Surat At-Tur Arab, Latin, dan Terjemahan Arti (AL-QURAN ONLINE)

52. At-Tur (Gunung Sinai) – الطور

Surat At-Tur ( الطور ) merupakan surat ke 52 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 49 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah At-Tur termasuk golongan Surat Makkiyah.


Surah ini kemungkinan besar diturunkan kira-kira pada seperdua terakhir periode Makkah (menurut beberapa ahli, segera setelah Surah As-Sajdah). Namanya diambil dari penyebutan Gunung Sinai (at-thur) pada ayat 1.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Surah At-Tur Ayat 1

وَالطُّورِ

waṭ-ṭụr

1. PERHATIKANLAH Gunung Sinai!1


1 Mengenai penerjemahan saya terhadap kata wa menjadi “Perhatikanlah”, lihat bagian pertama catatan no. 23 pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 32. Ungkapan al-thur (lit., “gunung”) dalam Al-Quran digunakan secara khusus untuk menunjuk pada Gunung Sinai, tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyunya yang menentukan. Dalam konteks ini, istilah tersebut secara metonimia berarti wahyu itu sendiri, yang oleh ayat berikutnya diajak untuk diperhatikan.


Surah At-Tur Ayat 2

وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ

wa kitābim masṭụr

2. Perhatikanlah [wahyu] Allah yang ditulis,


Surah At-Tur Ayat 3

فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ

fī raqqim mansyụr

3. pada lembaran-lembaran yang terbuka lebar.2


2 Yakni, selalu terbuka bagi pemahaman manusia (Al-Razi).


Surah At-Tur Ayat 4

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ

wal-baitil-ma’mụr

4. Perhatikanlah rumah [ibadah] yang bertahan lama!3


3 Ini adalah metonimia yang menunjukkan kenyataan bahwa sejak awal kesadarannya, manusia senantiasa menyadari—walaupun sering samar-samar saja—keberadaan Tuhan, dan telah berupaya untuk mendekati-Nya melalui ibadah, karena dipicu oleh wahyu langsung yang terus-menerus diturunkan kepada para nabi-Nya. Karenanya, Al-Baidhawi menganggap bahwa ungkapan al-bait al-ma’mur merupakan metafora bagi hati orang beriman.


Surah At-Tur Ayat 5

وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ

was-saqfil-marfụ’

5. Perhatikanlah kubah [langit] yang ditinggikan!


Surah At-Tur Ayat 6

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

wal-baḥril-masjụr

6. Perhatikanlah laut dengan ombak bergelombang!4


4 Yakni, “Perhatikanlah keluasan dan keluarbiasaan susunan alam yang kasatmata ini sebagai bukti adanya Pencipta yang sadar”.


Surah At-Tur Ayat 7

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ

inna ‘ażāba rabbika lawāqi’

7. SUNGGUH, [wahai manusia,] derita yang ditetapkan Pemeliharamu [bagi para pendosa] benar-benar akan terjadi:


Surah At-Tur Ayat 8

مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ

mā lahụ min dāfi’

8. tiada seorang pun yang dapat menghindarinya.


Surah At-Tur Ayat 9

يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا

yauma tamụrus-samā`u maurā

9. [Akan terajdi] pada Hari ketika langit akan diguncangkan dengan guncangan [yang hebat],


Surah At-Tur Ayat 10

وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا

wa tasīrul-jibālu sairā

10. dan gunung-gunung akan bergerak dengan gerakan [yang dahsyat].


Surah At-Tur Ayat 11

فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ

fa wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

11. Maka, celakalah pada Hari itu bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran—


Surah At-Tur Ayat 12

الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ

allażīna hum fī khauḍiy yal’abụn

12. semua orang yang [sepanjang hidupnya] hanya bermain-main dengan hal-hal yang sia-sia—


Surah At-Tur Ayat 13

يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا

yauma yuda”ụna ilā nāri jahannama da”ā

13. pada Hari ketika mereka akan dilemparkan ke dalam api dengan lemparan [yang tidak tertahankan, dan akan dikatakan kepada mereka:]


Surah At-Tur Ayat 14

هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

hāżihin-nārullatī kuntum bihā tukażżibụn

14. “Inilah api yang dahulu selalu kalian dustakan!


Surah At-Tur Ayat 15

أَفَسِحْرٌ هَٰذَا أَمْ أَنْتُمْ لَا تُبْصِرُونَ

a fa siḥrun hāżā am antum lā tubṣirụn

15. Maka, apakah ini suatu khayalan?5—atau, apakah kalian tidak dapat melihat [kebenarannya]?


5 Ini, tak diragukan lagi, adalah makna kata sihr dalam konteks ini (lihat Surah Al-Muddatstsir [74], catatan no. 12).


Surah At-Tur Ayat 16

اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

iṣlauhā faṣbirū au lā taṣbirụ, sawā`un ‘alaikum, innamā tujzauna mā kuntum ta’malụn

16. Rasakanlah api itu [kini]! Namun, [baik kalian] bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian: kalian tidak lain hanyalah diberi balasan terhadap apa yang biasa kalian kerjakan.”6


6 Yakni, “bagaimanapun kalian harus memikulnya, karena itu merupakan akibat dari perbuatan dan sikap kalian sendiri”: sebuah rujukan halus terhadap kenyataan bahwa “hukuman” dan “imbalan” dalam kehidupan akhirat tak lain merupakan alegori bagi konsekuensi-konsekuensi logis dari cara-cara manusia bertindak dan bersikap dalam kehidupan di dunia ini.


Surah At-Tur Ayat 17

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ

innal-muttaqīna fī jannātiw wa na’īm

17. [Namun,] sungguh, orang-orang yang sadar akan Allah akan mendapti diri mereka [pada Hari itu] dalam taman-taman dan dalam kenikmatan,


Surah At-Tur Ayat 18

فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

fākihīna bimā ātāhum rabbuhum, wa waqāhum rabbuhum ‘ażābal-jaḥīm

18. bersukaria dengan apa yang dianugerahkan kepada mereka oleh Pemeliharanya: sebab, Pemelihara mereka menghindarkan mereka dari segala penderitaan api yang berkobar.


Surah At-Tur Ayat 19

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn

19. [Dan akan dikatakan kepada mereka:] “Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai hasil dari apa yang dahulu biasa kalian kerjakan,


Surah At-Tur Ayat 20

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

muttaki`īna ‘alā sururim maṣfụfah, wa zawwajnāhum biḥụrin ‘īn

20. sambil bersandar pada dipan-dipan [kebahagiaan] yang tertata dalam baris-baris!”7

Dan [di dalam surga itu] akan Kami jodohkan mereka dengan pendamping-pendamping nan suci yang bermata sangat indah.8


7 Seperti dijelaskan Al-Razi dalam tafsirnya terhadap ayat di atas serta terhadap Surah Al-Kahfi [18]: 31 dan Surah Ar-Rahman [55]: 54, “bersandar di atas dipan-dipan” atau “di atas permadani” dalam surga merupakan simbol bagi kedamaian dan kepuasan batin; Al-Razi juga menjelaskan bahwa hal ini pun diisyaratkan oleh kenyataan bahwa nomina surur (“kebahagiaan”) dan sarir (“permadani”) sama-sama berasal dari verba sarra (“ia [menjadi] bahagia”).

8 Mengenai penjelasan atas ungkapan hur ‘in, lihat Surah Al-Waqi’ah [56], catatan no. 8.


Surah At-Tur Ayat 21

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

wallażīna āmanụ wattaba’at-hum żurriyyatuhum bi`īmānin alḥaqnā bihim żurriyyatahum wa mā alatnāhum min ‘amalihim min syaī`, kullumri`im bimā kasaba rahīn

21. Adapun bagi orang-orang yang telah meraih iman dan yang keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan, akan Kami persatukan mereka dengan keturunannya; dan Kami tidak akan membiarkan perbuatan mereka sedikit pun tersia-sia:9 [tetapi] setiap manusia akan terikat dengan apa pun yang telah dia usahakan.10


9 Menunjukkan bahwa kesalehan anak-anak menambah nilai kebaikan orangtua mereka.

10 Yakni, kesalehan orangtua tidak dapat membebaskan keturunan mereka dari tanggung jawab sebagai individu.



Surah At-Tur Ayat 22

وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

wa amdadnāhum bifākihatiw wa laḥmim mimmā yasytahụn

22. Dan Kami akan menganugerahkan kepada mereka buah-buahan dan daging secara berlimpah—apa pun yang mereka inginkan:


Surah At-Tur Ayat 23

يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ

yatanāza’ụna fīhā ka`sal lā lagwun fīhā wa lā ta`ṡīm

23. dan di dalam [surga] itu, mereka akan saling mengedarkan piala yang tidak akan menimbulkan pembicaraan yang tidak berguna, dan tiada pula mendorong perbuatan dosa.11


11 Bdk. Surah As-Saffat [37]: 47—”tidak ada rasa pening di dalamnya dan mereka tidak mabuk karenanya: dan Surah Al-Waqi’ah [56]: 19—”pikiran mereka tidak akan keruh dan tidak pula mereka akan dibuat mabuk karenanya”: sebuah alegori bagi kebahagiaan yang amat besar yang dirasakan secara sadar. Mengenai rujukan sebelumnya terhadap “buah-buahan dan daging secara berlimpah—apa pun yang mereka inginkan”, Al-Razi memandang bahwa “berlimpahnya” kepuasan sensual yang simbolis ini tidak akan menimbulkan kejenuhan, tetapi sebaliknya menimbulkan hasrat yang—berlawanan dengan yang dialami manusia di dunia—dapat selalu dipuaskan.


Surah At-Tur Ayat 24

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ

wa yaṭụfu ‘alaihim gilmānul lahum ka`annahum lu`lu`um maknụn

24. Dan mereka akan dilayani oleh pemuda-pemuda [yang hidup abadi],12 [seolah-olah mereka adalah anak-anak] mereka sendiri13, [begitu sucinya] seakan-akan mereka itu adalah mutiara yang tersembunyi dalam tempurungnya.


12 Lihat catatan no. 6 pada Surah Al-Waqi’ah [56]: 17-18.

13 Demikian penafsiran Al-Razi, ketika menjelaskan pengabdian tanpa pamrih yang tersirat dalam kata ganti lahum (lit., “bagi mereka”, yakni “[milik] mereka sendiri”).


Surah At-Tur Ayat 25

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

wa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

25. Dan mereka [yang diberkahi itu] akan berhadapan satu sama lain, saling bertanya [tentang kehidupan mereka yang silam].14


14 “Saling bertanya tentang kehidupan mereka yang silam” yang bersifat simbolis ini dimaksudkan untuk menunjukkan kenyataan yang sering ditekankan Al-Quran bahwa kesadaran individual seseorang tetap hidup meskipun jasadnya mati, dan terus berlanjut hingga kehidupan akhirat kelak.


Surah At-Tur Ayat 26

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

qālū innā kunnā qablu fī ahlinā musyfiqīn

26. Mereka akan berkata, “Perhatikanlah, dahulu—ketika kami [masih hidup] di tengah-tengah keluarga dan handai tolan—kami dipenuhi rasa takut [membayangkan kalau-kalau Allah tidak berkenan]:15


15 Demikianlah seluruh mufasir klasik—setahu saya, tanpa kecuali—menafsirkan ayat di atas.


Surah At-Tur Ayat 27

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

fa mannallāhu ‘alainā wa waqānā ‘ażābas-samụm

27. maka Allah memuliakan kami dengan karunia-Nya, dan menghindarkan kami dari segala penderitaan api (yang berasal) dari angin [kekecewaan] yang sangat panas.



Surah At-Tur Ayat 28

إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

innā kunnā ming qablu nad’ụh, innahụ huwal-barrur-raḥīm

28. Sungguh, kami menyeru [hanya] kepada-Nya sebelum ini: [dan kini Dia telah menunjukkan kepada kami16] bahwa Dia sajalah yang Mahabaik, Sang Pemberi Rahmat yang sejati.


16 Yakni, secara tersirat, “melalui pengalaman nyata kami sendiri”. Sisipan ini didasarkan pada cara-baca kata berikutnya yang menurut Mazhab Madinah dibaca annahu (bahwa Dia), berbeda dengan cara-baca Mazhab Kufah dan Bashrah yang lebih konvensional yang membacanya sebagai innahu (sungguh, Dia). Seperti ditekankan Al-Thabari, kedua cara-baca ini benar. Untuk penerjemahan ini, saya memilih cara-baca yang pertama karena ia menunjuk pada pengetahuan langsung yang serba-meliputi yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang mendapat berkah pada Hari Kebangkitan.


Surah At-Tur Ayat 29

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

fa żakkir fa mā anta bini’mati rabbika bikāhiniw wa lā majnụn

29. MAKA, berilah peringatan [wahai Nabi, kepada sekalian manusia:] sebab, demi karunia Pemeliharamu, engkau bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila.


Surah At-Tur Ayat 30

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ

am yaqụlụna syā’irun natarabbaṣu bihī raibal-manụn

30. Atau, apakah mereka berkata, “[Dia tidak lain adalah] seorang penyair—mari kita nantikan apa yang akan dilakukan sang waktu kepadanya”?17


17 Lit., “mari kita nantikan baginya kejadian-kejadian buruk sang waktu”, yakni, yang datang seiring dengan berjalannya waktu: menurut Jauhari dan Al-Zamakhsyari (dalam Asas), inilah makna ungkapan raib al-manun (menurut dua ahli ini, al-manun sama artinya dengan dahr, “waktu”). Dalam konteks ini, frasa ini jelas menunjuk pada harapan para pencela Nabi Saw. bahwa waktu akan membuktikan bahwa apa yang diajarkan Nabi Saw. adalah salah atau merupakan tipuan.


Surah At-Tur Ayat 31

قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ

qul tarabbaṣụ fa innī ma’akum minal-mutarabbiṣīn

31. Katakanlah: “[Maka,] tunggulah dengan penuh harap; perhatikanlah, aku pun akan menuggu bersama kalian!”18


18 Yakni, “Sementara kalian menanti-nanti bahwa pesan-pesanku akan terbukti salah, aku justru menunggu penggenapannya”.


Surah At-Tur Ayat 32

أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَٰذَا ۚ أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

am ta`muruhum aḥlāmuhum bihāżā am hum qaumun ṭāgụn

32. Apakah pikiran mereka menyuruh mereka [untuk bersikap seperti] ini—ataukah mereka [semata-mata] adalah orang-orang yang dipenuhi keangkuhan yang keterlaluan?19


19 Artinya: Apakah mereka memiliki keberatan yang beralasan mengenai kandungan pesan ini—ataukah mereka menolak kebenaran hanya karena kesombongan mereka yakni, sombong karena salah menyangka bahwa manusia “serbacukup” [bdk. Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7], menghalangi mereka menerima gagasan tentang tanggung jawab manusia di hadapan Sang Mahatinggi?


Surah At-Tur Ayat 33

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ

am yaqụlụna taqawwalah, bal lā yu`minụn

33. Ataukah mereka mengatakan, “Dia sendiri yang telah mengarang [pesan] ini”?

Tidak, tetapi mereka tidak mau beriman!


Surah At-Tur Ayat 34

فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ

falya`tụ biḥadīṡim miṡlihī ing kānụ ṣādiqīn

34. Namun demikian, [jika mereka menganggapnya sebagai buatan manusia saja,] hendaklah mereka membuat wacana lain yang semisal dengannya—jika yang mereka katakan adalah benar!



Surah At-Tur Ayat 35

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

am khuliqụ min gairi syai`in am humul-khāliqụn

35. [Ataukah mereka mengingkari keberadaan Tuhan?20] Apakah mereka sendiri diciptakan tanpa sesuatu pun [yang mungkin menyebabkan penciptaan mereka]?21—ataukah mereka, mungkin, adalah pencipta diri mereka sendiri?


20 Yakni, secara implisit, dengan menolak fakta wahyu dari-Nya.

21 Yakni, secara “generatio spontanea” (tercipta begitu saja), demikianlah kira-kira.


Surah At-Tur Ayat 36

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

am khalaqus-samāwāti wal-arḍ, bal lā yụqinụn

36. [Dan,] apakah mereka menciptakan lelangit dan bumi?22

Tidak, tetapi mereka tidak memiliki keyakinan tentang apa pun!


22 Ini adalah sebuah reductio ad absurdum {bantahan logis dengan menyatakan bahwa argumen kebalikannya adalah salah} atas keengganan mereka mengakui adanya Causa Prima (Sebab Pertama) yang sadar yang melandasi segala penciptaan
.


Surah At-Tur Ayat 37

أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

am ‘indahum khazā`inu rabbika am humul-muṣaiṭirụn

37. [Bagaimana mungkin mereka bersikap demikian?] Apakah perbendaharaan Pemeliharamu ada pada mereka?23 Ataukah mereka yang berkuasa [atas takdir]?


23 Yakni, perbendaharaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas.



Surah At-Tur Ayat 38

أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ ۖ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

am lahum sullamuy yastami’ụna fīh, falya`ti mustami’uhum bisulṭānim mubīn

38. Ataukah mereka mempunyai tangga sehingga mereka dapat [naik menuju kebenaran-kebenaran tertinggi dan] mendengarkan [apa-apa yang berada di luar jangkauan persepsi manusia]? Maka, hendaklah siapa pun dari antara mereka yang telah mendengar [hal itu] mendatangkan bukti yang nyata [yang menunjukkan pengetahuannya]!


Surah At-Tur Ayat 39

أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ

am lahul-banātu wa lakumul-banụn

39. Atau, [jika kalian memercayai Allah, bagaimana mungkin kalian percaya bahwa] Dia [memilih untuk] memiliki anak-anak perempuan, sedangkan kalian sendiri [hanya] menginginkan anak laki-laki?24


24 Hal ini secara khusus dialamatkan kepada kaum musyrik pada masa Nabi Saw., dan menyiratkan bahwa “dengan menganggap bahwa Allah memiliki anak, kalian tidak hanya telah menghujat-Nya, tetapi bahkan menambah hujatan itu dengan menisbahkan kepada-Nya sesuatu yang oleh kalian sendiri dianggap rendah, yakni, anak perempuan”: bdk. Surah An-Nahl [16]: 57-59 dan catatan-catatannya yang terkait.


Surah At-Tur Ayat 40

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

am tas`aluhum ajran fa hum mim magramim muṡqalụn

40. Ataukah [mereka yang menolak pesanmu ini, wahai Muhammad, takut kalau-kalau] engkau meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka akan terbebani utang [seandainya mereka harus mendengarkanmu]?


Surah At-Tur Ayat 41

أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

am ‘indahumul-gaibu fa hum yaktubụn

41. Atau [apakah mereka menyangka] bahwa realitas tersembunyi [tentang segala sesuatu] nyaris berada dalam genggaman mereka, sehingga [pada waktunya] mereka dapat menuliskannya?25


25 Untuk penjelasannya, lihat catatan no. 26 pada pasase yang serupa dalam Surah Al-Qalam [68]: 47.


Surah At-Tur Ayat 42

أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ

am yurīdụna kaidā, fallażīna kafarụ humul-makīdụn

42. Ataukah mereka hendak memerangkap [engkau dalam pertentangan]? Namun, orang-orang yang bersikeras mengingkari kebenaran—mereka itulah yang benar-benar terperangkap!26


26 Yakni, merekalah yang tersesat dalam kontradiksi-kontradiksi, sedangkan pesan Al-Quran sendiri terbebas darinya (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 82 dan catatannya).


Surah At-Tur Ayat 43

أَمْ لَهُمْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

am lahum ilāhun gairullāh, sub-ḥānallāhi ‘ammā yusyrikụn

43. Maka, apakah mereka mempunyai tuhan lain selain Allah?

Teramat jauhlah Allah, dalam kemuliaan-Nya yang tidak terhingga, dari apa pun yang manusia persekutukan dengan-Nya!


Surah At-Tur Ayat 44

وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ

wa iy yarau kisfam minas-samā`i sāqiṭay yaqụlụ saḥābum markụm

44. SUNGGUHPUN BEGITU, jika mereka [yang menolak melihat kebenaran] melihat sebagian dari langit runtuh, mereka [hanya] akan berkata, “[Itu hanyalah] kumpulan awan!”


Surah At-Tur Ayat 45

فَذَرْهُمْ حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ

fażar-hum ḥattā yulāqụ yaumahumullażī fīhi yuṣ’aqụn

45. Karena itu, tinggalkanlah mereka sendiri hingga mereka menghadapi Hari [Pengadilan] mereka, ketika mereka akan ditimpa kengerian:


Surah At-Tur Ayat 46

يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

yauma lā yugnī ‘an-hum kaiduhum syai`aw wa lā hum yunṣarụn

46. Hari ketika tiada berguna sedikit pun bagi mereka tipu daya mereka, dan mereka tidak akan menerima pertolongan ….


Surah At-Tur Ayat 47

وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَٰلِكَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa inna lillażīna ẓalamụ ‘ażāban dụna żālika wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

47. Namun, sungguh, bagi orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman, tersedia derita yang [bahkan] lebih segera menjelang daripada [derita puncak yang di akhirat] itu:27 tetapi, kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.


27 Sebagaimana dalam Surah As-Sajdah [32]: 21, di sini Al-Quran menekankan bahwa setiap perbuatan buruk, dengan satu atau lain cara, bahkan di dunia ini juga pasti akan berbalik menimpa orang yang melakukannya—baik dalam bentuk hilangnya kasih sayang orang-orang sekitarnya dan, karenanya, memperdalam rasa kesepiannya atau, dengan cara yang lebih langsung, terciptanya kondisi yang semakin tidak memungkinkannya mencapai kebahagiaan dan kepuasan sejati.


Surah At-Tur Ayat 48

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

waṣbir liḥukmi rabbika fa innaka bi`a’yuninā wa sabbiḥ biḥamdi rabbika ḥīna taqụm

48. Dan, nantikanlah penghakiman Pemeliharamu dengan sabar, sebab engkau benar-benar berada dalam (jangkauan) pandangan kami.28 Dan, bertasbihlah memuji kemuliaan Pemeliharamu yang tidak terhingga, dan panjatkanlah pujian setiap kali engkau terbangun,


28 Yakni, “di bawah perlindungan Kami”.


Surah At-Tur Ayat 49

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ

wa minal-laili fa sabbiḥ-hu wa idbāran-nujụm

49. dan bertasbihlah memuji kemuliaan-Nya di waktu malam, dan di waktu tatkala bintang-gemintang terbenam.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)