di langit dan membentuknya menjadi tujuh langit;20 dan hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.


20 Istilah sama’ (“angkasa” atau “langit”) digunakan untuk menunjuk pada segala yang membentang bagaikan atap di atas apa pun. Jadi, langit yang tampak membentang bagaikan kubah di atas bumi dan membentuk tudung—begitulah kira-kira—bagi bumi, disebut sama’: dan makna utama istilah sama’ dalam Al-Quran. Dalam pengertiannya yang luas, ia berkonotasi “sistem kosmik”. Adapun mengenat “tujuh langit”, harus diingat bahwa dalam bahasa Arab—dan juga dalam bahasa Semit lainnya—angka “tujuh” sering sama artinya dengan “beberapa” (lihat Lisan Al-‘Arab), sebagaimana “tujuh puluh” atau “tujuh ratus” sering berarti “banyak” atau “sangat banyak” (Taj Al-‘Arus). Hal ini, jika dipahami dengan mempertimbangkan definisi linguistik lazimnya—yakni bahwa “setiap sama’ adalah sebuah sama’ dalam kaitannya dengan apa yang ada di bawahnya” (Raghib)—dapat menjelaskan bahwa “tujuh langit” di sini menunjukkan banyaknya sistem kosmik.

Tentang penafsiran tsumma yang saya terjemahkan menjadi “dan” di awal kalimat ini, lihat bagian pertama dari catatan no. 43 pada Surah Al-A’raf [7].


Surah Al-Baqarah Ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wa iż qāla rabbuka lil-malā`ikati innī jā’ilun fil-arḍi khalīfah, qālū a taj’alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā`, wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a’lamu mā lā ta’lamụn

30. DAN, LIHATLAH!21 Pemelihara kalian berkata kepada para malaikat, “Perhatikanlah, Aku hendak menjadikan seseorang di muka bumi yang akan mewarisinya.”22

Mereka berkata, “Akankah Engkau menempatkan di bumi itu (manusia) yang akan menyebarkan kerusakan di atasnya dan menumpahkan darah—padahal kami-lah yang senantiasa bertasbih memuji kemuliaan-Mu yang tiada terhingga, dan memuji Engkau, dan menguduskan nama-Mu?”

[Allah] menjawab, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”


21 Kata seru “Iihatlah” dalam konteks ini tampaknya menjadi satu-satunya terjemahan yang memadai dari partikel idz, yang biasanya—dan tanpa kecermatan yang memadai terhadap berbagai variasi penggunaannya dalam struktur bahasa Arab—diterjemahkan menjadi “ketika”. Meskipun terjemahan yang terakhir ini sering bisa dibenarkan, idz juga digunakan untuk menunjukkan “suatu kejadian tiba-tiba atau yang tidak diharapkan” (bdk. Lane I, h. 39) atau suatu peralihan tiba-tiba dalam percakapan. Alegori selanjutnya, yang berkenaan dengan kemampuan nalar yang ditanamkan pada manusia, dihubungkan secara logis dengan ayat-ayat sebelumnya.

22 Lit., “menjadikan di muka bumi seorang pengganti (successor)” atau “wakil (vice-gerent)”. Istilah khalifah—yang berasal dari verba khalafa, “dia menggantikan [yang lain]”—digunakan dalam alegori ini untuk menunjukkan keunggulan absah manusia di muka bumi, yang dengan tepat sekali diterjemahkan dengan ungkapan “dia akan mewarisi bumi” (dalam pengertian diberi kepemilikan atasnya). Lihat juga Surah Al-An’am [6]: 165, Surah An-Naml [27]: 62, dan Surah Fathir [35]: 39, yang di dalamnya semua manusia disebut sebagai khala’if al-ardh.


Surah Al-Baqarah Ayat 31

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa ‘allama ādamal-asmā`a kullahā ṡumma ‘araḍahum ‘alal-malā`ikati fa qāla ambi`ụnī bi`asmā`i hā`ulā`i ing kuntum ṣādiqīn

31. Dan, Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu;23 kemudian, Dia menanyakan pengetahuan para malaikat tentang nama-nama itu dan berkata, “Terangkanlah kepada-Ku nama-nama [segala sesuatu] ini, jika yang kalian katakan itu memang benar!”24


23 Lit., “segala nama”. Menurut semua filolog, ism (“nama”) adalah sebuah ungkapan untuk “menyampaikan pengetahuan [tentang sesuatu] … yang diterapkan untuk menunjukkan suatu substansi (zat), atau aksiden, atau sifat, dalam rangka mengenali/melakukan pembedaan (distingsi)” (Lane IV, h. 1435): dalam terminologi filsafat disebut “konsep”. Dari sini, dapat disimpulkan secara logis bahwa “pengetahuan tentang segala nama” di sini menunjukkan kemampuan manusia untuk menyusun definisi logis dan, karena itu, juga menunjukkan kemampuan manusia untuk menyusun pemikiran konseptual. Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” di sini adalah seluruh umat manusia, ditunjukkan dengan jelas dari ucapan para malaikat pada ayat sebelumnya yang merujuk kepada Adam sebagai: “yang akan menyebarkan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah”; hal yang sama juga tampak dari Surah Al-A’raf [7]: 11.

24 Yakni, bahwa merekalah yang, karena kesuciannya, lebih berhak untuk “mewarisi bumi”.


Surah Al-Baqarah Ayat 32

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

qālụ sub-ḥānaka lā ‘ilma lanā illā mā ‘allamtanā, innaka antal-‘alīmul-ḥakīm

32. Mereka menjawab, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan Engkau! Kami tidak memiliki pengetahuan, kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkau sajalah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.”


Surah Al-Baqarah Ayat 33

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

qāla yā ādamu ambi`hum bi`asmā`ihim, fa lammā amba`ahum bi`asmā`ihim qāla a lam aqul lakum innī a’lamu gaibas-samāwāti wal-arḍi wa a’lamu mā tubdụna wa mā kuntum taktumụn

33. Berfirmanlah Dia, “Wahai, Adam, sampaikan kepada mereka nama-nama [segala sesuatu] ini.”

Dan, segera setelah [Adam] menyampaikan kepada mereka nama-nama itu, [Allah] berfirman, “Bukankah sudah Aku katakan kepada kalian, ‘Sungguh, hanya Aku-lah yang mengetahui realitas tersembunyi dari lelangit dan bumi, dan mengetahui semua yang kalian kemukakan dan semua yang kalian sembunyikan’?”


Surah Al-Baqarah Ayat 34

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, abā wastakbara wa kāna minal-kāfirīn

34. Dan, ketika Kami perintahkan kepada para malaikat, “Sujudlah kalian di hadapan Adam!”25—mereka semua pun bersujud, kecuali iblis yang menolak dan menyombongkan diri: dan karena itulah, dia termasuk di antara mereka yang mengingkari kebenaran.26


25 Untuk menunjukkan bahwa berkat kemampuan berpikir konseptualnya, manusia lebih unggul dalam hal ini ketimbang para malaikat sekalipun.

26 Untuk penjelasan mengenai nama sang Malaikat Pembangkang ini, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 10. Fakta “pembangkangan” ini, yang ditekankan berulang-ulang dalam Al-Quran, mendorong beberapa mufasir untuk berkesimpulan bahwa iblis bukanlah tergolong salah satu malaikat, sebab malaikat tidak dapat berbuat dosa: “mereka tidak bersikap sombong dan melaksanakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka” (Surah Al-Nahl [16]: 49-50). Namun, bertentangan dengan penafsiran ini, para mufasir lain menunjuk pada ungkapan Al-Quran mengenai perintah Allah kepada para malaikat dan penolakan iblis untuk menaati, yang menjelaskan bahwa pada saat diperintah itu, iblis memang masih merupakan salah satu penghuni surga. Karena itu, kita harus berasumsi bahwa “pembangkangan” iblis ini memiliki makna simbolis belaka dan, sebenarnya, merupakan akibat dari fungsi tertentu yang ditetapkan Allah kepadanya (lihat catatan no. 31 pada Surah Al-Hijr [15]: 41). 


Surah Al-Baqarah Ayat 35

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

wa qulnā yā ādamuskun anta wa zaujukal-jannata wa kulā min-hā ragadan ḥaiṡu syi`tumā wa lā taqrabā hāżihisy-syajarata fa takụnā minaẓ-ẓālimīn

35. Dan, Kami berfirman, “Wahai, Adam, tinggallah engkau dan istrimu di taman ini,27 dan makanlah sebebas-bebasnya apa saja yang kalian kehendaki; tetapi janganlah kalian dekati pohon yang satu ini agar kalian tidak menjadi orang yang zalim.”28


27 Lit., “taman” (al-jannat, the garden). Ada hanyak perbedaan pendapat di kalangan para mufasir tentang apa yang dimaksud dengan “taman” di sini: apakah taman dalam pengertian duniawi, atau surga dalam kehidupan akhirat yang menanti orang-orang saleh, atau taman khusus di dalam surga. Menurut beberapa mufasir klasik (lihat Al-Manar I, h. 277), yang dimaksud dalam ayat ini adalah tempat tinggal duniawi di bumi, yakni suatu lingkungan yang penuh kenyamanan, kebahagiaan, dan kesucian. Namun, bagaimanapun penafsirannya, cerita tentang Adam ini jelas merupakan salah satu ayat alegoris (mutasyabihat) sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Alu ‘Imran [3]: 7.

28 Di surah lain dalam Al-Quran (Surah ThaHa [20]: 120), pohon ini disebut sebagai “pohon kehidupan abadi”, dan dalam Bibel (Kitab Kejadian 2: 9) sebagai “pohon kehidupan” dan “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. Untuk penjelasan tentatif mengenai tamsil ini, lihat catatan no. 106 pada Surah ThaHa [20]: 120.


Surah Al-Baqarah Ayat 36

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

fa azallahumasy-syaiṭānu ‘an-hā fa akhrajahumā mimmā kānā fīhi wa qulnahbiṭụ ba’ḍukum liba’ḍin ‘aduww, wa lakum fil-arḍi mustaqarruw wa matā’un ilā ḥīn

36. Akan tetapi, setan menyebabkan mereka berdua tergelincir di dalamnya sehingga membuat mereka kehilangan kedudukan mereka yang semula.29 Lalu, Kami berfirman, “Turunlah kalian, [dan selanjutnya jadilah] musuh satu sama lain; dan di bumi, kalian akan memiliki tempat tinggal dan penghidupan untuk sementara!”30


29 Lit., “mengeluarkan mereka dari tempat mereka selama ini berada”: yakni, dengan membujuk mereka untuk memakan buah dari pohon terlarang.

30 Dalam kalimat ini, lawan bicara berubah dari bentuk ganda (mutsanna) menjadi bentuk jamak: suatu indikasi lebih lanjut bahwa nilai moral kisah tersebut berkenaan dengan umat manusia secara keseluruhan. Lihat juga Surah Al-A’raf [7], catatan no. 16.


Surah Al-Baqarah Ayat 37

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

fa talaqqā ādamu mir rabbihī kalimātin fa tāba ‘alaīh, innahụ huwat-tawwābur-raḥīm

37. Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat [petunjuk] dari Pemeliharanya dan Dia menerima tobatnya: sebab, sungguh, Dia sajalah Sang Penerima Tobat, Sang Pemberi Karunia.


Surah Al-Baqarah Ayat 38

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

qulnahbiṭụ min-hā jamī’ā, fa immā ya`tiyannakum minnī hudan fa man tabi’a hudāya fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

38. [Karena walaupun] Kami berfirman, “Turunbh kalian semua dari [kedudukan] ini,” tetapi pasti akan datang kepada kalian petunjuk dari-Ku: dan orang-orang yang mengikuti petunjuk-Ku tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati;


Surah Al-Baqarah Ayat 39

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

39. namun, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan mendustakan ayat-ayat Kami—mereka ditetapkan di neraka, dan di dalamnyalah mereka akan berkediaman.


Surah Al-Baqarah Ayat 40

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

yā banī isrā`īlażkurụ ni’matiyallatī an’amtu ‘alaikum wa aufụ bi’ahdī ụfi bi’ahdikum, wa iyyāya far-habụn

40. WAHAl, BANI ISRAIL!31 Ingatlah nikmat-nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, [niscaya] akan Kupenuhi janji-Ku kepada kalian; dan kepada-Ku, kepada-Ku-lah kalian harus merasa gentar!


31 Pasase ini berkaitan langsung dengan pasase sebelumnya, dalam artian bahwa ayat ini merujuk pada pemberian petunjuk yang berkelanjutan kepada manusia dalam bentuk wahyu Ilahi. Dalam ayat ini, sebagaimana di banyak tempat lain dalam Al-Quran, rujukan kepada Bani Israil muncul mengingat fakta bahwa keyakinan keagamaan mereka merepresentasikan fase konsep monoteistik yang lebih awal, yang lalu mencapai puncaknya dengan pewahyuan Al-Quran.


Surah Al-Baqarah Ayat 41

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ۖ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

wa āminụ bimā anzaltu muṣaddiqal limā ma’akum wa lā takụnū awwala kāfirim bihī wa lā tasytarụ bi`āyātī ṡamanang qalīlaw wa iyyāya fattaqụn

41. Dan, berimanlah pada apa yang [kini] Kuturunkan, yang mempertegas kebenaran yang telah kalian miliki, dan janganlah menjadi yang terdepan di antara orang-orang yang mengingkari kebenarannya; dan jangan pertukarkan ayat-ayat-Ku demi suatu keuntungan yang sepele;32 dan kepada-Ku, kepada-Ku-lah kalian hendaknya sadar!


32 Ini merujuk pada keyakinan kukuh umat Yahudi bahwa hanya merekalah, di antara seluruh bangsa, yang diberi rahmat mendapatkan wahyu Ilahi. “Keuntungan sepele” maksudnya adalah keyakinan mereka bahwa mereka adalah “umat Tuhan”—suatu klaim yang ditolak tegas oleh Al-Quran.


Surah Al-Baqarah Ayat 42

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa lā talbisul-ḥaqqa bil-bāṭili wa taktumul-ḥaqqa wa antum ta’lamụn

42. Dan, janganlah membungkus kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah dengan sengaja menyembunyikan kebenaran itu;33


33 Yang dimaksud dengan “membungkus (talbisu) kebenaran dengan kebatilan” adalah menyelewengkan teks Kitab Bibel, sebagaimana sering dituduhkan Al-Quran kepada kaum Yahudi (dan kemudian dikonfirmasi oleh kritik tekstual yang objektif), sedangkan “menyembunyikan kebenaran” mengacu pada pengabaian atau penafsiran batil yang disengaja atas kata-kata Musa dalam ayat-ayat Bibel ini: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan” (Kitab Ulangan 18: 15), dan ungkapan yang dinisbahkan kepada Tuhan sendiri: “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, …” (Kitab Ulangan 18: 18). “Saudara” Bani Israil jelas bangsa Arab, terutama kelompok musta’ribah (“yang ter-Arab-kan”) di antara mereka, yang silsilahnya sampai kepada Nabi Isma’il a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.: dan, karena suku Nabi Arab ini, Quraisy, termasuk dalam kelompok ini, ayat-ayat Bibel di atas harus ditafsirkan sebagai telah menyebutkan kedatangannya.


Surah Al-Baqarah Ayat 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta warka’ụ ma’ar-rāki’īn

43. dan berteguhlah mendirikan shalat, berikanlah derma,34 dan tunduk rukuklah dalam shalat, bersama semua orang yang rukuk.


34 Dalam hukum Islam, zakah berarti suatu iuran wajib (obligatory tax) bagi kaum Muslim yang dimaksudkan untuk menyucikan harta dan pendapatan seseorang dari noda egoisme (karena itu dinamai zakah: penyucian). Hasil pajak ini harus diberikan terutama, tetapi bukan hanya, kepada fakir miskin. Oleh karena itu, setiap kali istilah ini mengandung implikasi hukum, saya menerjemahkannya menjadi “iuran penyucian” (the purifying dues, zakat)*. Namun, karena dalam ayat ini istilah tersebut merujuk kepada Bani Israil dan jelas-jelas hanya menyiratkan tindakan sedekah terhadap fakir miskin, istilah tersebut lebih tepat diterjemahkan menjadi “sedekah” (alms-giving) atau “derma” (charity). Dalam semua ayat lainnya, saya juga menggunakan terjemahan yang disebutkan terakhir ini ketika istilah zakah, sekalipun berhubungan dengan kaum Muslim, tidak mengacu secara khusus pada iuran wajib itu sendiri (misalnya, dalam Surah Al-Muzzammil [73]: 20, tempat istilah ini muncul pertama kali menurut kronologi turunnya wahyu).

* {Karena istilah “zakat” sudah umum diterima da!am bahasa Indonesia, dalam terjemahan Indonesia ini istilah “zakat” tetap dipertahankan, yakni ketika Asad menerjemahkan zakah sebagai the purifying dues. Namun, apabila Asad menerjemahkannya sebagai charity, kami menggunakan kata “derma”.— peny.}


Surah Al-Baqarah Ayat 44

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

a ta`murụnan-nāsa bil-birri wa tansauna anfusakum wa antum tatlụnal-kitāb, a fa lā ta’qilụn

44. Apakah kalian menyuruh orang lain agar menjadi saleh, padahal kalian melupakan diri kalian sendiri—padahal kalian membaca kitab Ilahi? Tidakkah kalian hendak menggunakan akal kalian?


Surah Al-Baqarah Ayat 45

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

wasta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā ‘alal-khāsyi’īn

45. Dan, mintalah pertolongan dalam kesabaran yang teguh dan shalat: dan sungguh, yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang rendah hati,


Surah Al-Baqarah Ayat 46

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

allażīna yaẓunnụna annahum mulāqụ rabbihim wa annahum ilaihi rāji’ụn

46. yang yakin bahwa mereka akan bertemu Pemeliharanya, dan kepada-Nya-lah mereka akan kembali.


Surah Al-Baqarah Ayat 47

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

yā banī isrā`īlażkurụ ni’matiyallatī an’amtu ‘alaikum wa annī faḍḍaltukum ‘alal-‘ālamīn

47. Wahai, Bani lsrail! Ingatlah nikmat-nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, dan betapa Aku telah mengutamakan kalian di atas semua umat yang lain;


Surah Al-Baqarah Ayat 48

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

wattaqụ yaumal lā tajzī nafsun ‘an nafsin syai`aw wa lā yuqbalu min-hā syafā’atuw wa lā yu`khażu min-hā ‘adluw wa lā hum yunṣarụn

48. dan sadarlah selalu [akan datangnya] suatu Hari ketika tak seorang pun akan berguna bagi yang lain sama sekali, juga syafaat* dari salah seorang di antara mereka dan tebusan dari mereka tidak akan diterima,35 dan tak seorang pun akan ditolong.


* {syafa’atun: intercession: syafaat, perantaraan, campur tangan dalam memberi pertolongan—peny.}

35 “Mengambil tebusan (‘adl)” merupakan suatu singgungan yang jelas terhadap doktrin Kristiani tentang penebusan dosa melalui orang lain dan singgungan terhadap gagasan Yahudi bahwa “umat pilihan”—demikian orang-orang Yahudi memandang diri mereka—akan dibebaskan dari hukuman pada Hari Pengadilan. Kedua gagasan ini dengan keras dibantah oleh Al-Quran.


Surah Al-Baqarah Ayat 49

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

wa iż najjainākum min āli fir’auna yasụmụnakum sū`al-‘ażābi yużabbiḥụna abnā`akum wa yastaḥyụna nisā`akum, wa fī żālikum balā`um mir rabbikum ‘aẓīm

49. Dan, [ingatlah saat] ketika Kami selamatkan kalian dari kaum Fir’aun yang menimpakan penderitaan yang kejam kepada kalian, (yakni) menyembelih anak-anak laki-Iaki kalian, dan [hanya] membiarkan hidup perempuan-perempuan kalian36—suatu cobaan yang dahsyat dari Pemelihara kalian;


36 Lihat Bibel, Kitab Keluaran 1: 15-16, 22.


Surah Al-Baqarah Ayat 50

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

wa iż faraqnā bikumul-baḥra fa anjainākum wa agraqnā āla fir’auna wa antum tanẓurụn

50. dan ketika Kami membelah laut di hadapan kalian sehingga menyelamatkan kalian dan menjadikan para pengikut Fir’aun tenggelam di depan mata kalian sendiri;


Surah Al-Baqarah Ayat 51

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ

wa iż wā’adnā mụsā arba’īna lailatan ṡummattakhażtumul-‘ijla mim ba’dihī wa antum ẓālimụn

51. dan ketika Kami tetapkan bagi Musa empat puluh malam [di Gunung Sinai], dan selama ketidakhadirannya, kalian menyembah anak sapi [emas], sehingga kalian menjadi orang-orang zalim:**


** {“orang-orang zalim” adalah terjemahan dari evildoers, “para pelaku kejahatan” (al-zhalimun).—peny.}


Surah Al-Baqarah Ayat 52

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

ṡumma ‘afaunā ‘angkum mim ba’di żālika la’allakum tasykurụn

52. sekalipun begitu, bahkan setelah itu pun Kami hapuskan dosa kalian ini, supaya kalian bersyukur.37


37 Kisah tentang patung anak sapi yang terbuat dari emas dibahas secara lebih terperinci dalam Surah Al-A’raf [7]: 148 dst. dan Surah ThaHa [20]: 85 dst. Mengenai menyeberangi Laut Merah yang disinggung pada ayat 50 di atas, lihat Surah ThaHa [20]: 77-78 dan Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 63-66, dan juga catatan-catatannya. Empat puluh malam (dan siang) yang dihabiskan Nabi Musa di Gunung Sinai dikisahkan juga dalam Surah Al-A’raf [7]: 142.


Surah Al-Baqarah Ayat 53

وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

wa iż ātainā mụsal-kitāba wal-furqāna la’allakum tahtadụn

53. Dan, [ingatlah suatu waktu] ketika Kami berikan kepada Musa kitab Ilahi—yang [kemudian] menjadi patokan untuk membedakan yang benar dari yang salah38—agar kalian mendapat petunjuk yang benar;


38 Muhammad ‘Abduh menguatkan penafsiran al-furqan di atas (yang dipilih oleh Al-Thabarl, Al-Zamakhsyari, dan mufasir besar lainnya) dengan menandaskan bahwa istilah tersebut juga dapat diterapkan pada “akal manusia, yang memungkinkan kita membedakan yang benar dari yang salah” (Al-Manar III, h. 160); penafsiran yang lebih luas ini tampaknya didasarkan pada Surah Al-Anfal [8]: 41, yang menyebut Perang Badar sebagai yaum al-furqan (“hari pembedaan antara yang benar dan yang salah”). Meskipun istilah al-furqan sering digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan salah satu di antara kitab-kitab suci yang ada, dan terutama Al-Quran sendiri, tidak diragukan lagi bahwa istilah ini juga memiliki makna seperti yang ditunjukkan oleh ‘Abduh: misalnya, dalam Surah Al-Anfal [8]: 29, yang di dalamnya istilah itu dengan jelas mengacu pada daya penilaian moral yang membedakan setiap manusia yang benar-benar sadar akan Allah (bertakwa).


Surah Al-Baqarah Ayat 54

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

wa iż qāla mụsā liqaumihī yā qaumi innakum ẓalamtum anfusakum bittikhāżikumul-‘ijla fa tụbū ilā bāri`ikum faqtulū anfusakum, żālikum khairul lakum ‘inda bāri`ikum, fa tāba ‘alaikum, innahụ huwat-tawwābur-raḥīm

54. dan ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai, kaumku! Sungguh, kalian telah menganiaya diri sendiri dengan menyembah anak sapi; maka, bertobatlah kepada Pencipta kalian dan hinakanlah diri kalian sendiri;39 ini akan menjadi yang terbaik bagi kalian dalam pandangan Pencipta kalian.”

Dan kemudian, Dia menerima tobat kalian: sebab, perhatikanlah, hanya Dia Sang Penerima Tobat, Sang Pemberi Karunia.


39 Lit., “bunuhlah diri kalian sendiri” atau, menurut beberapa mufasir, “saling bunuhlah kalian”. Namun, penafsiran harfiah ini (yang mungkin didasarkan pada cerita Bibel dalam Kitab Keluaran 32: 26-28) tidak meyakinkan karena tidak sejalan dengan seruan sebelumnya agar mereka bertobat, dan tidak sejalan dengan pernyataan sesudahnya bahwa tobat ini telah diterima oleh Allah. Karena itu, saya cenderung pada penafsiran ‘Abd Al-Jabbar (yang dikutip Al-Razi dalam tafsirnya atas ayat ini) yang menyatakan bahwa ungkapan “bunuhlah diri kalian sendiri” di sini digunakan dalam pengertian metaforis (majazan), yakni: “hinakanlah diri kalian sendiri” {mortify yourself}.


Surah Al-Baqarah Ayat 55

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

wa iż qultum yā mụsā lan nu`mina laka ḥattā narallāha jahratan fa akhażatkumuṣ-ṣā’iqatu wa antum tanẓurụn

55. Dan, [ingatlah] ketika kalian berkata, “Hai, Musa, sungguh kami tidak akan beriman kepadamu hingga kami melihat Allah secara langsung!”—lalu petir hukuman40 menyambar kalian, sedangkan kalian menyaksikannya.


40 Al-Quran tidak menyebutkan bagaimana bentuk “petir hukuman” (al-sha’iqah) itu. Para ahli leksikografi memberikan pelbagai penafsiran atas kata ini, tetapi semua sepakat dengan unsur kedahsyatan dan sifat tiba-tiba yang terkandung dalam kata itu (lihat Lane IV, h. 1690).


Surah Al-Baqarah Ayat 56

ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

ṡumma ba’aṡnākum mim ba’di mautikum la’allakum tasykurụn

56. Namun, Kami bangkitkan kalian kembali setelah kalian menjadi bagaikan (orang) mati,41 supaya kalian bersyukur.


41 Lit., “setelah kematian kalian”. Ungkapan maut tidak selalu bermakna kematian jasmani. Para filolog Arab—seperti Raghib—menjelaskan bahwa verba mata (lit., “dia telah mati”), dalam konteks tertentu, berarti “dia kehilangan perasaan, mati rasa”; dan kadang-kadang berarti “kehilangan daya intelektual, mati secara intelektual”; bahkan, kadang-kadang berarti “dia tidur” (lihat Lane VII, h. 2741).


Surah Al-Baqarah Ayat 57

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

wa ẓallalnā ‘alaikumul-gamāma wa anzalnā ‘alaikumul-manna was-salwā, kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum, wa mā ẓalamụnā wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

57. Dan, Kami jadikan awan memberi kenyamanan bagi kalian dengan bayangannya dan Kami turunkan kepada kalian hidangan dari langit dan burung puyuh, [seraya berkata,] “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian.”

Dan, [dengan segala perbuatan dosa mereka,] mereka tidaklah menzalimi Kami—tetapi [semata-mata] menzalimi diri mereka sendiri.


Surah Al-Baqarah Ayat 58

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ ۚ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

wa iż qulnadkhulụ hāżihil-qaryata fa kulụ min-hā ḥaiṡu syi`tum ragadaw wadkhulul-bāba sujjadaw wa qụlụ ḥiṭṭatun nagfir lakum khaṭāyākum, wa sanazīdul-muḥsinīn

58. Dan, [ingatlah suatu masa] ketika Kami berfirman, “Masuklah ke negeri ini,42 dan makanlah sebanyak-banyaknya dari hasil buminya sekehendak kalian; tetapi masukilah pintu gerbangnya dengan rendah hati dan ucapkanlah, ‘Bebaskanlah kami dari beban dosa-dosa kami’,43 [kemudian] Kami akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan akan melipatgandakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.”


42 Kata qaryah pada dasarnya berarti sebuah “desa” atau “kota”, tetapi juga digunakan dalam pengertian “negeri”. Di sini, tampaknya, kata tersebut mengacu pada Palestina.

43 Penafsiran atas kata hiththah dicatat oleh kebanyakan ahli leksikografi (bdk. Lane II, h. 592) berdasarkan pendapat banyak Sahabat Nabi tentang kata itu (untuk kutipan yang relevan, lihat Ibn Katsir dalam penafsirannya atas ayat ini). Jadi, Bani Israil diingatkan agar mengambil kekuasaan atas negeri yang dijanjikan itu (“masukilah pintu gerbangnya”) dengan perasaan rendah hati (lit., “dengan bersujud”, sujjadan, menundukkan diri), dan bukan menganggapnya sebagai sesuatu “yang sudah menjadi hak” bagi mereka.


Surah Al-Baqarah Ayat 59

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

fa baddalallażīna ẓalamụ qaulan gairallażī qīla lahum fa anzalnā ‘alallażīna ẓalamụ rijzam minas-samā`i bimā kānụ yafsuqụn

59. Namun, orang-orang yang berkukuh berbuat zalim mengganti ucapan yang disampaikan kepada mereka dengan ucapan lain:44 maka, Kami timpakan atas orang-orang yang berbuat zalim itu wabah dari langit sebagai balasan atas kefasikan mereka.


44 Berdasarkan sejumlah hadis (yang dikutip Ibn Katsir secara panjang lebar), mereka mempermainkan, dengan maksud mengejek, kata hiththah dengan cara menggantinya dengan sesuatu yang tidak relevan atau tak bermakna. Namun, Muhammad ‘Abduh berpendapat bahwa “ucapan” yang disebutkan dalam ayat 58 hanyalah metafora bagi sikap hati yang dituntut dari mereka, “mengganti” di sini menunjukkan sikap arogansi yang disengaja dalam mengejek perintah Allah (lihat Al-Manar I, hh. 324 dan seterusnya).


Surah Al-Baqarah Ayat 60

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

wa iżistasqā mụsā liqaumihī fa qulnaḍrib bi’aṣākal-ḥajar, fanfajarat min-huṡnatā ‘asyrata ‘ainā, qad ‘alima kullu unāsim masyrabahum, kulụ wasyrabụ mir rizqillāhi wa lā ta’ṡau fil-arḍi mufsidīn

60. Dan, [ingatlah] ketika Musa memohon air bagi kaumnya dan Kami jawab, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”—lalu memancarlah darinya dua belas mata air sehingga semua kaum mengetahui sumber minumannya.45 [Dan, Musa berkata,] “Makan dan minumlah rezeki yang dianugerahkan Allah dan janganlah berbuat jahat di muka bumi dengan menyebarkan kerusakan.”


45 Yakni, sesuai dengan kelompok suku mereka.


Surah Al-Baqarah Ayat 61

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

wa iż qultum yā mụsā lan naṣbira ‘alā ṭa’āmiw wāḥidin fad’u lanā rabbaka yukhrij lanā mimmā tumbitul-arḍu mim baqlihā wa qiṡṡā`ihā wa fụmihā wa ‘adasihā wa baṣalihā, qāla a tastabdilụnallażī huwa adnā billażī huwa khaīr, ihbiṭụ miṣran fa inna lakum mā sa`altum, wa ḍuribat ‘alaihimuż-żillatu wal-maskanatu wa bā`ụ bigaḍabim minallāh, żālika bi`annahum kānụ yakfurụna bi`āyātillāhi wa yaqtulụnan-nabiyyīna bigairil-ḥaqq, żālika bimā ‘aṣaw wa kānụ ya’tadụn

61. Dan, [ingatlah] ketika kalian berkata, “Wahai, Musa, sungguh kami tidak tahan hanya dengan satu jenis makanan; maka, mohonkanlah kepada Pemeliharamu agar Dia mendatangkan bagi kami apa saja yang tumbuh dari bumi—yaitu sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang-kacangan, dan bawang merah.”

Berkatalah [Musa], “Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti sesuatu yang [jauh] lebih baik?46 Kembalilah ke Mesir dalam keadaan hina, pasti kalian dapat memperoleh apa yang kalian minta!”47

Lalu, kenistaan dan kehinaan meliputi mereka, dan mereka mendapat beban murka Allah: semua ini, karena mereka berkukuh mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah dan membunuh para nabi dengan melanggar segala (nilai) kebenaran: semua ini, karena mereka membangkang [melawan Allah], dan berkukuh melanggar batas-batas apa yang benar.48


46 Yakni, “Akankah kalian mempertukarkan kebebasan dengan kesenangan sepele yang kalian nikmati selama ditawan di Mesir?” Selama masa pengembaraan mereka di Gurun Sinai, banyak orang Yahudi mengenang dan merindukan kehidupan mereka yang lebih aman di Mesir, sebagaimana dinyatakan dengan gamblang dalam Bibel (Kitab Bilangan 11) dan terbukti dari pernyataan Nabi Musa a.s. tentang hal itu dalam kalimat berikutnya dari ayat Al-Quran di atas.

47 Verba habatha secara harfiah bermakna “dia menuruni sebuah lereng yang menurun”; secara kiasan, kata ini juga digunakan dalam pengertian jatuh dari posisi terhormat, dan menjadi buruk serta hina (bdk. Lane VIII, h. 2876). Karena seruan pahit Nabi Musa a.s. ini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah, dalam konteks ini kedua makna dari verba tersebut dapat digabungkan dan diterjemahkan secara serasi menjadi “kembalilah ke Mesir dalam keadaan hina”.

48 Ayat ini jelas mengacu pada suatu fase sejarah Yahudi yang lebih belakangan. Bahwa orang-orang Yahudi benar-benar membunuh sejumlah nabi mereka memang terbukti, misalnya, dalam kisah Yohanes (Yahya) sang Pembaptis; juga dalam tuduhan-tuduhan lebih umum yang diutarakan, menurut Bibel, oleh Yesus: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu” (Matius 23: 37). Lihat juga Matius 23: 34-35 dan Lukas 11: 51 (yang keduanya mengacu pada pembunuhan Zakariya) serta 1 Tesalonika 2: 15. Bahwa kezaliman mereka ini bersifat sinambung, atau berulang-ulang, tampak jelas dari penggunaan verba bantu kanu dalam konteks ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 62

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

innallażīna āmanụ wallażīna hādụ wan-naṣārā waṣ-ṣābi`īna man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa ‘amila ṣāliḥan fa lahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

62. SUNGGUH, orang-orang yang telah meraih iman [kepada kitab Ilahi ini], juga orang-orang yang mengikuti iman Yahudi, dan orang-orang Nasrani, serta orang-orang Sabian49—semua yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta berbuat kebajikan—akan memperoleh pahala dari Pemelihara mereka; tidak perlu mereka takut, dan tidak pula mereka akan bersedih hati.50


49 Kaum Sabian tampaknya merupakan suatu kelompok keagamaan monoteistik antara Yahudi dan Nasrani. Nama mereka (yang kemungkinan berasal dari verba tsebha’ dalam bahasa Aram, yang berarti “dia membenamkan dirinya [di dalam air])” mungkin menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Yohanes (Nabi Yahya) sang Pembaptis—yang dalam hal ini bisa disamakan dengan kaum Mandae, suatu komunitas yang dewasa ini masih bisa dijumpai di Irak. Mereka tidak boleh dikacaukan dengan apa yang disebut “Sabian dari Harran”, suatu mazhab gnostik yang masih ada pada abad-abad awal Islam, yang mungkin sengaja menggunakan nama Sabian yang asli guna memperoleh keuntungan yang diberikan oleh kaum Muslim kepada para pengikut setiap agama monoteistik.

50 Pasase di atas—yang terulang beberapa kali dalam Al-Quran—menetapkan suatu doktrin yang fundamental dalam agama Islam. Dengan keluasan pandangan yang tak tertandingi oleh agama mana pun, di sini gagasan “keselamatan” bergantung hanya pada tiga unsur: beriman kepada Allah, beriman pada Hari Pengadilan, dan berbuat kebajikan dalam hidup. Penegasan doktrin tersebut pada titik ini—yaitu, di tengah-tengah seruan kepada Bani Israil—sangat tepat untuk menolak keyakinan Yahudi yang keliru bahwa sebagai keturunan lbrahim, mereka berhak dianggap sebagai “umat pilihan Tuhan”.


Surah Al-Baqarah Ayat 63

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

wa iż akhażnā mīṡāqakum wa rafa’nā fauqakumuṭ-ṭụr, khużụ mā ātainākum biquwwatiw ważkurụ mā fīhi la’allakum tattaqụn

63. DAN, LIHATLAH! Telah Kami terima sumpah setia kalian, dengan menegakkan Gunung Sinai tinggi-tinggi di atas kalian,51 [dan berfirman,] “Berpegang teguhlah dengan [segala] kekuatan kalian pada apa yang Kami berikan kepada kalian dan ingatlah segala isinya agar kalian selalu sadar akan Allah!”


51 Lit., “dan telah Kami tegakkan gunung (al-thur) di atas kalian”: yakni, membiarkan gunung yang tinggi itu menjadi saksi—begitulah kira-kira—atas sumpah setia mereka, yang disebutkan dalam ayat 83. Di seluruh terjemahan Al-Quran saya, ungkapan al-thur diterjemahkan menjadi “Gunung Sinai”, sebab istilah ini memang selalu digunakan dalam pengertian ini saja.


Surah Al-Baqarah Ayat 64

ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۖ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

ṡumma tawallaitum mim ba’di żālika falau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ lakuntum minal-khāsirīn

64. Kemudian, kalian berpaling setelah itu! Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya terhadap kalian, niscaya kalian akan melihat diri kalian termasuk orang-orang yang merugi;


Surah Al-Baqarah Ayat 65

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

wa laqad ‘alimtumullażīna’tadau mingkum fis-sabti fa qulnā lahum kụnụ qiradatan khāsi`īn

65. karena kalian sebenarnya telah mengetahui orang-orang di antara kalian yang mencemari hari Sabtu yang suci (Sabat) lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kalian seperti kera yang hina!”—


Surah Al-Baqarah Ayat 66

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

fa ja’alnāhā nakālal limā baina yadaihā wa mā khalfahā wa mau’iẓatal lil-muttaqīn

66. dan Kami jadikan mereka sebagai contoh peringatan bagi orang-orang pada masa mereka dan bagi mereka yang datang kemudian, serta sebagai nasihat bagi semua orang yang sadar akan Allah.52


52 Tentang kisah lengkap para pelanggar Sabat dan kiasan metaforis “kera”, lihat Surah Al-A’raf [7]: 163-166. Ungkapan ma baina yadaiha, yang di sini diterjemahkan menjadi “masa mereka”, dijelaskan dalam Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 3.


Surah Al-Baqarah Ayat 67

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

wa iż qāla mụsā liqaumihī innallāha ya`murukum an tażbaḥụ baqarah, qālū a tattakhiżunā huzuwā, qāla a’ụżu billāhi an akụna minal-jāhilīn

67. DAN, LIHATLAH! Musa berkata kepada kaumnya, “Perhatikanlah, Allah menyuruh kalian mengorbankan seekor sapi betina.”53

Mereka berkata, “Apakah engkau mengolok-olok kami?”

Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi sebodoh itu!”54


53 Sebagaimana terlihat jelas dari ayat 72, kisah yang diceritakan dalam ayat ini dan ayat berikutnya hampir pasti merujuk pada Hukum Musa yang memerintahkan agar, dalam kasus-kasus pembunuhan yang pelik, seekor sapi betina harus dikorbankan dan pemuka kota atau desa yang terdekat dengan tempat pembunuhan tersebut harus membasuh tangan mereka di atasnya dan menyatakan, “Tangan kami tidak pernah menumpahkan darah ini dan mata kami tidak pernah pula melihatnya”—kemudian masyarakat tersebut dibebaskan dari tanggung jawab kolektif. Tentang perincian aturan Perjanjian Lama ini, lihat Kitab Ulangan 21: 1-9.

54 Lit., “agar aku tidak termasuk orang-orang yang bodoh”. Jelaslah bahwa tuduhan berolok-olok tersebut disebabkan oleh fakta bahwa Nabi Musa a.s. mengumumkan peraturan di atas dengan batasan-batasan umum, tanpa memberikan perinciannya.


Surah Al-Baqarah Ayat 68

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

qālud’u lanā rabbaka yubayyil lanā mā hiy, qāla innahụ yaqụlu innahā baqaratul lā fāriḍuw wa lā bikr, ‘awānum baina żālik, faf’alụ mā tu`marụn

68. Berkatalah mereka, “Mohonkanlah bagi kami kepada Pemeliharamu agar Dia menjelaskan kepada kami seperti apa sapi betina itu seharusnya.”

[Musa] menjawab, “Perhatikanlah, Dia berfirman bahwa sapi betina itu hendaknya yang tidak tua, juga tidak muda; tetapi berusia di antara keduanya. Maka, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!”


Surah Al-Baqarah Ayat 69

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

qālud’u lanā rabbaka yubayyil lanā mā launuhā, qāla innahụ yaqụlu innahā baqaratun ṣafrā`u fāqi’ul launuhā tasurrun-nāẓirīn

69. Berkatalah mereka, “Mohonkanlah bagi kami kepada Pemeliharamu agar Dia menjelaskan kepada kami warna sapi betina itu yang seharusnya.”

[Musa] menjawab, “Perhatikanlah, Dia berfirman bahwa sapi betina itu hendaknya yang kuning, berwarna cerah, serta menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”


Surah Al-Baqarah Ayat 70

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

qālud’u lanā rabbaka yubayyil lanā mā hiya innal-baqara tasyābaha ‘alainā, wa innā in syā`allāhu lamuhtadụn

70. Berkatalah mereka, “Mohonkanlah bagi kami kepada Pemeliharamu agar Dia menjelaskan kepada kami seperti apa sapi betina itu seharusnya karena bagi kami, semua sapi itu sama rupanya; sehingga, jika Allah menghendakinya, kami akan benar-benar memperoleh petunjuk!”


Surah Al-Baqarah Ayat 71

قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

qāla innahụ yaqụlu innahā baqaratul lā żalụlun tuṡīrul-arḍa wa lā tasqil-ḥarṡ, musallamatul lā syiyata fīhā, qālul-āna ji`ta bil-ḥaqqi fa żabaḥụhā wa mā kādụ yaf’alụn

71. [Musa] menjawab, “Perhatikanlah, Dia berfirman bahwa sapi betina itu hendaknya belum pernah dipakai untuk membajak tanah atau mengairi tanaman, tidak memiliki cacat, juga tidak ada belangnya.”

Berkatalah mereka, “Akhirnya, engkau telah menunjukkan kebenaran!”—kemudian mereka mengorbankannya, meskipun mereka nyaris tidak melaksanakannya.55


55 Yakni, keinginan degil mereka untuk memperoleh definisi-definisi yang lebih terperinci tentang perintah yang mudah itu, yang diwahyukan kepada mereka melalui Nabi Musa a.s., membuat mereka nyaris tidak dapat memenuhinya. Dalam tafsirnya atas ayat ini, Al-Thabari mengutip pernyataan Ibn `Abbas berikut ini: “Andai (sejak awal) mereka mengorbankan sapi betina mana saja yang mereka pilih, mereka sesungguhnya telah memenuhi kewajibannya; tetapi mereka mempersulit perintah itu bagi mereka sendiri sehingga Allah mempersulit mereka.” Pandangan senada diungkapkan Al-Zamakhsyari dalam konteks yang sama. Tampak bahwa pesan moral kisah ini mengarah pada masalah penting dalam semua yurisprudensi agama (juga Islam), yaitu: tidak bijaksananya sikap untuk mencoba memperoleh perincian tambahan dalam setiap hukum agama yang pada mulanya ditetapkan secara garis besar—sebab, semakin terperinci, semakin sulit dan kakulah hukum tersebut. Hal ini dipahami dengan baik oleh Rasyid Ridha, yang dalam tafsirnya atas ayat Al-Quran di atas (lihat Al-Manar I, hh. 345 dst.) menyatakan: “Hikmahnya adalah bahwa kita tidak perlu mencari-cari ketentuan (hukum) sedemikian rupa sehingga membuat hukum tersebut lebih rumit …. Beginilah generasi (Muslim) awal melihat persoalan. Mereka tidak mempersulit sesuatu bagi mereka—sehingga, bagi mereka, hukum agama (din) itu alamiah, mudah, dan tidak berliku-liku. Akan tetapi, generasi berikutnya menambahkan kepada hukum itu perintah (tertentu lainnya) yang mereka simpulkan melalui ijtihad; dan mereka melipatgandakan perintah (tambahan) tersebut hingga membuat hukum agama menjadi suatu beban yang berat bagi masyarakat.”

Mengenai alasan sosiologis mengapa perintah-asal hukum Islam—yaitu hal-hal yang secara prima facie telah ditetapkan sedemikian rupa dalam Al-Quran dan ajaran Nabi—nyaris tidak ada yang terperinci, saya menyarankan pembaca membaca buku tulisan Muhammad Asad, State and Government in Islam (hh. 11 dst. di berbagai bagiannya). Arti penting masalah ini, yang digambarkan dalam kisah sapi betina di atas—dan yang dipahami dengan tepat oleh para Sahabat Nabi—menjelaskan mengapa surah ini dinamai Al-Baqarah (“Sapi Betina”). (Lihat juga Surah Al-Ma’idah [5]: 101 dan catatan no. 120-123.)


Surah Al-Baqarah Ayat 72

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

wa iż qataltum nafsan faddāra’tum fīhā, wallāhu mukhrijum mā kuntum taktumụn

72. [Wahai, Bani Israil,] karena kalian telah membunuh seorang manusia, kemudian saling melempar kesalahan atas [kejahatan] itu—sekalipun Allah hendak menyingkapkan apa yang hendak kalian sembunyikan56


56 Lihat catatan no. 53 sebelumnya. Penggunaan bentuk jamak “kalian” menunjukkan prinsip tanggung jawab kolektif dan komunal yang ditentukan Hukum Musa dalam kasus pembunuhan oleh satu atau banyak orang yang pelakunya tak diketahui. Tindakan Allah menyingkapkan pelakunya jelas mengacu pada peristiwa di Hari Pengadilan.


Surah Al-Baqarah Ayat 73

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

fa qulnaḍribụhu biba’ḍihā, każālika yuḥyillāhul-mautā wa yurīkum āyātihī la’allakum ta’qilụn

73. Kami pun berfirman, “Terapkanlah [prinsip] ini pada sebagian dari [kasus-kasus pembunuhan yang tak terungkap] itu:57 beginilah Allah menyelamatkan kehidupan (manusia) dari kematian dan memperlihatkan kepada kalian kehendak-Nya, agar kalian dapat [belajar] menggunakan akal kalian.”58


57 Ungkapan idhribuhu bi-ba’dhiha secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi “pukullah dia [atau ‘itu’] dengan sebagian dari dia [atau ‘itu’]” {hu: dia/itu maskulin; ha: dia/itu feminin}—dan kemungkinan ini telah memunculkan pernyataan fantastis dari banyak mufasir, bahwa Bani Israil diperintahkan agar memukul mayat korban pembunuhan dengan sebagian daging sapi yang disembelih, kemudian secara menakjubkan mayat itu hidup kembali dan menunjuk pembunuhnya! Baik Al-Quran, hadis, maupun Bibel tidak memberikan sedikit pun dukungan terhadap penjelasan yang sanaat imajinatif ini dan, karena itu, harus ditolak—padahal, kata ganti hu dalam idhribuhu berjenis maskulin (mudzakkar), sementara nomina nafs (yang diterjemahkan di sini dengan “manusia”) berjenis feminin [mu’annats]. Karenanya, kata perintah idhribuhu tidak mungkin mengacu pada nafs. Di sisi lain, verba dharaba (lit., “dia telah memukul”) sering digunakan dalam pengertian kiasan atau metonimia, misalnya dalam ungkapan dharaba fi al-ardh (“dia berjalan di muka bumi”), dharaba al-syai’ bi-syai’ (“dia mencampurkan sesuatu dengan sesuatu yang lain”), atau dharaba al-matsal (“dia membuat kiasan”, atau “mengemukakan suatu perumpamaan”, atau “memberikan sebuah ilustrasi”), atau ‘ala dharb wahid (“sama-sama diterapkan” atau “dengan cara yang sama”), dhuribat ‘alaihim al-dzillah (“kehinaan ditimpakan pada mereka” atau “kehinaan disematkan pada mereka”), dan sebagainya. Dengan mempertimbangkan semua ini, saya berpendapat bahwa kata perintah idhribuhu yang terdapat pada ayat 73 harus diterjemahkan menjadi “terapkanlah ia” (apply it) atau “ini” (yang merujuk, dalam konteks ini, pada prinsip tanggung jawab komunal). Adapun kata ganti feminin ha pada ba’dhiha (“sebagian darinya”), pasti merujuk pada nomina feminin terdekat yang disebutkan sebelumnya—yaitu: nafs yang telah dibunuh, atau tindakan pembunuhan itu sendiri yang masyarakat berselisih mengenainya (fiha). Jadi, frasa idhribuhu bi-ba’dhiha dapat dengan tepat diterjemahkan menjadi “terapkanlah [prinsip] ini pada sebagian dari [kasus-kasus pembunuhan yang tak terungkap] itu”: sebab, tentu saja, prinsip tanggung jawab komunal atas pembunuhan oleh satu atau beberapa orang yang tidak diketahui hanya dapat diterapkan pada sebagian, dan bukan pada semua kasus seperti itu.

58 Lit., “Allah memberi kehidupan kepada yang mati dan memperlihatkan pesan-pesan-Nya kepada kalian” (yakni, Dia menunjukkan kehendak-Nya melalui pesan atau perintah seperti itu). Ungkapan kiasan “Dia memberi kehidupan kepada yang mati” berarti penyelamatan jiwa, dan senada dengan yang terdapat dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 32. Dalam konteks ini, ungkapan tersebut mengacu pada pencegahan terhadap pertumpahan darah dan pembunuhan orang yang tidak berdosa (Al-Manar I, h. 351), baik melalui tindakan balas dendam individual maupun sebagai akibat dari proses hukum yang salah karena didasarkan pada prasangka belaka dan bukti sementara yang mungkin menyesatkan.


Surah Al-Baqarah Ayat 74

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

ṡumma qasat qulụbukum mim ba’di żālika fa hiya kal-ḥijārati au asyaddu qaswah, wa inna minal-ḥijārati lamā yatafajjaru min-hul-an-hār, wa inna min-hā lamā yasysyaqqaqu fa yakhruju min-hul-mā`, wa inna min-hā lamā yahbiṭu min khasy-yatillāh, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn

74. Namun, setelah semua ini, hati kalian menjadi keras dan menyerupai batu, atau bahkan lebih keras daripada itu: sebab, perhatikanlah, ada bebatuan yang memancarkan mata air; dan, perhatikanlah, ada bebatuan yang ketika dibelah mengalirkan air; dan, perhatikanlah, ada bebatuan yang meluncur jatuh karena gentar-terpukau kepada Allah.59 Dan, Allah sekali-kali tidak pernah lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.


59 Untuk penjelasan tentang kiasan ini, lihat Surah Al-A’raf [7]; 143. Perumpamaan “bebatuan yang memancarkan mata air” atau “yang mengalirkan air” digunakan untuk menggambarkan kebalikannya, yaitu: kekeringan dan tiadanya kehidupan, dan karenanya, juga menjadi sebuah kiasan bagi kekeringan spiritual yang dituduhkan Al-Quran terhadap Bani Israil.


Surah Al-Baqarah Ayat 75

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

a fa taṭma’ụna ay yu`minụ lakum wa qad kāna farīqum min-hum yasma’ụna kalāmallāhi ṡumma yuḥarrifụnahụ mim ba’di mā ‘aqalụhu wa hum ya’lamụn

75. LALU, mungkinkah kalian berharap bahwa mereka akan percaya pada apa yang kalian ajarkan60—mengingat bahwa banyak di antara mereka yang biasa mendengar firman Allah, lalu setelah memahaminya, menyelewengkannya dengan sengaja?61


60 Di sini, kaum Muslim yang dimaksud. Pada masa Islam awal—terutama setelah hijrah ke Madinah, tempat banyak orang Yahudi tinggal—kaum Muslim berharap bahwa orang-orang Yahudi, karena kepercayaan monoteistik mereka, akan menjadi kelompok yang pertama-tama mendukung pesan Al-Quran: suatu harapan yang tidak terpenuhi karena orang-orang Yahudi menganggap agama mereka sendiri sebagai sejenis warisan kebangsaan yang ditujukan hanya bagi Bani Israil, dan tidak percaya pada perlunya—atau kemungkinan datangnya—wahyu yang baru.

61 Bdk. Bibel, Yeremia 23: 36, “Kamu telah memutarbalikkan perkataan-perkataan Allah yang hidup”.


Surah Al-Baqarah Ayat 76

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa iżā laqullażīna āmanụ qālū āmannā, wa iżā khalā ba’ḍuhum ilā ba’ḍing qālū a tuḥaddiṡụnahum bimā fataḥallāhu ‘alaikum liyuḥājjụkum bihī ‘inda rabbikum, a fa lā ta’qilụn

76. Sebab, apabila berjumpa dengan orang-orang yang telah meraih iman, mereka berkata, “Kami beriman [sebagaimana kalian beriman)”—tetapi, apabila mereka mendapati diri mereka (berkumpul) dengan sesama mereka saja, mereka berkata, “Apakah kalian ceritakan kepada mereka apa yang telah disingkapkan Allah kepada kalian sehingga mereka dapat menggunakannya sebagai alasan melawan kalian, dengan mengutip kata-kata Pemelihara kalian?62 Lantas, tidakkah kalian menggunakan akal?”


62 Lit., “di hadapan (atau ‘dalam pandangan’) Pemelihara kalian”. Kebanyakan mufasir (seperti, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi) sepakat bahwa ungkapan “Pemelihara kalian” berarti “apa yang telah diwahyukan oleh Pemelihara kalian”, yakni ramalan Bibel sehubungan dengan akan datangnya seorang nabi “dari kalangan saudara” Bani Israil, dan, karenanya, ungkapan di atas menjadi argumen yang didasarkan pada kitab suci kaum Yahudi sendiri (lihat juga catatan no. 33 sebelumnya).


Surah Al-Baqarah Ayat 77

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

a wa lā ya’lamụna annallāha ya’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn

77. Maka, tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan maupun segala yang mereka nyatakan?


Surah Al-Baqarah Ayat 78

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

wa min-hum ummiyyụna lā ya’lamụnal-kitāba illā amāniyya wa in hum illā yaẓunnụn

78. Dan, di antara mereka ada orang yang buta aksara, yang tidak mengetahui sama sekali kitab Ilahi,63 dan hanya [mengikuti] angan-angan dan bergantung pada dugaan saja.


63 Yakni, dalam hal ini, Kitab Perjanjian Lama.


Surah Al-Baqarah Ayat 79

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

fa wailul lillażīna yaktubụnal-kitāba bi`aidīhim ṡumma yaqụlụna hāżā min ‘indillāhi liyasytarụ bihī ṡamanang qalīlā, fa wailul lahum mimmā katabat aidīhim wa wailul lahum mimmā yaksibụn

79. Maka, celakalah orang-orang yang menulis, dengan tangan mereka sendiri, [sesuatu yang mereka nyatakan sebagai] kitab Ilahi, lalu berkata, “Ini dari Allah,” untuk memperoleh keuntungan sepele karenanya;64 maka, celakalah mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka, dan celakalah mereka disebabkan segala yang mereka hasilkan!


64 Ini ditujukan kepada para pemuka agama yang bertanggung jawab atas penyelewengan teks Bibel, sehingga menyesatkan para pengikut mereka yang bodoh. “Keuntungan sepele” adalah perasaan mulia sebagai “umat pilihan” dalam angan-angan mereka.


Surah Al-Baqarah Ayat 80

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wa qālụ lan tamassanan-nāru illā ayyāmam ma’dụdah, qul attakhażtum ‘indallāhi ‘ahdan fa lay yukhlifallāhu ‘ahdahū am taqụlụna ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

80. Dan, mereka berkata, “Api neraka itu pasti tidak akan menyentuh kami, kecuali selama beberapa hari tertentu saja.”65 Katakanlah [kepada mereka]: “Sudahkah kalian menerima janji dari Allah—karena Allah tidak pernah memungkiri janji-Nya ataukah kalian menisbahkan kepada Allah sesuatu yang tidak dapat kalian ketahui?”


65 Menurut kepercayaan Yahudi populer, bahkan para pendosa dari kalangan Bani Israil hanya akan menderita hukurnan yang sangat terbatas dalam kehidupan akhirat dan akan segera dibebaskan berkat kedudukan mereka sebagai “umat piiihan”: suatu kepercayaan yang ditolak Al-Quran.


Surah Al-Baqarah Ayat 81

بَلَىٰ مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

balā mang kasaba sayyi`ataw wa `aḥāṭat bihī khaṭī`atuhụ fa ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

81. Sungguh! Orang yang melakukan kejahatan dan diliputi oleh dosanya—mereka ditetapkan di neraka dan berkediaman di dalamnya;


Surah Al-Baqarah Ayat 82

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti ulā`ika aṣ-ḥābul-jannah, hum fīhā khālidụn

82. adapun orang-orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan—mereka ditetapkan di surga dan berkediaman di dalamnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 83

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

wa iż akhażnā mīṡāqa banī isrā`īla lā ta’budụna illallāha wa bil-wālidaini iḥsānaw wa żil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wa qụlụ lin-nāsi ḥusnaw wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, ṡumma tawallaitum illā qalīlam mingkum wa antum mu’riḍụn

83. DAN, LIHATLAH! Kami telah mengambil sumpah setia dari [kalian,] Bani Israil:66 “Bahwa kalian tidak akan menyembah selain Allah—dan berbuat baik kepada ibu, bapak, dan kaum kerabat kalian, anak-anak yatim dan orang-orang miskin; dan kalian harus berbicara kepada semua manusia dengan cara yang baik dan harus teguh mendirikan shalat; serta memberikan derma.”67

Akan tetapi, kalian berpaling—kecuali sebagian kecil di antara kalian—: sebab, kalian adalah kaum yang degil!68


66 Dalam ayat-ayat sebelumnya, Bani Israil telah diingatkan akan karunia yang telah dianugerahkan kepada mereka. Namun, kali ini Al-Quran mengingatkan mereka akan kenyataan bahwa jalan kesalehan benar-benar telah ditunjukkan kepada mereka melalui perintah-perintah sosial dan moral yang gamblang: dan peringatan ini langsung diutarakan menyusul pernyataan bahwa kondisi manusia dalam kehidupan mendatang bergantung semata-mata pada cara hidup seseorang di dunia ini, dan bukan pada keturunannya.

67 Lihat catatan no. 34.

68 Bibel Perjanjian Lama memuat banyak kisah tentang ketidakpatuhan dan sikap pembangkangan Bani Israil yang keras—misalnya dalam Kitab Keluaran 32: 9; 33: 3; 34: 9; Kitab Ulangan 9: 6-8, 23-24, 27.



Surah Al-Baqarah Ayat 84

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ

wa iż akhażnā mīṡāqakum lā tasfikụna dimā`akum wa lā tukhrijụna anfusakum min diyārikum ṡumma aqrartum wa antum tasy-hadụn

84. Dan, lihatlah! Kami telah mengambil sumpah setia kalian bahwa kalian tidak akan saling menumpahkan darah dan tidak akan saling mengusir dari kampung halaman kalian—lalu kalian mengikrarkannya; dan [bahkan sekarang] kalian pun menyaksikannya.


Surah Al-Baqarah Ayat 85

ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

ṡumma antum hā`ulā`i taqtulụna anfusakum wa tukhrijụna farīqam mingkum min diyārihim taẓāharụna ‘alaihim bil-iṡmi wal-‘udwān, wa iy ya`tụkum usārā tufādụhum wa huwa muḥarramun ‘alaikum ikhrājuhum, a fa tu`minụna biba’ḍil-kitābi wa takfurụna biba’ḍ, fa mā jazā`u may yaf’alu żālika mingkum illā khizyun fil-ḥayātid-dun-yā, wa yaumal-qiyāmati yuraddụna ilā asyaddil-‘ażāb, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn

85. Namun, kalianlah yang saling membunuh dan mengusir sebagian masyarakat kalian sendiri dari kampung halamannya, sambil saling membantu melawan mereka dalam perbuatan dosa dan kebencian; tetapi jika mereka datang kepada kalian sebagai tawanan, kalian tebus mereka—padahal [tindakan] mengusir mereka terlarang bagi kalian.69

Maka, apakah kalian beriman pada sebagian kitab Ilahi dan mengingkari kebenaran bagian lainnya? Lalu, balasan apa bagi orang-orang di antara kalian yang berbuat demikian selain kenistaan dalam kehidupan di dunia ini dan, pada Hari Kebangkitan, hukuman berupa penderitaan yang sangat pedih? Karena, Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian perbuat.


69 Hal ini berkenaan dengan kondisi umum di Madinah pada masa hijrah Nabi. Dua suku Arab Madinah—Al-Aus dan Khazraj—pada masa pra-Islam selalu saling berperang; sedangkan, dari tiga suku Yahudi yang tinggal di sana—Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah—dua suku pertama yang disebutkan bersekutu dengan Khazraj, sedangkan suku ketiga bersekutu dengan Al-Aus. Jadi, sepanjang peperangan mereka ini, orang Yahudi akan membunuh sesama Yahudi karena bersekutu dengan kaum musyrik (“saling membantu dalam perbuatan dosa dan kebencian”): suatu kejahatan yang berlipat ganda jika ditinjau dari sudut pandang Hukum Musa. Namun, mereka kemudian menebus tawanan masing-masing karena ketaatan kepada hukum yang sama—inkonsistensi mencolok inilah yang disinggung Al-Quran dalam kalimat berikutnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 86

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

ulā`ikallażīnasytarawul-ḥayātad-dun-yā bil-ākhirati fa lā yukhaffafu ‘an-humul-‘ażābu wa lā hum yunṣarụn

86. Orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat—penderitaannya tidak akan diringankan dan juga tidak akan ditolong!


Surah Al-Baqarah Ayat 87

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

wa laqad ātainā mụsal-kitāba wa qaffainā mim ba’dihī bir-rusuli wa ātainā ‘īsabna maryamal-bayyināti wa ayyadnāhu birụḥil-qudus, a fa kullamā jā`akum rasụlum bimā lā tahwā anfusukumustakbartum, fa farīqang każżabtum wa farīqan taqtulụn

87. Karena, sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa kitab Ilahi dan mengutus rasul demi rasul sesudahnya;70 dan Kami telah memberikan kepada Isa, putra Maryam, semua bukti kebenaran dan meneguhkannya dengan ilham suci.71 [Namun,] bukankah setiap datang seorang rasul kepada kalian membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, kalian menyombongkan diri, dan mendustakan sebagian mereka, dan membunuh sebagian lainnya?72


70 Lit., “Kami menjadikannya diikuti, setelah masanya, oleh [seluruh] rasul yang lain”: suatu penekanan terhadap pergantian nabi yang terjadi terus-menerus di kalangan orang-orang Yahudi (Iihat Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan Ibn Katsir) sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk lalai.

71 Penerjemahan ruh al-qudus (lit., “ruh kesucian”) ini didasarkan pada berulang-ulangnya penggunaan istilah ruh dalam Al-Quran dalam pengertian “ilham Ilahi”. Juga diriwayatkan bahwa Nabi memohon anugerah ruh al-qudus untuk Sahabatnya, penyair Hassan ibn Tsabit (Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi): sebagaimana Al-Quran (Surah Al-Mujadalah [58]: 22) menyebutkan bahwa semua orang yang beriman “diperkuat dengan ilham (ruh) dari-Nya”.

72 Lit., “dan sebagian yang sedang kalian bunuh”. Perubahan dari bentuk lampau (al-madhi) yang terlihat sepanjang kalimat ini menjadi bentuk sekarang (al-mudhari) dalam verba taqtulun (“sedang kalian bunuh”), dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu niat yang penuh kesadaran berkenaan dengan hal ini dan juga sifat yang tetap dan selalu berulang dalarn sejarah umat Yahudi (Al-Manar I, h. 377), yang juga disebutkan dalam Perjanjian Baru (Matius 23: 34-35, 37 dan 1 Tesalonika 2: 15).


Surah Al-Baqarah Ayat 88

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ

wa qālụ qulụbunā gulf, bal la’anahumullāhu bikufrihim fa qalīlam mā yu`minụn

88. Akan tetapi, mereka berkata, “Hati kami telah penuh dengan pengetahuan.”73 Tidak, tetapi Allah menolak mereka karena keengganan mereka mengakui kebenaran: sebab, sedikit sekali hal-hal yang mereka imani.74


73 Lit., “hati kami adalah khazanah (pengetahuan)”—ini merujuk pada bualan sombong orang-orang Yahudi bahwa mengingat pengetahuan keagamaan yang sudah mereka miliki, mereka tidak membutuhkan dakwah lagi (Ibn Katsir, berdasarkan riwayat Ibn ‘Abbas; penjelasan yang sama disebutkan oleh Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari).

74 Yakni, seluruh keyakinan mereka berpusat pada diri mereka sendiri dan pada dugaan status “istimewa” mereka dalam pandangan Allah.


Surah Al-Baqarah Ayat 89

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

wa lammā jā`ahum kitābum min ‘indillāhi muṣaddiqul limā ma’ahum wa kānụ ming qablu yastaftiḥụna ‘alallażīna kafarụ, fa lammā jā`ahum mā ‘arafụ kafarụ bihī fa la’natullāhi ‘alal-kāfirīn

89. Dan, setiap kali datang kepada mereka suatu wahyu [baru] dari Allah, yang mempertegas kebenaran yang telah ada pada mereka—dan [ingatlah bahwa] dahulu mereka memohon kemenangan atas orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran:—setiap kali sesuatu yang mereka kenali [sebagai kebenaran] datang kepada mereka, mereka mengingkarinya. Dan, penolakan Allah merupakan balasan bagi semua orang yang mengingkari kebenaran.


Surah Al-Baqarah Ayat 90

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

bi`samasytarau bihī anfusahum ay yakfurụ bimā anzalallāhu bagyan ay yunazzilallāhu min faḍlihī ‘alā may yasyā`u min ‘ibādih, fa bā`ụ bigaḍabin ‘alā gaḍab, wa lil-kāfirīna ‘ażābum muhīn

90. Betapa buruknya [keangkuhan semu] itu, yang membuat mereka menjual diri mereka sendiri dengan mengingkari kebenaran apa yang telah diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya:75 sebab, mereka mendapat beban murka Allah, terus-menerus. Dan, bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran, tersedia penderitaan yang hina.


75 Yakni, karena dengki bahwa Allah akan memberikan wahyu kepada seseorang yang bukan keturunan Israel—dalam kasus ini, kepada nabi berbangsa Arab, Muhammad Saw.


Surah Al-Baqarah Ayat 91

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa iżā qīla lahum āminụ bimā anzalallāhu qālụ nu`minu bimā unzila ‘alainā wa yakfurụna bimā warā`ahụ wa huwal-ḥaqqu muṣaddiqal limā ma’ahum, qul fa lima taqtulụna ambiyā`allāhi ming qablu ing kuntum mu`minīn

91. Karena ketika mereka diperintahkan, “Berimanlah pada apa yang diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Kami beriman [hanya] pada apa yang dirurunkan kepada kami”—dan mereka mengingkari kebenaran mana pun lainnya, meskipun kebenaran itu mempertegas kebenaran yang sudah mereka miliki.

Katakanlah, “Lalu, mengapa kalian dahulu membunuh para nabi Allah jika kalian [benar-benar] orang-orang yang beriman?”76


76 Mengacu pada pernyataan mereka sendiri bahwa mereka memercayai apa yang telah diwahyukan kepada mereka—yakni, Hukum Musa yang jelas-jelas melarang pembunuhan, bukan hanya terhadap para nabi, melainkan juga terhadap seluruh umat manusia yang tidak bersalah. Lihat juga kalimat penutup ayat 61 dan ayat 87 beserta catatannya.


Surah Al-Baqarah Ayat 92

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ

wa laqad jā`akum mụsā bil-bayyināti ṡummattakhażtumul-‘ijla mim ba’dihī wa antum ẓālimụn

92. Dan sungguh, telah datang kepada kalian Musa dengan membawa semua bukti kebenaran—dan kemudian, ketika dia pergi, kalian mulai menyembah anak sapi [emas] dan bertindak zalim.


Surah Al-Baqarah Ayat 93

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa iż akhażnā mīṡāqakum wa rafa’nā fauqakumuṭ-ṭụr, khużụ mā ātainākum biquwwatiw wasma’ụ, qālụ sami’nā wa ‘aṣainā wa usyribụ fī qulụbihimul-‘ijla bikufrihim, qul bi`samā ya`murukum bihī īmānukum ing kuntum mu`minīn

93. Dan, lihatlah, ketika Kami mengambil sumpah setia kalian, dengan mengangkat tinggi-tinggi Gunung Sinai di atas kalian, [seraya berfirman,] “Berpegang teguhlah dengan [segala] kekuatan kalian pada apa yang Kami berikan kepada kalian dan dengarkanlah!”

[Namun,] mereka berkata, “Kami telah dengar, tetapi kami tidak taat”77—karena hati mereka telah dipenuhi cinta nan meluap kepada anak sapi [emas] itu akibat keengganan mereka mengakui kebenaran.78

Katakanlah, “Betapa buruk apa yang diperintahkan keyakinan kalian [yang batil] itu kepada kalian—jika kalian benar-benar orang-orang beriman!”


77 Tentu saja, mereka sebenarnya tidak mengucapkan kata-kata ini. Namun, perilaku mereka kemudian membenarkan ungkapan metonimia di atas.

78 Lit., “ke dalam hati mereka telah diresapkan (kecintaan terhadap) anak sapi karena pengingkaran mereka terhadap kebenaran”: yakni, segera setelah mereka berpaling dari pesan murni yang disampaikan Nabi Musa a.s., mereka mulai menyembah benda-benda materiel, yang disimbolkan dengan “anak sapi emas”.


Surah Al-Baqarah Ayat 94

قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul ing kānat lakumud-dārul-ākhiratu ‘indallāhi khāliṣatam min dụnin-nāsi fa tamannawul-mauta ing kuntum ṣādiqīn

94. Katakanlah: “Jika kehidupan akhirat bersama Allah itu hanya untuk kalian, bukan untuk orang lain,79 seharusnya kalian merindukan kematian—jika apa yang kalian katakan itu memang benar!”


79 Sindiran kepada keyakinan agama Yahudi bahwa surga disediakan hanya untuk Bani Israil (bdk. ayat 111 surah ini).


Surah Al-Baqarah Ayat 95

وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

wa lay yatamannauhu abadam bimā qaddamat aidīhim, wallāhu ‘alīmum biẓ-ẓālimīn

95. Akan tetapi, mereka tidak akan pernah merindukan kematian itu karena [mereka sadar] akan perbuatan tangan mereka di dunia ini: dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.


Surah Al-Baqarah Ayat 96

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

wa latajidannahum aḥraṣan-nāsi ‘alā ḥayāh, wa minallażīna asyrakụ yawaddu aḥaduhum lau yu’ammaru alfa sanah, wa mā huwa bimuzaḥziḥihī minal-‘ażābi ay yu’ammar, wallāhu baṣīrum bimā ya’malụn

96. Dan, engkau pasti akan mendapati bahwa mereka terikat kepada kehidupan dengan lebih hebat ketimbang manusia mana pun, bahkan melebihi orang-orang yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah*: masing-masing di antara mereka itu ingin hidup seribu tahun, meskipun pemberian hidup yang lama itu tidak akan dapat menyelamatkannya dari penderitaan [di akhirat]: karena Allah Maha Mengetahui semua yang mereka kerjakan.


* {“Orang-orang yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah” adalah terjemahan penyusun untuk alladzina asyraku yang dalam terjemahan Al-Quran Depag diterjemahkan menjadi “orang-orang musyrik”.—AM}


Surah Al-Baqarah Ayat 97

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

qul mang kāna ‘aduwwal lijibrīla fa innahụ nazzalahụ ‘alā qalbika bi`iżnillāhi muṣaddiqal limā baina yadaihi wa hudaw wa busyrā lil-mu`minīn

97. KATAKANLAH [wahai Nabi]: “Siapa saja yang menjadi musuh Jibril”—yang, sungguh, dengan izin Allah telah menurunkan ke atas hatimu [kitab Ilahi] ini, yang mempertegas kebenaran apa pun yang masih ada [dari wahyu-wahyu terdahulu], dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman—:


Surah Al-Baqarah Ayat 98

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

mang kāna ‘aduwwal lillāhi wa malā`ikatihī wa rusulihī wa jibrīla wa mīkāla fa innallāha ‘aduwwul lil-kāfirīn

98. “siapa saja yang menjadi musuh Allah, para malaikat-Nya, dan rasul-Nya, termasuk Jibril dan Mikail, [hendaknya mengetahui bahwa,] sungguh, Allah adalah musuh semua orang yang mengingkari kebenaran.”80


80 Menurut beberapa hadis sahih, sejumlah kalangan Yahudi Madinah yang terpelajar menggambarkan Jibril sebagai “musuh orang-orang Yahudi”, dengan tiga alasan: pertama, semua ramalan tentang kemalangan yang menimpa kaum Yahudi sepanjang sejarah awalnya, konon, disampaikan kepada mereka oleh Jibril, yang kemudian dalam pandangan mereka menjadi semacam “pertanda kejahatan” (berlawanan dengan Malaikat Mikail, yang dipandang oleh mereka sebagai pembawa berita gembira dan, karenanya, dianggap sebagai “kawan” mereka). Kedua, karena Al-Quran berulang-ulang menyatakan bahwa Jibril-lah yang menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw., padahal kaum Yahudi berpendapat bahwa hanya keturunan Israil-lah yang secara sah dapat mengklaim menerima wahyu Allah. Ketiga, karena Al-Quran—yang diwahyukan melalui Jibril—sarat dengan kritik terhadap kepercayaan dan perilaku tertentu kaum Yahudi, dan menggambarkan mereka sebagai penentang pesan murni Nabi Musa a.s. (Untuk perincian hadis-hadis ini, lihat Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi, Al-Baidhawi, dan Ibn Katsir.) Mengenai terjemahan saya terhadap frasa ma baina yadaihi dalam ayat 97 menjadi “apa pun yang masih ada [dari wahyu-wahyu terdahulu]”, lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 3.


Surah Al-Baqarah Ayat 99

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ

wa laqad anzalnā ilaika āyātim bayyināt, wa mā yakfuru bihā illal-fāsiqụn

99. Karena, sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tiada yang mengingkari kebenarannya kecuali orang-orang yang fasik.


Surah Al-Baqarah Ayat 100

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

a wa kullamā ‘āhadụ ‘ahdan nabażahụ farīqum min-hum, bal akṡaruhum lā yu`minụn

100. Bukankah setiap kali mereka mengikat janji [dengan Allah], sebagian mereka menolaknya? Tidak, sungguh: kebanyakan dari mereka tidaklah beriman.


Surah Al-Baqarah Ayat 101

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa lammā jā`ahum rasụlum min ‘indillāhi muṣaddiqul limā ma’ahum nabaża farīqum minallażīna ụtul-kitāba kitāballāhi warā`a ẓuhụrihim ka`annahum lā ya’lamụn

101. Dan [bahkan kini,] ketika datang kepada mereka seorang rasul Allah, yang mempertegas kebenaran yang telah mereka miliki, sebagian orang yang sebelumnya telah diberi wahyu memunggungi kitab Ilahi itu, seolah-olah mereka tidak memahami [apa yang dikatakannya],81


81 Kitab Ilahi yang dimaksudkan di sini adalah Taurat. Dengan mengabaikan ramalan yang menceritakan akan datangnya nabi dari bangsa Arab, yang terkandung dalam Bibel Kitab Ulangan 18: 15 dan 18 (lihat catatan no. 33 sebelumnya), orang-orang Yahudi menolak, demikianlah kurang-lebihnya, seluruh wahyu yang disampaikan kepada Nabi Musa a.s. (Al-Zamakhsyari; juga ‘Abduh dalam Al-Manar I, h. 397).


Surah Al-Baqarah Ayat 102

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

wattaba’ụ mā tatlusy-syayāṭīnu ‘alā mulki sulaimān, wa mā kafara sulaimānu wa lākinnasy-syayāṭīna kafarụ yu’allimụnan-nāsas-siḥra wa mā unzila ‘alal-malakaini bibābila hārụta wa mārụt, wa mā yu’allimāni min aḥadin ḥattā yaqụlā innamā naḥnu fitnatun fa lā takfur, fa yata’allamụna min-humā mā yufarriqụna bihī bainal-mar’i wa zaujih, wa mā hum biḍārrīna bihī min aḥadin illā bi`iżnillāh, wa yata’allamụna mā yaḍurruhum wa lā yanfa’uhum, wa laqad ‘alimụ lamanisytarāhu mā lahụ fil-ākhirati min khalāq, wa labi`sa mā syarau bihī anfusahum, lau kānụ ya’lamụn

102. dan [malah] mengikuti apa yang biasa dilakukan oleh yang jahat-jahat pada masa kerajaan Sulaiman—karena bukan Sulaiman-lah yang mengingkari kebenaran, melainkan yang jahat-jahat itulah yang mengingkarinya dengan mengajarkan sihir kepada manusia82—; dan [mereka mengikuti] apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, Harut dan Marut—meskipun keduanya ini tidak pernah mengajarkannya kepada orang lain kecuali terlebih dahulu berkata, “Kami tidak lain hanyalah godaan untuk (melakukan) kejahatan: maka, janganlah kalian mengingkari kebenaran [dari Allah]!”83 Dan, mereka belajar dari keduanya ini bagaimana menciptakan perselisihan di antara seorang suami dan istrinya; namun, mengingat mereka tidak bisa membahayakan siapa pun dengannya kecuali dengan izin Allah, mereka tidak lain mempelajari pengetahuan yang hanya membahayakan diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat kepada mereka—padahal mereka sungguh tahu bahwa siapa saja yang mempelajari [pengetahuan] ini tidak akan mendapat bagian kebaikan dalam kehidupan akhirat.84 Sebab, sungguh buruk [kemampuan] itu, yang deminya mereka menjual diri—andai mereka mengetahuinya!


82 Ungkapan al-syayathin, yang di sini diterjemahkan menjadi the evil ones, “yang jahat-jahat”, tampaknya mengacu pada manusia, sebagaimana ditunjukkan Al-Thabari, Al-Razi, dan lain-lain, tetapi mungkin juga mengacu pada gerak hati jahat dan tidak bermoral dalam hati manusia (lihat catatan no. 10 tentang ayat 14 surah ini). Kalimat sisipan di atas (karena bukan Sulaiman-lah yang mengingkari … dst.) merupakan bantahan Al-Quran terhadap pernyataan Bibel bahwa Nabi Sulaiman a.s. melakukan dosa penyembahan berhala (lihat Bibel, 1 Raja-Raja 11: 1-10), dan juga merupakan bantahan atas riwayat populer yang menyatakan bahwa dia adalah pemrakarsa ilmu sihir.

83 “Pernyataan” ini, secara metonimia, menentukan kewajiban moral manusia untuk menolak setiap upaya “sihir” karena—terlepas apakah ilmu itu berhasil atau gagal—ia bertujuan merusak tatanan alam yang telah ditetapkan oleh Allah.

Adapun tentang penyebutan Harut dan Marut sebagai dua malaikat, kebanyakan versi bacaan (qira’at) Al-Quran memang mengejanya malakain (“dua malaikat”); namun, secara sahih diriwayatkan (lihat Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi, dsb.) bahwa Sahabat besar Nabi, Ibn ‘Abbs, dan juga sejumlah ulama terkemuka dari generasi sesudahnya—seperti, Al-Hasan Al-Bashri, Abu Al-Aswad, dan Al-Dhahhak—membacanya sebagai malikain (“dua raja”). Saya sendiri cenderung pada versi bacaan (qira’at) kedua (yakni, malikain: dua raja). Namun, karena malakain (dua malaikat) lebih umum diterima, saya pun menggunakannya di sini. Beberapa mufasir berpendapat bahwa, mana pun dari kedua versi bacaan tersebut yang diikuti, kata itu harus dipahami dalam pengertian metaforis, yakni “dua orang yang seperti raja” atau “dua orang yang seperti malaikat”. Dalam hal ini, para mufasir itu bersandar pada ucapan Ibn ‘Abbas bahwa Harut dan Marut adalah “dua manusia yang mempraktikkan sihir di Babilonia” (Al-Baghawi; lihat juga Al-Manar I, h. 402). Bagaimanapun, jelaslah bahwa sejak zaman kuno, Babilonia sudah memiliki reputasi sebagai negeri ilmu sihir yang disimbolkan tokoh legendaris—mungkin raja-raja—Harut dan Marut. Jadi, Al-Quran mengacu pada riwayat tersebut, sekaligus mencela setiap praktik magis dan sihir, dan juga semua kegemaran terhadap ilmu klenik secara umum.

84 Ayat di atas tidak mempermasalahkan apakah ada suatu kebenaran objektif dalam fenomena klenik yang secara longgar digambarkan sebagai “ilmu magis”, ataukah fenomena itu hanyalah berdasarkan penipuan-diri. Tujuannya di sini, tak lebih dan tak kurang, hanyalah memperingatkan manusia bahwa upaya apa pun untuk memengaruhi jalannya peristiwa dengan sarana yang—setidak-tidaknya dalam pikiran orang yang bertanggung jawab atasnya—memiliki konotasi “super-natural” (adialami) adalah suatu pelanggaran spiritual, dan tak pelak akan menimbulkan suatu kerusakan yang serius terhadap kondisi spiritual pelakunya.


Surah Al-Baqarah Ayat 103

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

walau annahum āmanụ wattaqau lamaṡụbatum min ‘indillāhi khaīr, lau kānụ ya’lamụn

103. Dan, andaikan mereka beriman dan sadar kepada-Nya, ganjaran dari Allah pasti akan membawa kebaikan bagi mereka—andai mereka mengetahuinya!


Surah Al-Baqarah Ayat 104

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā taqụlụ rā’inā wa qụlunẓurnā wasma’ụ wa lil-kāfirīna ‘ażābun alīm

104. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah kalian berkata [kepada Nabi], “Dengarkanlah kami,” alih-alih katakanlah, “Bersabarlah terhadap kami,” dan dengarkanlah [dia] karena penderitaan yang pedih menanti orang-orang yang mengingkari kebenaran.85


85 Teguran ini, yang pertama-tama ditujukan kepada para Sahabat Nabi, memiliki suatu konotasi yang jauh melampaui kondisi historis yang memunculkannya—suatu hal yang sering ditemukan dalam Al-Quran. Para Sahabat diseru agar berbicara kepada Nabi dengan rasa hormat dan menempatkan keinginan pribadi serta harapan mereka di bawah bimbingan agama yang diwahyukan melalui beliau: dan perintah ini tetap berlaku bagi setiap orang beriman dan berlaku sepanjang masa.


Surah Al-Baqarah Ayat 105

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

mā yawaddullażīna kafarụ min ahlil-kitābi wa lal-musyrikīna ay yunazzala ‘alaikum min khairim mir rabbikum, wallāhu yakhtaṣṣu biraḥmatihī may yasyā`, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

105. Baik para penganut wahyu terdahulu yang berkukuh mengingkari kebenaran, maupun orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, sama sekali tidak ingin melihat kebaikan apa pun86 diturunkan Pemelihara kalian kepada kalian; tetapi Allah mengkhususkan rahmat-Nya bagi siapa saja yang Dia kehendaki—sebab, Allah memiliki karunia yang melimpah tak terhingga.


86 Yakni, wahyu—yang merupakan kebaikan tertinggi. Yang disinggung di sini adalah ketidakrelaan umat Yahudi dan Nasrani untuk mengakui bahwa wahyu bisa saja diberikan kepada masyarakat mana pun, bukan terbatas pada mereka saja.


Surah Al-Baqarah Ayat 106

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

mā nansakh min āyatin au nunsihā na`ti bikhairim min-hā au miṡlihā, a lam ta’lam annallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

106. Risalah mana saja yang Kami hapuskan atau yang Kami jadikan ia terlupakan, Kami ganti dengan risalah yang lebih baik atau yang serupa dengannya.87

Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu?


87 Prinsip yang ditetapkan dalam ayat ini—berkenaan dengan penggantian era/sistem religi Biblikal dengan era/sistem religi Qurani—telah menirnbulkan suatu penafsiran keliru oleh banyak ulama. Kata ayah (“message“, pesan, risalah) yang ada dalam konteks ini juga digunakan untuk menunjukkan sebuah “ayat” AI-Quran (sebab, setiap ayat mengandung sebuah pesan). Dengan berpegang pada makna terbatas dari istilah ayah ini, sejumlah ulama menyimpulkan dari ayat di atas bahwa sebelum pewahyuan Al-Quran selesai, ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran telah “dibatalkan” (mansukh) sesuai dengan perintah Allah. Terlepas dari keganjilan penafsiran ini—yang mengingatkan kita pada gambaran tentang seorang pengarang yang, setelah berpikir ulang, mengoreksi cetakan manuskripnya dengan menghapus satu bagian dan menggantinya dengan bagian lain—tidak ada satu pun hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi pernah menyebutkan suatu ayat Al-Quran “dibatalkan” (mansukh). Intinya, “doktrin pembatalan” (nasikh-mansukh) itu mencerminkan ketidakmampuan sejumlah mufasir awal untuk menyelaraskan kandungan suatu ayat tertentu dalam Al-Quran dengan ayat lain: suatu kesulitan yang diatasi dengan menyatakan bahwa salah satu ayat yang dibahas tersebut telah “dibatalkan”. Prosedur yang arbitrer ini juga menjelaskan mengapa tidak ada kebulatan pendapat di antara para penganut “doktrin nasikh-mansukh” mengenai mana saja dan berapa jumlah ayat Al-Quran yang dibatalkan; dan selanjutnya, mengenai apakah pembatalan yang diduga-duga ini berarti penghapusan total atas ayat tersebut dari konteks Al-Quran, ataukah hanya suatu pembatalan perintah atau pernyataan tertentu yang terkandung di dalamnya. Singkatnya, “doktrin nasikh-mansukh” tidak memiliki dasar apa pun dalam fakta historis dan harus ditolak. Di sisi lain, kesulitan yang muncul dalam menafsirkan ayat Al-Quran di atas akan segera sirna jika istilah ayah dipahami—secara benar—sebagai “risalah” (pesan, message), dan jika kita membaca ayat ini dalam kaitannya dengan ayat sebelumnya, yang menyatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen menolak menerima setiap wahyu yang bisa menggantikan wahyu Bibel: sebab, jika dibaca begini, pembatalan (nasakh) itu mengacu pada risalah Allah sebelumnya dan bukan pada bagian mana pun dari Al-Quran itu sendiri.


Surah Al-Baqarah Ayat 107

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

a lam ta’lam annallāha lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, wa mā lakum min dụnillāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr

107. Tidakkah engkau mengetahui bahwa milik Allah-lah kekuasaan atas lelangit dan bumi, dan bahwa kalian tidak memiliki pelindung atau penolong selain Allah?


Surah Al-Baqarah Ayat 108

أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

am turīdụna an tas`alụ rasụlakum kamā su`ila mụsā ming qabl, wa may yatabaddalil-kufra bil-īmāni fa qad ḍalla sawā`as-sabīl

108. Apakah kalian, mungkin, meminta kepada Rasul yang telah diutus kepada kalian sesuatu yang pada zaman dahulu juga dimintakan kepada Musa? Akan tetapi, siapa saja yang memilih untuk menolak [bukti] kebenaran, dan bukannya mengimani kebenaran itu,88 telah tersesat dari jalan yang benar.


88 Lit., “siapa saja yang mengambil pengingkaran kebenaran sebagai ganti iman”—yakni, siapa pun yang menolak bukti internal kebenaran pesan Al-Quran dan menuntut, sebagai gantinya, suatu bukti “objektif” bahwa ia berasal dari Tuhan (Al-Manar I, hh. 416 dan seterusnya).

Yang “pada zaman dahulu juga dimintakan kepada Musa” adalah tuntutan Bani Israil untuk “melihat Allah secara langsung” (bdk. ayat 55 surah ini). Kalimat yang saya terjemahkan menjadi “Rasul yang telah diutus kepada kalian”, secara harfiah berbunyi “Rasul-kalian” (rasulakum) dan jelas mengacu pada Muhammad Saw., yang risalahnya menggantikan wahyu-wahyu terdahulu.


Surah Al-Baqarah Ayat 109

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wadda kaṡīrum min ahlil-kitābi lau yaruddụnakum mim ba’di īmānikum kuffārā, ḥasadam min ‘indi anfusihim mim ba’di mā tabayyana lahumul-ḥaqq, fa’fụ waṣfaḥụ ḥattā ya`tiyallāhu bi`amrih, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

109. Karena kedengkian egois mereka, banyak di antara para penganut wahyu-wahyu terdahulu* ingin mengajak kalian kembali mengingkari kebenaran setelah kalian meraih iman—[bahkan] setelah kebenaran itu jelas bagi mereka. Meskipun demikian, maafkanlah dan berlapang dadalah hingga Allah mewujudkan ketetapan-Nya: perhatikanlah, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


* {“Para penganut wahyu-wahyu terdahulu” [followers of earlier revelations] adalah terjemahan Asad untuk ahl al-kitab, yang dalam terjemahan Depag RI diadopsi menjadi “ahli kitab”.—AM}


Surah Al-Baqarah Ayat 110

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, wa mā tuqaddimụ li`anfusikum min khairin tajidụhu ‘indallāh, innallāha bimā ta’malụna baṣīr

110. Dan, berteguhlah dalam mendirikan shalat, dan tunaikanlah zakat; sebab, perbuatan baik apa pun yang kalian lakukan bagi diri kalian, kalian akan menemukannya di sisi Allah: perhatikanlah, Allah melihat semua yang kalian lakukan.


Surah Al-Baqarah Ayat 111

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa qālụ lay yadkhulal-jannata illā mang kāna hụdan au naṣārā, tilka amāniyyuhum, qul hātụ bur-hānakum ing kuntum ṣādiqīn

111. DAN, MEREKA mendaku,89 “Tak seorang pun akan masuk surga, kecuali orang Yahudi”—atau “orang Nasrani”. Demikianlah khayalan mereka. Katakanlah: “Tunjukkanlah suatu bukti atas pernyataan kalian itu,90 jika yang kalian katakan itu benar!”


89 Ini berhubungan dengan ayat 109: “banyak di antara para penganut wahyu-wahyu terdahulu ingin mengajak kalian kembali mengingkari kebenaran”, dan seterusnya.

90 Lit., “tunjukkanlah bukti kalian”—yakni, “dari kitab suci kalian sendiri”.


Surah Al-Baqarah Ayat 112

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

balā man aslama waj-hahụ lillāhi wa huwa muḥsinun fa lahū ajruhụ ‘inda rabbihī wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

112. Tidak, sungguh: siapa pun yang menyerahkan sepenuh dirinya kepada Allah,91 dan juga berbuat baik, akan memperoleh ganjaran di sisi Pemeliharanya; orang-orang seperti ini tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati.92


91 Lit., “yang menyerahkan wajahnya kepada Allah”. Karena wajah seseorang merupakan anggota badannya yang paling ekspresif, dalam bahasa Arab klasik, kata ini digunakan untuk menunjukkan kepribadian utuh seseorang atau wujudnya secara keseluruhan. Ungkapan ini, yang diulang beberapa kali dalam Al-Quran, merupakan suatu definisi yang sempurna dari kata islam yang—diderivasi dari verba-akar aslama, “dia berserah diri”—berarti “penyerahan-diri [kepada Allah]”: dan dalam pengertian inilah, istilah islam dan muslim digunakan di sepanjang Al-Quran. (Untuk pembahasan lengkap tentang konsep ini, lihat catatan saya atas Surah Al-Qalam [68]: 35, yang di dalamnya ungkapan muslim muncul untuk pertama kalinya dalam urutan kronologis turunnya wahyu.)

92 Jadi, menurut AI-Quran, keselamatan itu tidak hanya dikhususkan bagi “umat” tertentu, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang secara sadar menyadari keesaan Allah, menyerahkan dirinya kepada kehendak-Nya, dan mewujudkan sikap spiritual ini dengan menjalani hidup secara saleh.


Surah Al-Baqarah Ayat 113

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

wa qālatil-yahụdu laisatin-naṣārā ‘alā syai`iw wa qālatin-naṣārā laisatil-yahụdu ‘alā syai`iw wa hum yatlụnal-kitāb, każālika qālallażīna lā ya’lamụna miṡla qaulihim, fallāhu yaḥkumu bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

113. Lebih lanjut, orang-orang Yahudi menegaskan, “Orang-orang Nasrani itu sama sekali tidak mempunyai landasan yang benar bagi keimanan mereka,” sementara orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi itu sama sekali tidak mempunyai landasan yang benar bagi keimanan mereka”—dan keduanya saling mengutip kitab Ilahi! Demikianlah, orang-orang yang tak berpengetahuan pun [selalu] mengatakan seperti yang mereka katakan;93 tetapi Allah-lah yang akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kebangkitan tentang segala yang biasa mereka perselisihkan.94


93 Suatu sindiran bagi siapa saja yang menegaskan bahwa hanya anggota umat mereka sendiri yang akan mendapat rahmat Allah pada Hari Kiamat.

94 Dengan kata lain, “Allah akan mempertegas kebenaran apa yang benar [dalam kepercayaan mereka masing-masing] dan menunjukkan kesalahan apa yang salah [di dalamnya]” (Muhammad ‘Abduh dalam Al-Manar I, h. 428). Al-Quran selalu menegaskan bahwa ada banyak unsur kebenaran dalam semua agama yang berdasarkan wahyu Ilahi dan bahwa perbedaan-perbedaan yang selanjutnya terjadi merupakan akibat dari “khayalan” (amaniyy, wishful beliefs; Surah Al-Baqarah [2]: 111) dan penyelewengan berangsur-angsur dari ajaran asal. (Lihat juga Surah Al-Hajj [22]: 67-69.)


Surah Al-Baqarah Ayat 114

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

wa man aẓlamu mim mam mana’a masājidallāhi ay yużkara fīhasmuhụ wa sa’ā fī kharābihā, ulā`ika mā kāna lahum ay yadkhulụhā illā khā`ifīn, lahum fid-dun-yā khizyuw wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun ‘aẓīm

114. Karena itu, adakah yang lebih zalim selain dari orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah di rumah-rumah ibadah-Nya [yang mana pun] dan berusaha keras merobohkannya, [padahal] mereka itu tidak berhak masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut [kepada Allah]?95 Bagi mereka disediakan kenistaan di dunia ini; dan bagi mereka disediakan penderitaan yang mengerikan di akhirat.


95 Salah satu prinsip dasar Islam adalah bahwa setiap agama yang menjadikan iman kepada Allah sebagai inti ajarannya harus memperoleh penghargaan penuh, betapapun banyak ajaran khasnya tidak kita sepakati. Karena itu, Muslim wajib menghormati dan melindungi setiap tempat ibadah yang dipersembahkan untuk Allah, baik itu masjid, gereja, maupun sinagoge (bdk. paragraf kedua dari Surah Al-Hajj [22]: 40); dan setiap upaya mencegah penganut agama lain menyembah Tuhan, menurut pandangan agamanya itu sendiri, dikecam oleh Al-Quran sebagai pelanggaran. Sebuah contoh yang mencolok tentang prinsip ini terlihat dari perlakuan Nabi Muhammad Saw. terhadap utusan Nasrani Najran pada 10 H. Mereka diberi kebebasan memasuki masjid Nabi dan, dengan persetujuan penuh dari Nabi, melaksanakan ritual keagamaan mereka di dalamnya, meskipun pemujaan mereka terhadap Yesus sebagai “anak Tuhan” dan Maryam sebagai “ibu Tuhan” secara mendasar berlawanan dengan keyakinan Islam (lihat Ibn Sa’d I/1, 84 dan seterusnya).


Surah Al-Baqarah Ayat 115

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

wa lillāhil-masyriqu wal-magribu fa ainamā tuwallụ fa ṡamma waj-hullāh, innallāha wāsi’un ‘alīm

115. Dan, kepunyaan Allah-lah timur dan barat: dan ke mana pun kalian berpaling, di sanalah wajah Allah. Perhatikanlah, Allah Maha Tak Terhingga dan Maha Mengetahui.


Surah Al-Baqarah Ayat 116

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

wa qāluttakhażallāhu waladan sub-ḥānah, bal lahụ mā fis-samāwāti wal-arḍ, kullul lahụ qānitụn

116. Dan, sungguhpun begitu, sebagian orang menyatakan, “Allah telah mengambil untuk diri-Nya sendiri seorang anak laki-laki!” Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya!96

Tidak! Akan tetapi, kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi; seluruhnya tunduk kepada kehendak-Nya dengan tulus.


96 Yakni, jauh dari segala ketidaksempurnaan, sebagaimana yang tersirat dalam gagasan perlunya (atau logisnya kemungkinan) memiliki “keturunan”, baik dalam pengertian harfiah maupun metaforis. Ungkapan subhana—yang digunakan khusus untuk Allah—menunjukkan betapa mustahilnya Dia memiliki ketidaksempurnaan dan keserupaan, betapapun kecilnya, dengan segala makhluk-Nya.


Surah Al-Baqarah Ayat 117

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

badī’us-samāwāti wal-arḍ, wa iżā qaḍā amran fa innamā yaqụlu lahụ kun fa yakụn

117. Dia-lah Yang Memulai Penciptaan lelangit dan bumi: dan manakala Dia menetapkan untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah”—maka, terjadilah ia!


Surah Al-Baqarah Ayat 118

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

wa qālallażīna lā ya’lamụna lau lā yukallimunallāhu au ta`tīnā āyah, każālika qālallażīna ming qablihim miṡla qaulihim, tasyābahat qulụbuhum, qad bayyannal-āyāti liqaumiy yụqinụn

118. DAN, [hanya] orang-orang yang tak berpengetahuan[lah yang] berkata, “Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami dan tidak pula ada suatu tanda [yang menakjubkan] ditunjukkan kepada kami?” Demikianlah, orang-orang yang hidup sebelum zaman mereka97 pun mengatakan seperti yang mereka katakan: hati mereka serupa. Sungguh, Kami telah menjadikan semua tanda-tanda tampak jelas bagi orang-orang yang dianugerahi keyakinan batin yang mendalam.


97 Yaitu, orang-orang yang tidak mampu memahami kebenaran intrinsik dari pesan-pesan yang disampaikan kepada mereka oleh para nabi, alih-alih menuntut suatu “bukti” mukjizat bahwa pesan-pesan tersebut benar-benar berasal dari Allah dan, karena itu, gagal mengambil manfaat dari pesan-pesan tersebut. Ayat ini jelas berkaitan dengan ayat 108 sebelumnya, dan dengan demikian mengacu pada keberatan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap pesan-pesan Al-Quran. (Lihat juga catatan no. 29 atas Surah Al-Muddatstsir [74]: 52.)


Surah Al-Baqarah Ayat 119

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۖ وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

innā arsalnāka bil-ḥaqqi basyīraw wa nażīraw wa lā tus`alu ‘an aṣ-ḥābil-jaḥīm

119. Sungguh, Kami telah mengutus engkau [wahai Nabi] dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan: dan engkau tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang ditetapkan di neraka yang berkobar.


Surah Al-Baqarah Ayat 120

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

wa lan tarḍā ‘angkal-yahụdu wa lan-naṣārā ḥattā tattabi’a millatahum, qul inna hudallāhi huwal-hudā, wa la`inittaba’ta ahwā`ahum ba’dallażī jā`aka minal-‘ilmi mā laka minallāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr

120. Karena, orang-orang Yahudi itu tidak akan pernah senang kepadamu, demikian pula orang-orang Nasrani, kecuali engkau mengikuti keyakinan mereka. Katakanlah: “Perhatikan, hanya petunjuk Allah-lah yang benar.”

Dan sungguh, jika engkau mengikuti pandangan sesat mereka setelah semua pengetahuan datang kepadamu, engkau tidak akan memiliki siapa pun yang akan melindungimu dari Allah, juga tidak memiliki siapa pun yang akan memberi pertolongan.


Surah Al-Baqarah Ayat 121

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

allażīna ātaināhumul-kitāba yatlụnahụ ḥaqqa tilāwatih, ulā`ika yu`minụna bih, wa may yakfur bihī fa ulā`ika humul-khāsirụn

121. Orang-orang yang telah Kami beri kitab Ilahi [dan yang] mengikutinya sebagaimana seharusnya ia diikuti98—mereka itulah yang [benar-benar] beriman kepadanya; sedangkan semua yang memilih mengingkari kebenarannya—mereka itulah orang-orang yang merugi!


98 Atau: “mengabdikan diri kepadanya dengan pengabdian yang sejati”—yakni, berupaya menyerap maknanya dan memahami tujuan spiritualnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 122

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

yā banī isrā`īlażkurụ ni’matiyallatī an’amtu ‘alaikum wa annī faḍḍaltukum ‘alal-‘ālamīn

122. WAHAI, BANI ISRAIL! ingatlah nikmat-nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, dan betapa Aku telah mengutamakan kalian di atas semua umat yang lain;


Surah Al-Baqarah Ayat 123

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

wattaqụ yaumal lā tajzī nafsun ‘an nafsin syai`aw wa lā yuqbalu min-hā ‘adluw wa lā tanfa’uhā syafā’atuw wa lā hum yunṣarụn

123. dan sadarlah selalu akan [datangnya] suatu Hari ketika tak seorang manusia pun dapat berguna bagi yang lain, dan tidak pula akan diterima tebusan dari siapa pun di antara mereka, dan tidak pula berguna syafaat bagi mereka, dan tak satu pun dari mereka akan ditolong.99


99 Lihat ayat 48 surah ini. Dalam konteks di atas, hal ini terutama mengacu pada keyakinan kaum Yahudi bahwa pada Hari Pengadilan, mereka akan “ditebus” {yakni, diselamatkan—peny.} semata-mata karena mereka keturunan Ibrahim—suatu kepercayaan yang dibantah pada ayat berikutnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 124

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

wa iżibtalā ibrāhīma rabbuhụ bikalimātin fa atammahunn, qāla innī jā’iluka lin-nāsi imāmā, qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu ‘ahdiẓ-ẓālimīn

124. Dan, [ingatlah ini:] tatkala Ibrahim diuji Pemeliharanya dengan beberapa perintah[-Nya] dan Ibrahim memenuhinya,100 Dia berfirman, “Perhatikanlah, Aku akan menjadikanmu seorang pemimpin bagi manusia.”

Ibrahim bertanya, “Dan, [akankah Engkau menjadikan] para keturunanku juga [sebagai pemimpin]?”

[Allah] menjawab, “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.”101


100 Para mufasir klasik telah banyak berspekulasi tentang apa sebenarnya perintah-perintah (kalimat, lit., “kata-kata”) ini. Namun, karena Al-Quran tidak menyebutkannya dengan pasti, harus diduga bahwa yang dimaksudkan dengan “perintah-perintah” itu tidak lain adalah kepasrahan total Ibrahim kepada perintah apa pun yang dia terima darl Allah.

101 Ayat ini, yang dibaca dalam kaitannya dengan dua ayat sebelumnya, membantah pandangan Bani Israil bahwa karena mereka merupakan keturunan Ibrahim, yang dijadikan Allah sebagai “pemimpin umat manusia”, mereka menjadi “umat Tuhan”. Al-Quran menjelaskan bahwa kedudukan mulia Ibrahim bukanlah sesuatu yang secara otomatis dapat memberikan kedudukan yang sama kepada keturunannya dan apalagi kepada para pendosa di antara mereka.


Surah Al-Baqarah Ayat 125

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

wa iż ja’alnal-baita maṡābatal lin-nāsi wa amnā, wattakhiżụ mim maqāmi ibrāhīma muṣallā, wa ‘ahidnā ilā ibrāhīma wa ismā’īla an ṭahhirā baitiya liṭ-ṭā`ifīna wal-‘ākifīna war-rukka’is-sujụd

125. DAN, LIHATLAH! Kami jadikan bangunan suci itu sebagai tujuan bagi manusia sehingga dapat selalu melakukan perbaikan, dan (sebagai) tempat perlindungan:102 maka, jadikanlah tempat, di mana Ibrahim pernah berdiri, itu sebagai tempat shalat kalian.103

Dan demikianlah, Kami perintahkan Ibrahim dan Isma’il: “Sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang akan melakukan tawaf104 bagi orang-orang yang akan tinggal di dekatnya untuk beriktikaf,* dan bagi orang-orang yang rukuk dan sujud [dalam shalat].”


102 Bangunan (al-bait, temple)—lit., “Rumah (Ibadah)”—yang disebutkan di sini adalah Ka’bah di Makkah. Di tempat lain, Al-Quran menyebutnya “Bangunan Tua” (al-bait al-‘atiq, Ancient Temple), dan sering juga dengan “Rumah Ibadah yang Suci” (al-masjid al-haram, the lnviolable House of Worship). Prototipe bangunan ini konon telah didirikan Nabi Ibrahim a.s. sebagai bangunan suci pertama yang dipersembahkan untuk Tuhan Yang Maha Esa (lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 96) dan, atas dasar ini, dijadikan sebagai arah shalat (qiblah) bagi seluruh kaum Muslim, dan sebagai tujuan haji setiap tahun. Harus dicatat bahwa pada masa jahiliah pun Ka`bah selalu dihubungkan dengan memori terhadap Nabi Ibrahim a.s., yang kepribadiannya tertanam kuat dalam pikiran bangsa Arab. Berdasarkan riwayat bangsa Arab kuno, Nabi Ibrahim a.s.—untuk menenteramkan Sarah, istrinya—meninggalkan budak perempuannya yang berkebangsaan Mesir, yakni Hajar, dan putra mereka, di area yang kemudian menjadi Kota Makkah, setelah membawa keduanya dari Kanaan. Hal itu sama sekali bukan suatu yang mustahil apabila kita ingat bahwa, bagi seorang Badui penunggang unta (dan Nabi Ibrahim a.s. tentu menunggang unta), perjalanan selama dua puluh atau bahkan tiga puluh hari bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sepintas, pernyataan Bibel (dalam Kitab Kejadian 21: 14; bahwa “di padang gurun Bersyeba”, yakni di ujung paling selatan Palestina, itulah Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan Hajar dan Isma’il) tampaknya bertentangan dengan uraian Al-Quran. Namun, dugaan adanya pertentangan ini segera sirna begitu kita ingat bahwa bagi orang-orang Yahudi kuno yang tinggal di kota, istilah “padang gurun Bersyeba” meliputi seluruh wilayah padang pasir di sebelah selatan Palestina, termasuk Hijaz. Di daerah itulah, yakni di tempat Hajar dan Isma’il ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim a.s., mereka akhirnya menetap, setelah menemukan sumber mata air yang kini disebut Sumur Zamzam; dan mungkin sumber mata air itulah yang menyebabkan sekelompok pengembara dari keluarga Badui suku Jurhum dari Arab Selatan (Qahthani) menetap di sana. Di kemudian hari, Isma’il mengawini seorang gadis dari suku ini, dan dengan begitu menjadi leluhur suku musta’ribah (“yang ter-Arab-kan”)—disebut demikian karena keturunan mereka berasal dari seorang ayah Yahudi dan seorang ibu Qahthani. Adapun mengenai Nabi Ibrahim a.s., konon dia sering mengunjungi Hajar dan Isma’il; dan dalam salah satu kunjungannya yang teratur itulah, dia, dibantu oleh Isma’il, mendirikan struktur asli Ka`bah. (Untuk penjelasan yang lebih terperinci tentang riwayat Nabi Ibrahim a.s., lihat Shahih Bukhari, Kitab Al-‘Ilm; Al-Thabari, Ta’rikh Al-Umam; Ibn Sa’d; Ibn Hisyam; Mas’udi, Muruj Al-Dzahab; Yaqut, Mu’jam Al-Buldan; dan sejarahwan Muslim awal lainnya.)

103 Ini mungkin mengacu pada areal sekitar Ka`bah atau lebih mungkin lagi (Al-Manar I, hh. 461 dan seterusnya) tempat-tempat suci (haram) di sekitarnya. Kata amn (lit., “keamanan”) dalam konteks ini berarti perlindungan bagi seluruh makhluk hidup.

104 Tujuh kali mengelilingi Ka’bah (thawaf) merupakan salah satu ritual haji yang secara simbolis menunjukkan bahwa seluruh tindakan dan upaya manusia harus terpusat pada gagasan tentang Allah dan keesaan-Nya.

* {Lihat catatan no. 162 dalam surah ini.—peny.}


Surah Al-Baqarah Ayat 126

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

wa iż qāla ibrāhīmu rabbij’al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahụ minaṡ-ṡamarāti man āmana min-hum billāhi wal-yaumil-ākhir, qāla wa mang kafara fa umatti’uhụ qalīlan ṡumma aḍṭarruhū ilā ‘ażābin-nār, wa bi`sal-maṣīr

126. Dan lihatlah, Ibrahim berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan anugerahkanlah rezeki yang melimpah** kepada penduduknya—di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.”

[Allah] menjawab, “Dan, siapa saja yang mengingkari kebenaran, akan Aku biarkan dia bersenang-senang sesaat—tetapi akhirnya Aku akan menggiringnya ke derita neraka: suatu akhir perjalanan yang amat buruk!”


** {Ungkapan “rezeki yang melimpah” adalah terjemahan dari ungkapan fruitful sustenance yang dipilih Asad untuk menerjemahkan nomina tsamarat (jamak; tunggal: tsamarat) yang berarti buah-buahan. Adjektiva fruitful berarti “bermanfaat, berbuah, subur, melimpah”, berasal dari nomina fruit yang berarti buah. Dengan demikian, fruitful sustenance mencakup makna rezeki berupa buah maupun “rezeki yang melimpah”.—peny.}


Surah Al-Baqarah Ayat 127

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa iż yarfa’u ibrāhīmul-qawā’ida minal-baiti wa ismā’īl, rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-samī’ul-‘alīm

127. Dan, ketika Ibrahim dan Isma’il menegakkan fondasi bangunan suci itu, [mereka berdoa,] “Wahai, Pemelihara kami! Terimalah ini dari kami: sebab, sungguh, Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui!


Surah Al-Baqarah Ayat 128

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

rabbanā waj’alnā muslimaini laka wa min żurriyyatinā ummatam muslimatal laka wa arinā manāsikanā wa tub ‘alainā, innaka antat-tawwābur-raḥīm

128. “Wahai, Pemelihara kami! Jadikanlah kami orang yang pasrah kepada-Mu, jadikanlah keturunan kami105 umat yang pasrah kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara beribadah kami, dan terimalah tobat kami: sebab, sungguh, hanya Engkau-lah Sang Penerima Tobat, Sang Pemberi Rahmat!


105 Ungkapan “keturunan kami” (dzurriyyatina) maksudnya adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui putra pertamanya, Nabi Ismail a.s., dan secara tidak langsung mengacu pada Nabi Muhammad Saw. yang merupakan keturunannya.


Surah Al-Baqarah Ayat 129

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

rabbanā wab’aṡ fīhim rasụlam min-hum yatlụ ‘alaihim āyātika wa yu’allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa yuzakkīhim, innaka antal-‘azīzul-ḥakīm

129. “Wahai, Pemelihara kami! Bangkitkanlah di antara keturunan kami106 seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan menyampaikan kepada mereka pesan-pesan-Mu, dan mengajarkan kepada mereka wahyu dan hikmah, serta menyebabkan mereka tumbuh dalam kesucian: sebab, sungguh, hanya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!”


106 Lit, “di antara mereka”.


Surah Al-Baqarah Ayat 130

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

wa may yargabu ‘am millati ibrāhīma illā man safiha nafsah, wa laqadiṣṭafaināhu fid-dun-yā, wa innahụ fil-ākhirati laminaṣ-ṣāliḥīn

130. Dan, siapakah yang akan meninggalkan keyakinan Ibrahim, kecuali orang yang lemah-akal, mengingat bahwa Kami benar-benar telah memuliakannya di dunia ini dan bahwa, sungguh, dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh?


Surah Al-Baqarah Ayat 131

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

iż qāla lahụ rabbuhū aslim qāla aslamtu lirabbil-‘ālamīn

131. Ketika Pemeliharanya berfirman kepadanya, “Berserah dirilah kepada-Ku!”—dia menjawab, “Aku telah berserah diri kepada[-Mu], Pemelihara seluruh alam.”


Surah Al-Baqarah Ayat 132

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

wa waṣṣā bihā ibrāhīmu banīhi wa ya’qụb, yā baniyya innallāhaṣṭafā lakumud-dīna fa lā tamụtunna illā wa antum muslimụn

132. Dan, memang hal inilah yang telah diwasiatkan oleh Ibrahim kepada anak-anaknya dan [juga diwasiatkan] oleh Ya’qub: “Wahai, anak-anakku! Perhatikanlah, Allah telah menganugerahkan kepada kalian agama yang paling murni; maka, jangan biarkan kematian merenggut kalian, kecuali kalian telah berserah diri kepada-Nya.”


Surah Al-Baqarah Ayat 133

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

am kuntum syuhadā`a iż ḥaḍara ya’qụbal-mautu iż qāla libanīhi mā ta’budụna mim ba’dī, qālụ na’budu ilāhaka wa ilāha ābā`ika ibrāhīma wa ismā’īla wa is-ḥāqa ilāhaw wāḥidā, wa naḥnu lahụ muslimụn

133. Tidak, tetapi kalian [sendiri, wahai Bani Israil,] menyaksikan107 bahwa ketika maut menghampiri Ya’qub, dia berkata kepada anak-anaknya, “Siapa yang akan kalian sembah sepeninggalku?”

Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il,108 dan Ishaq; Tuhan Yang Maha Esa; dan kepada-Nya kami akan berserah diri.”


107 Yakni, “dalam tradisi keagamaan yang kalian anut”. Harus dicatat bahwa kata sambung am, yang ada di awal kalimat ini, tidak selalu digunakan dalam pengertian kalimat tanya (“apakah …?”): kadang-kadang—dan terutama ketika secara sintaksis tidak dihubungkan dengan kalimat sebelumnya, seperti dalam kasus ini—kata ini sama dengan bal (“sebaliknya” atau “tidak, tetapi”) dan tidak memiliki konotasi kalimat tanya.

108 Dalam bahasa Arab klasik, seperti dalam bahasa Ibrani kuno, istilah ab (“ayah”) digunakan tidak hanya untuk ayah kandung, tetapi juga untuk kakek dan bahkan leluhur yang lebih jauh, termasuk paman dari pihak ayah: ini menjelaskan mengapa Isma’il, yang merupakan paman Ya’qub, disebutkan dalam konteks ini. Karena dia merupakan putra pertama Ibrahim, namanya disebutkan sebelum nama Ishaq.


Surah Al-Baqarah Ayat 134

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

tilka ummatung qad khalat, lahā mā kasabat wa lakum mā kasabtum, wa lā tus`alụna ‘ammā kānụ ya’malụn

134. Kini, umat itu telah berlalu; terhadap mereka akan diperhitungkan apa yang telah mereka usahakan dan terhadap kalian apa yang telah kalian usahakan; dan kalian tidak akan dihakimi berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan.109


109 Lit., “kalian tidak akan ditanya tentang apa yang mereka lakukan”. Ayat ini, dan juga ayat 141, menekankan ajaran dasar Islam tentang tanggung jawab individu, sekaligus menyangkal gagasan kaum Yahudi sebagai “umat pilihan” karena alasan faktor keturunan mereka, dan juga—secara tersirat—menyangkal doktrin Kristen tentang “dosa asal”, yang dianggap dibebankan kepada semua manusia karena jatuhnya Adam dari surga.


Surah Al-Baqarah Ayat 135

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

wa qālụ kụnụ hụdan au naṣārā tahtadụ, qul bal millata ibrāhīma ḥanīfā, wa mā kāna minal-musyrikīn

135. DAN, MEREKA berkata, “Jadilah Yahudi”—atau “Nasrani”—“niscaya kalian akan berada di jalan yang benar.” Katakanlah: “Tidak, tetapi [jalan kami] adalah keyakinan Ibrahim, yang berpaling dari semua yang batil,110 dan dia bukanlah termasuk orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.”


110 Ungkapan hanif berasal dari verba hanafa, yang secara harfiah berarti “dia cenderung [ke suatu keadaan atau kecenderungan yang benar]” (bdk. Lane II, h. 658). Sejak masa pra-Islam, istilah ini sudah memiliki konotasi monoteistik yang tegas dan digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berpaling dari dosa dan keduniawian serta segala keyakinan yang meragukan, khususnya penyembahan berhala; sedangkan tahannuf berarti pengabdian yang sungguh-sungguh, yang dilakukan oleh para pencari-Tuhan Yang Maha Esa pada masa pra-Islam, dalam bentuk berjaga pada waktu malam dan berdoa dengan doa-doa yang panjang. Contoh penggunaan istilah hanif dan tahannuf ini banyak terdapat dalam bait-bait penyair pra-Islam, seperti Umayyah ibn Abi Al-Shalt dan Jiran Al-‘Aud (bdk. Lisan Al-‘Arab, artikel hanafa).


Surah Al-Baqarah Ayat 136

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

qụlū āmannā billāhi wa mā unzila ilainā wa mā unzila ilā ibrāhīma wa ismā’īla wa is-ḥāqa wa ya’qụba wal-asbāṭi wa mā ụtiya mụsā wa ‘īsā wa mā ụtiyan-nabiyyụna mir rabbihim, lā nufarriqu baina aḥadim min-hum wa naḥnu lahụ muslimụn

136. atakanlah: “Kami beriman pada Allah dan pada apa yangtelah diturunkan kepada kami, serta pada apa yang di turunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan keturunan mereka,111 dan pada apa yang telah disampaikan kepada Musa dan lsa, serta pada apa yang disampaikan kepada semua nabi [lain] oleh Pemelihara mereka: kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.112 Dan, kepada-Nya-lah kami berserah diri.”


111 Lit., “anak cucu” (al-asbath, tunggal: sibth)—suatu istilah yang dipakai dalam Al-Quran untuk menggambarkan, pertama-tama, keturunan langsung Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, serta kemudian, dua belas suku yang berkembang dari keturunan ini.

112 Yakni, “kami menganggap mereka semua sebagai nabi-nabi sejati Allah”.


Surah Al-Baqarah Ayat 137

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

fa in āmanụ bimiṡli mā āmantum bihī fa qadihtadau, wa in tawallau fa innamā hum fī syiqāq, fa sayakfīkahumullāh, wa huwas-samī’ul-‘alīm

137. Dan, jika [orang lain] akhirnya beriman seperti kalian beriman, mereka pasti akan menemukan diri mereka berada pada jalan yang lurus; dan jika mereka berpaling, mereka sendirilah yang akan terbenam dalam kesalahan, dan Allah akan melindungi kalian dari mereka: sebab, hanya Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


Surah Al-Baqarah Ayat 138

صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

ṣibgatallāh, wa man aḥsanu minallāhi ṣibgataw wa naḥnu lahụ ‘ābidụn

138. [Katakanlah: “Hidup kami mendapatkan] corak[nya] dari Allah! Dan, siapakah yang dapat memberikan corak [pada kehidupan] lebih baik daripada Allah, jika kita benar-benar menyembah-Nya?”


Surah Al-Baqarah Ayat 139

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

qul a tuḥājjụnanā fillāhi wa huwa rabbunā wa rabbukum, wa lanā a’mālunā wa lakum a’mālukum, wa naḥnu lahụ mukhliṣụn

139. Katakanlah [kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani]: “Apakah kalian berdebat dengan kami tentang Allah?113 Padahal, Dia-lah Pemelihara kami dan Pemelihara kalian—terhadap kamilah, perbuatan kami akan diperhitungkan dan terhadap kalianlah, perbuatan kalian; dan hanya kepada-Nya-lah kami membaktikan diri.”


113 Yaitu, berdebat seputar kehendak Allah untuk menentukan mata rantai kenabian dan keselamatan akhir manusia. Orang-orang Yahudi percaya bahwa kenabian merupakan hak istimewa yang hanya diberikan kepada Bani Israil, sedangkan umat Nasrani menegaskan bahwa Yesus—yang juga keturunan Bani Israil—adalah manifestasi final Tuhan di muka bumi; dan masing-masing dari dua golongan itu mengklaim bahwa keselamatan hanya milik golongannya (lihat ayat 111 dan 135 surah ini). Al-Quran menyangkal gagasan-gagasan itu dengan menegaskan, pada ayat selanjutnya, bahwa Allah adalah Tuhan seluruh manusia dan bahwa setiap individu akan diadili berdasarkan keyakinan dan perbuatannya sendiri.


Surah Al-Baqarah Ayat 140

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

am taqụlụna inna ibrāhīma wa ismā’īla wa is-ḥāqa wa ya’qụba wal-asbāṭa kānụ hụdan au naṣārā, qul a antum a’lamu amillāh, wa man aẓlamu mim mang katama syahādatan ‘indahụ minallāh, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn

140. “Apakah kalian menyatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan keturunannya itu ‘orang-orang Yahudi’ atau ‘Nasrani’?”114 Katakanlah: “Apakah kalian yang lebih mengetahui daripada Allah? Dan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian yang telah diberikan Allah kepadanya?”115 Namun, Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.


114 Mengenai istilah asbath (yang di sini dan juga dalam ayat 136 diterjemahkan menjadi “keturunan”), lihat catatan no. 111. Dalam ungkapan tersebut, Al-Quran menyinggung fakta bahwa konsep “Yudaisme” baru muncul berabad-abad setelah masa para Patriark {Bapak-Bapak para Nabi—peny.}, dan bahkan jauh setelah masa Nabi Musa a.s., sedangkan konsep “agama Nasrani” dan “umat Nasrani” tidak dikenal pada masa Yesus dan merupakan perkembangan yang terjadi di kemudian hari.

115 Sebuah pengingatan terhadap ramalan Bibel tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. (lihat catatan no. 33 ayat 42 surah ini), yang pada kenyataannya bertentangan dengan klaim Yahudi-Kristen bahwa seluruh nabi yang sejati, setelah para Patriark, berasal dari Bani Israil.


Surah Al-Baqarah Ayat 141

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

tilka ummatung qad khalat, lahā mā kasabat wa lakum mā kasabtum, wa lā tus`alụna ‘ammā kānụ ya’malụn

141. “Itulah umat yang telah lalu; terhadap mereka akan diperhitungkan apa yang telah mereka usahakan dan terhadap kalian apa yang telah kalian usahakan; dan kalian tidak akan dihakimi berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan.”


Surah Al-Baqarah Ayat 142

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

sayaqụlus-sufahā`u minan-nāsi mā wallāhum ‘ang qiblatihimullatī kānụ ‘alaihā, qul lillāhil-masyriqu wal-magrib, yahdī may yasyā`u ilā ṣirāṭim mustaqīm

142. ORANG-ORANG yang lemah-akal di antara manusia akan berkata, “Apa yang membuat mereka berpaling dari arah shalat yang selama ini mereka jalani?”116

Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”117


116 Sebelum diangkat menjadi nabi, dan selama periode awal dakwahnya di Makkah, Nabi—dan para pengikutnya—biasa bershalat menghadap Ka’bah. Ini tidak diperintahkan oleh wahyu tertentu, tetapi tentu saja disebabkan fakta bahwa Ka’bah—meskipun pada waktu itu dipenuhi dengan berbagai patung yang sangat dihormati bangsa Arab pra-Islam—selalu dipandang sebagai rumah ibadah pertama yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa (bdk. Surah Alu ‘Imran [3]: 96). Karena menyadari kesucian Yerusalem (Al-Quds)—tempat suci lainnya bagi agama tauhid—Nabi biasa melaksanakan shalat di depan dinding selatan Ka’bah sehingga mengarah ke utara. Jadi, seolah-olah menghadap ke Ka’bah dan Yerusalem sekaligus. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi tetap bershalat menghadap ke utara, dengan Yerusalem saja sebagai qiblah (kiblat; arah shalat). Namun, sekitar enam belas bulan setelah tiba di Madinah, Nabi menerima wahyu (ayat 142-150 surah ini) yang tidak diragukan lagi menetapkan Ka’bah sebagai kiblat bagi para penganut Al-Quran. “Ditinggalkannya” Yerusalem ini tentu tidak menyenangkan kaum Yahudi Madinah, yang pasti merasa senang ketika mereka melihat kaum Muslim bershalat ke arah kota suci mereka; dan kepada merekalah kalimat pembuka dari ayat ini ditujukan. Apabila kita melihat masalah tersebut dari titik pandang sejarah, tidak pernah ada perubahan dalam perintah Allah berkenaan dengan kiblat ini: karena tidak ada perintah apa pun perihal kiblat ini sebelum ayat 142-150 di atas diwahyukan. Hubungan logis ayat-ayat ini dengan rangkaian ayat sebelumnya, yang secara garis besar membahas Ibrahim dan keyakinannya, terletak pada fakta bahwa Ibrahim-lah orang yang mendirikan struktur awal rumah ibadah itu, yang kemudian dikenal dengan Ka’bah.

117 Atau: “Dia memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa saja yang ingin [diberi petunjuk]”.


Surah Al-Baqarah Ayat 143

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

wa każālika ja’alnākum ummataw wasaṭal litakụnụ syuhadā`a ‘alan-nāsi wa yakụnar-rasụlu ‘alaikum syahīdā, wa mā ja’alnal-qiblatallatī kunta ‘alaihā illā lina’lama may yattabi’ur-rasụla mim may yangqalibu ‘alā ‘aqibaīh, wa ing kānat lakabīratan illā ‘alallażīna hadallāh, wa mā kānallāhu liyuḍī’a īmānakum, innallāha bin-nāsi lara`ụfur raḥīm

143. Dan karena itu, Kami telah menetapkan kalian menjadi umat pertengahan,118 agar [melalui kehidupan kalian,] kalian dapat menjadi saksi terhadap kebenaran di hadapan seluruh manusia dan agar Rasul dapat menjadi saksi terhadap hal itu di hadapan kalian.119

Dan, tidaklah Kami tetapkan [bagi umat ini] kiblat yang sebelumnya telah menjadi kiblatmu [wahai Nabi], melainkan semata-mata agar Kami dapat membuat pembedaan yang jelas antara mereka yang mengikuti Rasul dan mereka yang tiba-tiba berpaling itu: sebab, (pemindahan kiblat) ini benar-benar merupakan suatu ujian yang berat bagi semua, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk dengan benar oleh Allah.120 Namun, Allah pasti tidak akan lengah terhadap iman kalian sebab, perhatikanlah, Allah Maha Melimpahkan Kasih terhadap manusia, Maha Pemberi Rahmat.


118 Lit., “umat yang paling pertengahan”—yakni, umat yang memelihara keseimbangan antara berbagai titik ekstrem dan bersikap realistis dalam mengapresiasi sifat dan kemungkinan yang dimiliki manusia, dengan menolak baik keduniawian maupun asketisisme yang berlebihan. Senada dengan seruannya yang berulang-ulang kepada sikap moderat dalam setiap aspek kehidupan, Al-Quran sangat menganjurkan kaum mukmin untuk tidak terlalu menekankan aspek fisik dan materiel dalam kehidupannya, tetapi pada saat yang sama menerima bahwa dorongan dan hasrat manusia yang berhubungan dengan “kehidupan jasmani” merupakan kehendak Allah dan, karena itu, sah. Berdasarkan analisis lebih lanjut, ungkapan “umat pertengahan” dapat dikatakan mengikhtisarkan, begitulah kira-kira, sikap Islam terhadap masalah eksistensi manusia itu sendiri, yakni: menolak pendapat bahwa terdapat konflik inheren antara jiwa dan badan, sekaligus menyatakan dengan tegas bahwa dua aspek ganda kehidupan manusia ini merupakan suatu kesatuan yang alamiah dan dikehendaki oleh Allah. Sikap seimbang ini, yang merupakan ciri khas Islam, memancar langsung dari konsep keesaan Allah (Tauhid) dan, karena itu, kesatuan tujuan yang mendasari seluruh ciptaan-Nya: dan dengan demikian, penyebutan “umat pertengahan” di ayat ini merupakan pendahuluan yang tepat bagi tema Ka’bah, simbol keesaan Tuhan.

119 Yakni, “bahwa perikehidupan kalian menjadi teladan bagi seluruh manusia, sebagaimana Rasul adalah suri teladan bagi kalian”.

120 Yakni, “orang yang diberi pemahaman oleh-Nya” (Al-Razi). “Ujian berat” (kabirah) terletak pada fakta bahwa sejak hijrah mereka ke Madinah, kaum Muslim sudah terbiasa berkiblat (yakni bershalat menghadap) ke Yerusalem—sesuai dengan ajaran kebanyakan para nabi sebelumnya yang disebutkan dalam Al-Quran—dan sekarang mereka diperintahkan untuk mengubah kiblat mereka menuju Ka`bah, yang pada waktu itu (pada tahun kedua hijrah) masih dipakai oleh kaum musyrik Quraisy sebagai tempat suci yang diabdikan untuk menyembah berbagai patung berhala mereka. Berlawanan dengan ini, Al-Quran menegaskan bahwa Mukmin sejati tidak akan merasa sulit menjadikan Ka’bah sebagai kiblat (arah shalat) mereka kembali: secara naluriah, mereka akan menyadari kebijaksanaan Allah yang mendasari perintah ini yang menetapkan rumah ibadah Ibrahim sebagai simbol keesaan Tuhan dan titik temu kesatuan ideologi Islam. (Lihat juga catatan no. 116 sebelum ini.)


Surah Al-Baqarah Ayat 144

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

qad narā taqalluba waj-hika fis-samā`, fa lanuwalliyannaka qiblatan tarḍāhā fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa ḥaiṡu mā kuntum fa wallụ wujụhakum syaṭrah, wa innallażīna ụtul-kitāba laya’lamụna annahul-ḥaqqu mir rabbihim, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ya’malụn

144. Kami telah melihatmu [wahai Nabi] sering menengadah ke langit [memohon petunjuk]: dan sekarang, Kami sungguh akan memalingkan engkau ke kiblat yang akan memuaskan keinginanmu. Maka, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjid Al-Haram; dan di mana pun kalian berada, hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya [dalam shalat].

Dan sungguh, orang-orang yang dahulu telah diberi wahyu amat mengetahui bahwa [perintah] ini datang dengan sebenarnya dari Pemelihara mereka; dan Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.


Surah Al-Baqarah Ayat 145

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

wa la`in ataitallażīna ụtul-kitāba bikulli āyatim mā tabi’ụ qiblatak, wa mā anta bitābi’ing qiblatahum, wa mā ba’ḍuhum bitābi’ing qiblata ba’ḍ, wa la`inittaba’ta ahwā`ahum mim ba’di mā jā`aka minal-‘ilmi innaka iżal laminaẓ-ẓālimīn

145. Namun, kalaupun engkau mendatangkan semua bukti121 di hadapan orang-orang yang telah diberi wahyu terdahulu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu; dan engkau pun tidak boleh mengikuti kiblat mereka, bahkan mereka pun tidak akan saling mengikuti kiblat di antara mereka sendiri. Dan, jika engkau mengikuti pandangan sesat mereka setelah semua pengetahuan datang kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang yang zalim.


121 Lit., “setiap tanda (ayah)”, yaitu bahwa hal itu merupakan perintah yang diwahyukan.


Surah Al-Baqarah Ayat 146

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

allażīna ātaināhumul-kitāba ya’rifụnahụ kamā ya’rifụna abnā`ahum, wa inna farīqam min-hum layaktumụnal-ḥaqqa wa hum ya’lamụn

146. Orang-orang yang dahulu telah Kami beri wahyu mengenalinya, sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri: tetapi, perhatikanlah, sebagian di antara mereka sengaja menyembunyikan kebenaran—


Surah Al-Baqarah Ayat 147

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

al-ḥaqqu mir rabbika fa lā takụnanna minal-mumtarīn

147. kebenaran dari Pemeliharamu!122

Maka, janganlah sekali-kali kalian termasuk orang-orang yang ragu:


122 Ini mengacu, pertama-tama, pada fakta bahwa Ka`bah adalah kiblat Ibrahim, serta pada ramalan Bibel yang menyatakan bahwa akan menjadi leluhur “bangsa yang besar” (Kitab Kejadian 21: 13 dan 18) yang darinya seorang nabi “seperti Musa” suatu hari akan muncul: sebab, melalui keturunan yakni melalui Nabi Muhammad Saw. yang berkebangsaan Arab itu, perintah yang berkenaan dengan kiblat diwahyukan. (Mengenai ramalan yang lebih eksplisit tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. yang tercantum dalam Injil resmi, lihat Surah As-Shaff [61]: 6 dan catatannya.)


Surah Al-Baqarah Ayat 148

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa likulliw wij-hatun huwa muwallīhā fastabiqul-khairāt, aina mā takụnụ ya`ti bikumullāhu jamī’ā, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

148. sebab, setiap umat menghadap ke arahnya masing-masing, dengan Dia sebagai titik pusatnya.123 Karena itu, berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan. Di mana saja kalian berada, Allah akan mengumpulkan kalian semua kepada-Nya: sebab, sungguh, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.


123 Lit., “setiap orang memiliki suatu arah …”, dan seterusnya. Hampir semua mufasir klasik, mulai dari Sahabat Nabi dan generasi sesudahnya, menafsirkan ungkapan ini sebagai gambaran terhadap berbagai kelompok keagamaan dan cara-cara mereka yang berbeda ketika “menghadap Allah” dalam sembahyang. Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menekankan kesamaan inti frasa ini dengan ungkapan yang ada dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 48: “Kepada masing-masing di antara kalian, telah Kami berikan aturan dan jalan hidup [yang berbeda-beda]”. Pernyataan bahwa “setiap umat menghadap ke arahnya masing-masing” dalam upaya mereka mengekspresikan ketaatan kepada Allah mempunyai beberapa implikasi: pertama, bahwa dalam berbagai masa dan keadaan, hasrat manusia untuk mendekati Allah dalam sembahyang memiliki berbagai bentuk (seperti, Ibrahim memilih Ka’bah sebagai kiblatnya, kaum Yahudi menjadikan Yerusalem sebagai titik pusatnya, gereja Kristen awal memilih menghadap ke timur, dan AI-Quran memerintahkan menghadap Ka’bah). Kedua, bahwa betapapun pentingnya makna simbolis arah sembahyang (kiblat), ia bukanlah esensi agama itu sendiri: sebab, seperti yang ditegaskan AI-Quran, “kesalehan sejati diraih bukan karena menghadapkan wajah kalian ke arah timur atau barat” (Surah Al-Baqarah [2]: 177), dan “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat” (Surah Al-Baqarah [2]: 115 dan 142). Karena itu, wahyu yang menetapkan Ka’bah sebagai kiblat kaum Muslim seharusnya tidak menjadi bahan perselisihan bagi penganut agama lain, juga bukan menjadi sebab ketidakpercayaan mereka terhadap kebenaran wahyu Al-Quran (Al-Manar II, hh. 21 dan seterusnya).


Surah Al-Baqarah Ayat 149

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

wa min ḥaiṡu kharajta fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa innahụ lal-ḥaqqu mir rabbik, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn

149. Jadi, dari mana saja engkau keluar, hadapkanlah wajahmu [dalam shalat] ke arah Masjid Al-Haram—sebab, perhatikanlah, [perintah] ini datang sebagai kebenaran dari Pemeliharamu; dan Allah sama sekali tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.


Surah Al-Baqarah Ayat 150

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

wa min ḥaiṡu kharajta fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa ḥaiṡu mā kuntum fa wallụ wujụhakum syaṭrahụ li`allā yakụna lin-nāsi ‘alaikum ḥujjatun illallażīna ẓalamụ min-hum fa lā takhsyauhum wakhsyaunī wa li`utimma ni’matī ‘alaikum wa la’allakum tahtadụn

150. Karena itu, dari mana saja engkau keluar, hadapkanlah wajahmu [dalam shalat] ke arah Masjid Al-Haram; dan di mana saja kalian semua berada, hadapkanlah wajah kalian ke arahnya sehingga manusia tidak memiliki alasan untuk menentang kalian, kecuali mereka berkukuh berbuat zalim.124 Dan, janganlah kalian merasa gentar-terpukau kepada mereka, tetapi gentar-terpukaulah kepada-Ku, dan [patuhilah Aku,] agar Aku anugerahkan nikmat-nikmat-Ku kepada kalian dengan sempurna, dan agar kalian mengikuti jalan yang benar.


124 Lit., “kecuali di antara mereka yang berkukuh berbuat zalim” (mengenai maksud yang tersirat dalam penggunaan verba bentuk lampau [al-madhi] dalam ungkapan seperti alladzina zhalamu atau alladzina kafaru, lihat catatan no. 6 ayat 6 surah ini).

Al-Quran berulang-ulang menegaskan bahwa umat Muslim adalah pengikut sejati Ibrahim. Namun, ernyataan ini tetap dapat diperdebatkan jika umat Muslim menghadap ke kiblat lain dalam shalatnya selain ke kiblat Ibrahim, Ka’bah. Apabila bukan Ka’bah yang ditetapkan sebagai kiblat bagi penganut Al-Quran, argumen “pengikut sejati Ibrahim” tersebut akan batal dan hanya akan memberikan peluang bagi “mereka yang berkukuh berbuat zalim” (dalam hal ini, menyelewengkan kebenaran) untuk menantang pesan Al-Quran dengan alasan-alasan ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 151

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

kamā arsalnā fīkum rasụlam mingkum yatlụ ‘alaikum āyātinā wa yuzakkīkum wa yu’allimukumul-kitāba wal-ḥikmata wa yu’allimukum mā lam takụnụ ta’lamụn

151. Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul dari kalangan sendiri agar menyampaikan kepada kalian pesan-pesan Kami, dan menyebabkan kalian tumbuh dalam kesucian, dan mengajarkan kepada kalian wahyu dan hikmah, serta mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui:


Surah Al-Baqarah Ayat 152

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

fażkurụnī ażkurkum wasykurụ lī wa lā takfurụn

152. maka, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kaJian; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan jangan ingkari Aku.


Surah Al-Baqarah Ayat 153

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

yā ayyuhallażīna āmanusta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma’aṣ-ṣābirīn

153. WAHAI, kalian yang telah meraih iman! Mintalah pertolongan dalam kesabaran yang teguh dan shalat: sebab, perhatikanlah, Allah bersama orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan.


Surah Al-Baqarah Ayat 154

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

wa lā taqụlụ limay yuqtalu fī sabīlillāhi amwāt, bal aḥyā`uw wa lākil lā tasy’urụn

154. Dan, janganlah kalian mengatakan tentang orang-orang yang dibunuh di jalan Allah, “Mereka mati”: tidak, mereka hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.


Surah Al-Baqarah Ayat 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn

155. Dan, pasti Kami akan menguji kalian melalui125 ketakutan, kelaparan, kehilangan harta, jiwa, dan buah-buah [usaha]. Namun, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan—


125 Lit., “dengan sesuatu”.


Surah Al-Baqarah Ayat 156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

allażīna iżā aṣābat-hum muṣībah, qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ụn

156. orang-orang yang apabila ditimpa musibah berkata, “Sungguh, kami milik Allah dan, sungguh, kepada-Nya-lah kami akan kembali.”


Surah Al-Baqarah Ayat 157

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

ulā`ika ‘alaihim ṣalawātum mir rabbihim wa raḥmah, wa ulā`ika humul-muhtadụn

157. Mereka itulah orang-orang yang mendapat karunia dan rahmat dari Pemelihara mereka, dan mereka itulah orang-orang yang berada di jalan yang benar!


Surah Al-Baqarah Ayat 158

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya’ā`irillāh, fa man ḥajjal-baita awi’tamara fa lā junāḥa ‘alaihi ay yaṭṭawwafa bihimā, wa man taṭawwa’a khairan fa innallāha syākirun ‘alīm

158. [Karena itu,] perhatikanlah, Al-Shafa dan Al-Marwah adalah di antara perlambang-perlambang yang di tetapkan Allah;126 maka, tiada salahnya orang yang, ketika berkunjung ke Baitullah untuk berhaji atau berumrah, berjalan cepat hilir-mudik antara kedua (tempat) ini:127 sebab, jika seseorang melakukan kebajikan melebihi yang diwajibkan kepadanya—perhatikanlah, Allah selalu menyambut rasa syukur, Maha Mengetahui.128


126 Lit., “perlambang-perlambang Allah”. Area sepanjang dua bukit batu yang landai itu, yang disebut Al-Shafa dan Al-Marwah yang terletak di Makkah, persis di sekitar Ka’bah, konon merupakan lokasi tempat Hajar menanggung penderitaan ketika Ibrahim, karena mengikuti perintah Allah, meninggalkan dirinya dan bayi mereka, di gurun pasir (lihat catatan no. 102 sebelum ini). Bingung karena haus dan khawatir terhadap keselamatan bayinya, Hajar berlari bolak-balik antara dua bukit batu itu dan berdoa dengan khusyuk kepada Allah memohon pertolongan: dan akhirnya, berkat sikap tawakal kepada Allah dan ketabahannya, dia dibalas dengan ditemukannya mata air—yang hingga kini masih ada dan dikenal dengan Sumur Zamzam—yang menyelamatkan keduanya dari mati kehausan. Untuk mengenang ujian berat yang dilalui Hajar dan sikap tawakalnya kepada Allah itulah, Al-Shafa dan Al-Marwah akhirnya dianggap, bahkan sejak masa pra-Islam, sebagai simbol keimanan dan kesabaran dalam menghadapi kesusahan: dan inilah alasannya mengapa kisah ini diceritakan dalam konteks ayat-ayat yang membahas keutamaan ketabahan dan tawakal kepada Allah (Al-Razi).

127 Untuk mengenang Hajar, yang dalam keadaan sulit berlari-lari antara Al-Shafa dan Al-Marwah, para jamaah haji diharuskan berjalan, dengan langkah cepat, sebanyak tujuh kali antara dua bukit kecil tersebut (baca: melakukan sa’i). Karena pada masa pra-Islam sejumlah berhala tertentu berdiri di sana, beberapa Muslim awal engganmelaksanakan ritual yang, bagi mereka, tampak berbau kemusyrikan itu (Al-Razi, berdasarkan riwayat Ibn ‘Abbas). Ayat di atas meyakinkan mereka kembali dengan menunjukkan bahwa praktik zikir simbolis ini jauh lebih tua umurnya daripada kemusyrikan yang dilakukan oleh kaum musyrik Quraisy.

128 Dari ungkapan “jika seseorang melakukan kebajikan melebihi yang diwajibkan kepadanya” yang dibaca dalam kaitannya dengan “tiada salahnya orang yang …” (atau, lebih harfiah lagi, “tiada celaan baginya, yang …”), beberapa ulama terkemuka—seperti, Imam Abu Hanifah—berkesimpulan bahwa berlari bolak-balik antara Al-Shafa dan Al-Marwah (sa’i) tidak wajib hukumnya dalam ritual haji, tetapi merupakan perbuatan saleh yang utama (sunnah mu’akkad) (lihat Al-Zamakhsyari dan Al-Razi). Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa sa’i merupakan bagian integral dari haji.


Surah Al-Baqarah Ayat 159

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

innallażīna yaktumụna mā anzalnā minal-bayyināti wal-hudā mim ba’di mā bayyannāhu lin-nāsi fil-kitābi ulā`ika yal’anuhumullāhu wa yal’anuhumul-lā’inụn

159. PERHATIKANLAH, orang-orang yang menyembunyikan bukti apa pun tentang kebenaran dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia melalui kitab Ilahi—mereka inilah orang-orang yang akan ditolak oleh Allah, dan ditolak oleh semua yang dapat menilai.129


129 Lit., “yang semua yang menolak akan menolak”—yakni, semua orang saleh yang mampu menilai masalah-masalah moral. Penolakan Allah (la’nah) menunjukkan “keluarnya orang itu dari rahmat-Nya” (Al-Manar II, h. 50). Dalam bahasa Arab klasik, arti la’nah sama dengan ib’ad (“pengasingan” atau “pembuangan”); dalam terminologi Al-Quran, kata itu menunjukkan “penolakan dari segaia yang baik” (Lisan Al-‘Arab). Menurut Ibn ‘Abbas dan sejumlah ulama terkemuka generasi berikutnya, kitab Ilahi yang disebutkan di sini adalah Bibel. Jadi, ayat di atas merujuk kepada kaum Yahudi dan Nasrani.


Surah Al-Baqarah Ayat 160

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

illallażīna tābụ wa aṣlaḥụ wa bayyanụ fa ulā`ika atụbu ‘alaihim, wa anat-tawwābur-raḥīm

160. Namun, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, dan menjelaskan kebenaran akan dikecualikan: mereka itulah orang-orang yang Aku terima tobatnya—sebab, Aku sajalah Sang Penerima Tohat, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Baqarah Ayat 161

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

innallażīna kafarụ wa mātụ wa hum kuffārun ulā`ika ‘alaihim la’natullāhi wal-malā`ikati wan-nāsi ajma’īn

161. Perhatikanlah, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan mati sebagai pengingkar kebenaran—balasan untuk mereka adalah penolakan Allah, para malaikat, dan semua orang [yang saleh].


Surah Al-Baqarah Ayat 162

خَالِدِينَ فِيهَا ۖ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

khālidīna fīhā, lā yukhaffafu ‘an-humul-‘ażābu wa lā hum yunẓarụn

162. Dalam keadaan inilah, mereka akan hidup; [dan] penderitaan mereka tidak akan diringankan dan tidak pula ditangguhkan.


Surah Al-Baqarah Ayat 163

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

wa ilāhukum ilāhuw wāḥid, lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm

163. DAN, TUHAN KALIAN adalah Tuhan Yang Maha Esa: tidak ada tuhan kecuali Dia, Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Baqarah Ayat 164

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri wal-fulkillatī tajrī fil-baḥri bimā yanfa’un-nāsa wa mā anzalallāhu minas-samā`i mim mā`in fa aḥyā bihil-arḍa ba’da mautihā wa baṡṡa fīhā ming kulli dābbatiw wa taṣrīfir-riyāḥi was-saḥābil-musakhkhari bainas-samā`i wal-arḍi la`āyātil liqaumiy ya’qilụn

164. Sungguh, dalam penciptaan lelangit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang: dan dalam bahtera-bahtera yang berlayar membelah lautan dengan (membawa) apa-apa yang berguna bagi manusia: dan dalam air yang Allah turunkan dari langit, yang dengannya hiduplah sang bumi setelah sebelumnya mati, dan menyebabkan segala makhluk hidup berkembang biak di atasnya: dan dalam perkisaran angin, dan awan yang bergerak pada jalurnya yang telah ditentukan antara langit dan bumi: [dalam semua hal ini] sungguh terdapat pesan-pesan bagi kaum yang menggunakan akal-pikirannya.130


130 Ayat ini adalah salah satu dari beberapa ayat Al-Quran yang menyeru kepada “kaum yang menggunakan akal-pikirannya” agar mengamati keajaiban alam sehari-hari, termasuk bukti kecerdasan manusia sendiri (“bahtera-bahtera yang berlayar membelah lautan”), di samping juga mengamati banyak isyarat adanya Kekuatan Sadar dan Kreatif yang meliputi alam semesta.


Surah Al-Baqarah Ayat 165

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

wa minan-nāsi may yattakhiżu min dụnillāhi andāday yuḥibbụnahum kaḥubbillāh, wallażīna āmanū asyaddu ḥubbal lillāhi walau yarallażīna ẓalamū iż yaraunal-‘ażāba annal-quwwata lillāhi jamī’aw wa annallāha syadīdul-‘ażāb

165. Dan, sekalipun demikian, ada manusia yang memilih untuk percaya kepada makhluk-makhluk yang diduga dapat menandingi Allah,131 dengan mencintai mereka sebagaimana mencintai Allah [semata]: sementara, orang-orang yang telah meraih iman mencintai Allah melebihi segala sesuatu.

Dan, andaikan saja orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman itu dapat melihat—sebagaimana mereka pasti akan melihat ketika mereka dibuat menderita132 [pada Hari Kebangkitan]—bahwa semua kekuatan itu milik Allah semata, dan bahwa Allah amat berat dalam [memberi] hukuman!


131 Lit., “di antara manusia ada yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah [untuk disembah]”. Berkenaan dengan istilah andad, lihat catatan no. 13 ayat 22 surah ini.

132 Lit., “ketika mereka melihat penderitaan (‘adzab)” (atau “hukuman”).


Surah Al-Baqarah Ayat 166

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ

iż tabarra`allażīnattubi’ụ minallażīnattaba’ụ wa ra`awul-‘ażāba wa taqaṭṭa’at bihimul-asbāb

166. [Pada hari itu] akan terjadi bahwa mereka yang [dengan keliru] telah dipuja-puja itu133 akan memungkiri pengikut mereka, dan para pengikut ini akan melihat penderitaan [yang menanti mereka], dengan segala harapan mereka134 terputus sama sekali!


133 Lit., “diikuti”—misalnya, orang suci atau “pribadi yang dianggap bersifat Ilahi”.

134 Asbab (tunggal: sabab) menurut makna dasarnya berarti “ikatan” atau “keterkaitan”, dan dalam pengertian figuratif, “jalan (menuju setiap tujuan)” (bdk. Lisan Al-‘Arab, dan Lane IV, h. 1285). Dalam konteks di atas, asbab jelas mengacu pada jalan keselamatan dan karenanya dapat diterjemahkan menjadi “harapan”.


Surah Al-Baqarah Ayat 167

وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

wa qālallażīnattaba’ụ lau anna lanā karratan fa natabarra`a min-hum, kamā tabarra`ụ minnā, każālika yurīhimullāhu a’mālahum ḥasarātin ‘alaihim, wa mā hum bikhārijīna minan-nār

167. Kemudian, para pengikut itu akan berkata, “Mungkinkah kami memperoleh kesempatan kedua [dalam hidup]135 sehingga kami dapat memungkiri mereka, sebagaimana mereka telah memungkiri kami!”

Demikianlah Allah akan memperlihatkan kepada mereka perbuatan-perbuatan mereka [dengan cara yang membuat mereka] semakin menyesal; tetapi mereka tidak akan keluar dari api neraka.136


135 Lit., “Seandainya bagi kami ada kembali”.

136 Dengan kata lain, kembali ke dalam kehidupan dunia ini, dengan kesempatan kedua bagi mereka (Al-Manar II, h. 81).


Surah Al-Baqarah Ayat 168

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

yā ayyuhan-nāsu kulụ mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyibaw wa lā tattabi’ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

168. WAHAI, MANUSIA! Makanlah yang halal dan baik di muka bumi dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan: sebab, sungguh, setan itu adalah musuh kalian yang nyata,


Surah Al-Baqarah Ayat 169

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

innamā ya`murukum bis-sū`i wal-faḥsyā`i wa an taqụlụ ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

169. dan hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan melakukan perbuatan keji, dan menisbahkan kepada Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.137


137 Ini mengacu pada penisbahan perintah atau larangan secara sewenang-wenang kepada Allah melebihi apa yang jelas-jelas telah diperintahkan oleh-Nya (Al-Zamakhsyari). Beberapa mufasir (semisal Muhammad ‘Abduh dalam Al-Manar II, hh. 89dst.) berpendapat bahwa ungkapan ini mencakup peraturan yang dianggap bersifat “legal” yang begitu banyak jumlahnya yang, tanpa didukung dengan jelas oleh teks Al-Quran atau hadis sahih, telah diterima oleh ulama tertentu melalui metode deduksi yang subjektif, lalu dikemukakannya sebagai “perintah Allah”. Kaitan antara ayat ini dan ayat sebelumnya sangat jelas. Dalam ayat 165-167, Al-Quran membicarakan orang-orang “yang memilih untuk percaya kepada makhluk-makhluk yang diduga dapat menandingi Allah”: dan ini juga menunjuk pada keyakinan batil yang menyatakan bahwa makhluk-makhluk itu berhak menetapkan perintah-perintah yang menyerupai kewajiban keagamaan, serta keyakinan bahwa adat-istiadat juga memiliki nilai religius, semata-mata karena sudah dipraktikkan turun-temurun oleh nenek moyang (lihat ayat berikutnya).


Surah Al-Baqarah Ayat 170

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

wa iżā qīla lahumuttabi’ụ mā anzalallāhu qālụ bal nattabi’u mā alfainā ‘alaihi ābā`anā, a walau kāna ābā`uhum lā ya’qilụna syai`aw wa lā yahtadụn

170. Namun, ketika mereka diperintah, “lkutilah apa yang telah diturunkan Allah,” sebagian menjawab, “Tidak, kami [hanya] akan mengikuti apa yang telah diyakini dan dilakukan nenek moyang kami.” Mengapa begitu, bahkan jika nenek moyang mereka tidak menggunakan pikiran mereka sama sekali, dan tidak mendapat petunjuk?


Surah Al-Baqarah Ayat 171

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً ۚ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

wa maṡalullażīna kafarụ kamaṡalillażī yan’iqu bimā lā yasma’u illā du’ā`aw wa nidā`ā, ṣummum bukmun ‘umyun fa hum lā ya’qilụn

171. Dan demikianlah, perumpamaan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran adalah seperti binatang yang mendengar seruan penggembala, dan tidak mendengar dalam seruan itu, kecuali bunyi suara dan seruan saja.138 Mereka tuli, bisu, dan buta: sebab, mereka tidak menggunakan akalnya.


138 Ini adalah terjemahan yang sangat bebas dari kalimat eliptis itu, yang secara harfiah berbunyi: “Perumpamaan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran adalah seperti orang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak mendengar apa pun, kecuali teriakan dan seruan”. Verba na’aqa umumnya digunakan untuk menggambarkan teriakan isyarat oleh penggembala untuk menggiring gembalaannya.


Surah Al-Baqarah Ayat 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum wasykurụ lillāhi ing kuntum iyyāhu ta’budụn

172. Wahai, orang-orang yang telah meraih iman! Makanlah yang baik yang telah Kami sediakan bagi kalian sebagai rezeki, dan bersyukurlah kepada Allah jika [memang benar] Dia-lah yang kalian sembah.


Surah Al-Baqarah Ayat 173

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

innamā ḥarrama ‘alaikumul-maitata wad-dama wa laḥmal-khinzīri wa mā uhilla bihī ligairillāh, fa maniḍṭurra gaira bāgiw wa lā ‘ādin fa lā iṡma ‘alaīh, innallāha gafụrur raḥīm

173. Dia hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, dan apa pun yang disembelih atas nama selain Allah;139 tetapi jika seseorang dalam keadaan terpaksa—tanpa menginginkannya dan tidak melebihi kebutuhannya saat itu tidak ada dosa baginya: sebab, perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


139 Yaitu, segala yang telah dipersembahkan atau dikorbankan sebagai sesaji untuk berhala, atau orang suci, atau seseorang yang dipandang sebagai “bersifat Ilahi”. Untuk perincian jenis-jenis daging yang diharamkan, lihat Surah Al-Ma’idah [5]: 3.


Surah Al-Baqarah Ayat 174

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

innallażīna yaktumụna mā anzalallāhu minal-kitābi wa yasytarụna bihī ṡamanang qalīlan ulā`ika mā ya`kulụna fī buṭụnihim illan-nāra wa lā yukallimuhumullāhu yaumal-qiyāmati wa lā yuzakkīhim, wa lahum ‘ażābun alīm

174. SUNGGUH, orang-orang yang menyembunyikan wahyu apa pun140 yang telah diturunkan Allah dan menukarnya demi keuntungan yang sepele—mereka itu hanyalah memenuhi perut mereka dengan api. Dan, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kebangkitan, tidak pula menyucikan mereka [dari dosa-dosa mereka]; dan penderitaan yang pedih menanti mereka.


140 Di sini, istilah wahyu (al-kitab) digunakan dalam arti generik: mencakup Al-Quran dan wahyu-wahyu sebelumnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 175

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

ulā`ikallażīnasytarawuḍ-ḍalālata bil-hudā wal-‘ażāba bil-magfirah, fa mā aṣbarahum ‘alan-nār

175. Mereka itulah orang-orang yang menukar petunjuk dengan kesesatan dan menukar ampunan dengan derita: sekalipun demikian, betapa sedikit tampaknya rasa takut mereka terhadap neraka!


Surah Al-Baqarah Ayat 176

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

żālika bi`annallāha nazzalal-kitāba bil-ḥaqq, wa innallażīnakhtalafụ fil-kitābi lafī syiqāqim ba’īd

176. Demikianlah: karena Allah-lah yang menurunkan141 kitab Ilahi, yang menyatakan kebenaran, semua orang yang menyusun pandangan mereka sendiri bertentangan dengan kitab Ilahi itu142 benar-benar berada dalam kesalahan yang amat besar.


141 Lit., “telah menurunkan”. Karena bentuk nazzala menunjukkan keberangsur-angsuran dan kesinambungan proses pewahyuan, ungkapan itu paling tepat diterjemahkan dengan menggunakan verba bentuk kini (fi’l mudhari’).

142 Lit., “yang memiliki pandangan berbeda-beda mengenai kitab Ilahi”—yakni, baik menyembunyikan, menolak sebagian darinya, maupun mengingkari keseluruhannya (Al-Razi).


Surah Al-Baqarah Ayat 177

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

laisal-birra an tuwallụ wujụhakum qibalal-masyriqi wal-magribi wa lākinnal-birra man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wal-malā`ikati wal-kitābi wan-nabiyyīn, wa ātal-māla ‘alā ḥubbihī żawil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīna wabnas-sabīli was-sā`ilīna wa fir-riqāb, wa aqāmaṣ-ṣalāta wa ātaz-zakāh, wal-mụfụna bi’ahdihim iżā ‘āhadụ, waṣ-ṣābirīna fil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i wa ḥīnal-ba`s, ulā`ikallażīna ṣadaqụ, wa ulā`ika humul-muttaqụn

177. Kesalahan sejati diraih bukan karena meughadapkan wajah kalian ke arah timur atau barat143—akan tetapi, yang benar-benar saleh adalah orang yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, para malaikat, wahyu,144 dan para nabi; dan memberikan hartanya—betapapun dia mcncintainya—kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,145 orang yang meminta-minta, dan untuk membebaskan manusia dari perbudakan;146 berteguh mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan [yang benar-benar saleh adalah] orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan yang sabar dalam kemalangan, kesukaran, dan pada saat-saat bahaya: mereka itulah yang telah membuktikan diri mereka benar dan mereka itulah yang sadar akan Allah.


143 Jadi, Al-Quran menekankan prinsip bahwa ketaatan terhadap bentuk-bentuk {ritual ibadah} lahiriah belum memenuhi persyaratan kesalehan. “Menghadapkan wajah ke arah timur atau barat ketika shalat” terkait dengan beberapa ayat sebelumnya yang membahas permasalahan kiblat.

144 Dalam konteks ini, istilah “wahyu” (al-kitab), menurut kebanyakan mufasir, memiliki pengertian umum: ia mengacu pada fakta wahyu Ilahi itu sendiri. Adapun mengenai iman kepada malaikat, di sini dijadikan sebagai postulat/dalil karena melalui makhluk atau daya spiritual inilah (yang tergolong ke dalam alam al-ghaib, yakni realitas yang berada di luar jangkauan persepsi manusia), Allah mewahyukan kehendak-Nya kepada para nabi, dan selanjutnya kepada umat manusia secara umum.

145 Ungkapan ibn al-sabil (lit, “anak jalan”) berarti siapa saja yang jauh dari tempat tinggalnya, terutama seseorang yang, disebabkan kondisi ini, tidak memiliki sarana penghidupan yang memadai (bdk. Lane IV, h. 1302). Dalam pengertiannya yang lebih luas, istilah ini menggambarkan orang yang, dengan alasan apa pun, tidak sanggup pulang ke rumah, baik secara temporal maupun permanen: misalnya, seorang buangan politik atau pengungsi.

146 Al-raqabah (jamak: al-riqab) secara harfiah berarti “leher”, dan juga berarti pribadi manusia secara utuh. Secara metonimia, ungkapan fi al-riqab berarti “dengan tujuan membebaskan manusia dari perbudakan”, dan berlaku baik bagi penebusan tawanan maupun pembebasan budak. Dengan menyatakan bahwa pengeluaran seperti ini termasuk ke dalam tindakan kebajikan yang esensial, Al-Quran menunjukkan bahwa pembebasan manusia dari perbudakan—dan karena itu penghapusan perbudakan—merupakan salah satu tujuan sosial Islam. Pada saat turunnya Al-Quran, perbudakan merupakan suatu lembaga yang telah mapan di seluruh dunia dan, karena itu, penghapusannya secara tiba-tiba menjadi mustahil ditinjau dari sudut ekonomi. Untuk menghilangkan kesulitan ini, dan pada saat yang sama akhirnya menghapuskan seluruh perbudakan, Al-Quran memerintahkan dalam Surah Al-Anfal [8]: 67 agar mulai saat itu hanya tawanan yang diperoleh dalam perang yang sah (jihad) yang boleh dijadikan sebagai budak. Namun, bahkan dalam kaitannya dengan orang yang diperbudak, baik dengan cara begini—sebelum turunnya Surah Al-Anfal [8]: 67—maupun dengan cara lainnya, Al-Quran menekankan manfaat besar yang terdapat dalam tindakan membebaskan budak, dan menetapkannya sebagai sarana penebusan bagi berbagai pelanggaran (lihat, misalnya Surah An-Nisa’ [4]: 92, Surah Al-Ma’idah [5]: 89, Surah Al-Mujadalah [58]: 3). Di samping itu, Nabi secara tegas menyatakan dalam berbagai kesempatan bahwa, dalam pandangan Allah, membebaskan tanpa syarat seorang manusia dari perbudakan merupakan salah satu tindakan paling terpuji yang dapat dilakukan seorang Muslim. (Untuk pembahasan dan analisis kritis mengenai seluruh hadis sahih yang membahas masalah ini, lihat Nail Al-Authar VI, hh. 199 dan seterusnya.)


Surah Al-Baqarah Ayat 178

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumul-qiṣāṣu fil-qatlā, al-ḥurru bil-ḥurri wal-‘abdu bil-‘abdi wal-unṡā bil-unṡā, fa man ‘ufiya lahụ min akhīhi syai`un fattibā’um bil-ma’rụfi wa adā`un ilaihi bi`iḥsān, żālika takhfīfum mir rabbikum wa raḥmah, fa mani’tadā ba’da żālika fa lahụ ‘ażābun alīm

178. WAHAI, orang-orang yang telah meraih iman! Hukum balasan yang setimpal diwajibkan atas kalian dalam kasus pembunuhan: orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan perempuan dengan perempuan.147 Dan, jika suatu [kesalahan] dari orang yang bersalah dimaafkan oleh saudaranya,148 [pemaafan] ini hendaklah ditaati dengan adil, dan pembayaran ganti rugi kepada sesamanya (yang memberi maaf) hendaklah dilakukan dengan cara yang baik.149

Inilah suatu keringanan dari Pemelihara kalian dan sebagai rahmat-Nya. Dan bagi orang yang, walau demikian,150 (tetap) sengaja melanggar batas-batas apa yang benar, tersedia derita yang pedih:


147 Setelah menunjukkan bahwa kesalehan sejati tidak terletak semata-mata pada ketaatan terhadap bentuk dan ritual lahiriah, Al-Quran membuka suatu topik baru mengenai masalah perilaku manusia. Seperti halnya kesalehan tidak dapat menjadi efektif tanpa perbuatan baik, kebajikan individual pun tidak dapat menjadi benar-benar efektif dari sudut pandang sosial jika tidak ada kesepakatan dalam masyarakat mengenai hak-hak dan kewajiban sosial dari para anggotanya: dengan kata lain, harus ada hukum-hukum praktis yang mengatur, baik perilaku individu dalam masyarakat maupun sikap masyarakat terhadap individu dan perilakunya. Inilah alasan yang paling mendalam mengapa perundang-undangan memainkan peran yang demikian penting dalam ideologi Islam, dan mengapa Al-Quran secara konsisten menjalin ajaran moral dan spiritual dengan perintah-perintah yang berkaitan dengan aspek-aspek praktis kehidupan sosial. Selanjutnya, salah satu masalah utama yang dihadapi setiap masyarakat adalah perlindungan terhadap nyawa dan keamanan individu warganya: maka, bisa dimengerti jika hukum yang berkaitan dengan pembunuhan dan hukumannya dibahas secara gamblang di sini. (Harus diingat bahwa Al-Baqarah merupakan surah pertama yang diwahyukan di Madinah, yaitu ketika kaum Muslim baru saja mendirikan sebuah entitas sosial yang independen.)

Adapun mengenai istilah qishash yang terdapat di awal ayat di atas, harus dinyatakan bahwa—menurut semua mufasir klasik—qishash itu nyaris sinonim dengan musawah, yakni “menjadikan sesuatu setara [dengan sesuatu yang lain]”: dalam hal ini, membuat hukuman menjadi sebanding (atau cocok, pantas) dengan kejahatannya—suatu makna yang paling tepat diterjemahkan menjadi “balasan yang setimpal” (just retribution) dan bukan (sebagaimana yang sering, dan secara keliru, diterjemahkan menjadi) “balas dendam” (retaliation). Mengingat bahwa Al-Quran di sini berbicara mengenai “kasus-kasus pembunuhan” (fi al-qatla, lit., “perihal orang yang dibunuh”) secara umum, dan dengan mempertimbangkan bahwa ungkapan ini meliputi seluruh kasus pembunuhan yang mungkin terjadi—seperti, pembunuhan terencana, pembunuhan karena provokasi yang luar biasa, pembunuhan secara tidak disengaja, pembunuhan karena kecelakaan, dan seterusnya—jelaslah bahwa mengambil nyawa sebagai ganti atas nyawa lain (yang tersirat dalam istilah “balas dendam”) tidak selalu sesuai dengan tuntutan kesetaraan. (Hal ini telah dijelaskan, misalnya dalam Surah An-Nisa’ [4]: 92, yang membahas kompensasi legal [diyah] bagi pembunuhan yang tidak disengaja.) Dibaca dalam kaitannya dengan istilah “balasan yang setimpal” (qishash) yang mengawali ayat ini, jelaslah bahwa ketetapan “orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan perempuan dengan perempuan” tidak dapat—dan memang tidak dimaksudkan untuk—dipahami menurut pengertiannya yang terbatas dan harfiah: sebab, hal itu akan menghalangi penerapannya pada banyak kasus pembunuhan, seperti pembunuhan orang merdeka oleh budak, atau seorang wanita oleh pria, atau sebaliknya. Jadi, ketetapan di atas harus dipandang sebagai contoh bentuk ungkapan eliptis (ijaz) yang begitu sering dipergunakan dalam Al-Quran, dan hanya memiliki satu makna, yaitu: “apabila seorang merdeka melakukan kejahatan, orang merdeka itu harus dihukum; apabila seorang budak melakukan kejahatan …”, dan seterusnya. Dengan kata lain, apa pun status orang yang bersalah, dia (dan hanya dia yang) wajib dihukum sesuai dengan kejahatannya.

148 Lit., “dan orang yang baginya [sesuatu hal] dimaafkan oleh saudaranya”. Tidak ada justifikasi linguistik apa pun untuk menisbahkan—seperti yang dilakukan beberapa mufasir—kata ganti milik “nya” (hi) kepada korban sehingga mengasumsikan bahwa ungkapan “saudara” berarti “keluarga” korban atau yang memiliki “hubungan darah” dengan korban. Kata ganti milik “nya” (hi), tak syak lagi, merujuk kepada orang yang bersalah; dan karena tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa yang dimaksud dengan “saudaranya” adalah saudara sebenarnya {dalam pengertian “keluarga” atau memiliki “hubungan darah”—peny.}, kita tidak bisa menghindar untuk borkesimpulan kata itu di sini berarti “saudaranya seiman” atau “sesamanya (manusia)”—yang masing-masing dari kedua istilah ini mencakup masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, ungkapan “jika suatu [kesalahan] dari orang yang bersalah dimaafkan oleh saudaranya” (yakni oleh masyarakat atau badan hukumnya) dapat mengacu pada adanya: (1) kondisi yang meringankan dalam kasus pembunuhan; atau (2) temuan bahwa kasus yang sedang disidangkan termasuk dalam kategori pembunuhan tidak disengaja atau tidak direncanakan—yang dalam kedua kasus ini, hukuman mati tidak diberlakukan dan hukumannya ditetapkan dengan membayar ganti rugi, yang disebut diyah, (lihat Surah An-Nisa’ [4]: 92), kepada keluarga dekat korban. Sesuai dengan anjuran Al-Quran yang berulang-ulang untuk memaafkan dan berbelas kasih, “pemaafan” yang disebutkan di atas dapat pula (terutama dalam kasus pembunuhan yang tidak disengaja) mencakup penghapusan sebagian atau keseluruhan tuntutan ganti rugi itu.

149 Lit., “dan ganti rugi baginya dengan cara yang baik”; dipahami bahwa kata ganti dalam ilaihi (“kepadanya”) merujuk kepada “saudara seiman” atau “sesama manusia” yang disebutkan sebelumnya dalam kalimat ini. Kata (yang di sini diterjemahkan menjadi “pembayaran ganti rugi”) berarti tindakan membebaskan diri dari suatu kewajiban atau utang (bdk. Lane I, h. 38), dan dalam ayat ini berarti tindakan pemulihan hukum yang diberikan kepada orang yang bersalah. Pemulihan atau pembayaran ganti rugi ini harus dilakukan “dengan cara yang baik”—yakni dengan mempertimbangkan situasi tertuduh dan, pada pihak tertuduh sendiri, dengan membebaskan dirinya dari kewajiban itu dengan tulus dan sungguh-sungguh (bdk. Al-Manar II, h. 129).

150 Lit., “setelah ini”—yakni, setelah diberikannya penjelasan terhadap apa yang dimaksud dengan “balasan yang setimpal” (qishash) dalam perintah di atas (Al-Razi).


Surah Al-Baqarah Ayat 179

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

wa lakum fil-qiṣāṣi ḥayātuy yā ulil-albābi la’allakum tattaqụn

179. sebab, dalam [hukum] balasan yang setimpal itu terdapat kehidupan bagi kalian, wahai orang-orang yang dianugerahi pengetahuan mendalam, agar kalian senantiasa sadar akan Allah!151


151 Yakni, “ada suatu perlindungan bagi kalian, sebagai satu umat, sehingga kalian dapat hidup aman, seperti yang dikehendaki Allah”. Jadi, tujuan qishash adalah melindungi masyarakat, dan bukan “balas dendam”.


Surah Al-Baqarah Ayat 180

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

kutiba ‘alaikum iżā ḥaḍara aḥadakumul-mautu in taraka khairanil-waṣiyyatu lil-wālidaini wal-aqrabīna bil-ma’rụf, ḥaqqan ‘alal-muttaqīn

180. DIWAJIBKAN atas kalian—apabila kematian mendekati seseorang di antara kalian dan dia meninggalkan harta yang banyak—berwasiat untuk kedua orangtua dan kerabat dekatnya [yang lain] secara adil:152 ini merupakan kewajiban bagi semua orang yang sadar akan Allah.


152 Kata “khair” yang ada dalam kalimat ini berarti “harta yang banyak” dan bukan sekadar “kepemilikan”: dan ini menjelaskan mengapa orang yang meninggalkan harta yang banyak diperintahkan untuk membuat wasiat, terutama kepada anggota keluarganya yang berhak, sebagai tambahan atas dan mendahului pembagian—bagian tertentu yang telah ditetapkan secara hukum, seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa’ [4]: 11-12. Penafsiran khair ini didukung oleh ucapan ‘Aisyah dan ‘Ali ibn Abi Thalib, yang keduanya mengacu pada ayat khusus ini (bdk. Al-Zamakhsyari dan Al-Baidhawi).


Surah Al-Baqarah Ayat 181

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

fa mam baddalahụ ba’da mā sami’ahụ fa innamā iṡmuhụ ‘alallażīna yubaddilụnah, innallāha samī’un ‘alīm

181. Dan, apabila seseorang mengubah ketentuan itu setelah dia mengetahuinya, dosa tindakan semacam itu hanya akan menimpa orang-orang yang mengubahnya.153 Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


153 Lit., “adapun mengenai orang yang mengubahnya”—yakni, setelah orang yang berwasiat itu meninggal—”setelah mendengarnya, dosanya hanyalah bagi orang yang mengubahnya”: yaitu, bukan bagi orang yang mungkin tak sengaja diuntungkan oleh perubahan ini. Perlu dicatat bahwa verba sami’a (lit., “dia telah mendengar”) juga berkonotasi “dia kemudian mengetahui”.


Surah Al-Baqarah Ayat 182

فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

fa man khāfa mim mụṣin janafan au iṡman fa aṣlaḥa bainahum fa lā iṡma ‘alaīh, innallāha gafụrur raḥīm

182. Namun, jika seseorang khawatir bahwa orang yang berwasiat itu melakukan suatu kesalahan atau ketidakadilan [yang disengaja], kemudian memberikan penyelesaian di antara para ahli warisnya,154 tidaklah dia berdosa [karenanya]. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


154 Lit., “antara mereka”—yakni, penyelesaian yang menolak ketentuan wasiat yang, dengan persetujuan pihak-pihak terkait, dianggap tidak adil.


Surah Al-Baqarah Ayat 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn

183. WAHAl, orang-orang yang telah meraih iman! Puasa diwajibkan atas kalian, sebagaimana ia diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian senantiasa sadar akan Allah:



Surah Al-Baqarah Ayat 184

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

ayyāmam ma’dụdāt, fa mang kāna mingkum marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar, wa ‘alallażīna yuṭīqụnahụ fidyatun ṭa’āmu miskīn, fa man taṭawwa’a khairan fa huwa khairul lah, wa an taṣụmụ khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

184. [yaitu puasa] selama beberapa hari tertentu.155 Akan tetapi, siapa saja di antara kalian yang sakit, atau dalam perjalanan, [wajiblah berpuasa selama hari yang ditinggalkannya] pada hari-hari yang lain; dan [dalam hal seperti itu,] wajib bagi yang mampu melakukannya agar berkorban dengan memberi makan seorang miskin.156

Dan, siapa saja yang mengerjakan kebaikan melebihi daripada yang diperintahkan kepadanya,157 dengan demikian melakukan kebaikan bagi dirinya sendiri; sebab, berpuasa adalah berbuat baik bagi diri kalian sendiri—andai kalian mengetahuinya.


155 Yakni, selama 29 atau 30 hari bulan Ramadhan, bulan ke-9 menurut kalender Qamariah (lihat ayat berikutnya). Puasa berarti menahan diri secara total dari makan, minum, dan hubungan seksual sejak fajar hingga terbenarnnya matahari. Seperti ditunjukkan Al-Quran, puasa telah dijalankan oleh banyak orang sepanjang sejarah keagamaan manusia. Ibadah puasa dalam Islam, yang sangat ketat dan lama jangka waktunya itu—yang diwajibkan kepada setiap orang dewasa yang sehat, pria maupun wanita—secara umum bertujuan untuk menyucikan jiwa. Di samping itu, puasa juga memiliki tiga tujuan: (1) memperingati permulaan turunnya Al-Quran, yang terjadi pada bulan Ramadhan, sekitar tiga belas tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah; (2) memberikan latihan pengendalian-diri yang ketat; dan (3) membuat setap orang menyadari, melalui pengalamannya sendiri, bagaimana rasanya lapar dan haus, dan dengan demikian, benar-benar memahami kebutuhan orang miskin.

156 Frasa ini telah memunculkan sejumlah penafsiran yang saling bertentangan dan kadang-kadang sangat melelahkan. Terjemahan saya didasarkan pada makna dasar dari frasa alladzina yuthiqunahu (“mereka yang mampu”, “mereka yanq bisa melakukannya”, atau “mereka yang sanggup memenuhinya”), dengan kata ganti hu merujuk pada tindakan “memberi makan seorang miskin”.

157 Beberapa mufasir berpendapat bahwa hal ini mengacu pada pemberian makan secara sukarela kepada lebih dari satu orang miskin, atau pemberian makan kepada orang miskin melebihi jumlah hari yang diharuskan oleh perintah tersebut. Namun, karena bagian kalimat berikutnya membicarakan manfaat puasa itu sendiri, kemungkinan besar dalam konteks ini, “mengerjakan kebaikan melebih daripada yang diperintahkan kepadanya” mengacu pada puasa sunnah (seperti yang kadang-kadang dilakukan Nabi), selain puasa wajib selama bulan Ramadhan.


Surah Al-Baqarah Ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

syahru ramaḍānallażī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān, fa man syahida mingkumusy-syahra falyaṣum-h, wa mang kāna marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar, yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la’allakum tasykurụn

185. Pada bulan Ramadhan-lah Al-Quran [pertama kali] diturunkan sebagai sebuah petunjuk bagi manusia dan sebuah bukti yang swa-jelas bagi petunjuk itu, dan sebagai ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah. Karena itu, siapa saja di antara kalian yang sempat melihat158 bulan ini hendaknya berpuasa selama bulan itu, terapi yang sedang sakit atau dalam perjalanan, [wajiblah berpuasa selama hari yang ditinggalkannya] pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki agar kalian memperoleh kemudahan dan tidak menghendaki kalian menderita kesukaran; tetapi [Dia menghendaki] agar kalian menyempurnakan jumlah [hari yang ditetapkan], mengagungkan Allah karena Dia telah membimbing kalian ke jalan yang benar, dan bersyukur [kepada-Nya].


158 Lit., “menyaksikan” atau “hadir”.



Surah Al-Baqarah Ayat 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

wa iżā sa`alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da’watad-dā’i iżā da’āni falyastajībụ lī walyu`minụ bī la’allahum yarsyudụn

186. DAN, JIKA hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku—perhatikanlah, Aku dekat; Aku menjawab permohonan orang yang berdoa, kapan pun dia berdoa kepada-Ku: maka, hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku, dan beriman kepada-Ku, agar mereka dapat mengikuti jalan yang benar.


Surah Al-Baqarah Ayat 187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā`ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn, ‘alimallāhu annakum kuntum takhtānụna anfusakum fa tāba ‘alaikum wa ‘afā ‘angkum, fal-āna bāsyirụhunna wabtagụ mā kataballāhu lakum, wa kulụ wasyrabụ ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr, ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-laīl, wa lā tubāsyirụhunna wa antum ‘ākifụna fil-masājid, tilka ḥudụdullāhi fa lā taqrabụhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la’allahum yattaqụn

187. DIHALALKAN bagi kalian mendatangi istri-istri kalian selama malam sebelum puasa [hari itu]: mereka itu bagaikan pakaian bagi kalian dan kalian pun bagaikan pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kalian kehilangan hak ini,159 karena itu, Allah kembali kepada kalian dalam belas kasih-Nya dan menghilangkan kesulitan ini dari kalian. Maka kini, kalian boleh bersirapat* dengan mereka dan ambillah manfaat dari apa yang diperintahkan Allah bagi kalian,160 dan makan serta minumlah hingga kalian dapat melihat semburat fajar putih dalam kelamnya malam,161 lalu lanjutkanlah berpuasa hingga matahari terbenam; tetapi, janganlah kalian bersirapat dengan mereka ketika kalian akan beriktikaf di rumah-rumah ibadah.162

Itulah batas-batas yang ditetapkan Allah: maka, janganlah kalian melanggarnya—[sebab,] demikianlah Allah menjelaskan pesan-pesan-Nya kepada manusia, agar mereka senantiasa sadar akan Dia.


159 Lit., “tertipu” atau “menipu dirimu sendiri [dalam hal ini]”: suatu rujukan terhadap anggapan yang lazim dipahami oleh kalangan Muslim awal, yakni sebelum turunnya ayat ini, bahwa pada malam bulan puasa semua hubungan seksual harus dihindari, sementara makan dan minum diperbolehkan (Al-Razi). Ayat di atas menghapus pemahaman yang keliru ini.

* {“lie with them skin to skin” (bersirapat dengan mereka) adalah terjemahan yang diberikan Asad untuk kata basyiruhunna. Dalam versi Depag RI, kata tersebut diterjemahkan menjadi “campurilah mereka” yang bermakna “melakukan hubungan badan (suami-istri)”.—AM}

160 Lit., “dan carilah apa yang telah diwajibkan Allah bagi kalian”: suatu penekanan yang jelas terhadap fitrah kehidupan seksual yang telah ditetapkan Allah.

161 Lit., “garis putih fajar dari garis hitam [malam]”. Menurut seluruh filolog Arab, “garis hitam” (al-khaith al-aswad) melambangkan “kelamnya malam” (Lane II, h. 831); dan ungkapan al-khaithan (“dua garis” atau “semburat”) berarti “siang dan malam” (Lisan Al-‘Arab).

162 Iktikaf adalah praktik yang dilakukan Nabi dengan mengisi siang dan malam hari selama Ramadhan—dan terkadang juga pada waktu lain di masjid untuk mencurahkan diri dalam shalat dan zikir agar terbebas dari seluruh aktivitas duniawi; dan, karena Nabi juga menasihati para pengikutnya untuk melakukan hal tersebut secara berkala, pengasingan diri di masjid untuk berzikir ini, yakni i’tikaf, kemudian menjadi praktik ibadah yang populer—meskipun tidak wajib—di kalangan kaum Muslim, terutama selama sepuluh hari terakhir Ramadhan.


Surah Al-Baqarah Ayat 188

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa lā ta`kulū amwālakum bainakum bil-bāṭili wa tudlụ bihā ilal-ḥukkāmi lita`kulụ farīqam min amwālin-nāsi bil-iṡmi wa antum ta’lamụn

188. DAN, JANGANLAH saling memakan harta secara batil, dan jangan pula mempergunakan kelicikan hukum163 dengan tujuan agar kalian dapat memakan—dengan dosa dan dengan sengaja—apa pun yang sebenarnya merupakan hak orang lain.164


163 Lit., “dan janganlah melemparkannya kepada hakim”—yakni, dengan maksud agar diputuskan oleh mereka berlawanan dengan kebenaran (Al-Zamakhsyari dan Al-Baidhawi).

164 Lit., “bagian dari harta-harta orang [lain]”.


Surah Al-Baqarah Ayat 189

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yas`alụnaka ‘anil-ahillah, qul hiya mawāqītu lin-nāsi wal-ḥajj, wa laisal-birru bi`an ta`tul-buyụta min ẓuhụrihā wa lākinnal-birra manittaqā, wa`tul-buyụta min abwābihā wattaqullāha la’allakum tufliḥụn

189. MEREKA AKAN BERTANYA kepadamu tentang bulan baru. Katakanlah: “Bulan baru itu menunjukkan waktu bagi [berbagai kegiatan] manusia, termasuk haji.”165

Namun, kesalehan sejati diraih bukan karena memasuki rumah dari arah belakang, [demikianlah kira-kira,] akan tetapi, orang yang benar-benar saleh ialah yang sadar akan Allah. Karena itu, masukilah rumah-rumah melalui pintunya, dan sadarlah akan Allah166 senantiasa, agar kalian meraih kebahagiaan.


165 Pada titik ini, penyebutan bulan-bulan Qamariah muncul dari fakta bahwa pelaksanaan sejumlah kewajiban agama yang ditetapkan Islam—seperti puasa Ramadhan atau haji ke Makkah (yang dibahas dalam ayat 196-203)—didasarkan pada kalender Qamariah*, yang di dalamnya bulan-bulan beredar sepanjang musim-musim tahun Syamsiah. Penanggalan yang didasarkan pada kalender Qamariah ini menimbulkan variasi kondisi musiman yang terus-menerus saat pelaksanaan ibadah (misalnya, Iamanya waktu puasa antara fajar dan maghrib, panas dinginnya cuaca selama puasa dan haji) dan, karenanya, tingkat kesulitan ibadah akan berubah-ubah secara berkala sesuai dengan pergeseran musim ini. Di samping itu, perhitungan melalui bulan Qamariah berhubungan dengan pasang surutnya laut, juga fisiologi manusia (seperti, masa haid wanita—suatu masalah yang nanti akan dibahas dalam surah ini).

* {Kalender yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan, bukan matahari.—peny.}

166 Yakni, kesalehan sejati bukan diraih dengan mendekati permasalahan iman melalui “pintu belakang”—begitulah kira-kira—yakni, sekadar mematuhi bentuk ritual dan batasan waktu yang telah ditentukan bagi pelaksanaan berbagai kewajiban agama (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 177). Betapapun pentingnya bentuk-bentuk ritual dan batasan-waktu ibadah itu sendiri, hal-hal ini tidaklah memenuhi tujuan ibadah yang sebenarnya, kecuali jika setiap tindakan didekati melalui “pintu depan” spiritualnya, yaitu melalui kesadaran akan Allah (takwa). Karena secara metonimia kata bab (“pintu”) menunjukkan “sarana untuk menembus atau mencapai sesuatu” (lihat Lane I, h. 272), metafora “memasuki rumah melalui pintunya” sering digunakan dalam bahasa Arab klasik untuk menunjukkan pendekatan yang tepat terhadap suatu persoalan (Al-Razi).


Surah Al-Baqarah Ayat 190

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

wa qātilụ fī sabīlillāhillażīna yuqātilụnakum wa lā ta’tadụ, innallāha lā yuḥibbul-mu’tadīn

190. DAN, PERANGILAH di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah melancarkan agresi—sebab, sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melancarkan agresi.167


167 Ayat ini dan ayat-ayat berikutnya dengan tegas menetapkan bahwa perang hanya dibolehkan bagi kaum Muslim untuk membela diri (dalam pengertian yang terluas). Kebanyakan mufasir sepakat bahwa ungkapan la ta’tadu, dalam konteks ini, berarti “janganlah melancarkan agresi” (do not commit aggression); sedangkan, al-mu’tadin berarti ” orang-orang yang melancarkan agresi”. Selanjutnya, karakter defensif perang “di jalan Allah”—yaitu, yang sesuai dengan prinsip etis yang diperintahkan Allah—terlihat jelas dalam sebutan “orang-orang yang memerangi kalian” dan sudah dijelaskan lebih lanjut dalam Surah Al-Hajj [22]: 39 (“izin [untuk berperang] telah diberikan kepada orang-orang yang telah diperangi secara zalim”) yang, menurut semua riwayat hadis yang ada, merupakan ayat Al-Quran paling awal (dan karenanya fundamental) yang membahas masalah jihad atau perang suci (lihat Al-Thabari dan Ibn Katsir dalam penafsirannya atas Surah Al-Hajj [22]: 39). Bahwa prinsip pembelaan-diri yang paling awal dan fundamental ini merupakan satu-satunya alasan pembenaran atas perang—dan bahwa prinsip ini tetap berlaku di dalam seluruh Al-Quran—terlihat jelas dari Surah Al-Mumtahanah [60]: 8, dan juga dari kalimat penutup Surah An-Nisa’ [4]: 91, yang keduanya termasuk ke dalam periode yang lebih belakangan daripada ayat di atas.


Surah Al-Baqarah Ayat 191

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

waqtulụhum ḥaiṡu ṡaqiftumụhum wa akhrijụhum min ḥaiṡu akhrajụkum wal-fitnatu asyaddu minal-qatl, wa lā tuqātilụhum ‘indal-masjidil-ḥarāmi ḥattā yuqātilụkum fīh, fa ing qātalụkum faqtulụhum, każālika jazā`ul-kāfirīn

191. Dan, bunuhlah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian—sebab, penindasan itu bahkan lebih buruk daripada pembunuhan.168 Dan, janganlah kalian memerangi mereka dekat Masjid Al-Haram, kecuali mereka memerangi kalian terlebih dahulu;169 tetapi jika mereka memerangi kalian, bunuhlah mereka: yang demikian itu akan menjadi balasan bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran.


168 Sejalan dengan perintah sebelumnya, perintah “bunuhlah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka” hanya sah dilakukan dalam konteks permusuhan yang sedang berlangsung (Al-Razi), berdasarkan pernahaman bahwa “mereka yang memerangi kalian” para agresor atau penindas (sehingga perang pembebasan dari ketertindasan menjadi perang “di jalan Allah”). Penerjemahan fitnah, dalam konteks ini, menjadi “penindasan” (oppression) didukung dengan alasan bahwa istilah ini diterapkan untuk menunjukkan berbagai penderitaan yang dapat menyebabkan manusia menjadi tersesat dan kehilangan iman kepada nilai-nilai spiritual (bdk. Lisan Al-‘Arab).

169 Penyebutan peperangan di sekitar Makkah ini disebabkan oleh fakta bahwa pada saat ayat ini diturunkan, Kota Suci tersebut masih menjadi milik kaum musyrik Quraisy yang memusuhi kaum Muslim. Namun—sebagaimana halnya dengan semua peristiwa historis yang disinggung Al-Quran—perintah di atas memiliki makna umum dan tetap berlaku pada segala waktu dan kondisi.


Surah Al-Baqarah Ayat 192

فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

fa inintahau fa innallāha gafụrur raḥīm

192. Akan tetapi, jika mereka berhenti—perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Baqarah Ayat 193

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

wa qātilụhum ḥattā lā takụna fitnatuw wa yakụnad-dīnu lillāh, fa inintahau fa lā ‘udwāna illā ‘alaẓ-ẓālimīn

193. Karena itu, perangilah mereka hingga tiada lagi penindasan dan seluruh peribadatan dipersembahkan hanya untuk Allah;170 tetapi jika mereka berhenti, seluruh permusuhan harus berakhir, kecuali terhadap mereka yang [sengaja] berbuat zalim.


170 Lit., “dan agama menjadi milik Allah [saja]” yakni, hingga Allah dapat disembah tanpa rasa takut akan penganiayaan dan tiada seorang pun dipaksa tunduk karena gentar di hadapan manusia lainnya. (Lihat juga Surah Al-Hajj [22]: 40.) Istilah din dalam konteks ini lebih tepat diterjemahkan menjadi “peribadatan” (worship), sebab kata itu meliputi aspek doktrinal dan moral agama: artinya, iman seseorang, dan juga kewajiban yang muncul dari iman tersebut.


Surah Al-Baqarah Ayat 194

الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

asy-syahrul-ḥarāmu bisy-syahril-ḥarāmi wal-ḥurumātu qiṣāṣ, fa mani’tadā ‘alaikum fa’tadụ ‘alaihi bimiṡli ma’tadā ‘alaikum wattaqullāha wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn

194. Berperanglah pada bulan-bulan suci jika kalian diserang:171 sebab, pelanggaran terhadap kesucian [harus dikenai hukum] balasan yang setimpal. Oleh sebab itu, siapa saja yang melancarkan agresi terhadap kalian, maka seranglah dia sebagaimana dia telah menyerang kalian—namun, tetap sadarlah akan Allah, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang sadar kepada-Nya.172


171 Ini adalah terjemahan bebas dari frasa “bulan suci dengan bulan suci”, yang ditafsirkan oleh semua mufasir dengan pengertian sebagaimana di atas. “Bulan-bulan suci” itu (yang di dalamnya, menurut adat-istiadat Arab kuno, seluruh peperangan dipandang sebagai kezaliman yang besar) adalah: bulan ke-1 (Muharram), ke-7 (Rajab), ke-11 (Dzulqa’dah), dan ke-12 (Dzulhijjah) dalam kalender Qamariah (lunar).

172 Jadi, meskipun kaum Mukmin diperintahkan menyerang balik kapan pun mereka diserang, kata-kata penutup dalam ayat di atas menjelaskan bahwa, ketika berperang, mereka harus menahan diri dari semua kekejaman, termasuk membunuh rakyat sipil yang tidak ikut berperang.


Surah Al-Baqarah Ayat 195

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

wa anfiqụ fī sabīlillāhi wa lā tulqụ bi`aidīkum ilat-tahlukati wa aḥsinụ, innallāha yuḥibbul-muḥsinīn

195. Dan, nafkahkanlah [dengan lapang hati] di jalan Allah dan jangan biarkan tangan kalian sendiri melemparkan kalian ke dalam kerusakan;173 dan gigihlah dalam berbuat baik: perhatikanlah, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.


173 Yakni, “kalian dapat menimbulkan kehancuran bagi diri kalian sendiri apabila enggan memberi kontribusi personal dan materiel bagi upaya bersama ini”.


Surah Al-Baqarah Ayat 196

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

wa atimmul-ḥajja wal-‘umrata lillāh, fa in uḥṣirtum fa mastaisara minal-hady, wa lā taḥliqụ ru`ụsakum ḥattā yablugal-hadyu maḥillah, fa mang kāna mingkum marīḍan au bihī ażam mir ra`sihī fa fidyatum min ṣiyāmin au ṣadaqatin au nusuk, fa iżā amintum, fa man tamatta’a bil-‘umrati ilal-ḥajji fa mastaisara minal-hady, fa mal lam yajid fa ṣiyāmu ṡalāṡati ayyāmin fil-ḥajji wa sab’atin iżā raja’tum, tilka ‘asyaratung kāmilah, żālika limal lam yakun ahluhụ ḥāḍiril-masjidil-ḥarām, wattaqullāha wa’lamū annallāha syadīdul-‘iqāb

196. DAN, LAKSANAKANLAH ibadah haji dan umrah [ke Makkah]174 untuk mengagungkan Allah; dan jika kalian terhalang, sebagai gantinya, berikanlah persembahan apa saja yang mudah kalian peroleh. Dan, janganlah mencukur kepala kalian sebelum persembahan itu dikorbankan;175 tetapi, siapa saja di antara kalian yang sakit atau ditimpa gangguan di kepalanya, wajib menebusnya dengan berpuasa, atau sedekah, atau tindakan ibadah [lainnya]. Dan, apabila kalian telah sehat dan aman,176 orang yang memanfaatkan umrah sebelum [waktu] haji harus memberikan persembahan apa saja yang mudah dia dapat;177 sedangkan, orang yang tidak dapat memenuhinya wajib berpuasa tiga hari selama ibadah haji dan tujuh hari setelah kalian kembali pulang: itulah sepuluh [hari] yang sempurna. Semua itu berkenaan dengan orang yang tidak tinggal di sekitar Musjid Al-Haram.178

Dan, tetaplah sadar akan Allah, dan ketahuilah bahhwa Allah amat keras dalam menghukum.179


174 lbadah haji ke Makkah berlangsung sekali dalam setahun, pada bulan Dzulhijjah, sedangkan umrah dapat dilakukan kapan saja. Baik dalam haji maupun umrah, jamaah diperintahkan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali (thawaf) dan berjalan antara Al-Shafa dan Al-Marwah sebanyak tujuh kali (sa’i) juga (lihat catatan no. 127 dan no. 128 sebelum ini). Di samping itu, selama pelaksanaan haji, mereka harus berkumpul di Padang ‘Arafah pada 9 Dzulhijjah (lihat catatan no. 182 berikutnya). Terlepas dari apakah mereka melaksanakan haji atau sekadar umrah, jamaah harus menahan diri untuk tidak mencukur atau bahkan menggunting rambut kepala mereka, sejak mereka memasuki miqat (keadaan ihram) hingga selesainya ibadah haji, juga umrah. Sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayatnya, jamaah yang sakit atau menderita gangguan tertentu yang mengharuskannya mencukur atau memangkas rambut, dibebaskan dari larangan ini.

175 Lit., “hingga korban telah sampai ke tujuannya”—yakni, pada waktu atau tempatnya. Menurut Al-Razi, yang dimaksudkan di sini adalah waktu berkorban, yakni pada akhir pelaksanaan haji, ketika orang yang melaksanakan haji dianjurkan—dengan syarat mereka mampu—mengorbankan seekor domba, kambing, atau yang semisalnya, dan membagikan sebagian besar dagingnya sebagai sedekah.

176 Ungkapan idza amintum (lit., “ketika kalian aman”) di sini mengacu pada keselamatan, baik dari bahaya eksternal (seperti perang) maupun dari penyakit, dan karenanya paling tepat diterjemahkan menjadi “sehat dan aman”—implikasinya adalah bahwa orang tersebut berada dalam keadaan, dan memang berniat, untuk ikut serta melaksanakan haji.

177 Ini mengacu pada interupsi yang dilakukan dalam keadaan ihram—demi alasan kenyamanan pribadi—selama jeda waktu antara penyempurnaan umrah dan pelaksanaan haji (bdk. Al-Manar II, h. 222). Jamaah yang memanfaatkan kemudahan ini wajib mengorbankan seekor hewan (lihat calatan no. 175 sebelum ini) pada saat selesainya haji atau, sebagai gantinya, berpuasa selama sepuluh hari.

178 Lit., “yang orang-orang {keluarga}nya tidak ada di sekitar Masjid Al-Haram”—yakni, tidak tinggal di sana secara permanen: sebab, penduduk Makkah jelas tidak dapat selamanya berada dalam kondisi ihram.

179 Ini tidak hanya mengacu pada kemungkinan pelanggaran terhadap kesucian haji, tetapi juga, secara lebih umum, pada semua pelanggaran yang disengaja terhadap perintah Allah.


Surah Al-Baqarah Ayat 197

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

al-ḥajju asy-hurum ma’lụmāt, fa man faraḍa fīhinnal-ḥajja fa lā rafaṡa wa lā fusụqa wa lā jidāla fil-ḥajj, wa mā taf’alụ min khairiy ya’lam-hullāh, wa tazawwadụ fa inna khairaz-zādit-taqwā wattaqụni yā ulil-albāb

197. Haji itu harus berlangsung pada bulan-bulan yang ditetapkan.180 Dan, siapa saja yang melaksanakan haji pada [bulan-bulan] itu, maka, selama haji, hendaklah dia menjauhkan diri dari kata-kata kotor, perilaku jahat, dan pertengkaran; dan kebaikan apa pun yang kalian lakukan, Allah pasti mengetahuinya.

Dan, sediakanlah bekal bagi diri kalian—tetapi sungguh, sebaik-baik bekal adalah kesadaran akan Allah: maka, sadarlah kepada-Ku senantiasa, wahai orang-orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam!


180 Lit., “pada bulan-bulan yang sudah dikenal”. Karena haji berpuncak pada satu bulan tertentu (yaitu Dzulhijjah), bentuk jamak tersebut tampaknya mengacu pada kedatangannya yang berulang-ulang setiap tahun. Namun, perlu dicatat bahwa menurut beberapa mufasir, hal itu mengacu pada tiga bulan terakhir tahun Qamariah.


Surah Al-Baqarah Ayat 198

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

laisa ‘alaikum junāḥun an tabtagụ faḍlam mir rabbikum, fa iżā afaḍtum min ‘arafātin fażkurullāha ‘indal-masy’aril-ḥarāmi ważkurụhu kamā hadākum, wa ing kuntum ming qablihī laminaḍ-ḍāllīn

198. [Namun,] tidaklah berdosa jika [selama haji] kalian ingin memperoleh karunia apa pun dari Pemelihara kalian.181

Dan, apabila kalian telah turun dengan berbondong-bondong dari ‘Arafah,182 ingatlah Allah di tempat suci itu, dan ingatlah Dia sebagai yang telah memberi petunjuk kepada kalian, setelah kalian benar-benar tersesat di jalan kalian;183


181 Yakni, berniaga sewaktu sedang ihram. ‘Abduh (dalam Al-Manar II, h. 231) menunjukkan bahwa upaya “memperoleh karunia apa pun dari Pemelihara kalian” menunjukkan kesadaran akan Allah (takwa) dan, karenanya, merupakan sebentuk ibadah jua—tentunya dengan syarat bahwa usaha ini tak bertentangan dengan kewajiban keagamaan lain yang lebih utama.

182 Berkumpulnya seluruh jamaah haji di Padang ‘Arafah, yang ada di sebelah timur Makkah, berlangsung pada 9 Dzulhijjah dan merupakan puncak haji. Para jamaah diperintahkan agar menetap hingga matahari terbenam di padang itu, di bawah bukit kecil yang dikenal dengan Jabal AI-Rahmah (“Gunung Rahmat”)—suatu tindakan simbolis yang dimaksudkan untuk mengingatkan akan pertemuan puncak pada Hari Kebangkitan, ketika setiap jiwa menanti keputusan Allah. Segera setelah matahari terbenam, rombongan jamaah haji bergerak kembali menuju Makkah, sambil bermalam di suatu tempat yang disebut Muzdalifah, “tempat suci” yang disebutkan dalam bagian selanjutnya dalam kalimat ini.

183 lit., “dan ingatlah Dia karena Dia telah menunjuki kalian, walau sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang-orang yang tersesat”.


Surah Al-Baqarah Ayat 199

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

ṡumma afīḍụ min ḥaiṡu afāḍan-nāsu wastagfirullāh, innallāha gafụrur raḥīm

199. dan naiklah dengan berbondong-bondong bersama semua orang lain yang juga naik,184 dan mohonlah ampun kepada Allah atas dosa-dosa kalian: sebab, sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


184 Lit., “naiklah dengan berbondong-bondong dari tempat orang-orang naik dengan berbondong-bondong”: jadi, para jamaah diseru agar menenggelamkan individualitasnya, pada momen puncak haji, dengan suatu kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari satu umat yang semuanya setara di hadapan Allah, tanpa rintangan ras, kelas, atau status sosial yang memisahkan seseorang dari orang lain.


Surah Al-Baqarah Ayat 200

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

fa iżā qaḍaitum manasikakum fażkurullāha każikrikum ābā`akum au asyadda żikrā, fa minan-nāsi may yaqụlu rabbanā ātinā fid-dun-yā wa mā lahụ fil-ākhirati min khalāq

200. Dan, apabila kalian telah melaksanakan ibadah (haji), ingatlah Allah [selalu] sebagaimana kalian mengingat nenek moyang kalian—bahkan dengan ingatan yang lebih tajam!185 Karena ada manusia yang [sekadar] berdoa, “Wahai, Pemelihara kami! Berilah kami di dunia ini”—dan orang seperti itu tidak akan memperoleh bagian keuntungan kehidupan akhirat.


185 Mayoritas mufasir memandang dalam ayat ini suatu acuan kepada tradisi Arab jahiliah yang mengagung-agungkan, dalam berbagai kesempatan dan pertemuan, leluhur yang mereka anggap memiliki kebesaran dan kebajikan. Namun, beberapa ulama paling awal—seperti, Al-Dhahhak, Al-Rabi’, dan Abu Muslim—berpendapat bahwa yang dirnaksud di sini adalah bapak-bapak yang sesungguhnya (atau, secara tersirat, kedua orangtua), yang biasanya dianggap oleh seorang anak sebagai perwujudan seluruh kebajikan dan kekuatan (lihat penafsiran Al-Razi atas ayat ini).


Surah Al-Baqarah Ayat 201

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

wa min-hum may yaqụlu rabbanā ātinā fid-dun-yā ḥasanataw wa fil-ākhirati ḥasanataw wa qinā ‘ażāban-nār

201. Namun, di antara mereka ada orang yang berdoa demikian, “Wahai, Pemelihara kami! Berilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari derita neraka”:


Surah Al-Baqarah Ayat 202

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

ulā`ika lahum naṣībum mimmā kasabụ, wallāhu sarī’ul-ḥisāb

202. mereka inilah yang akan memperoleh bagian [kebahagiaan] sebagai balasan atas apa yang telah mereka usahakan. Dan, Allah amat cepat dalam membuat perhitungan.


Surah Al-Baqarah Ayat 203

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

ważkurullāha fī ayyāmim ma’dụdāt, fa man ta’ajjala fī yaumaini fa lā iṡma ‘alaīh, wa man ta`akhkhara fa lā iṡma ‘alaihi limanittaqā, wattaqullāha wa’lamū annakum ilaihi tuḥsyarụn

203. Dan, ingatlah Allah selama hari-hari yang ditentukan;186 tetapi orang yang ingin bergegas berangkat dalam dua hari tidaklah berdosa dan orang yang ingin menangguhkan lebih lama lagi juga tidak berdosa, selama dia sadar akan Allah. Karena itu, sadarlah kepada Allah senantiasa, dan ketahuilah bahwa kepada-Nya-lah kalian akan dikumpulkan.


186 Itulah hari-hari setelah ‘id al-adhha’ (“Hari Raya Qurban”), yang berlangsung pada 10 Dzulhijjah. Jamaah haji diwajibkan menetap sedikitnya dua hari di Lembah Mina, kira-kira separuh jarak antara Padang ‘Arafah dan Makkah.


Surah Al-Baqarah Ayat 204

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

wa minan-nāsi may yu’jibuka qauluhụ fil-ḥayātid-dun-yā wa yusy-hidullāha ‘alā mā fī qalbihī wa huwa aladdul-khiṣām

204. LALU, ada segolongan manusia187 yang pandangannya tentang kehidupan dunia ini sangat menyenangkan hatimu, dan [bahkan lebih dari itu] dia menjadikan Allah sebagai saksi atas isi hatinya, dan dia juga sangat terampil berdebat.188


187 Lit., “di antara manusia ada orang” (atau “yang”). Karena tidak ada alasan yang sahih untuk menduga, seperti dilakukan beberapa mufasir, bahwa ungkapan ini mengacu pada orang tertentu—yakni, orang yang hidup pada masa Nabi—kebanyakan mufasir yang tepercaya berpendapat bahwa ayat di atas memiliki arti yang umum (bdk. Al-Razi). Seperti ditunjukkan oleh konteksnya, ayat ini merupakan penjelasan lebih lanjut terhadap gambaran dua sikap yang saling bertentangan yang disebutkan dalam ayat 200-201 surah ini: pertama, sikap manusia yang hanya memedulikan kehidupan di dunia ini; dan kedua, sikap manusia yang menyadari kehidupan akhirat seiring dengan, atau bahkan melebihi, kesadaran mereka terhadap kehidupan dunia.

188 Lit., “lawan yang paling sengit dalam perselisihan”. Menurut Al-Zajjaj (yang dikutip oleh Al-Razi), ungkapan ini menunjukkan seseorang yang selalu mampu mengalahkan lawannya dalam perdebatan dengan menggunakan argumen yang lihai dan sering kali menyesatkan. Jelaslah bahwa ayat ini mengacu pada orang yang berpandangan rasional dan bahkan mengagumkan berkenaan dengan ihwal perbaikan masyarakat dan nasib manusia di muka bumi, tetapi pada saat yang sama, menolak dibimbing oleh sesuatu yang dia anggap sebagai pertimbangan “esoterik” (batiniah)—seperti kepercayaan kepada kehidupan setelah mati—dan menjustifikasi perhatiannya yang terbatas hanya pada urusan dunia, dengan menggunakan argumen yang sepertinya masuk akal dan penekanan terhadap sasaran etis mereka sendiri (“mereka menjadikan Allah sebagai saksi atas isi hatinya”). Ada suatu kaitan yang sangat erat antara sikap mental yang digambarkan dalam ayat ini dan yang dibicarakan dalam ayat 8-12 surah ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 205

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

wa iżā tawallā sa’ā fil-arḍi liyufsida fīhā wa yuhlikal-ḥarṡa wan-nasl, wallāhu lā yuḥibbul-fasād

205. Akan tetapi, ketika dia berjaya, dia bergerak menjelajahi bumi* menyebarkan kerusakan dan menghancurkan ladang serta keturunan [manusia]:189 dan Allah tidak menyukai kerusakan.


* {he goes about the earth“. Goes about dapat dipahami sebagai: pertama, kata majemuk (idiom) yang berarti “berupaya, memulai, mengatasi, mengerjakan, berpindah-pindah”; dan kedua, dua kata terpisah, yakni verba go (“pergi”) dan kata depan about (“ke mana-mana”, “ke sana kemari”) sehingga go about berarti “berjalan menjelajahi”. Dalam bahasa Inggris, kedua cakupan makna tersebut terungkap dengan cukup baik dalam kata goes about. Dalam bahasa Indonesia, menurut kami terjemahan “bergerak menjelajahi” cukup memadai untuk menampung dua cakupan makna tersebut.—peny.}

189 Lit., “dia bergegas di muka bumi (atau ‘berjuang di atas bumi’) untuk menyebarkan kerusakan di dalamnya dan menghancurkan ladang dan keturunan”. Mayoritas mufasir melihat dalam ayat ini suatu indikasi niat yang penuh kesadaran dari orang yang digambarkan itu; tetapi, mungkin pula bahwa partikel li dalam li-yufsida (yang basanya diartikan “agar dia dapat menyebarkan kerusakan”) dalam konteks ini memainkan fungsi sebagai apa yang oleh ahli tata bahasa disebut sebagai lam al-‘aqibah, yaitu “[huruf] lam yang digunakan untuk menunjukkan akibat”—jadi, terlepas dari ada atau tidak adanya niat yang penuh kesadaran. (Dengan cara penerjemahan seperti yang saya lakukan, kedua kemungkinan tersebut tetap terbuka.)

Mengenai ungkapan harts (yang saya terjemahkan menjadi “ladang”), makna utamanya adalah “hasil” atau “perolehan” melalui kerja sehingga sering pula berarti “barang-barang duniawi” (lihat Lane II, h. 542), dan terutarna panen yang diperoleh dari tanah ladang, di samping tanah ladang itu sendiri. Jika harts, dalam konteks ini, dipahami sebagai “ladang”, ia dapat pula menunjukkan, secara metaforis, usaha manusia secara umum dan usaha sosial secara khusus. Namun, beberapa mufasir—dengan menyandarkan pendapat mereka pada ayat Al-Quran, “istri-istri kalian adalah ladang kalian” Al-Baqarah [2]: 223)—menegaskan bahwa harts di sini berarti “istri-istri” (bdk. Al-Razi, dan filolog Al-Azhari, seperti dikutip dalam Al-Manar II, h. 248): sehingga, “pengrusakan ladang dan keturunan” di sini sama artinya dengan penjungkirbalikan kehidupan keluarga dan, akibatnya, seluruh struktur sosial. Kedua versi penafsiran ini sama-sama memberikan makna yang sama terhadap ayat di atas, yakni: segera setelah sikap mental yang digambarkan di atas diterima secara umum dan menjadi basis perilaku sosial, tak pelak lagi hal itu akan menimbulkan kehancuran moral yang tersebar luas dan, akibatnya, menciptakan disintegrasi sosial.


Surah Al-Baqarah Ayat 206

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

wa iżā qīla lahuttaqillāha akhażat-hul-‘izzatu bil-iṡmi fa ḥasbuhụ jahannam, wa labi`sal-mihād

206. Dan, apabila dikatakan kepadanya, “Sadarlah kepada Allah,” keangkuhan semu pun mendorongnya berbuat dosa: karena itu, nerakalah yang akan menjadi tempat baginya—betapa buruknya tempat peristirahatan itu!


Surah Al-Baqarah Ayat 207

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

wa minan-nāsi may yasyrī nafsahubtigā`a marḍātillāh, wallāhu ra`ụfum bil-‘ibād

207. Namun, ada [pula] segolongan manusia yang dengan sukarela menjual dirinya untuk mencari ridha Allah:190 dan Allah Mahawelas Asih terhadap hamba-hamba-Nya.


190 Lit., “ada orang yang bersedia menjual dirinya karena keinginan untuk (mencari) ridha Allah”: yakni, dia akan mengorbankan seluruh kepentingan pribadinya jika ketaatan kepada kehendak Allah menuntutnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 208

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

yā ayyuhallażīna āmanudkhulụ fis-silmi kāffataw wa lā tattabi’ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

208. Wahai, orang-orang yang telah meraih iman! Serahkanlah diri kalian seutuhnya kepada Allah,191 dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan karena, sungguh, setan itu adalah musuh kalian yang nyata.


191 Lit., “masuklah seutuhnya ke dalam kepasrahan-diri”. Karena kepasrahan-diri kepada Allah merupakan dasar semua keimanan yang benar, beberapa mufasir besar (seperti, Al-Zamakhsyari, Al-Razi) berpendapat bahwa seruan, “Wahai, orang-orang yang telah meraih iman” di sini bukan mengacu kepada umat Muslim—suatu sebutan yang, sepanjang Al-Quran, secara harfiah berarti “orang-orang yang telah berserah diri kepada Allah”—melainkan pasti mengacu kepada orang-orang yang belum mencapai tingkat penyerahan diri yang seutuhnya: yaitu, orang-orang Yahudi dan Kristen, yang memang percaya kepada sebagian besar wahyu terdahulu, tetapi tidak mengakui kebenaran pesan Al-Quran. Penafsiran ini tampaknya diperkuat oleh ayat-ayat berikutnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 209

فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

fa in zalaltum mim ba’di mā jā`atkumul-bayyinātu fa’lamū annallāha ‘azīzun ḥakīm

209. Dan, jika kalian tergelincir setelah semua bukti kebenaran datang kepada kalian, ketahuilah bahwa, sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Al-Baqarah Ayat 210

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

hal yanẓurụna illā ay ya`tiyahumullāhu fī ẓulalim minal-gamāmi wal-malā`ikatu wa quḍiyal-amr, wa ilallāhi turja’ul-umụr

210. Apakah orang-orang ini,192 mungkin, masih menunggu-nunggu Allah menampakkan diri-Nya kepada mereka dalam naungan awan bersama malaikat—meskipun [pada saat terjadinya hal ini,] semuanya akan telah tuntas diputuskan, dan kepada Allah-lah segala sesuatu akan dikembalikan?193


192 Lit., “mereka”—ini tentu mengacu kepada orang-orang yang telah disebutkan dalam dua ayat sebelumnya.

193 Yakni, pada saat itu sudah sangat terlambat untuk bertobat. Semua mufasir sepakat bahwa “keputusan” tersebut berkaitan dengan terwujudnya kehendak Allah dengan nyata pada Hari Pengadilan, yang telah disebutkan dalam kalimat “ketika kepada Allah-lah segala sesuatu akan dikembalikan”. Karena dalam ayat berikutnya Bani Israil-lah yang disebutkan, boleh jadi pertanyaan retoris ini berkaitan dengan penolakan mereka, pada zaman Nabi Musa a.s., untuk mengimani pesan ketuhanan, kecuali jika mereka dapat “melihat Allah secara langsung” (bdk. ayat 55 surah ini).


Surah Al-Baqarah Ayat 211

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

sal banī isrā`īla kam ātaināhum min āyatim bayyinah, wa may yubaddil ni’matallāhi mim ba’di mā jā`at-hu fa innallāha syadīdul-‘iqāb

211. Tanyakanlah kepada Bani Israil, berapa banyak pesan yang jelas telah Kami berikan kepada mereka! Dan, jika seseorang mengubah pesan yang diberkati Allah,194 setelah pesan itu sampai kepadanya—sungguh, Allah amat keras dalam menghukum!


194 Lit., “nikmat Allah” (God’s blessing).


Surah Al-Baqarah Ayat 212

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

zuyyina lillażīna kafarul-ḥayātud-dun-yā wa yaskharụna minallażīna āmanụ, wallażīnattaqau fauqahum yaumal-qiyāmah, wallāhu yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb

212. Bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, [hanya] kehidupan dunia inilah yang tampak bagus;195 karena itu, mereka memandang hina orang-orang yang telah meraih iman: tetapi pada Hari Kebangkitan, orang-orang yang sadar akan Allah itu lebih mulia daripada mereka.

Dan, Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, melampaui segala perhitungan.196


195 Lit., “telah dijadikan indah”.

196 Yakni, Dia tak bisa dituntut untuk menjelaskan alasan-Nya dalam membagi-bagi nikmat duniawi: terkadang Dia mengaruniakannya kepada orang yang secara moral memang patut menerimanya, dan terkadang pula kepada para pendosa.


Surah Al-Baqarah Ayat 213

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

kānan-nāsu ummataw wāḥidah, fa ba’aṡallāhun-nabiyyīna mubasysyirīna wa munżirīna wa anzala ma’ahumul-kitāba bil-ḥaqqi liyaḥkuma bainan-nāsi fīmakhtalafụ fīh, wa makhtalafa fīhi illallażīna ụtụhu mim ba’di mā jā`at-humul-bayyinātu bagyam bainahum, fa hadallāhullażīna āmanụ limakhtalafụ fīhi minal-ḥaqqi bi`iżnih, wallāhu yahdī may yasyā`u ilā ṣirāṭim mustaqīm

213. SELURUH MANUSIA dahulunya adalah umat yang tunggal; [kemudian mereka mulai berselisih—] lalu Allah mengutus para nabi sebagai penyampai berita gembira dan pemberi peringatan dan melalui mereka menurunkan wahyu, yang menyatakan kebenaran, sehingga (kebenaran itu) dapat memutuskan semua perkara yang diperselisihkan di antara manusia.197 Namun, justru orang-orang yang telah dianugerahi [wahyu] inilah yang mulai, karena saling dengki, berselisih mengenai maknanya setelah semua bukti kebenaran sampai kepada mereka. Namun, Allah membimbing orang-orang Mukmin kepada kebenaran, dengan seizin-Nya, terhadap perkara yang mereka perselisihkan itu: sebab, Allah memberi petunjuk ke jalan yang lurus siapa saja yang ingin [diberi petunjuk].198


197 Dengan menggunakan ungkapan ummah wahidah (“umat yang tunggal”) untuk menggambarkan kondisi awal manusia, Al-Quran tidak mengemukakan—sebagaimana mungkin tampak secara sepintas—gagasan tentang “zaman keemasan” mitologis yang terjadi pada awal sejarah manusia. Yang disinggung dalam ayat ini hanyalah kesamaan relatif menyangkut persepsi dan kecenderungan naluriah yang menjadi ciri khas mentalitas primitif dan tatanan sosial primitif manusia ketika mereka hidup pada masa-masa awal tersebut. Karena kesamaan itu didasarkan pada sedikitnya perbedaan intelektual dan emosional, dan bukan pada kesepakatan sadar di antara anggota masyarakat manusia, kesamaan tersebut dipastikan pecah seiring dengan tingkat perkembangan manusia selanjutnya. Karena alam-pikirannya semakin kompleks, kapasitas emosional dan kebutuhan individualnya juga menjadi lebih beragam; selain itu, perbedaan pandangan serta kepentingan mulai mengemuka dan umat manusia tidak lagi menjadi “umat yang tunggal” menyangkut pandangan mereka tentang kehidupan dan penilaian moral: dan pada tahap inilah petunjuk Allah menjadi suatu kebutuhan. (Harus diingat bahwa istilah al-kitab di sini mengacu bukan pada kitab suci tertentu—seperti yang dimaksudkan di banyak ayat lain dalam Al-Quran—melainkan pada wahyu Ilahi itu sendiri secara keseluruhan.) Penafsiran yang seperti ini terhadap ayat Al-Quran di atas didukung oleh fakta bahwa Sahabat terkenal Nabi, ‘Abd Allah ibn Mas’ud, biasa membacanya sebagai berikut. “Seluruh umat manusia pada mulanya merupakan umat yang tunggal, kemudian mereka mulai berbeda (fakhtalafu)—Ialu Allah mengutus …”, dan seterusnya. Meskipun kata fakhtalafu yang disisipkan oleh ‘Abd Allah ibn Mas’ud di sini tidak muncul dalam teks Al-Quran yang umum diterirna, hampir seluruh mufasir berpendapat bahwa hal itu tersirat dalam konteksnya.

198 Atau: “Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus”*. Sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian kedua dari ayat 253 dalam surah ini, kecenderungan manusia untuk bersilang pendapat bukanlah suatu kecelakaan sejarah, melainkan merupakan aspek integral, dan dikehendaki Allah, dari fitrah manusia: dan, hal alamiah inilah yang diacu oleh ungkapan “dengan seizin-Nya”. Untuk penjelasan mengenai ungkapan “karena saling dengki”, lihat Surah Al-Mu’miun [23]: 53 dan catatannya (no. 30).

* {Lihat ayat 142 surah ini dan catatan no. 117.—peny.}


Surah Al-Baqarah Ayat 214

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

am ḥasibtum an tadkhulul-jannata wa lammā ya`tikum maṡalullażīna khalau ming qablikum, massat-humul-ba`sā`u waḍ-ḍarrā`u wa zulzilụ ḥattā yaqụlar-rasụlu wallażīna āmanụ ma’ahụ matā naṣrullāh, alā inna naṣrallāhi qarīb

214. [Akan tetapi,] apakah kalian menyangka bahwa kalian akan masuk surga tanpa mendapat penderitaan sebagaimana halnya orang-orang [beriman] yang berlalu sebelum kalian?199 Kemalangan dan kesukaran menimpa mereka, dan begitu terguncangnya mereka sehingga rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berseru, “Bilakah pertolongan Allah akan datang?”200

Oh, sungguh, pertolongan Allah itu [selalu] dekat!


199 Lit., “sedangkan belum datang kepada kalian seperti [apa yang telah datang kepada] orang-orang yang berlalu sebelum kalian”. Ayat ini berkaitan dengan kalimat, “Allah memberi petunjuk ke jalan yang lurus siapa saja yang ingin [diberi petunjuk]”, yang terdapat pada akhir ayat sebelumnya. Maknanya adalah bahwa pemahaman intelektual atas kebenaran tidak dapat, dengan sendirinya, menjadi sarana untuk mencapai kebahagiaan tertinggi: pemahaman intelektual harus dilengkapi dengan kesediaan untuk berkorban dan dengan penyucian spiritual melalui penderitaan.

200 Rujukan sebelumnya terhadap “orang-orang yang berlalu sebelum kalian” memperjelas bahwa istilah “rasul” di sini digunakan dalam pengertian generik, yakni berlaku bagi seluruh rasul (Al-Manar II, h. 301).


Surah Al-Baqarah Ayat 215

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

yas`alụnaka māżā yunfiqụn, qul mā anfaqtum ming kairin fa lil-wālidaini wal-aqrabīna wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīl, wa mā taf’alụ min khairin fa innallāha bihī ‘alīm

215. MEREKA AKAN BERTANYA kepadamu tentang apa yang harus mereka nafkahkan kepada orang lain. Katakanlah: “Apa saja kekayaan yang kalian nafkahkan hendaklah [pertama-tama] diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan musafir; dan kebaikan apa pun yang kalian kerjakan, sungguh, Allah pasti mengetahuinya.”


Surah Al-Baqarah Ayat 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

kutiba ‘alaikumul-qitālu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asā an takrahụ syai`aw wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuḥibbụ syai`aw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

216. PERANG diwajibkan atas kalian, meskipun kalian membencinya; akan tetapi, boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian: dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.201


201 Karena ayat ini berbicara tentang peperangan, ia harus dibaca dalam kaitannya dengan Surah Al-Baqarah [2]: 190-193 dan Surah Al-Hajj [22]: 39: namun, selain itu, ayat ini juga mengungkapkan kebenaran umum yang dapat diterapkan pada banyak situasi.


Surah Al-Baqarah Ayat 217

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

yas`alụnaka ‘anisy-syahril-ḥarāmi qitālin fīh, qul qitālun fīhi kabīr, wa ṣaddun ‘an sabīlillāhi wa kufrum bihī wal-masjidil-ḥarāmi wa ikhrāju ahlihī min-hu akbaru ‘indallāh, wal-fitnatu akbaru minal-qatl, wa lā yazālụna yuqātilụnakum ḥattā yaruddụkum ‘an dīnikum inistaṭā’ụ, wa may yartadid mingkum ‘an dīnihī fa yamut wa huwa kāfirun fa ulā`ika ḥabiṭat a’māluhum fid-dun-yā wal-ākhirah, wa ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

217. Mereka akan bertanya kepadamu tentang perang pada bulan suci.202 Katakanlah: “Perang pada bulan itu adalah suatu yang dahsyat; tetapi menghalangi orang dari jalan Allah, mengingkari-Nya, [menghalangi mereka masuk] Masjid Al-Haram, dan mengusir penduduk dari sekitarnya—[semua itu] lebih dahsyat dalam pandangan Allah, sebab penindasan lebih dahsyat daripada pembunuhan.”

[Musuh-musuh kalian] tidak akan pernah berhenti memerangi kalian hingga mereka berhasil memalingkan kalian dari agama kalian, seandainya mereka sanggup. Akan tetapi, siapa saja yang berpaling dari agamanya dan mati sebagai pengingkar kebenaran—mereka itulah orang-orang yang perbuatannya sia-sia di dunia ini dan di akhirat; dan mereka inilah orang-orang yang ditetapkan di neraka, berkediaman di dalamnya.


202 Untuk penjelasan tentang “bulan-bulan suci”, lihat catatan no. 171 sebelum ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 218

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

innallażīna āmanụ wallażīna hājarụ wa jāhadụ fī sabīlillāhi ulā`ika yarjụna raḥmatallāh, wallāhu gafụrur raḥīm

218. Sungguh, orang-orang yang telah meraih iman, yang telah hijrah meninggalkan ranah kejahatan203 dan berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah—mereka itulah yang boleh mengharapkan rahmat Allah: sebab, Allah Maha Pengampun, Sang Pemheri Rahmat.


203 Ungkapan alladzina hajaru (yang secara harfiah berarti “mereka yang telah meninggalkan kampung halamannya”), pada dasarnya, menunjuk pada kaum Muslim Makkah yang berhijrah atas perintah Nabi ke Madinah—yang pada waktu itu masih bernama Yatsrib—agar dapat hidup merdeka dan sejalan dengan ketentuan Islam. Setelah penaklukan Makkah oleh kaum Muslim pada 8 H, hijrah dari Makkah ke Madinah ini tidak lagi menjadi kewajiban keagamaan. Namun, sejak masa-masa awal Islam, istilah hijrah juga memiliki konotasi spiritual—yakni, “meninggalkan ranah kejahatan” dan beralih menuju Allah: dan, karena konotasi spiritual ini berlaku baik untuk kaum muhajirun (orang-orang yang berhijrah) secara fisik pada awal sejarah Islam maupun untuk seluruh kaum Mukmin pada masa-masa berikutnya yang meninggalkan seluruh perbuatan dosa dan “berhijrah menuju Allah”, saya pun sering menggunakan ungkapan hajaru dalam pengertian yang mengandung konotasi spiritual itu.


Surah Al-Baqarah Ayat 219

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

yas`alụnaka ‘anil-khamri wal-maisir, qul fīhimā iṡmung kabīruw wa manafi’u lin-nāsi wa iṡmuhumā akbaru min-naf’ihimā, wa yas`alụnaka māżā yunfiqụn, qulil-‘afw, każālika yubayyinullāhu lakumul-āyāti la’allakum tatafakkarụn

219. MEREKA AKAN BERTANYA kepadamu tentang minuman keras dan judi. Katakanlah: “Dalam keduanya terdapat keburukan yang besar,204 dan juga sejumlah manfaat bagi manusia; tetapi keburukan yang ditimbulkannya lebih besar daripada manfaat yang dihasilkannya.”205

Dan, mereka akan bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka nafkahkan [di jalan Allah]. Katakanlah: “Apa saja yang dapat kalian sisihkan.”

Demikianlah, Allah menjelaskan pesan-pesan-Nya kepada kalian agar kalian berpikir


204 Lit., “dosa” atau apa saja yang kondusif untuk berbuat dosa. Seperti yang ditunjukkan oleh beberapa mufasir klasik (semisal Al-Razi), istilah itsm dalam ayat ini digunakan sebagai lawan kata manafi (“manfaat”); karena itu, ia dapat diterjemahkan secara tepat menjadi “keburukan” (evil).

205 Lit., “keburukannya lebih besar daripada manfaatnya”. Untuk larangan yang tegas terhadap minuman keras dan judi, lihat Surah Al-Ma’idah [5]: 90-91 dan catatan-catatannya.


Surah Al-Baqarah Ayat 220

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۗ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

fid-dun-yā wal-ākhirah, wa yas`alụnaka ‘anil-yatāmā, qul iṣlāḥul lahum khaīr, wa in tukhāliṭụhum fa ikhwānukum, wallāhu ya’lamul-mufsida minal-muṣliḥ, walau syā`allāhu la`a’natakum, innallāha ‘azīzun ḥakīm

220. tentang dunia ini dan akhirat.

Dan, mereka akan bertanya kepadamu tentang [bagaimana memperlakukan] anak yatim. Katakanlah: “Memperbaiki keadaan mereka adalah yang terbaik.” Dan, jika kalian hidup bersama-sama dengan mereka, [ingatlah bahwa] mereka itu adalah saudara kalian:206 sebab, Allah membedakan siapa yang merusak dengan siapa yang memperbaiki. Dan, jika Allah menghendaki, Dia benar-benar dapat membebani kalian dengan kesukaran yang tak sanggup kalian pikul:207 [tetapi,] perhatikanlah, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


206 Implikasinya, apabila seseorang hidup bersama-sama dengan anak yatim dan menanggung kehidupannya, dia diizinkan untuk mendapatkan keuntungan melalui kemitraan seperti itu—misalnya, melalui kemitraan bisnis—dengan syarat hal itu sedikit pun tidak merugikan kepentingan anak yatim tersebut.

207 Yakni, “dengan mewajibkan kalian memelihara anak yatim dan, bersamaan dengan itu, melarang kalian ikut ambil bagian dalam kehidupan mereka” (lihat catatan sebelum ini).


Surah Al-Baqarah Ayat 221

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa lā tangkiḥul-musyrikāti ḥattā yu`minn, wa la`amatum mu`minatun khairum mim musyrikatiw walau a’jabatkum, wa lā tungkiḥul-musyrikīna ḥattā yu`minụ, wa la’abdum mu`minun khairum mim musyrikiw walau a’jabakum, ulā`ika yad’ụna ilan-nāri wallāhu yad’ū ilal-jannati wal-magfirati bi`iżnih, wa yubayyinu āyātihī lin-nāsi la’allahum yatażakkarụn

221. DAN, JANGANLAH menikahi perempuan-perempuan yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah sebelum mereka meraih iman [yang sejati]: sebab, setiap hamba perempuan yang beriman [kepada Allah]208 pasti lebih baik daripada perempuan yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, meskipun dia sangat menyenangkan kalian. Dan, janganlah menikahkan perempuan-perempuan kalian dengan lelaki yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah sebelum mereka meraih iman [yang sejati]: sebab, setiap budak laki-laki yang beriman [kepada Allah] pasti lebih baik daripada laki-laki yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, meskipun dia sangat menyenangkan kalian. [Yang seperti] ini mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan [diraihnya] ampunan dengan izin-Nya; dan Dia menjelaskan pesan-pesan-Nya kepada manusia supaya mereka mengingatnya.


208 Meskipun kebanyakan mufasir mengartikan istilah amah, yang terdapat dalam konteks ini, dengan “budak perempuan”, sebagian di antara mereka berpendapat bahwa istilah itu di sini berarti “hamba perempuan Allah“. Karena itu, Al-Zamakhsyari mengartikan kata amah mu’minah (lit., “hamba perempuan yang beriman”) dengan “setiap perempuan Mukmin, baik dia berstatus budak atau merdeka; dan ini berlaku bagi [ungkapan] ‘hamba yang beriman’ juga: sebab, seluruh manusia, laki-laki maupun perempuan, adalah hamba Allah”. Terjemahan saya terhadap ayat di atas didasarkan pada penafsiran yang sangat masuk akal tersebut.


Surah Al-Baqarah Ayat 222

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

wa yas`alụnaka ‘anil-maḥīḍ, qul huwa ażan fa’tazilun-nisā`a fil-maḥīḍi wa lā taqrabụhunna ḥattā yaṭ-hurn, fa iżā taṭahharna fa`tụhunna min ḥaiṡu amarakumullāh, innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn

222. DAN, MEREKA akan bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Itu adalah suatu keadaan yang rentan. Oleh sebab itu, jauhilah perempuan selama mereka haid dan janganlah mendekati mereka hingga mereka suci; dan jika mereka telah suci, datangilah mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kalian.209

Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berpaling kepada-Nya dalam tobat210 dan mencintai orang-orang yang selalu menyucikan diri.


209 Ini merupakan salah satu dari banyak pernyataan dalam Al-Quran tentang watak positif seksualitas, yang merupakan ketetapan Allah sendiri.

210 Yakni, jika mereka melampaui batas tersebut di atas.


Surah Al-Baqarah Ayat 223

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

nisā`ukum ḥarṡul lakum fa`tụ ḥarṡakum annā syi`tum wa qaddimụ li`anfusikum, wattaqullāha wa’lamū annakum mulāqụh, wa basysyiril-mu`minīn

223. Istri-istri kalian adalah ladang kalian; maka, datangilah ladang kalian itu sekehendak kalian, tetapi pertama-tama persiapkanlah sesuatu bagi jiwa kalian,211 dan tetaplah sadar akan Allah, dan ketahuilah bahwa kalian ditakdirkan menemui-Nya. Dan, berikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman.


211 Dengan kata lain, hubungan spiritual antar laki-laki dan perempuan ditegaskan sebagai dasar mutlak hubungan seksual.


Surah Al-Baqarah Ayat 224

وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa lā taj’alullāha ‘urḍatal li`aimānikum an tabarrụ wa tattaqụ wa tuṣliḥụ bainan-nās, wallāhu samī’un ‘alīm

224. DAN, JANGAN biarkan sumpah kalian atas nama Allah menjadi penghalang kebajikan, kesadaran akan Allah, dan penciptaan perdamaian di antara manusia:212 sebab, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


212 Lit., “jangan menjadikan Allah, karena sumpah kalian, …”, dan seterusnya. Sebagaimana dapat dilihat dari ayat 226, perintah ini merujuk terutama pada sumpah yang berkaitan dengan perceraian, tetapi, meskipun begitu, maknanya bersifat umum. Karena itu, ada sejumlah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Jika seseorang bersumpah atau bernazar [bahwa dia akan melakukan atau mengurungkan melakukan sesuatu], kemudian menyadari bahwa sesuatu yang lain ternyata merupakan jalan yang lebih baik, hendaklah dia melakukan yang lebih baik tersebut dan biarlah dia membatalkan sumpah atau nazarnya. Kemudian, hendaklah dia menebusnya” (HR Bukhari dan Muslim; dan berbagai versi lain tentang hadis yang sama dalam kitab-kitab hadis lainnya). Tentang metode penebusannya, lihat Surah Al-Ma’idah [5]: 89.


Surah Al-Baqarah Ayat 225

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

lā yu`ākhiżukumullāhu bil-lagwi fī aimānikum wa lākiy yu`ākhiżukum bimā kasabat qulụbukum, wallāhu gafụrun ḥalīm

225. Allah tidak akan menghukum kalian karena sumpah-sumpah yang kalian ucapkan tanpa sadar, tetapi [hanya] akan menghukum kalian atas apa yang diniatkan oleh hati kalian [dengan sungguh-sungguh]: sebab, Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.


Surah Al-Baqarah Ayat 226

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ ۖ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

lillażīna yu`lụna min nisā`ihim tarabbuṣu arba’ati asy-hur, fa in fā`ụ fa innallāha gafụrur raḥīm

226. Orang-orang yang bersumpah tidak akan mendekati istrinya mendapatkan kelonggaran waktu empat bulan; dan jika mereka kembali [pada sumpah mereka]213—perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


213 Yakni, selama masa kelonggaran ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 227

وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa in ‘azamuṭ-ṭalāqa fa innallāha samī’un ‘alīm

227. Namun, jika mereka memutuskan untuk bercerai—perhatikanlah, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


Surah Al-Baqarah Ayat 228

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

wal-muṭallaqātu yatarabbaṣna bi`anfusihinna ṡalāṡata qurū`, wa lā yaḥillu lahunna ay yaktumna mā khalaqallāhu fī ar-ḥāmihinna ing kunna yu`minna billāhi wal-yaumil-ākhir, wa bu’ụlatuhunna aḥaqqu biraddihinna fī żālika in arādū iṣlāḥā, wa lahunna miṡlullażī ‘alaihinna bil-ma’rụfi wa lir-rijāli ‘alaihinna darajah, wallāhu ‘azīzun ḥakīm

228. Dan, perempuan yang diceraikan hendaklah menjalani, tanpa menikah kembali,214 masa menunggu selama tiga kali haid: sebab, tidak halal bagi mereka menyembunyikan apa yang mungkin telah Allah ciptakan dalam rahim mereka,215 jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Dan, selama masa ini, para suami berhak sepenuhnya untuk kembali mengambil mereka (sebagai istri) jika mereka menghendaki rukun; akan tetapi, sesuai dengan keadilan, hak para istri [terhadap suami mereka] setara dengan hak [para suami] terhadap mereka, meskipun lelaki memiliki keutamaan terhadap mereka [dalam hal ini].216 Dan, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


214 Lit., “dengan diri mereka sendiri”.

215 Tujuan utama masa penantian (‘iddah) ini adalah untuk memastikan kemungkinan kehamilan sehingga garis keturunan anak yang sedang dikandung dapat diketahui. Di samping itu, kedua pasangan itu harus diberi kesempatan memikirkan kembali keputusan mereka dan kemungkinan melakukan rujuk. Lihat juga Surah At-Thalaq [65]: 1 dan catatan no. 2.

216 Istri yang diceraikan memiliki hak untuk menolak rujuk meskipun sang suami mengungkapkan, ebelum berakhirnya masa ‘iddah, keinginannya untuk membatalkan perceraian-sementara itu. Namun, karena suamilah yang bertanggung jawab atas nafkah keluarga, pilihan pertama untuk membatalkan cerai-sementara ada pada suami.


Surah Al-Baqarah Ayat 229

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

aṭ-ṭalāqu marratāni fa imsākum bima’rụfin au tasrīḥum bi`iḥsān, wa lā yaḥillu lakum an ta`khużụ mimmā ātaitumụhunna syai`an illā ay yakhāfā allā yuqīmā ḥudụdallāh, fa in khiftum allā yuqīmā ḥudụdallāhi fa lā junāḥa ‘alaihimā fīmaftadat bih, tilka ḥudụdullāhi fa lā ta’tadụhā, wa may yata’adda ḥudụdallāhi fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

229. Suatu perceraian dapat [dibatalkan] dua kali, setelah itu pernikahan harus dilanjutkan lagi secara adil atau diputuskan secara baik-baik.217

Dan, tidak halal bagi kalian mengambil kembali apa saja yang telah kalian berikan kepada istri—istri kalian, kecuali jika kedua [pihak] khawatir bahwa mereka tidak dapat menaati batas-batas yang telah ditetapkan Allah: karena itu, jika kalian khawatir bahwa keduanya tidak mampu menaati b atas-batas yang telah ditetapkan Allah, tiada dosa bagi keduanya sehubungan dengan apa yang dapat diserahkan istri [kepada suaminya] untuk membebaskan dirinya (dari ikatan pernikahan).218

Inilah batas-batas yang telah ditetapkan Allah, maka, janganlah melanggarnya, sebab, orang-orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah—mereka, mereka itulah orang-orang yang zalim.


217 Lit., “kemudian, atau mempertahankan dengan cara yang adil atau melepaskan secara baik-baik”. Dengan kata lain, pernyataan cerai (talak) ketiga bersifat final dan tidak dapat dicabut kembali.

218 Semua ahli sepakat bahwa ayat ini berkaitan dengan hak mutlak yang dimiliki pihak istri untuk menggugat cerai suaminya; putusnya pernikahan atas permintaan istri seperti ini disebut khul’. Ada sejumlah hadis sahih yang menyatakan bahwa istri Tsabit ibn Qais, Jamilah, menghadap Nabi dan menuntut untuk bercerai dari suaminya dengan alasan bahwa, terlepas dari karakter dan perilakunya yang tak tercela, dia “tidak menyukainya, sama seperti dia tidak suka kembali kufur setelah menerima Islam”. Kemudian, Nabi memerintahkan Jamilah agar mengembalikan kepada Tsabit kebun yang telah diberikan sebagai maskawin (mahar) saat mereka menikah, dan memutuskan agar pernikahan diakhiri. (Beberapa variasi tentang hadis ini telah diriwayatkan oleh Bukhari, Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, dan Baihaqi dengan sanad dari Ibn `Abbas). Hadis-hadis serupa, yang diriwayatkan melalui sanad dari ‘Aisyah, yang menceritakan seorang wanita bernama Hubaibah binti Sahl, dapat ditemukan dalam Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, dan dalam kumpulan-kumpulan hadis oleh Nasa’i dan Abu Dawud (dalam salah satu variasi riwayat, Abu Dawud menyebut nama wanita itu Hafshah binti Sahl). Berdasarkan hadis-hadis ini, hukum fiqih menetapkan bahwa jika suatu pernikahan diakhiri atas gugatan istri tanpa pelanggaran kewajiban-kewajiban rumah tangga dari pihak suami, istri tersebut menjadi pihak yang memutuskan akad dan, karenanya, pada saat berakhirnya pernikahan harus mengembalikan mahar yang telah dia terima dari suami: dan dalam kasus ini, “tiada dosa bagi keduanya” jika suami mengambil kembali mahar yang diserahkan oleh istrinya sesuai dengan kehendaknya sendiri. Suatu pembahasan yang panjang lebar tentang hadis-hadis ini dan implikasi hukumnya dapat ditemukan dalam Nail Al-Authar VII, hh. 34-41. Untuk ringkasan atas pendapat yang relevan dari berbagai mazhab fiqih, lihat Bidayah Al-Mujtahid II, hh. 54-57.


Surah Al-Baqarah Ayat 230

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

fa in ṭallaqahā fa lā taḥillu lahụ mim ba’du ḥattā tangkiḥa zaujan gairah, fa in ṭallaqahā fa lā junāḥa ‘alaihimā ay yatarāja’ā in ẓannā ay yuqīmā ḥudụdallāh, wa tilka ḥudụdullāhi yubayyinuhā liqaumiy ya’lamụn

230. Dan, jika dia [akhirnya] menceraikannya, perempuan tersebut mulai saat itu tidak halal lagi baginya, kecuali dia menikah1 lelaki lain terlebih dahulu; kemudian, jika suami yang terakhir ini menceraikannya, tiada dosa bagi keduanya apabila mereka bersatu kembali—asalkan keduanya merasa bahwa mereka akan mampu menaati batas-batas yang telah ditetapkan Allah: sebab, inilah batas-batas (ketentuan) Allah, yang Dia jeIaskan kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan].


Surah Al-Baqarah Ayat 231

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ ۚ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

wa iżā ṭallaqtumun-nisā`a fa balagna ajalahunna fa amsikụhunna bima’rụfin au sarriḥụhunna bima’rụf, wa lā tumsikụhunna ḍirāral lita’tadụ, wa may yaf’al żālika fa qad ẓalama nafsah, wa lā tattakhiżū āyātillāhi huzuwaw ważkurụ ni’matallāhi ‘alaikum wa mā anzala ‘alaikum minal-kitābi wal-ḥikmati ya’iẓukum bih, wattaqullāha wa’lamū annallāha bikulli syai`in ‘alīm

231. Begitu juga, apabila kalian menceraikan perempuan ketika mereka mendekati akhir masa penantiannya, pertahankanlah mereka dengan cara yang baik atau biarkanlah mereka pergi dengan cara yang baik. Akan tetapi, janganlah mempertahankan mereka bertentangan dengan keinginan mereka dengan tujuan menyakiti [mereka]: sebab, siapa pun yang bertindak demikian, sungguh dia menganiaya dirinya sendiri.

Dan, janganlah menganggap ringan pesan Allah [ini]; dan ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kalian, dan semua wahyu serta hikmah yang telah Dia turunkan kepada kalian dalam rangka memberi kalian peringatan; dan sadarlah kepada Allah senantiasa, serta ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


Surah Al-Baqarah Ayat 232

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

wa iżā ṭallaqtumun-nisā`a fa balagna ajalahunna fa lā ta’ḍulụhunna ay yangkiḥna azwājahunna iżā tarāḍau bainahum bil-ma’rụf, żālika yụ’aẓu bihī mang kāna mingkum yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, żālikum azkā lakum wa aṭ-har, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

232. Dan, apabila kalian menceraikan perempuan, sedangkan mereka telah sampai pada akhir rnasa penantiannya, jangan halangi mereka menikah lagi dengan laki-laki lain, jika keduanya telah bersepakat dengan cara yang baik. lnilah peringatan bagi siapa saja di antara kalian yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir; inilah [jalan] yang paling suci bagi kalian dan paling bersih. Dan, Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.


Surah Al-Baqarah Ayat 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

wal-wālidātu yurḍi’na aulādahunna ḥaulaini kāmilaini liman arāda ay yutimmar-raḍā’ah, wa ‘alal-maulụdi lahụ rizquhunna wa kiswatuhunna bil-ma’rụf, lā tukallafu nafsun illā wus’ahā, lā tuḍārra wālidatum biwaladihā wa lā maulụdul lahụ biwaladihī wa ‘alal-wāriṡi miṡlu żālik, fa in arādā fiṣālan ‘an tarāḍim min-humā wa tasyāwurin fa lā junāḥa ‘alaihimā, wa in arattum an tastarḍi’ū aulādakum fa lā junāḥa ‘alaikum iżā sallamtum mā ātaitum bil-ma’rụf, wattaqullāha wa’lamū annallāha bimā ta’malụna baṣīr

233. Dan, ibu-ibu [yang diceraikan] boleh menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, jika mereka ingin menyempurnakan masa menyusuinya; dan laki-laki* yang telah mempunyai anak wajib memberi makan dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik. Hendaknya tiada seorang manusia pun dibebani melebihi kemampuannya: hendaknya seorang ibu pun tidak menjadi menderita karena anaknya, dan tidak pula seorang ayah menderita karena anaknya. Dan, kewajiban yang sama berlaku bagi sang ahli waris [ayahnya].

Dan, jika keduanya [ayah dan ibu] memutuskan – dengan persetujuan dan musyawarah—pemisahan [ibu dari anak],219 mereka tidak berdosa [karenanya]; dan jika kalian memutuskan untuk memercayakan anak-anak kalian kepada ibu-asuh, tiada dosa bagi kalian, asal kalian menjamin—dengan cara yang baik—keselamatan anak yang kalian serahkan.220 Namun, sadarlah akan Allah senantiasa, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat segala yang kalian kerjakan.


* {Lit., “dia (laki-laki)”; Ar.: hu; Ing.: him, he.—peny.}

219 Mayoritas mufasir memahami kata fishal sama dengan “penyapihan” (yakni sebelum berakhirnya masa maksimal dua tahun). Namun, Abu Muslim berpendapat bahwa kata itu berarti “pemisahan”—yakni, pemisahan anak dari ibunya (Al-Razi). Bagi saya, penafsiran ini merupakan yang terbaik di antara dua penafsiran itu karena memberi solusi bagi masalah-masalah ketika kedua orangtua sepakat bahwa—karena satu dan lain alasan—tidak adil membebani si ibu yang diceraikan untuk mengasuh anak, terlepas dari kewajiban ayah untuk memenuhi kebutuhan materiel mereka; sedangkan di sisi lain, si ayah tidak mungkin melaksanakan tugas ini sendirian.

220 Lit., “asal kalian menyelamatkan [atau ‘asal kalian menyerahkan’] dengan cara yang makruf apa yang kalian berikan”. Meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa verba sallamahu dapat berarti “dia menyerahkannya” dan juga “dia menyelamatkannya”, tampaknya bagi saya bahwa makna terakhir (yang merupakan makna dasarnya) yang lebih tepat dalam konteks ini, sebab makna itu menunjukkan keharusan untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan masa depan anak. (Para mufasir yang mengartikan verba sallamtum dengan “kalian menyerahkan”, menafsirkan ungkapan idza sallamtum ma aitum bi al-ma’ruf dalam arti “asal kalian menyerahkan [upah kepada ibu-asuh] yang disepakati dengan cara yang makruf”. Menurut saya, makna ini terlalu membatasi tujuan perintah di atas.)


Surah Al-Baqarah Ayat 234

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

wallażīna yutawaffauna mingkum wa yażarụna azwājay yatarabbaṣna bi`anfusihinna arba’ata asy-huriw wa ‘asyrā, fa iżā balagna ajalahunna fa lā junāḥa ‘alaikum fīmā fa’alna fī anfusihinna bil-ma’rụf, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

234. Dan, jika salah seorang di antara kalian wafat dan meninggalkan istri-istri, mereka harus menjalani, tanpa menikah dulu,221 masa penantian selama empat bulan sepuluh hari; kemudian, jika mereka telah sampai pada akhir masa penantiannya, tiada dosa222 dalam hal apa pun yang mungkin mereka lakukan dengan orang lain secara halal. Dan, Allah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.


221 Lit., “dengan diri mereka sendiri”.

222 Lit., “tidak akan mendatangkan dosa bagi kalian”. Karena tentunya hal ini ditujukan kepada seluruh umat (Al-Zamakhsyari), penerjemahan “tiada dosa” tampaknya tepat.


Surah Al-Baqarah Ayat 235

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

wa lā junāḥa ‘alaikum fīmā ‘arraḍtum bihī min khiṭbatin-nisā`i au aknantum fī anfusikum, ‘alimallāhu annakum satażkurụnahunna wa lākil lā tuwā’idụhunna sirran illā an taqụlụ qaulam ma’rụfā, wa lā ta’zimụ ‘uqdatan-nikāḥi ḥattā yablugal-kitābu ajalah, wa’lamū annallāha ya’lamu mā fī anfusikum faḥżarụh, wa’lamū annallāha gafụrun ḥalīm

235. Namun, tiada dosa bagi kalian sekiranya kalian memberi isyarat [untuk berniat] meminang kepada [siapa pun di antara] perempuan-perempuan itu atau jika kalian memendam niat tersebut tanpa menyatakannya: [sebab] Allah mengetahui bahwa kalian ingin menikahi mereka.223 Namun, janganlah mengucapkan janji nikah dengan mereka secara rahasia, tetapi bicaralah hanya dengan cara yang layak; dan janganlah menjalin ikatan-nikah sebelum [masa penantian] yang telah ditetapkan itu berakhir. Dan, ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam pikiran kalian; karena itu, sadarlah kepada-Nya senantiasa dan ketahuilah pula bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.


223 Lit., “jika kalian menyembunyikan [niat seperti itu] dalam diri kalian: [karena] Allah mengetahui bahwa kalian akan mengutarakan[nya] kepada mereka”. Dalam bahasa Arab klasik, kata dzakaraha (“dia mengutarakan[nya] kepadanya”) secara idiomatik sering kali berarti “dia memintanya untuk menikah” (lihat Lane III, h. 969). Ayat di atas berkenaan dengan lamaran untuk menikah—atau niat untuk melamar—kepada perempuan yang baru saja menjanda atau diceraikan, sebelum habis masa penantiannya (‘iddah).


Surah Al-Baqarah Ayat 236

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ

lā junāḥa ‘alaikum in ṭallaqtumun-nisā`a mā lam tamassụhunna au tafriḍụ lahunna farīḍataw wa matti’ụhunna ‘alal-mụsi’i qadaruhụ wa ‘alal-muqtiri qadaruh, matā’am bil-ma’rụf, ḥaqqan ‘alal-muḥsinīn

236. Kalian tiada berdosa apabila menceraikan istri-istri kalian, sementara kalian belum menyentuh mereka dan belum menentukan mahar bagi mereka;224 tetapi [dalam kasus seperti itu pun,] berikanlah bekal kepada mereka—bagi yang berkelimpahan menurut kemampuannya dan bagi yang berkekurangan menurut kemampuannya—suatu bekal (yang diberikan) dengan adil: inilah kewajiban bagi semua orang yang berniat melakukan kebajikan.225


224 Istilah faridhah berarti maskawin (juga sering disebut mahr, mahar) yang harus disepakati oleh kedua mempelai sebelum berakhirnya akad pernikahan. Meskipun jumlah mahar diserahkan kepada kebijaksanaan kedua belah pihak (dan bahkan mungkin hanya berupa hadiah simbolis), ketentuan tentang mahar ini merupakan bagian esensial dari akad nikah dalam Islam. Untuk pengecualian dari ketentuan ini, lihat Surah Al-Ahzab [33]: 50 dan catatannya (no. 58).

225 Lit., “bagi para pelaku kebajikan”—yakni, semua yang bertekad untuk berperilaku sesuai dengan kehendak Allah.


Surah Al-Baqarah Ayat 237

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

wa in ṭallaqtumụhunna ming qabli an tamassụhunna wa qad faraḍtum lahunna farīḍatan fa niṣfu mā faraḍtum illā ay ya’fụna au ya’fuwallażī biyadihī ‘uqdatun-nikāḥ, wa an ta’fū aqrabu lit-taqwā, wa lā tansawul-faḍla bainakum, innallāha bimā ta’malụna baṣīr

237. Dan, jika kalian menceraikan mereka sebelum menyentuhnya, tetapi setelah menentukan mahar bagi mereka, [berilah mereka] setengah dari (mahar) yang telah kalian tentukan itu—kecuali jika mereka melepaskan hak mereka atau dia yang memegang ikatan nikah226 melepaskan haknya [terhadap setengah dari mahar itu]: dan melepaskan apa yang menjadi hak kalian itu lebih sesuai dengan kesadaran akan Allah. Dan, janganlah lupa [bahwa hendaklah kalian bertindak penuh] kasih sayang terhadap satu sama lain: sungguh, Allah Maha Melihat segala yang kalian kerjakan.


226 Menurut beberapa Sahabat Nabi yang terkemuka (seperti, ‘Ali) dan tabiin (seperti, Sa’id ibn Al-Musayyab dan Sa’id ibn Jubair), istilah ini menunjuk pada suami (bdk. Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi, dan Ibn Katsir).


Surah Al-Baqarah Ayat 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

ḥāfiẓụ ‘alaṣ-ṣalawāti waṣ-ṣalātil-wusṭā wa qụmụ lillāhi qānitīn

238. SENANTIASALAH memperhatikan seluruh shalat, dan bershalatlah dengan cara yang terbaik;227 dan berdirilah di hadapan Allah dengan ketaatan yang tulus.


227 Lit., “shalat paling pertengahan” [atau “yang paling baik”] (shalat al-wustha). Secara umum diasumsikan bahwa shalat ini merujuk pada shalat Ashar, meskipun beberapa ulama berpendapat bahwa kata itu menunjukkan shalat fajar. Namun, Muhammad ‘Abduh mengemukakan pandangan bahwa shalat al-wustha dapat diartikan sebagai “jenis shalat yang paling utama—yaitu, shalat dengan segenap hati dan pikiran menuju Allah, yang diilhami oleh rasa gentar-takjub akan kebesaran-Nya, sambil merenungkan firman-Nya” (Al-Manar II, h. 438). Sesuai dengan sistem yang berlaku pada seluruh bagian Al-Quran, setiap bagian panjang yang membahas hukum sosial hampir selalu diiringi dengan seruan kepada kesadaran akan Allah (takwa): dan karena kesadaran ini muncul sepenuhnya dalam shalat, ayat ini dan ayat berikutnya disisipkan di bagian antara perintah yang berkenaan dengan pernikahan dan perceraian.


Surah Al-Baqarah Ayat 239

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ۖ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

fa in khiftum fa rijālan au rukbānā, fa iżā amintum fażkurullāha kamā ‘allamakum mā lam takụnụ ta’lamụn

239. Namun, jika kalian dalam keadaan bahaya, [bershalatlah] sambil berjalan atau berkendaraan;228 dan apabila kalian telah aman kembali, ingatlah Allah—sebab, Dia-lah yang telah mengajarkan kalian apa yang sebelumnya tidak kalian ketahui.


228 Ini berhubungan dengan setiap situasi bahaya—misalnya, dalam perang—ketika berdiam diri di suatu tempat, walaupun sebentar saja, hanya akan memperbesar bahaya: dalam situasi demikian, shalat wajib dapat dilakukan dengan cara apa pun yang mungkin, bahkan tanpa mempertimbangkan arah kiblat.


Surah Al-Baqarah Ayat 240

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

wallażīna yutawaffauna mingkum wa yażarụna azwājaw waṣiyyatal li`azwājihim matā’an ilal-ḥauli gaira ikhrāj, fa in kharajna fa lā junāḥa ‘alaikum fī mā fa’alna fī anfusihinna mim ma’rụf, wallāhu ‘azīzun ḥakīm

240. DAN, JIKA salah seorang di antara kalian wafat dan meninggalkan istri-istri, mereka mewariskan kepada janda-janda mereka [hak atas] biaya hidup selama setahun tanpa harus diperintahkan untuk meninggalkan [rumah almarhum suaminya].229 Namun, jika mereka meninggalkan (rumah itu) [karena kemuan sendiri], tiada dosa atas apa yang mereka lakukan tahadap diri mereka dengan cara yang halal.230 Dan, Allah Mabaperkasa, Mahabijaksana.


229 Lit., “[itulah] wasiat bagi istri-istri mereka [berupa] biaya hidup selama setahun tanpa harus dikeluarkan”. (Adapun mengenai justifikasi atas penerjemahan yang saya pilih, lihat Al-Manar II, hh. 446 dan seterusnya). Tentunya, masalah istri tinggal di rumah almarhum suami muncul hanya dalam kasus ketika rumah itu belum diwariskan secara utuh kepadanya berdasarkan ketentuan dalam Surah An-Nisa’ [4]: 12.

230 Misalnya, dengan menikah kembali—yang dalam hal ini, mereka melepaskan hak atas biaya hidup tambahan selama waktu yang tersisa dalam setahun. Tentang ungkapan “tiada dosa”, lihat catatan no. 222 sebelum ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 241

وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

wa lil-muṭallaqāti matā’um bil-ma’rụf, ḥaqqan ‘alal-muttaqīn

241. Begitu pula, perempuan-perempuan yang dicerai hendaklah mendapat [hak atas] biaya hidup dengan cara yang makruf:231 ini adalah kewajiban bagi semua yang sadar akan Allah.


231 Hal ini jelas mengacu pada perempuan yang dicerai bukan karena melakukan kesalahan yang melanggar hukum. Jumlah tunjangannya—yang harus dibayarkan kecuali dan hingga mereka menikah kembali—sengaja tidak diperinci karena harus ditetapkan sesuai dengan kondisi keuangan suami dan menurut kondisi sosial masa itu.


Surah Al-Baqarah Ayat 242

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

każālika yubayyinullāhu lakum āyātihī la’allakum ta’qilụn

242. Demikianlah, Allah menjelaskan kepada kalian pesan-pesan-Nya agar kalian dapat [belajar] menggunakan akal.


Surah Al-Baqarah Ayat 243

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

a lam tara ilallażīna kharajụ min diyārihim wa hum ulụfun ḥażaral-mauti fa qāla lahumullāhu mụtụ, ṡumma aḥyāhum, innallāha lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā yasykurụn

243. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan orang-orang yang meninggalkan tanah air mereka dengan berbondong-bondong karena takut mati—lalu Allah berkata kepada mereka, “Matilah,” dan kemudian menghidupkan mereka kembali?232

Perhatikanlah, sungguh, Allah tiada terhingga dalam karunia-Nya kepada manusia—tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.


232 Setelah berakhirnya perintah yang berkaitan dengan kehidupan pernikahan, di sini Al-Quran kembali beralih ke masalah peperangan yang sah dengan menceritakan orang-orang yang—jelas-jelas karena diserang musuh—”meninggalkan tanah air mereka karena takut mati”. Nah, baik Al-Quran maupun hadis sahih tidak memberikan isyarat sedikit pun tentang siapa orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini. Penjelasan “sejarah” yang dikemukakan oleh sejumlah mufasir mengandung banyak kontradiksi; penjelasan tersebut tampaknya diambil dari kisah-kisah Talmud yang beredar pada saat itu dan tidak dapat digunakan dalam konteks ini dengan justifikasi apa pun. Karena itu, kita harus berasumsi (seperti dilakukan Muhammad ‘Abduh dalam Al-Manar II, hh. 455 dan seterusnya) bahwa tamsil di atas secara kiasan dikaitkan dengan seruan pada ayat berikutnya kepada orang Mukmin agar bersedia mengorbankan jiwa mereka di jalan Allah: suatu ilustrasi tentang fakta bahwa ketakutan akan kematian fisik menimbulkan kematian moral bangsa dan masyarakat, sebagaimana regenerasi mereka (atau “hidupnya mereka kembali”) bergantung pada diraihnya kembali status moral mereka dengan mengalahkan rasa takut akan mati. Tidak diragukan lagi, inilah makna kisah Samuel, Thalut, dan Daud yang diceritakan secara singkat dan padat dalam ayat 246-251.


Surah Al-Baqarah Ayat 244

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa qātilụ fī sabīlillāhi wa’lamū annallāha samī’un ‘alīm

244. Maka, berperanglah di jalan Allah233 dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


233 Yakni, dalam peperangan yang sah untuk mempertahankan diri dari penindasan atau serangan yang tidak beralasan (bdk. ayat 190-194 surah ini).


Surah Al-Baqarah Ayat 245

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

man żallażī yuqriḍullāha qarḍan ḥasanan fa yuḍā’ifahụ lahū aḍ’āfang kaṡīrah, wallāhu yaqbiḍu wa yabṣuṭu wa ilaihi turja’ụn

245. Siapakah yang mau mempersembahkan kepada Allah pinjaman yang baik,234 yang akan dilunasi-Nya dengan berlipat ganda? Karena Allah mengambil dan Dia memberikan secara berlimpah ruah; dan kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan.


234 Yaitu, dengan mengorbankan jiwa atau mempersembahkannya di jalan Allah.


Surah Al-Baqarah Ayat 246

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

a lam tara ilal-mala`i mim banī isrā`īla mim ba’di mụsā, iż qālụ linabiyyil lahumub’aṡ lanā malikan-nuqātil fī sabīlillāh, qāla hal ‘asaitum ing kutiba ‘alaikumul-qitālu allā tuqātilụ, qālụ wa mā lanā allā nuqātila fī sabīlillāhi wa qad ukhrijnā min diyārinā wa abnā`inā, fa lammā kutiba ‘alaihimul-qitālu tawallau illā qalīlam min-hum, wallāhu ‘alīmum biẓ-ẓālimīn

246. Tidakkah kalian perhatikan para pemuka Bani Israil, setelah masa Nabi Musa, bagaimana mereka berkata kepada seorang nabi mereka,235 “Angkatlah seorang raja untuk kami [dan] kami akan berperang di jalan Allah”?

Berkatalah dia, “Akankah kalian, mungkin, mengurungkan diri dari berperang jika perang diwajibkan kepada kalian?”

Mereka menjawab, “Dan, mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami dan anak-anak kami telah diusir dari negeri-negeri kampung halaman kami?”236

Namun, tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun benar-benar berpaling, kecuali beberapa orang di antara mereka; tetapi Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.


235 Nabi yang disebut di sini adalah Samuel (bdk. Bibel Perjanjian Lama, 1 Samuel 8 dan seterusnya).

236 Jelas bahwa hal ini mengacu pada pelbagai penyerbuan terhadap tanah air mereka oleh musuh-musuh abadi mereka, yakni bangsa Filistin, Amori, Amalek, serta suku Semitik dan non-Semitik lainnya yang tinggal di dan sekitar Palestina; dan secara tersirat, hal ini juga menjadi sebuah peringatan kepada kaum Mukmin sepanjang masa bahwa “perang di jalan Allah” (sebagaimana ditetapkan dalam Al-Quran) merupakan pengamalan iman.


Surah Al-Baqarah Ayat 247

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

wa qāla lahum nabiyyuhum innallāha qad ba’aṡa lakum ṭālụta malikā, qālū annā yakụnu lahul-mulku ‘alainā wa naḥnu aḥaqqu bil-mulki min-hu wa lam yu`ta sa’atam minal-māl, qāla innallāhaṣṭafāhu ‘alaikum wa zādahụ basṭatan fil ‘ilmi wal-jism, wallāhu yu`tī mulkahụ may yasyā`, wallāhu wāsi’un ‘alīm

247. Dan, nabi mereka berkata kepada para pemuka itu,237 “Perhatikanlah, Allah kini telah mengangkat Thalut sebagai raja kalian.”

Mereka berkata, “Bagaimana dia bisa memiliki kekuasaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kekuasaan daripadanya dan dia [bahkan] tidak diberi kekayaan yang banyak?”

[Nabi itu] menjawab, “Perhatikanlah, Allah telah mengutamakannya di atas kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas dan kesempurnaan jasmani.” Dan, Allah memberikan kekuasaan-Nya238 kepada siapa saja yang Dia kehendaki: sebab, Allah Maha Tak Terhingga, Maha Mengetahui.


237 Lit., “kepada mereka” (lahum)—tetapi kalimat berikutnya menunjukkan bahwa para pemuka itulah yang diajak bicara oleh Samuel.

238 Suatu paparan tentang doktrin Al-Quran bahwa seluruh kekuasaan dan segala yang mungkin “dimiliki” manusia hanyalah kepunyaan Allah dan kekuasaan manusia terhadap hal tersebut hanyalah merupakan amanat dari-Nya.


Surah Al-Baqarah Ayat 248

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa qāla lahum nabiyyuhum inna āyata mulkihī ay ya`tiyakumut-tābụtu fīhi sakīnatum mir rabbikum wa baqiyyatum mimmā taraka ālu mụsā wa ālu hārụna taḥmiluhul-malā`ikah, inna fī żālika la`āyatal lakum ing kuntum mu`minīn

248. Dan, nabi mereka berkata kepada mereka, “Perhatikanlah, tanda bagi kekuasaannya [yang sah] adalah bahwa kalian akan dianugerahi hati239 yang oleh Pemelihara kalian dipenuhi dengan ketenangan batin dan segala yang tersisa dalam ‘warisan yang dibawa malaikat’ yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan Harun.240 Perhatikanlah, di sini benar-benar terdapat suatu tanda bagi kalian jika kalian [benar-benar] beriman.”


239 Lit., “bahwa akan datang kepada kalian hati”. Kata tabut—yang di sini diterjemahkan menjadi “hati”—biasanya ditafsirkan sebagai Peti Perjanjian yang disebutkan dalam Perjanjian Lama, yang konon merupakan peti atau kotak penuh hiasan. Penjelasan yang ditawarkan oleh kebanyakan mufasir yang memilih makna terakhir ini sangat kontradiktif, dan sepertinya didasarkan pada legenda Talmud yang bercerita seputar “peti” tersebut. Namun, sejumlah ahli paling terkemuka memaknai tabut juga sebagai “dada” atau “hati”: demikianlah pendapat Al-Baidhawi dalam salah satu alternatif yang dia kemukakan ketika menafsirkan ayat ini, juga Al-Zamakhsyari dalam karyanya Asas (meskipun tidak dalam Kasysyaf), Ibn Al-Atsir dalam Nihayah, Raghib, dan Taj Al-‘Arus (dalam empat kitab terakhir ini, lihat entri tabata); lihat juga Lane I, h. 321, dan IV, h. 1394 (entri sakinah). Jika kita mengambil makna ini sebagai arti tabut dalam konteks di atas, istilah itu menggambarkan perubahan hati Bani Israil (perubahan ini telah ditunjukkan, secara umum, dalam ayat 243). Sejalan dengan sebutan berikutnya tentang “ketenangan batin” dalam tabut, terjemahan “hati” tentu lebih tepat daripada “peti”.

240 Lit., “dan sisa apa-apa yang ditinggalkan keluarga (al) Musa dan Harun, yang dibawa malaikat”. Ungkapan “yang dibawa malaikat” atau “bawaan-malaikat” (angel-borne; tahmiluhu al-mala’ikat) mengacu pada sifat yang melekat pada warisan ruhani yang ditinggalkan kedua nabi itu—yang merupakan wahyu Ilahi; adapun “sisanya” (baqiyyah) berarti sesuatu yang “berlanjut” atau “bertahan” dalam warisan itu.


Surah Al-Baqarah Ayat 249

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

fa lammā faṣala ṭālụtu bil-junụdi qāla innallāha mubtalīkum binahar, fa man syariba min-hu fa laisa minnī, wa mal lam yaṭ’am-hu fa innahụ minnī illā manigtarafa gurfatam biyadih, fa syaribụ min-hu illā qalīlam min-hum, fa lammā jāwazahụ huwa wallażīna āmanụ ma’ahụ qālụ lā ṭāqata lanal-yauma bijālụta wa junụdih, qālallażīna yaẓunnụna annahum mulāqullāhi kam min fi`ating qalīlatin galabat fi`atang kaṡīratam bi`iżnillāh, wallāhu ma’aṣ-ṣābirīn

249. Dan, tatkala Thalut keluar bersama tentaranya, dia berkata, “Perhatikanlah, kini Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai: siapa pun yang minum darinya tidak termasuk pengikutku, sernentara yang menahan untuk tidak mencicipinya—dia benar-benar termasuk pengikutku; tetapi orang yang hanya menciduk segenggam tangan, dia akan dimaafkan.”241

Namun, kecuali segelintir orang di antara mereka, kebanyakan mereka pun meminumnya [sepuas-puasnya].

Dan, segera setelah Thalut dan orang-orang yang tetap beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, yang lain berkata, “Tiada daya yang kita miliki hari ini [untuk bangkit] melawan Jalut dan tentaranya!”

[Namun,] orang-orang yang yakin bahwa mereka ditakdirkan akan bertemu Allah menjawab, “Betapa sering terjadi, suatu golongan yang kecil dapat mengalahkan golongan yang besar dengan izin Allah! Sebab, Allah beserta orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan.”


241 Lit “kecuali dia yang (illa man) hanya menciduk segenggam tangan”. Implikasi simbolisnya adalah bahwa iman—dan, karenanya, kepercayaan terhadap integritas prinsip yang dianut seseorang—tidak memiliki nilai jika tidak dibarengi dengan pengendalian-diri yang tinggi dan pengesampingan kepentingan materiel.


Surah Al-Baqarah Ayat 250

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

wa lammā barazụ lijālụta wa junụdihī qālụ rabbanā afrig ‘alainā ṣabraw wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

250. Dan, tatkala mereka berhadap-hadapan dengan Jalut dan tentaranya, mereka pun berdoa, “Wahai, Pemelihara kami! Curahkanlah kesabaran kepada kami dalam (menghadapi) kesusahan, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang mengingkari kebenaran.”


Surah Al-Baqarah Ayat 251

فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

fa hazamụhum bi`iżnillāh, wa qatala dāwụdu jālụta wa ātāhullāhul-mulka wal-ḥikmata wa ‘allamahụ mimmā yasyā`, walau lā daf’ullāhin-nāsa ba’ḍahum biba’ḍil lafasadatil-arḍu wa lākinnallāha żụ faḍlin ‘alal-‘ālamīn

251. Dan kemudian, dengan izin Allah, mereka mengalahkan tentara Jalut. Dan, Daud membunuh Jalut; lalu Allah memberikan kepadanya kekuasaan dan hikmah, serta mengajarkan kepadanya segala pengetahuan yang Dia kehendaki.

Dan, andai Allah tidak memberikan kemampuan kepada manusia untuk mempertahankan diri mereka terhadap satu sama lainnya,242 kerusakan pasti akan meliputi bumi: tetapi Allah tiada terhingga dalam karunia-Nya terhadap semesta alam.


242 Lit., “andai Allah tidak menolak sebagian manusia melalui sebagian yang lain”: sebuah pernyataan eliptis bagi tindakan Allah yang membuat manusia mampu membela diri dari serangan atau penindasan. Ungkapan yang persis sama terdapat dalam Surah Al-Hajj [22]: 40, yang membahas perang dalam rangka membela diri.


Surah Al-Baqarah Ayat 252

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

tilka āyātullāhi natlụhā ‘alaika bil-ḥaqq, wa innaka laminal-mursalīn

252. INILAH ayat-ayat Allah: Kami menyampaikannya kepada engkau [wahai Nabi] untuk menyatakan kebenaran—sebab, sungguh, engkau termasuk di antara orang-orang yang diamanati risalah.


Surah Al-Baqarah Ayat 253

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

tilkar-rusulu faḍḍalnā ba’ḍahum ‘alā ba’ḍ, min-hum mang kallamallāhu wa rafa’a ba’ḍahum darajāt, wa ātainā ‘īsabna maryamal-bayyināti wa ayyadnāhu birụḥil-qudus, walau syā`allāhu maqtatalallażīna mim ba’dihim mim ba’di mā jā`at-humul-bayyinātu wa lākinikhtalafụ fa min-hum man āmana wa min-hum mang kafar, walau syā`allāhu maqtatalụ, wa lākinnallāha yaf’alu mā yurīd

253. Sebagian rasul-rasul ini telah Kami anugerahi lebih banyak daripada sebagian lainnya: di antara mereka ada yang diajak bicara oleh Allah [secam langsung], dan sebagian bahkan diangkat-Nya lebih tinggi.243 Dan, Kami telah memberikan kepada Isa, putra Maryam, semua bukti kebenaran dan memperkuatnya dengan ilham suci.244

Dan, seandainya Allah menghendaki, niscaya orang-orang yang datang setelah mereka [rasul-rasull itu tidak akan menentang satu sama lain setelah menerima semua bukti kebenaran; akan tetapi [ternyata,] mereka benar-benar menganut pandangan yang beragam dan sebagian dari mereka meraih iman, sedangkan sebagian mengingkari kebenaran. Namun, jika Allah memang menghendaki, mereka pasti tidak saling berperang: tetapi Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.245


243 Tampaknya, ini mengacu pada Nabi Muhammad Saw. mengingat dia adalah Nabi Terakhir dan pembawa pesan universal yang dapat diterapkan pada seluruh umat manusia sepanjang masa. Yang dimaksudkan dengan “di antara mereka ada yang diajak bicara oleh Allah” adalah Musa (lihat kalimat terakhir dalam Surah An-Nisa’ [4]: 164).

244 Penyebutan nama Isa secara langsung, dalam konteks ini, dimaksudkan untuk menegaskan fakta kenabiannya dan untuk menyangkal klaim orang-orang yang mempertuhankannya. Untuk penjelasan istilah ruh al-qudus (yang saya terjemahkan menjadi “ilham suci”), lihat catatan no. 71 atas ayat 87 surah ini.

245 Sekali lagi—seperti sudah dipaparkan dalam ayat 213 sebelum menyinggung perselisihan yang tidak terelakkan di antara manusia: dengan kata lain, sudah merupakan kehendak Allah bahwa jalan manusia untuk menuju kebenaran niscaya diwarnai konflik dan proses uji-salah (trial by error).


Surah Al-Baqarah Ayat 254

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū anfiqụ mimmā razaqnākum ming qabli ay ya`tiya yaumul lā bai’un fīhi wa lā khullatuw wa lā syafā’ah, wal-kāfirụna humuẓ-ẓālimụn

254. WAHAI, orang-orang yang telah meraih iman! Nafkahkanlah [di jalan Kami] apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki, sebelum datang suatu Hari246 ketika tiada lagi tawar-menawar, persahabatan, maupun syafaat*. Dan, mereka yang mengingkari kebenaran—mereka itulah orang-orang yang zalim!


246 Yakni, Hari Pengadilan. Dengan peringatan ini, Al-Quran kembali ke tema ayat 245: “Siapakah yang mau mempersembahkan kepada Allah pinjaman yang baik?” Karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa “menafkahkan di jalan Allah” di sini berkaitan dengan segala jenis pengorbanan di jalan Allah dan bukan sekadar memberikan harta.

* {syafa’atun: intercession: syafaat, perantaraan, campur tangan dalam memberi pertolongan—peny.}


Surah Al-Baqarah Ayat 255

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm

255. ALLAH—tiada tuhan kecuali Dia, Yang Hidup Kekal, Sumber Swamandiri dari Segala Wujud.

Tiada mengantuk maupun tidur. Kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di muka bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat bersama-Nya, kecuali dengan izin-Nya?

Dia mengetahui segala yang terbentang di hadapan manusia dan segala yang tersembunyi dari mereka,247 sedangkan mereka tidak mampu meraih apa pun dari ilmu-Nya kecuali yang Dia kehendaki [untuk mereka raih].

Kekuasaan-Nya yang abadi248 meliputi lelangit dan bumi, dan pemeliharaan terhadap keduanya tiada melelahkan-Nya. Dan, hanya Dia Yang Mahatinggi, Mahaagung.


247 Lit., “apa yang ada di antara tangan mereka dan di belakang mereka”. Para mufasir memberi penafsiran yang saling bertentangan terhadap frasa ini. Mujahid dan ‘Atha’, misalnya, menganggap bahwa “apa yang ada di antara tangan mereka” berarti “apa yang telah terjadi pada mereka di dunia ini”, sedangkan “apa yang di belakang mereka” mengacu pada “apa yang akan terjadi pada mereka di akhirat”. Al-Dhahhak dan Al-Kalbi, di sisi lain, mengasumsikan kebalikannya dan menyatakan bahwa “apa yang ada di antara tangan mereka” merujuk pada akhirat, “karena mereka menuju ke sana”, sedangkan “apa yang di belakang mereka” berarti dunia ini, “karena mereka meninggaikannya” (Al-Razi). Penjelasan lainnya adalah “apa yang telah terjadi sebelum mereka dan apa yang akan terjadi setelah mereka” (Al-Zamakhsyari). Namun, terlihat bahwa dalam seluruh penafsiran ini, makna yang jelas dari ungkapan idiomatik “ma baina yadaihi” (“apa yang terbentang di antara tangan seseorang”) justru luput dari perhatian: yaitu, sesuatu yang tampak jelas, diketahui, atau dapat dipahami; begitu pula, ma khalfahu berarti sesuatu yang berada di luar pengetahuan atau persepsi seseorang. Karena seluruh suasana ayat Al-Quran di atas berhubungan dengan kemahakuasaan dan kemahatahuan Allah, terjemahan yang saya berikan tampaknya paling tepat {all that lies open before men and all that is hidden from them}.

248 Lit., “Kursi [kekuasaan]-Nya”. Beberapa mufasir (seperti Al-Zamakhsyari) menafsirkan ungkapan ini dengan “kedaulatan-Nya” atau “kekuasaan-Nya”, sedangkan yang lain mengartikannya dengan “pengetahuan-Nya” (lihat Muhammad ‘Abduh dalam Al-Manar III, h. 33); Al-Razi cenderung pada pendapat yang menyatakan hahwa kata ini menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah yang tak terlukiskan dan abadi.


Surah Al-Baqarah Ayat 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

lā ikrāha fid-dīn, qat tabayyanar-rusydu minal-gayy, fa may yakfur biṭ-ṭāgụti wa yu`mim billāhi fa qadistamsaka bil-‘urwatil-wuṡqā lanfiṣāma lahā, wallāhu samī’un ‘alīm

256. TIDAK BOLEH ADA paksaan dalam urusan keyakinan.249

Kini, telah jelas jalan yang benar dari [jalan] yang sesat: karena itu, orang yang menolak kuasa-kuasa jahat:250 dan beriman kepada Allah, sungguh, telah berpegang erat kepada sandaran yang amat kukuh, yang tidak akan pernah roboh: sebab, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


249 Istilah din (faith, keyakinan) menunjukkan baik kandungan dari maupun ketaatan terhadap hukum yang secara moral mengikat; jadi, istilah tersebut menunjukkan “agama” (religion) dalam maknanya yang terluas, yang meliputi seluruh kandungan doktrinal dan implikasi praktis, termasuk sikap manusia terhadap objek sembahan, sehingga meliputi pula konsep “keyakinan” (faith). Terjemahan din menjadi “agama” (religion), “keyakinan” (faith), “hukum agama” (religious law), atau “hukum moral” (moral law; lihat catatan no. 3 pada Surah Al-Kafirun [109]: 6) bergantung pada konteks tempat istilah ini digunakan.

Berdasarkan ayat di atas yang secara tegas melarang pemaksaan (ikrah) apa pun yang berkaitan dengan keyakinan atau agama, seluruh ahli hukum Islam (fuqaha), tanpa kecuali, berpendapat bahwa pindah agama karena paksaan dalam kondisi apa pun tidaklah sah dan batal, dan bahwa upaya apa pun untuk memaksa orang yang tidak beriman agar memeluk agama Islam merupakan suatu dosa besar: suatu keputusan yang membuktikan kelirunya anggapan bahwa Islam memberi pilihan “masuk Islam atau pedang” kepada orang yang tidak beriman.

250 Al-thaghut, pada dasarnya, berarti apa pun yang disembah selain Allah dan, karena itu, segala yang dapat memalingkan manusia dari Allah dan menggiringnya menuju kejahatan. Ia memiliki arti tunggal dan jamak (Al-Razi) dan, karenanya, sebaiknya diterjemahkan menjadi “kuasa-kuasa jahat” {the powers of evil}.


Surah Al-Baqarah Ayat 257

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

allāhu waliyyullażīna āmanụ yukhrijuhum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wallażīna kafarū auliyā`uhumuṭ-ṭāgụtu yukhrijụnahum minan-nụri ilaẓ-ẓulumāt, ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

257. Allah dekat dengan orang-orang yang beriman, (Dia) mengeluarkan mereka dari pekatnya kegelapan kepada cahaya—sementara orang-orang yang mengingkari kebenaran dekat dengan kuasa-kuasa jahat, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada pekatnya kegelapan: mereka itulah orang-orang yang ditetapkan di neraka, berkediarnan di dalamnya.


Surah Al-Baqarah Ayat 258

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

a lam tara ilallażī ḥājja ibrāhīma fī rabbihī an ātāhullāhul-mulk, iż qāla ibrāhīmu rabbiyallażī yuḥyī wa yumītu qāla ana uḥyī wa umīt, qāla ibrāhīmu fa innallāha ya`tī bisy-syamsi minal-masyriqi fa`ti bihā minal-magribi fa buhitallażī kafar, wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

258. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan [raja] yang berdebat dengan Ibrahim tentang Pemeliharanya, [hanya] karena Allah telah memberikan kepadanya kerajaan?

Lihatlah! Ibrahim berkata, “Pemeliharaku adalah Dia yang menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian.”

[Raja itu] menjawab, “Aku [juga] menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian.”

Berkatalah Ibrahim, “Sungguh, Allah menjadikan matahari terbit di timur; maka jadikanlah ia terbit di barat!”

Kemudian, orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu terdiam: sebab, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang [sengaja] berbuat zalim.251


251 Menurut Muhammad ‘Abduh, kezaliman (zhulm) yang disebutkan di sini terletak pada “berpalingnya seseorang dengan sengaja dari cahaya [petunjuk] yang diberikan Allah” (Al-Manar III, h. 47).


Surah Al-Baqarah Ayat 259

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ ۖ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

au kallażī marra ‘alā qaryatiw wa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urụsyihā, qāla annā yuḥyī hāżihillāhu ba’da mautihā, fa amātahullāhu mi`ata ‘āmin ṡumma ba’aṡah, qāla kam labiṡt, qāla labiṡtu yauman au ba’ḍa yaụm, qāla bal labiṡta mi`ata ‘āmin fanẓur ilā ṭa’āmika wa syarābika lam yatasannah, wanẓur ilā ḥimārik, wa linaj’alaka āyatal lin-nāsi wanẓur ilal-‘iẓāmi kaifa nunsyizuhā ṡumma naksụhā laḥmā, fa lammā tabayyana lahụ qāla a’lamu annallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

259. Ataukah [engkau, wahai manusia, berpikiran sama] seperti orang252 yang melewati suatu kota yang telah ditinggalkan penduduknya, dengan atapnya yang sudah ambruk, [dan] berkata, “Bagaimana Allah bisa menghidupkan kembali semua ini setelah kematiannya?”253

Lalu, Allah menjadikan orang itu mati selama seratus tahun; dan kemudian Dia menghidupkannya kembali [dan] berkata, “Berapa lamakah engkau tinggal dalam keadaan seperti ini?”

Dia menjawab. “Aku tinggal dalam keadaan ini selama sehari atau setengnh hari.”

Berfirmanlah [Allah], “Tidak, tetapi engkau telah tinggal dalam keadaan seperti ini selama seratus tahun! Akan tetapi, lihatlah makanan dan minumanmu—yang tidak rusak dengan berlalunya waktu bertahun-tahun—dan lihatlah keledaimu!254 Dan, [Kami melakukan semua ini] agar Kami dapat menjadikan engkau sebagai tanda bagi manusia. Dan, lihatlah tulang belulang [binatang dan manusia] itu—bagaimana Kami menyatukannya, kemudian membalutnya dengan daging!”255

Maka, tatkala [semua ini] telah jelas baginya, dia pun berkata, “Aku tahu [sekarang] bahwa Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu!”


252 Lit., “atau seperti dia” (au kalladzi). Kata-kata yang saya sisipkan dalam tanda kurung siku di atas didasarkan pada penafsiran Al-Zamakhsyari atas ayat ini, yang berkaitan dengan pembukaan ayat sebelumnya.

253 Kisah yang diceritakan dalam ayat ini jelas merupakan sebuah perumpamaan untuk menggambarkan kekuasaan Allah menghidupkan kembali orang yang mati: dan, karenanya, kisah ini secara bermakna ditempatkan di antara ucapan Ibrahim dalam ayat 258, “Pemeliharaku adalah Dia yang menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian”, dan permohonan Ibrahim di ayat berikutnya (ayat 260) agar ditunjukkan bagaimana cara Allah membangkitkan orang yang mati. Spekulasi beberapa mufasir awal berkenaan dengan “identitas” manusia dan kota yang disebutkan dalam cerita ini tidaklah penting, dan mungkin dipengaruhi oleh riwayat Talmud.

254 Dengan kata lain, “dan lihatlah bahwa ia tetap hidup”: jadi, menunjukkan bahwa Allah memiliki kekuasaan untuk memberi kehidupan dengan tak terbatas, dan juga membangkitkan yang sudah mati.

255 Al-Quran berulang-ulang menunjuk keajaiban kelahiran yang selalu terjadi, yang didahului dengan evolusi embrio dalam rahim ibu, sebagai tanda nyata kekuasaan Allah untuk mencipta—dan, karenanya, juga mencipta-ulang—kehidupan.


Surah Al-Baqarah Ayat 260

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

wa iż qāla ibrāhīmu rabbi arinī kaifa tuḥyil-mautā, qāla a wa lam tu`min, qāla balā wa lākil liyaṭma`inna qalbī, qāla fakhuż arba’atam minaṭ-ṭairi fa ṣur-hunna ilaika ṡummaj’al ‘alā kulli jabalim min-hunna juz`an ṡummad’uhunna ya`tīnaka sa’yā, wa’lam annallāha ‘azīzun ḥakīm

260. Dan lihatlah, Ibrahim berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati!”

Berfirmanlah Dia, “Tidakkah engkau memiliki iman?”

[Ibrahim] menjawab, “Bukan, tetapi [biarlah aku melihatnya] agar hatiku tenteram sepenuhnya.”

Berfirmanlah Dia, “Maka, ambillah empat ekor burung dan ajarilah mereka menaatimu;256 lalu tempatkanlah mereka secara terpisah di atas setiap bukit [di sekelilingmu]; kemudian panggillah mereka: mereka akan datang dengan terbang kepadamu. Dan, ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”257


256 Lit., “jadikanlah mereka cenderung kepadamu” (Al-Zamakhsyari; lihat juga Lane IV, h. 1744).

257 Terjemahan saya terhadap perumpamaan di atas didasarkan pada makna dasar perintah shurhunna ilaika (“jadikanlah mereka cenderung kepadamu”, yakni “ajarilah mereka menaatimu”). Hikmah kisah ini telah ditunjukkan secara meyakinkan oleh mufasir terkemuka Abu Muslim (seperti dikutip oleh Al-Razi): “jika manusia mampu—dan ternyata memang mampu—melatih burung-burung sedemikian rupa sehingga mereka menaatinya, jelaslah bahwa Allah, yang ketetapan-Nya ditaati oleh segala sesuatu, dapat mewujudkan kehidupan hanya dengan perintah ‘Jadilah!’.”


Surah Al-Baqarah Ayat 261

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

maṡalullażīna yunfiqụna amwālahum fī sabīlillāhi kamaṡali ḥabbatin ambatat sab’a sanābila fī kulli sumbulatim mi`atu ḥabbah, wallāhu yuḍā’ifu limay yasyā`, wallāhu wāsi’un ‘alīm

261. PERUMPAMAAN orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dalam setiap bulir terdapat seratus benih: sebab, Allah memberikan tambahan yang berlipat ganda bagi siapa saja yang Dia kehendaki; dan Allah Maha Tak Terhingga, Maha Mengetahui.


Surah Al-Baqarah Ayat 262

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

allażīna yunfiqụna amwālahum fī sabīlillāhi ṡumma lā yutbi’ụna mā anfaqụ mannaw wa lā ażal lahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan lalu tidak merusak258 pemberiannya itu dengan menonjolkan kebajikannya sendiri dan menyakiti [perasaan fakir-miskin] akan memperoleh pahala di sisi Pemelihara mereka, dan mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati.


258 Lit., “tidak mengikutinya”.


Surah Al-Baqarah Ayat 263

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

qaulum ma’rụfuw wa magfiratun khairum min ṣadaqatiy yatba’uhā ażā, wallāhu ganiyyun ḥalīm

263. Perkataan yang baik dan penyembunyian kebutuhan orang lain259 lebih baik daripada sedekah yang diikuti dengan sesuatu yang menyakitkan; dan Allah Mahacukup, Maha Penyantun.


259 Untuk terjemahan maghfirah (lit., “ampunan”), dalam konteks ini menjadi “penyembunyian kebutuhan orang lain”, saya berutang pada penjelasan Al-Baghawi atas ayat ini.


Surah Al-Baqarah Ayat 264

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tubṭilụ ṣadaqātikum bil-manni wal-ażā kallażī yunfiqu mālahụ ri`ā`an-nāsi wa lā yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, fa maṡaluhụ kamaṡali ṣafwānin ‘alaihi turābun fa aṣābahụ wābilun fa tarakahụ ṣaldā, lā yaqdirụna ‘alā syai`im mimmā kasabụ, wallāhu lā yahdil-qaumal-kāfirīn

264. Wahai, orang-orang yang telah meraih iman! Janganlah menghilangkan nilai sedekah kalian dengan menonjolkan kebajikan kalian sendiri dan menyakiti [perasaan fakir-miskin], seperti orang yang menafkahkan hartanya hanya agar dilihat dan dipuji oleh manusia, dan tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir: sebab, perumpamaan baginya adalah seperti batu licin dengan [sedikit] tanah di atasnya—kemudian hujan lebat menimpanya dan membuatnya keras dan gundul. Orang-orang seperti ini tidak akan memperoleh hasil apa pun dari semua pekerjaan [baik] mereka: sebab, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang menolak mengakui kebenaran.


Surah Al-Baqarah Ayat 265

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

wa maṡalullażīna yunfiqụna amwālahumubtigā`a marḍātillāhi wa taṡbītam min anfusihim kamaṡali jannatim birabwatin aṣābahā wābilun fa ātat ukulahā ḍi’faīn, fa il lam yuṣib-hā wābilun fa ṭall, wallāhu bimā ta’malụna baṣīr

265. Dan, perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya karena kerinduan akan ridha Allah dan karena keteguhan batinnya adalah seperti sebuah kebun di dataran yang tinggi dan subur: hujan lebat menimpanya, lalu kebun itu menghasilkan buah dua kali lipat; dan jika bukan hujan lebat yang menimpanya, hujan gerimis [tercurah ke atasnya]. Dan, Allah Maha Melihat segala yang kalian kerjakan.


Surah Al-Baqarah Ayat 266

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

a yawaddu aḥadukum an takụna lahụ jannatum min nakhīliw wa a’nābin tajrī min taḥtihal-an-hāru lahụ fīhā ming kulliṡ-ṡamarāti wa aṣābahul-kibaru wa lahụ żurriyyatun ḍu’afā`, fa aṣābahā i’ṣārun fīhi nārun faḥtaraqat, każālika yubayyinullāhu lakumul-āyāti la’allakum tatafakkarụn

266. Adakah di antara kalian yang ingjn mempunyai kebun kurma dan anggur, yang dilalui aliran sungai-sungai, dan mempunyai segaJa macam buah-buahan di dalamnya—kemudian usia tua menimpa, sedangkan dia hanya mempunyai anak-anak yang lemah untuk [menjaga]nya—dan kemudian [melihat] kebun itu dihantam oleh angin keras yang mengandung api dan benar-benar terbakar?

Demikianlah Allah menjelaskan pesan-pesan-Nya kepada kalian agar kalian berpikir.


Surah Al-Baqarah Ayat 267

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

yā ayyuhallażīna āmanū anfiqụ min ṭayyibāti mā kasabtum wa mimmā akhrajnā lakum minal-arḍ, wa lā tayammamul-khabīṡa min-hu tunfiqụna wa lastum bi`ākhiżīhi illā an tugmiḍụ fīh, wa’lamū annallāha ganiyyun ḥamīd

267. Wahai, orang-orang yang telah meraih iman! Nafkahkanlah untuk orang lain yang baik-baik yang telah kalian peroleh dan yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian; dan janganlah memilih yang buruk-buruk untuk kalian nafkahkan, yang kalian sendiri tidak mau menerimanya kecuali dengan memalingkan mata karena jijik. Dan, ketahuilah bahwa Allah Mahacukup, Maha Terpuji.


Surah Al-Baqarah Ayat 268

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

asy-syaiṭānu ya’idukumul-faqra wa ya`murukum bil-faḥsyā`, wallāhu ya’idukum magfiratam min-hu wa faḍlā, wallāhu wāsi’un ‘alīm

268. Setan mengancam kalian dengan kemungkinan menjadi miskin dan mengajak kalian menjadi kikir, sedangkan Allah menjanjikan kepada kalian ampunan dan karunia-Nya; dan Allah Maha Tak Terhingga, Maha Mengetahui,


Surah Al-Baqarah Ayat 269

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

yu`til-ḥikmata may yasyā`, wa may yu`tal-ḥikmata fa qad ụtiya khairang kaṡīrā, wa mā yażżakkaru illā ulul-albāb

269. (Dia) memberikan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki: dan siapa saja yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kekayaan yang melimpah. Namun, tak seorang pun mengingatnya, kecuali orang-orang yang dianugerahi pengetahuan yang mendalam.


Surah Al-Baqarah Ayat 270

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

wa mā anfaqtum min nafaqatin au nażartum min nażrin fa innallāha ya’lamuh, wa mā liẓ-ẓālimīna min anṣār

270. Karena, apa pun yang kalian nafkahkan kepada orang lain atau apa pun yang kalian nazarkan [untuk dinafkahkan], sungguh, Allah mengetahuinya; dan orang-orang yang berbuat zalim [dengan menolak bersedekah] tiada mempunyai seorang penolong pun.


Surah Al-Baqarah Ayat 271

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

in tubduṣ-ṣadaqāti fa ni’immā hiy, wa in tukhfụhā wa tu`tụhal-fuqarā`a fa huwa khairul lakum, wa yukaffiru ‘angkum min sayyi`ātikum, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

271. Jika kalian bersedekah secara terbuka, hal itu baik; tetapi jika kalian memberikannya kepada orang miskin secara rahasia, hal itu bahkan lebih baik bagi kalian dan akan menghapus sebagian perbuatan buruk kalian. Dan, Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.


Surah Al-Baqarah Ayat 272

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

laisa ‘alaika hudāhum wa lākinnallāha yahdī may yasyā`, wa mā tunfiqụ min khairin fa li`anfusikum, wa mā tunfiqụna illabtigā`a waj-hillāh, wa mā tunfiqụ min khairiy yuwaffa ilaikum wa antum lā tuẓlamụn

272. Bukanlah kewajibanmu [wahai Nabi] membuat orang mengikuti jalan yang benar,260 karena [hanya] Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Dan, apa pun yang baik yang kalian nafkahkan kepada orang lain adalah untuk diri kalian sendiri, asalkan kalian menafkahkannya karena merindukan wajah Allah: sebab, apa pun yang baik yang kalian nafkahkan akan dikemhalikan lagi kepada kalian sepenuhnya, dan kalian tidak akan dizalimi.


260 Lit., “petunjuk mereka bukan ada padamu”—yakni, “engkau hanya bertanggung jawab menyampaikan pesan Allah kepada mereka dan tidak bertanggung jawab atas tanggapan mereka terhadapnya”: mengacu pada orang-orang miskin yang dibicarakan dalam ayat-ayat sebelumnya. Tampaknya, pada masa-masa awal setelah hijrahnya ke Madinah, Nabi—yang dihadapkan dengan parahnya kemiskinan yang tersebar di kalangan umat—menasihati para Sahabat agar “sedekah diberikan hanya kepada para pengikut Islam”—suatu pandangan yang segera dikoreksi dengan turunnya ayat di atas (sejumlah hadis yang membahas hal ini dikutip oleh Al-Thabari, Al-Razi, dan Ibn Katsir, juga dalam Al-Manar III, hh. 82 dan seterusnya). Menurut sejumlah hadis lain (yang dicatat, antara lain, oleh Nasa’i dan Abu Dawud dan dikutip oleh seluruh mufasir klasik), Nabi kemudian memerintahkan secara eksplisit kepada pengikutnya agar mengeluarkan sedekah kepada siapa saja yang membutuhkan di antara mereka, tanpa memandang keyakinan agamanya. Karena itu, ada kesepakatan bulat di kalangan mufasir bahwa ayat Al-Quran di atas—meskipun diungkapkan dalam bentuk tunggal dan, secara sepintas, ditujukan kepada Nabi—menetapkan perintah yang mengikat seluruh umat Muslim. Al-Razi, secara khusus, menarik kesimpulan tambahan dari ayat ini bahwa sedekah—atau ancaman untuk menahannya—tidak boleh dijadikan alat untuk menarik orang kafir agar memeluk Islam: sebab, agar sah, keimanan harus bersumber dari keyakinan batin dan pilihan bebas. Ini selaras dengan ayat 256 surah ini: “Tidak boleh ada paksaan dalam urusan keyakinan”.


Surah Al-Baqarah Ayat 273

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

lil-fuqarā`illażīna uḥṣirụ fī sabīlillāhi lā yastaṭī’ụna ḍarban fil-arḍi yaḥsabuhumul-jāhilu agniyā`a minat-ta’affuf, ta’rifuhum bisīmāhum, lā yas`alụnan-nāsa il-ḥāfā, wa mā tunfiqụ min khairin fa innallāha bihī ‘alīm

273. [Dan, berikanlah] kepada [orang-orang] fakfr yang, karena terikat sepenuhnya di jalan Allah, tidak dapat melakukan perjalanan di muka bumi [untuk mencari penghidupan].261 Orang yang tidak tahu [keadaan mereka] mungkin menyangka bahwa mereka itu kaya karena mereka menahan diri [dari meminta-minta]; [tetapi] engkau dapat mengenali mereka dari ciri khasnya: mereka tidak meminta kepada orang dengan mendesak-desak. Dan, apa pun yang baik yang kalian nafkahkan [kepada mereka], sungguh, Allah Maha Mengetahuinya.


261 Yakni, mereka yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk bekerja di jalan agama—baik dengan menyebarkan, menjelaskan, ataupun mempertahankannya secara fisik maupun intelektual—atau melakukan upaya tanpa pamrih yang terpuji, seperti menuntut ilmu, bekerja untuk perbaikan nasib manusia, dan sebagainya; dan akhirnya, mereka yang tertimpa kerugian jasmani maupun materi dalam pencarian itu sehingga tidak mampu mempertahankan hidup mereka sendiri.


Surah Al-Baqarah Ayat 274

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

allażīna yunfiqụna amwālahum bil-laili wan-nahāri sirraw wa ‘alāniyatan fa lahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

274. Orang-orang yang menafkahkan hartanya [demi Allah] pada malam maupun siang hari, secara rahasia maupun terang-terangan, akan mendapat pahala di sisi Pemelihara mereka; mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati.


Surah Al-Baqarah Ayat 275

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

allażīna ya`kulụnar-ribā lā yaqụmụna illā kamā yaqụmullażī yatakhabbaṭuhusy-syaiṭānu minal-mass, żālika bi`annahum qālū innamal-bai’u miṡlur-ribā, wa aḥallallāhul-bai’a wa ḥarramar-ribā, fa man jā`ahụ mau’iẓatum mir rabbihī fantahā fa lahụ mā salaf, wa amruhū ilallāh, wa man ‘āda fa ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

275. ORANG-ORANG yang memenuhi perut mereka dengan riba262 hanyalah berperilaku seperti orang yang dirasuki setan dengan sentuhannya; karena mereka berkata, “Jual beli itu sejenis263 riba”—padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Karena itu, siapa saja yang menyadari peringatan Pemeliharanya,264 kemudian berhenti [dari riba], boleh menyimpan perolehannya pada masa lalu, dan Allah-lah yang akan menilainya; adapun orang yang kembali mengulanginya—mereka ditetapkan di neraka, berkediaman di dalamnya.


262 Untuk pembahasan tentang konsep riba (riba; usury), lihat catatan no. 35 pada Surah Ar-Rum [30]: 39, tempat istilah ini muncul pertama kali dalam urutan kronologis turunnya wahyu. Ayat yang membahas larangan riba, yang tercantum di sini, diyakini termasuk di antara wahyu-wahyu terakhir yang diterima Nabi. Masalah riba secara logis berkaitan dengan ayat sebelumnya yang panjang mengenai masalah sedekah, sebab riba, secara moral, benar-benar berlawanan dengan sedekah: sedekah yang sesungguhnya adalah memberi tanpa harapan keuntungan materiel, sedangkan riba didasarkan pada harapan keuntungan tanpa upaya apa pun dari pihak pemberi pinjaman.

263 Lit., “seperti” (mitslu).

264 Lit., “orang yang telah datang kepadanya peringatan dari Pemeliharanya”.


Surah Al-Baqarah Ayat 276

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

yam-ḥaqullāhur-ribā wa yurbiṣ-ṣadaqāt, wallāhu lā yuḥibbu kulla kaffārin aṡīm

276. Allah mencabut segala berkah dari harta riba, sedangkan Dia memberkati sedekah dengan tambahan yang berlipat ganda.265 Dan, Allah tidak menyukai siapa saja yang tak bersyukur dan tetap berada di jalan dosa.


265 Lit., “sedangkan Dia menjadikan [nilai] sedekah berlipat ganda (yurbi)”.


Surah Al-Baqarah Ayat 277

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta lahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

277. Sungguh, orang-orang yang telah meraih iman, berbuat kebajikan, teguh mendirikan shalat, dan memberikan derma mereka akan mendapat pahala di sisi Pemeliharanya, mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati.


Surah Al-Baqarah Ayat 278

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa żarụ mā baqiya minar-ribā ing kuntum mu`minīn

278. Wahai, orang-orang yang telah meraih iman! Sadarlah akan Allah senantiasa dan tinggalkan semua sisa perolehan riba jika kalian [benar-benar] orang beriman;266


266 Ini merujuk tidak hanya kepada kaum Mukmin pada saat larangan riba ditetapkan, tetapi juga kepada orang di kemudian hari yang percaya kepada pesan-pesan Al-Quran.


Surah Al-Baqarah Ayat 279

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

fa il lam taf’alụ fa`żanụ biḥarbim minallāhi wa rasụlih, wa in tubtum fa lakum ru`ụsu amwālikum, lā taẓlimụna wa lā tuẓlamụn

279. karena jika kalian tidak mengerjakannya, ketahuilah bahwa kalian (akan) berperang melawan Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika kalian bertobat, kalian berhak atas [kembalinya] modal pokok kalian:267 (sehingga) kalian tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi.


267 Yakni, tanpa bunga.


Surah Al-Baqarah Ayat 280

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa ing kāna żụ ‘usratin fa naẓiratun ilā maisarah, wa an taṣaddaqụ khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

280. Namun, jika [orang yang berutang] dalam kesukaran, [berikanlah kepadanya] penangguhan hingga (dia berada dalam) kondisi lapang; dan menghapus [utang itu seluruhnya] dengan menyedekahkannya akan menjadi kebaikan bagi diri kalian sendiri—jika kalian mengetahuinya.


Surah Al-Baqarah Ayat 281

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wattaqụ yauman turja’ụna fīhi ilallāh, ṡumma tuwaffā kullu nafsim mā kasabat wa hum lā yuẓlamụn

281. Dan, sadarlah akan Hari saat kalian dikembalikan kepada Allah, kemudian setiap orang akan diberi balasan penuh atas apa yang telah dia usahakan, dan tak seorang pun akan dizalimi.268


268 Menurut keterangan yang tak terbantahkan dari Ibn ‘Abbas, ayat di atas merupakan wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi. Kemudian, Nabi meninggal tak lama setelahnya (Bukhari, lihat juga Fath Al-Bari VIII, hh. 164 dst.).


Surah Al-Baqarah Ayat 282

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā tadāyantum bidainin ilā ajalim musamman faktubụh, walyaktub bainakum kātibum bil-‘adli wa lā ya`ba kātibun ay yaktuba kamā ‘allamahullāhu falyaktub, walyumlilillażī ‘alaihil-ḥaqqu walyattaqillāha rabbahụ wa lā yabkhas min-hu syai`ā, fa ing kānallażī ‘alaihil-ḥaqqu safīhan au ḍa’īfan au lā yastaṭī’u ay yumilla huwa falyumlil waliyyuhụ bil-‘adl, wastasy-hidụ syahīdaini mir rijālikum, fa il lam yakụnā rajulaini fa rajuluw wamra`atāni mim man tarḍauna minasy-syuhadā`i an taḍilla iḥdāhumā fa tużakkira iḥdāhumal-ukhrā, wa lā ya`basy-syuhadā`u iżā mā du’ụ, wa lā tas`amū an taktubụhu ṣagīran au kabīran ilā ajalih, żālikum aqsaṭu ‘indallāhi wa aqwamu lisy-syahādati wa adnā allā tartābū illā an takụna tijāratan ḥāḍiratan tudīrụnahā bainakum fa laisa ‘alaikum junāḥun allā taktubụhā, wa asy-hidū iżā tabāya’tum wa lā yuḍārra kātibuw wa lā syahīd, wa in taf’alụ fa innahụ fusụqum bikum, wattaqullāh, wa yu’allimukumullāh, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

282. WAHAI, orang-orang yang telah meraih iman! Jika kalian berpiutang atau berutang269 untuk jangka waktu tertentu, catatlah secara tertulis. Dan, hendaklah seorang pencatat menuliskannya dengan adil di antara kalian; dan janganlah pencatat enggan menuliskannya, sebagaimana Allah telah mengajarkannya:270 maka hendaklah dia menulis.Dan, hendakah orang yang berutang itu mengimlakan; dan hendaklah dia sadar kepada Allah, Pemeliharanya, dan tidak mengurangi utangnya sedikit pun.271 Dan, jika yang berutang itu lemah akal atau lemah jasmaninya, atau tidak mampu mengimlakannya sendiri,272 hendaklah orang yang bertindak sebagai walinya mengimlakan dengan adil. Dan, panggillah dua orang lelaki dari pihak kalian sebagai saksi; dan jika tidak ada dua orang lelaki, maka seorang lelaki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang dapat kalian terima sebagai saksi, sehingga jika salah seorang di antara mereka melakukan kesalahan, yang lain dapat mengingatkannya.273 Dan, para saksi tidak boleh menolak [memberi kesaksian] ketika mereka dipanggil.

Dan, janganlah enggan menulis setiap ketentuan akad,274 baik yang kecil maupun yang besar, termasuk batas jatuh tempo; yang demikian itu lebih adil di sisi Allah, lebih dipercaya sebagai bukti, dan lebih mungkin menjauhkan kalian dari keraguan [di kemudian hari]. Namun, jika [transaksi] itu berkaitan dengan barang dagangan tunai yang kalian serah terimakan secara langsung, tiada dosa bagi kalian jika tidak menuliskannya.

Dan, datangkanlah saksi bilamana kalian saling berjual beli, tetapi baik pencatat maupun saksi jangan sampai menderita kerugian;275 sebab, jika kalian melakukannya [merugikan mereka], perhatikanlah, hal itu suatu dosa bagi kalian. Dan, sadarlah kepada Allah senantiasa, sebab Allah-lah yang mengajari kalian [demikian]—dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


269 Frasa di atas meliputi setiap transaksi secara kredit, baik dalam bentuk pinjaman langsung ataupun kesepakatan komersial. Ungkapan ini berkaitan (seperti ditunjukkan oleh bentuk gramatikalnya, tadayantum) dengan kedua pihak, yaitu pemberi dan penerima kredit, dan karenanya diterjemahkan demikian.

270 Yakni, sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Quran.

271 Lit., “dan janganlah mengurangi sedikit pun darinya”. Jadi, rumusan pelaksanaannya diserahkan kepada pihak yang lemah, yakni pihak yang membutuhkan utang.

272 Misalnya, karena secara fisik dia terganggu, atau tidak sepenuhnya memahami istilah bisnis yang digunakan dalam kontrak tersebut, atau tidak mengerti bahasa yang ditulis dalam kontrak tersebut. Definisi “lemah akal atau lemah jasmani” (secara harfiah, “kurang mengerti atau lemah”) berlaku baik bagi anak kecil maupun orang tua yang tidak lagi memiliki kemampuan mental yang utuh.

273 Pernyataan bahwa dua orang perempuan dapat menggantikan seorang saksi laki-laki sama sekali bukan mencerminkan kurangnya kemampuan moral atau intelektual perempuan: hal ini jelas disebabkan oleh fakta bahwa, biasanya, perempuan kurang akrab dengan prosedur bisnis daripada laki-laki dan, karenanya, lebih besar kemungkinannya melakukan kesalahan dalam hal ini (lihat ‘Abduh dalam Al-Manar III, hh. 124 dan seterusnya).

274 Lit., “mencatatnya”—yakni, semua hak dan kewajiban yang timbul dari kontrak tersebut.

275 Misalnya, dituntut bertanggung jawab atas berbagai konsekuensi yang akan timbul dari kontrak itu sendiri atau karena tidak terpenuhinya persyaratan oleh salah satu pihak yang melakukan kontrak.


Surah Al-Baqarah Ayat 283

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

wa ing kuntum ‘alā safariw wa lam tajidụ kātiban fa rihānum maqbụḍah, fa in amina ba’ḍukum ba’ḍan falyu`addillażi`tumina amānatahụ walyattaqillāha rabbah, wa lā taktumusy-syahādah, wa may yaktum-hā fa innahū āṡimung qalbuh, wallāhu bimā ta’malụna ‘alīm

283. Dan, jika kalian dalam perjalanan dan tidak dapat menemukan seorang pencatat, barang jaminan yang dipegang [dapat diambil]: tetapi, jika kalian saling percaya, hendaklah orang yang dipercaya menunaikan amanatnya, dan hendaklah dia sadar akan Allah, Pemeliharanya.

Dan, janganlah menyembunyikan apa yang telah kalian saksikan276—sebab, sungguh, orang yang menyembunyikannya telah berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.


276 Lit., “janganlah menyembunyikan persaksian”. Hal ini mengacu tidak hanya pada mereka yang menjadi saksi dalam transaksi bisnis, tetapi juga pada peminjam yang telah diberi pinjaman atas dasar kepercayaan—tanpa kesepakatan tertulis dan tanpa saksi—dan kemudian mengingkari bahwa dia berutang.


Surah Al-Baqarah Ayat 284

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa in tubdụ mā fī anfusikum au tukhfụhu yuḥāsibkum bihillāh, fa yagfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

284. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi. Dan, apabila kalian mengemukakan apa yang ada dalam pikiran kalian atau menyembunyikannya, Allah pasti akan meminta kalian untuk mempertanggungjawabkannya; lalu Dia akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan akan menghukum siapa yang Dia kehendaki: sebab, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.



Surah Al-Baqarah Ayat 285

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

āmanar-rasụlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu`minụn, kullun āmana billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulih, lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih, wa qālụ sami’nā wa aṭa’nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr

285. RASUL, dan orang-orang beriman yang bersamanya, beriman kepada apa yang telah di turunkan kepada mereka dari Pemeliharanya: mereka semua beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, wahyu-wahyu-Nya, dan rasul-rasul-Nya tanpa membeda-bedakan siapa pun di antara para rasul-Nya;277 dan mereka berkata,

“Kami dengar dan kami taat. Anugerahilah kami ampunan-Mu, wahai Pemelihara kami, sebab bersama Engkau-lah akhir seluruh perjalanan!”


277 Lit., “kami tidak membeda-bedakan siapa pun di antara para rasul-Nya”: ungkapan ini diucapkan, begitulah kira-kira, oleh lisan orang-orang beriman. Mengingat semua rasul adalah pengemban sejati pesan-pesan Allah, tidak ada perbedaan di antara mereka, sekalipun beberapa di antara mereka telah “dianugerahi lebih banyak daripada sebagian lainnya” (lihat ayat 253 surah ini).


Surah Al-Baqarah Ayat 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

286. Allah tidak membebani seorang manusia pun melebihi kemampuannya: baginya (manfaat dari) kebaikan apa pun yang dia lakukan, dan terhadapnya (menimpa kerugian akibat) keburukan apa pun yang dia lakukan.

“Wahai, Pemelihara kami! Jangan hukum kami jika kami lupa atau tidak sengaja berbuat salah!

“Wahai, Pemelihara kami! Jangan pikulkan kepada kami beban sebagaimana yang telah Kau pikulkan kepada orang-orang sebelum kami!278 Wahai, Pemelihara kami! Jangan pikulkan kepada kami beban yang tiada sanggup kami pikul!

“Hapuskanlah dosa-dosa kami, anugerahilah kami ampunan, dan limpahkanlah kepada kami belas kasih-Mu. Engkau-lah Penguasa kami Yang Mahatinggi: maka, tolonglah kami terhadap orang-orang yang mengingkari kebenaran.”


278 Merujuk pada beban ritual yang berat yang ditetapkan dalam Hukum Musa terhadap Bani Israil, juga pada sikap penolakan-terhadap-dunia yang dianjurkan oleh Al-Masih kepada para pengikutnya.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)